#LearnSomethingNew: Introduction

After finishing my first hashtag project #100DPS, which I made to challenge myself to write more, I want to try a new hashtag project. It is called #LearnSomethingNew

In contrast to the previous hashtag project that only requires 100 post to finish, this one has no limitation. Which means I can use this hashtag as long as I can and as much as I want.

So, the objective of this hastag project is to challenge me to write a new stuff that I have learn. It can be anything ranging from a new word/term or even a new knowledge about history. Whatever it is, I will write it so that I will remember it longer.

I hope I’ll be consistent to post #LearnSomethingNew and, of course to learn something new 🙂

You should join too! XD

Can an Extrovert Become an Introvert?

Lately I’ve been feeling a little bit different about myself.

The girl I used to be was a girl who enjoy being with a lot of people, talk a lot, making jokes and everything. Also likes to hang out with a bunch of people. The very typical extrovert girl.

I got my energy by meeting a lot of people, talking to my friends and having such a busy day outside.

But, the girl I am now is a little bit different. Just a little bit. Now I prefer to spend my time at home, gardening and taking care of my beautiful plants. Reading books all day in bed. And if I were to choose between hanging out in saturday night with the gangs or sitting in a cafe with just a person, I’d choose the second.

I was afraid to watch a movie alone. I don’t know, I just can’t imagine the feeling of coming into the theatre and buy a ticket for one person. Like how could that be?

I never thought about going to a coffee shop alone and I couldn’t stand of people watching me sitting alone like a freak. But now? It doesn’t feel that bad.

Rejecting an invitation to go to parties also happens quite often recently. Being in a crowd makes me exhausted.

It feels a little bit weird and I started to think “am I shifting to become an introvert or what? Is that even possible?”

So I googled it and found this on Quora:

So the answer is yes.

However, in my case, I guess the change is only at behavioral level. I don’t think I really switch into an introvert. But yes, I do not enjoy doing some extrovert activities that I enjoy before.

Well, it is true about what Veronika Pooky said at quora that we become more mature, we learn more about life, and thus affects our attitudes over time.

Source: https://www.quora.com/Is-it-possible-that-Ive-changed-from-extrovert-to-introvert-during-my-lifetime

Mengenang Ramadhan di Masa Kecil

Masjid Tempat Saya Tarawih Waktu Kecil
Masjid Tempat Saya Tarawih Waktu Kecil

Nggak terasa, sekarang sudah memasuki bulan ramadhan lagi. Semoga Allah melimpahkan keberkahannya untuk kita semua di bulan suci ini.

Kalau sudah masuk ramadhan, saya selalu teringat masa kecil saya dimana ramadhan terasa begitu syahdu. Banyak juga kenangan-kenangan lucu dan aneh yang saya alami selama ramadhan.

Beberapa kenangan itu mungkin akan saya ceritakan disini, supaya saya tidak lupa.

Dulu, waktu kami sekeluarga masih tinggal serumah, dan bahkan saya masih tidur di kamar orang tua saya, saya selalu dibangunkan sahur jam setengah 3 pagi. Dengan mata yang masih terpejam, saya berjalan sempoyongan ke ruang makan. Kemudian duduk manis sambil minum susu coklat yang sudah disiapkan oleh ayah saya sembari menunggu masakan siap dihidangkan.

Pernah suatu hari saya terbangun dan itu sudah jam 7 atau 8 pagi. Saya bangun dan langsung mencari ibu saya sambil berkata “mah, masa semalem aku mimpi dibangunin sahur sama papa, terus malah aku tonjok lehernya papa”. Ibuku dengan sewot menjawab “itumah bukan mimpi! Emang beneran!” hahahaha :””D

Dulu, setiap bulan ramadhan sekolah saya pasti membekali murid-muridnya dengan buku “absensi shalat tarawih”. Alhasil, mau nggak mau setiap malam kami harus pergi ke masjid dan membawa buku itu. Karena harus diisi dengan rangkuman ceramah lengkap dengan tanda tangan imam sholat tarawihnya. Pokoknya kalo absensinya jelek, nanti nilai mata pelajaran agamanya jelek juga hahaha.

Dulu, saking bersemangatnya saya pergi tarawih, setelah buka puasa dan shalat magrib saya langsung siap-siap. Saya kayuh sepeda ke rumah teman saya, menitipkan sepeda disana, lalu kami jalan kaki bersama ke masjid. Padahal kalau dilihat-lihat sekarang, jarak rumah saya ke rumah teman itu lebih jauh daripada rumah saya ke masjid. Tapi karena saya dulu takut jalan sendirian malam-malam, alhasil saya selalu bareng teman. Karena di daerah rumah dia banyak anak-anak seumuran saya, jadi ramai.

