Visiting Aceh & Sabang: A Truly Humbling Experience

Sore itu, hari Selasa, 7 November 2017 saya ditugaskan oleh kantor untuk berangkat ke Sabang tanggal 8 November. Iya, besoknya banget tuh.

Awalnya saya ragu dan takut untuk pergi kesana, karena saya hanya pergi sendiri dan saya tak kenal seorangpun disana. Saya hanya diberitahukan nomor hp seseorang yang harus saya hubungi terkait tugas kantor selama saya di Sabang.

Banyak-banyak saya berdoa, semoga selama perjalanan saya diberikan keselamatan dan selalu dilindungi. Jujur saja, ini pertama kalinya saya solo traveling cukup jauh.

___

Rabu, 8 November 2017

Pagi-pagi saya berangkat menuju bandara. Saya mengambil penerbangan pukul 07:45 menuju Banda Aceh, dan setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan, saya tiba pada pukul 10:35.

Sehari sebelumnya saya sudah melakukan sedikit riset, untuk menuju Sabang dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, saya harus ke Pelabuhan Ulee Lheue. Sesampainya di bandara, saya bertanya ke mba-mba yang ada disana, kira-kira sebaiknya naik apa kalau mau ke pelabuhan. Si mba menyarankan saya untuk naik taksi yang ada di bandara.

Akhirnya saya keluar bandara dan disana sudah berjajar para supir taksi yang menawarkan tumpangan. Tapi sebagai warga Jakarta yang sudah terbiasa dengan Go-Jek dan sejenisnya, maka ketika dihadapkan dengan transportasi konvensional saya malah jadi bingung. Terlebih lagi saya agak trauma dengan taksi-taksi bandara yang seringkali kasih harga “nembak” ke pelanggannya. Namun kemudian saya menemukan satu supir taksi yang menawarkan dengan sopan sekali sembari menunjukkan daftar harga untuk setiap tujuan. Disitu tertera tarif ke pelabuhan Ulee Lheue adalah Rp 140.000 saja. Harga yang cukup wajar untuk jarak dari Bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue. Jadi saya memutuskan naik taksi dari Mas-mas supir yang itu, namanya Mas Anton.

Setelah saya masuk ke dalam mobilnya dan kami ngobrol sedikit, saya menyadari masnya ini logatnya jawa banget. Waktu saya tanya, eh ternyata masnya orang Sleman. Yailah, sekampung coy!

Berkat solidaritas orang sekampung, maka Mas Anton malah menawarkan ngajak saya jalan-jalan dulu keliling kota Banda Aceh, karena jadwal keberangkatan kapal ke Sabang pun masih jam 16:00. Yang bener aja saya nunggu 5 jam?!

Selama di Banda Aceh, saya diajak keliling-keliling dan tentu saja makan-makan. Nih beberapa tempat yang saya kunjungi:

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Asli, masjid ini bagus banget, baik luar maupun dalamnya. Jujur, the moment I step into this place, I literally cried. Keinget waktu tsunami tahun 2004 dulu, banyak banget yang menyiarkan gambar-gambar Banda Aceh yang saat itu rata dengan tanah, namun ada satu bangunan yang tetap berdiri kokoh. Ya si Masjid ini, Masya Allah…

payung teduh (literally)
setelah sholat dzuhur
siluet di masjid
yaudahlahya muka saya emang gini

Saya juga nyobain makan Kari Kambing khas Banda Aceh. Rasanya? Ya enak lah!

Ini nih warung Kari Kambingnya. Endeuuuss!
bukan saya sendiri yg ngabisin kok~
ntap jiwaaaa~
ini nih yang namanya Mas Anton

Saya juga sempat mengunjungi museum Aceh, dan melihat-lihat rumah tradisional khas Aceh nih.

rumah adat Aceh

Setelah puas keliling Banda Aceh, akhirnya saya berangkat ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Pulau Weh.

Tapi sebelumnya saya sempat mengambil foto ini:

itu tuh pulau samar di ujung sana adalah pulau Weh!

Sesampainya saya di Pelabuhan Balongan, Sabang, saya dijemput oleh Pak Dar. Pak Dar adalah orang asli Sabang yang sehari-harinya mencari nafkah dengan narik bentor (becak motor). Saya kenal Pak Dar dari Mas Anton. Jadi sebelum tinggal di Banda Aceh, Mas Anton ini sempat menetap di Sabang selama 4 tahun. Makanya, Mas Anton kenal banyak orang di Sabang yang bisa diandalkan.