Dulu, ada masa-masa dimana kalau kita jajan chiki, cheetos dan Jet-Z bakal dapat hadiah. Setiap bulan puasa, karena uang jajannya nggak dipakai, jadinya saya belikan makanan berbuka. Setiap jam 3 sore saya mengayuh sepeda ke minimarket terdekat, membeli sebungkus dari salah satu snack di atas, serta susu milo kotak kecil. Kemudian susunya saya masukkan ke freezer. Saat tiba waktu berbuka, saya senang sekali karena bisa minum susu beku. Dan dapat hadiah dari ciki tentunya XD.

Dulu, pernah suatu hari hujan turun di sore hari. Meninggalkan jalanan yang becek dan kubangan air. Ketika saya menaiki sepeda untuk pergi ke tarawih, saya terperosok di tikungan. Lalu? Itu menjadi ciuman pertama saya. Iya, dengan aspal. Hahahaha.

Dulu, semenjak saya berani pergi sendiri ke masjid, saya datang paling awal. Sembari menunggu adzan isya, saya akan duduk sendirian disana, sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari jendela dan membaca Al-Qur’an. Syahdu sekali.

Dulu, seusai sahur saya akan menunggu adzan subuh sambil menonton acara sejarah islam di televisi. Seselesainya sholat subuh, saya akan naik ke atap rumah saya yang masih di bangun, kemudian melihat matahari terbit. Pernah suatu hari saya tertidur di atas atap, dan sekeluarga bingung mencari saya. Untung saya nggak jatuh dari ketinggian 5 meter hehehe.

Saya rindu ramadhan yang syahdu dan yang lugu, yang bisa saya kenang kembali. Rindu ramadhan yang merubah diri saya lebih dekat dengan Allah. Yang penuh arti. Yang damai.

Menjadi Dosen

“Belajar nggak usah pinter-pinter, kalo kepinteran ntar ujung-ujungnya malah jadi dosen doang”

“IP nggak usah tinggi-tinggi, biasanya di kelas yang IP nya tinggi cuma jadi dosen”

“Kalo di kelas tuh yang nilainya tinggi biasanya jadi dosen, sedangkan yang nilainya biasa aja malah jadi donatur”
Saya tidak bisa sebutkan orang-orang yang meluncurkan pernyataan-pernyataan di atas, tapi saya yakin kalian semua pasti pernah mendengarnya setidaknya sekali.

Saya secara pribadi tidak bisa sepakat dengan pernyataan di atas. Alasannya?

1. Pernyataan di atas seakan membentuk opini bahwa pekerjaan sebagai “Dosen” itu nggak ada keren-kerennya, membosankan, atau bukan termasuk pekerjaan yang jadi idaman.

Padahal, memang apa yang salah dengan pekerjaan sebagai dosen? Kok kayaknya unlikeable dan underrated banget?

Dosen itu kan guru juga. Sedangkan guru adalah profesi yang sangat mulia. Tanggung jawabnya pun besar sekali.

Dosen, seperti halnya seorang guru, punya tanggung jawab untuk mendidik dan menyampaikan ilmu. Ketika ilmu tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dapat memberikan penghidupan kepada banyak orang, bukankah pahalanya akan terus mengalir? Dalam agama islam, ini disebut amal jariyah atau amal yang sekali dilakukan, manfaatnya dapat dirasakan terus-menerus.

Bagaimana jika sedari awal seorang pelajar memang bercita-cita menjadi guru atau dosen? Memangnya salah?

Memangnya nggak boleh, kalo seorang pelajar itu bekerja keras mencari ilmu sebaik mungkin, mendapat nilai & prestasi secemerlang mungkin, dan meraih pendidikan setinggi mungkin supaya kelak ia bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya?

Bukankah segala dasar kemajuan dari suatu peradaban adalah kualitas sumber daya manusianya? 🙂

2. Pernyataan di atas adalah sebuah pembenaran bagi orang-orang yang malas belajar.

Saya sepakat bahwa prestasi seseorang tidak hanya diukur dari sisi akademis. Saya juga sepakat bahwa nilai rapot atau IP bukanlah segalanya.

Tapi saya tidak sepakat jika ada yang menjadikan profesi dosen sebagai alasan untuk menolak rajin belajar. Soalnya ia takut kalo belajarnya terlalu rajin, ntar malah jadi dosen. Lho?

Gini, kalo ada yang masih di bangku sekolah atau kuliah, rajin-rajinlah kalian belajar. Karena memang di umur segitu, tugas utama kalian ya memang belajar. Belajar aja pokoknya, masalah nilainya bagus atau nggak mah itu urusan belakangan. Intinya semangat untuk mencari ilmu ini yang nggak boleh pupus.