Setelah ketemu Pak Dar, saya diantar ke hotel di daerah Ie Meulee. Hotelnya asik banget! Namanya Freddie’s Santai Sumurtiga, karena lokasinya memang di pinggiran pantai Sumurtiga. Nih pemandangan hotelnya:

kamar saya yang temboknya kuning itu tuh, keliatan kan?
view pantai Sumurtiga dari tempat resepsionis Freddie’s
nah ini kamar saya. bisa muat 3 orang. atau kalo maksa bisa 4-5 orang hahaha
kamar saya ada balkonnya. daaaaan ini dia pemandangan dari balkon!

Aaaaah asli bagus banget pemandangannya! Saya tidur pun ditemani suara debur ombak jadi sekalian relaksasi. FYI, nginep di Freddie’s ini semalam cuma Rp 335 ribu loh! Edaaaan mure gileee.

______

Kamis, 9 November 2017

Saya terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Wah tumbenan kan. Sesungguhnya karena depan kamar saya itu kayayknya ada masjid, dan toanya menggelegar sekali. Alhasil pas adzan, saya langsung loncat hahaha.

Jam 7 pagi Pak Dar sudah bersiap menjemput saya. Saya janjian dengan Mas Edi untuk ketemuan jam 8 di kantornya. Mas Edi ini rekan kerja saya selama di Sabang. Ternyata dari hotel saya ke kantor Mas Edi nggak begitu jauh. Akhirnya saya ajak Pak Dar untuk sarapan dan ngopi-ngopi dulu di warung kopi yang katanya enak disana. Kayak gini nih warung kopinya:

de sagoe kuphie, Sabang
Pak Dar lagi ngopi, saya mah teh susu aja

Setelah selesai sarapan, saya langsung menuju kantor untuk ketemu Mas Edi dan mulai bekerja. Sembari kerja keliling-keliling Sabang, saya juga menyempatkan mampir ke tempat-tempat bagus yang ada di Sabang. Tentu saja saya ngga lupa mampir ke tempat yan sudah lama ada di bucket list saya: titik nol kilometer Indonesia!

akhirnya kesampean ke titik nol kilometer Indonesia!!!
sekitaran Goa Sarang
trekking ke Goa Sarang, look at my happy face!

Asli nggak bohong! Sabang itu bagus banget!!! Slogan Wonderful Indonesia is no joke guys!!!

Setelah menyelesaikan pekerjaan dan menyambangi tempat-tempat bagus di Sabang, saya ke hotel ke dua. Kali ini lokasinya di pinggir pantai Iboih. Sejujurnya salah banget saya milih nginep disini. Karena ternyata tempatnya kayak private cottage buat orang honeymoon gitu -_-

Saya sempat ngobrol-ngobrol sama ownernya dan saya diketawain. Katanya “heran juga saya nemu tamu cewek sendirian nginep disini. ngapain coba? itu kamar-kamar yang lain isinya orang honeymoon semua tau!”

Yailah bu, mana eyke tau yekan. Saya mah cari yang murah aja pokoknya. Nah si hotel yang ke dua ini namanya Fie Resort, dan menginap disini harganya cuma Rp 445 ribu saja sodara-sodaraaahh!

Pemandangan dari Fie Resort ini juga ngga kalah sama di Freddie’s. Nih liat:

Owner Fie Resort lagi chill di pinggir pantai menikmati sore
dermaga di depan Fie Resort, sore-sore main disini sambil dengerin lagunya Andien yang Indahnya Dunia, sungguh niqmat!
cottage-cottage di Fie Resort. Isinya orang honeymoon semua -_-

______

Jumat, 10 November 2017

Saya harus kembali ke Jakarta hari ini. Saya mengambil penerbangan terakhir di jam 18:25 menuju Jakarta dari Banda Aceh. Jam setengah 7 pagi Pak Dar sudah standby di depan Fie Resort untuk menjemput saya.

Salut sekali sama Pak Dar ini, beliau orangnya baik sekali. Di hari Kamis sore beliau bolak-balik ke kantor Mas Edi karena nyariin saya. Beliau kawatir karena saya ngga kasih kabar untuk dijemput. Padahal kenyataannya, saya di Fie Resort itu ngga ada sinyal. Untungnya Pak Dar sempat ketemu Mas Edi yang kemudian memberitahunya untuk menjemput saya di Fie Resort besok paginya. Saya terharu sekali, hari gini masih ada orang baik kayak Pak Dar gitu ya.

Otw ke Balongan naik bentor melewati hutan dan pegunungan bersama Pak Dar

Setelah menyeberang kapal ke pelabuhan Ulee Lheue, saya dijemput sama Mas Anton untuk keliling-keliling kota Banda Aceh lagi. Kali ini saya menyempatkan ke museum tsunami.

Museum Tsunami.
Lorong di Museum Tsunami.
Nama-nama Korban Tsunami
Museum Tsunami dari luar

Selama di museum tsunami saya juga nonton film dokumenter tentang bencana tersebut. Rasanya sedih banget. Ngga kebayang itu populasi manusia se-Banda Aceh mendadak menyusut hanya dalam sehari. Sejujurnya saya salut sama masyarakat Banda Aceh, karena pertumbuhan kotanya cepat sekali pasca bencana. Mereka bisa bangkit lagi dari keterpurukan setelah dilanda bencana sedemikian dasyat. Tentu tidak lupa dengan bantuan masyarakat seluruh dunia ya. Sebetulnya masih banyak yang saya lihat di museum Tsunami, tapi saya ngga banyak foto-foto karena saya terlarut melihat langsung semua diorama dan segala yang tersaji disana.

Setelah puas keliling-keliling museum, kami berhenti sejenak di Masjid Raya Banda Aceh untuk menunaikan ibadah sholat Jumat. Kemudian kami lanjut ngopi-ngopi di Solong Coffee, Ulee Kareeng. Katanya Solong Coffee ini adalah pelopor berdirinya warung kopi di Aceh. Kopi disini juga digadang-gadang sebagai kopi terenak di Aceh. Dari rakyat biasa sampe Presiden kalo ngopi ya disini. Tempatnya biasa banget lho! Tapi ngga bohong sih emang kopinya enak banget paraaaahhhh!!!

Kopi Hitam dan Kopi Sangger Dingin (kopi susu) enak paraaaahhhh!!!
Proses pembuatan kopi di Solong Coffee

Kopi hitam di Solong Coffee harganya Rp 7 ribu, sedangkan kopi Sangger alias kopi susunya Rp 13 ribu saja. Murah dan enak. Harganya jauh banget sama di coffee shop hitz ibu kota. Btw, di Aceh kopi sachet yang ada di iklan-iklan di TV itu nggak laku hahaha.

Setelah puas ngopi dan beli oleh-oleh beans, saya lanjut beli oleh-oleh dendeng rusa. Iya, you read it right. Dendeng rusa. Enak. Bener deh. Kemudian sebelum ke bandara saya menyempatkan makan dulu. Ada yang namanya ayam tangkap disini. Ayam kampung di goreng dan dicampur dengan daun pandan dan daun temurui (daun kari) goreng. Iya daunnya digoreng sampe crispy gitu. Enak deh pokoknya.

Makan di Warung Nasi Hasan

Setelah kenyang mengisi perut, saya langsung berangkat ke bandara. Banda Aceh dan Sabang telah memberikan banyak sekali pengalaman dan pesan kebaikan ke saya. Pengen banget suatu saat kesini lagi. Bareng temen-temen lain dan juga buat honeymoon :p Ada banyak lagi sebenarnya cerita yang belum tersampaikan dari perjalanan sendirian saya kali ini.

Petualangan singkat kali ini ditutup dengan foto bareng Mas Anton yang udah menjadi penolong saya selama solo traveling ke Banda Aceh dan Sabang kali ini:

Mon maap ya muka saya emang teler gitu

Sebagai bonus, saya pengen ngasih detail biaya yang saya keluarkan selama 3 hari di Banda Aceh & Sabang ya!