Buat yang merasa nilainya nggak bagus-bagus amat ya nggak usah merasa inferior juga. Sekali lagi, nilai akademis bukanlah segalanya. Kita tetap bisa cari ilmu di bidang lain, yang nggak perlu pakai nilai rapor tapi tetap applicable di kehidupan sehari-hari.

Tapi kalo sampe berpikir bahwa “ah gue nggak usah belajar pinter-pinter lah, ntar kalo kepinteran malah jadi dosen doang” wah, sayang sekali. Soalnya dosen saya keren-keren dan nggak “doang”. Hehehe.

Atau menjudge seorang anak berprestasi di kelas “ah dia mah nilainya tinggi-tinggi gitu palingan ntar jadi dosen doang”. Hehehe, jangan seperti itu juga ya, kok kesannya nggak keren banget gitu profesi dosen. Padahal memang banyak pelajar yang nilainya tinggi-tinggi itu memang bercita-cita menjadi pengajar (dosen).

Sekali lagi, disini saya hanya ingin menyatakan opini bahwa profesi dosen adalah profesi yang mulia, seperti seorang guru. Profesi dosen juga nggak kalah keren kok dengan Dokter, Arsitek, Data Scientist, atau bahkan Direktur. Karena sebelum mereka-mereka berada di posisi tersebut, pasti mereka pernah menjadi pelajar yang diajar oleh seorang guru/dosen juga kan? 🙂

Pesan sedikit:

خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat”

Bandung Sebentar

Mengunjungi Bandung kembali, sendiri, dan menikmati segala yang ada di dalamnya. Beberapa jejak saya di Bandung, hanya sebentar, 15-16 Mei 2017.

Nini yang bahagia, menghitung banyak uang walau bukan punya sendiri.
Nini yang bahagia, menghitung banyak uang walau bukan punya sendiri.
Berjalan kaki sendirian, mencari makan malam.
Berjalan kaki sendirian, mencari makan malam.
Sarapan pagi di roti gempol.
Sarapan pagi di roti gempol.
Sambil menunggu dibuatkan roti bakar.
Sambil menunggu dibuatkan roti bakar.
Roti bakar gandum telur keju dan susu rasa pisang.
Roti bakar gandum telur keju dan susu rasa pisang.
Rumahnya unik.
Rumahnya unik.
Around the neighborhood.
Around the neighborhood.
Baru mau berangkat. Kemana?
Baru mau berangkat. Kemana?
Simetris.
Simetris.
Pemandangan dari kantor.
Pemandangan dari kantor.

Never before I enjoy being alone like this. Somehow I feel content, just by myself. Thanks, ya Allah.

Menonton Adhitia Sofyan & Andien, Di Tempat dan Saat yang Sama

He really enjoys his own music. So do we!
He really enjoys his own music. So do we!
It was a great performance!
It was a great performance!
His music is beautiful and magical.
His music is beautiful and magical.

She was indeed so energetic.
She was indeed so energetic.
Yep, she jumped down from the stage and sang in the middle of the crowd :)
Yep, she jumped down from the stage and sang in the middle of the crowd 🙂
We sang together.
We sang together.
A heartwarming performance, when she sang
A heartwarming performance, when she sang “Belahan Jantungku” 🙂
Yes yes yes, she was singing to me! XD
Yes yes yes, she was singing to me! XD
We were that close, I was in the first row hehe.
We were that close, I was in the first row hehe.

Jumat, 21 April 2017

Adhitia Sofyan dan Andien, keduanya adalah musisi yang saya suka.

Adhitia Sofyan, melalui karya-karyanya selalu menemani saya di saat sendiri, menyendiri, bahagia, sedih, ataupun saat galau dan memandang keluar jendela dikala hujan saat di perjalanan. Saya sudah mendengarkan karya-karyanya sejak saya SMP, kurang lebih 9 tahun yang lalu. Akhirnya baru sekarang kesampaian nonton langsung, di tempat yang tidak terlalu ramai, dan sangat dekat dari tempatnya bernyanyi.

Andien, dengan kepribadiannya yang sangat mengesankan telah menginspirasi saya sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu. Walau sebenarnya saya sudah mendengar lagu-lagunya di televisi sejak saya SD. Saya semakin mengaguminya setelah melihat gaya hidup sehatnya, yang patut dicontoh, juga setelah tahu bahwa dia juga survivor breast tumor. Karena dia, saya jadi percaya bahwa saya juga pasti bisa melewati ini. Semenjak anak pertamanya lahir, saya makin suka aja. Soalnya anaknya lucu banget! Hehehe.

So in conclusion, I was so happy that they were in the same place and time. So happy to watch them so close and listen to their music in person.