  1. Pesawat Jakarta – Banda Aceh (Batik Air): Rp 955.649
  2. Sewa Mobil keliling Banda Aceh + ke pelabuhan Ulee Lheue: Rp 250.000
  3. Naik kapal cepat dari Ulee Lheue (Banda Aceh) – Balongan (Sabang): Rp 100.000 (kelas VIP, iye songong bet emang)
  4. Bentor dari Balongan – Ie Meulee (Hotel Freddie’s): Rp 50.000
  5. Menginap di Freddie’s 1 malam: Rp 334.219
  6. Makan malam di Freddie’s (Buffet): Rp 65.000
  7. Menginap di Fie Resort 1 malam: Rp 444.618
  8. Bentor dari Fie Resort ke Pelabuhan Balongan: Rp 200.000
  9. Naik kapal cepat dari Balongan – Ulee Lheue: Rp 100.000 (VIP lagi, iye songong emang)
  10. Sewa mobil + supir seharian di Banda Aceh: Rp 600.000
  11. Pesawat Banda Aceh – Jakarta (Batik Air): Rp 1.160.928

TOTAL BIAYA: Rp 4.260.414

Catatan:

  • biaya di atas belum termasuk makan siang, jajan, dan oleh-oleh.
  • kalo mau lebih murah bisa nyeberang naik kapal cepat kelas eksekutif cuma Rp 80.000 atau naik kapal barang cuma Rp 27.500
  • selain naik pesawat ke Banda Aceh dan lanjut nyeberang laut, bisa juga naik pesawat ke Kuala Namu (Medan) kemudian lanjut naik pesawat lagi langsung ke Sabang.
  • kalo mau ke Banda Aceh dan sewa mobil atau keliling-keliling bisa kontak Mas Anton di 082272929644 orangnya baik banget!
  • kalo di Sabang, moda transportasinya bisa sewa motor atau sewa mobil, kalo butuh info, tanya Mas Anton aja, beliau banyak kenalan yang bisa diandalkan di Sabang.

Sekian postingan kali ini! Semoga suatu saat bisa ke Sabang lagi dan keliling Indonesia!

Advertisements

Yogya Berhati Nyaman

Tidak bosan-bosannya saya ke Yogya.

Berkali-kali, di setiap kesempatan.

Tapi Yogya selalu memberikan cerita yang berbeda, yang berbekas dan penuh makna.

Perjalanan ke Yogya kali ini ditemani oleh Widita (lagi), yang juga tak pernah bosan dengan indahnya kota istimewa ini.

Namun ada yang berbeda di perjalanan saya kali ini. Tanpa direncanakan sebelumnya, ternyata ada personil baru yang ikutan gabung di tengah jalan. Ada Mas Emka, Mas Pio dan Diza.

Dan tentu saja, perjalanan kali ini penuh dengan lawakan yang bikin ngakak sampe perut kram x’))

Salah satunya saat saya dan Widita sampai di Jogja jam 3 pagi. Kami dengan pedenya menuju hotel, dengan harapan bisa early check-in. Ternyata, nggak bisa.

Akhirnya saya dan Widita mlipir ke masjid yang kebetulan ada di depan gang hotel. Kami sholat, tidur dan mandi di masjid! Berasa traveler super sejati hahaha.

Nggak lengkap rasanya jalan-jalan ke Yogya kalo nggak makan gudeg. Pagi hari di jogja kami mulai dengan jalan kaki di daerah Malioboro, makan gudeg di depan pasar Beringharjo, blanja-blinji cantik dan ngadem sambil makan es cendol.

Di tengah perjalanan Mas Emka, Mas Pio dan Diza ikut gabung. Kami pergi ke daerah Kaliurang untuk nyobain Kopi Klothok. Asli suasananya disana asik banget! Duduk-duduk santai sore minum kopi klothok, susu jahe dan pisang goreng krenyes-krenyes aduhai sambil menikmati pemandangan sawah dan gunung. Kayak di gambar-gambar anak jaman SD gitu.

Malamnya kami makan di angkringan yang tedjo (nggak jelas) abis, di pinggir kali code yang bersih dan tenang ditemani temaram lampu jalanan. Romantis abis.

Besoknya kami berburu nasi brongkos yang niqmatnya haqiqi, lengkap dengan es tape kelapa yang bagai oase di padang pasir. Tau kan Yogya panasnya kayak apa? Pas kena es tape tuh segerrrrrrr benerrrrrr.

Setelah kenyang makan nasi brongkos dan es tape, kami mampir ke rumah Diza untuk pinjam mobil. Eh tapi baru keluar gang, kok tiba-tiba powersteeringnya mati. Pas di cek, ternyata ada tikus nyangkut di dalam mesin mobil! Antara geli tapi kocak banget, soalnya pose si tikus pasrah banget XD.

Sorenya kami menyempatkan mampir ke Kalibiru. Nggak nyangka ternyata jalanannya nanjak parah dan berkelok-kelok. All hail Mas Emka yang punya skill nyetir tingkat Dewa!

Sungguh, Kalibiru itu bagus banget. Udaranya sejuk dan suasananya tenang. Enak banget buat yang mau meditasi, asal datangnya nggak pas jam ramai. Kebetulan kami sampai disana sekitar jam 5, dan kebayakan pengunjung sudah pulang karena area foto sudah ditutup. Kami kesana sih untuk menikmati suasana, dan tentunya makan indomie rebus pake telor dan cabe rawit. Surga banget, fix.

Setelah puas menikmati Kalibiru, kami turun ke kota dengan keadaan jalan yang berkelok-kelok, turunan tajam dan tanpa penerangan sama sekali. Tapi semuanya tetep seru karena kami karaokean sepanjang jalan. Thank God di saat-saat seperti itu sinyal masih LTE jadi bisa streaming spotify XD.

Malamnya kami menginap di rumah nenek saya. Baru masuk rumah aja kami sudah kelelahan karena membuka gembok yang berlapis-lapis. Sumpah ini rumah nenek dengan top security sekelas penjara! Setelah berhasil membuka semua gembok, kami semua langsung tepar. Eh ternyata Mas Emka yang lagi enak-enak tidur, “digangguin” dengan suara pintu digedor-gedor. Yah harap maklum, mungkin penghuninya lagi “ngajak kenalan”.

Esok paginya kami bertolak ke pantai Glagah, yang cuma 8 menit dari rumah nenek. Kami foto-foto disana sampai puas sebelum akhirnya menyerah karena kelaparan.

Setelah pulang dari pantai dan berkemas, kami mampir ke warung langganan nenek saya buat mengisi perut. Sungguh, sate klathak, tongseng dan gulenya juara banget disini! Saya nggak pernah melewatkan untuk mampir kesini setiap berkunjung ke Yogya.

Setelah kenyang makan macam-macam dan cuma bayar 157.000 buat ber 5 (iya, cuman segitu dan semua udah mabok kambing), kami beli oleh-oleh bakpia sebelum ke stasiun.

Pas banget, satu menit setelah kami masuk stasiun, keretanya sampai dan kami langsung berangkat.

Sungguh, perjalanan kali ini diluar ekspektasi. Padahal niat awalnya cuman jalan-jalan biasa karena dapet tiket kereta murah di KAI Travel Fair. Tapi teman-teman traveling kali ini membuat semuanya jadi seru banget!

Nih, beberapa foto yang saya dapat selama perjalanan kali ini:

Sekian perjalanan kali ini, semoga bertemu lagi di perjalanan berikutnya! 🙂

Job-Hunter vs Recruiter Point of View: Sulitnya Mendapat Pekerjaan

Adalah wajar ketika saya mengatakan bahwa mencari pekerjaan itu tidak mudah. Tentu banyak yang sepakat dengan hal ini.

Tapi ada sesuatu yang mengusik pikiran saya. Muncul pertanyaan di benak saya, benarkah mencari pekerjaan sesulit itu? Kalo iya, kenapa ya? Apa kira-kira penyebabnya?

Memangnya berapa sih jumlah pengangguran di Indonesia saat ini?

Februari 2017 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan informasi berikut:

  • Jumlah angkatan kerja: 131,55 juta orang
  • Jumlah penduduk bekerja: 124,54 juta orang
  • Jumlah pengangguran: 7,01 juta orang

Gilak men, itu kan banyak banget. And to put it into context, emangnya berapa jumlah lapangan pekerjaan yang ada saat ini?

Saya belum menemukan datanya untuk skala nasional, tapi kita ambil contoh berdasarkan data yang didapat dari acara bursa kerja yang ada di Kota Tangerang Selatan ini:

  • Jumlah penduduk usia produktif: 880.000 orang
  • Jumlah penduduk tidak bekerja dan sedang mencari kerja: 42.000 orang
  • Jumlah lapangan pekerjaan tersedia: 10.081 orang

Jadi, jumlah lapangan pekerjaan yang ada hanya 24%  alias seperempat dari total pencari kerja.

Perbandingannya 1:4. Dari 4 orang pelamar, hanya 1 yang diterima. 3 orang lagi ya balik jadi pengangguran dulu. Dunia memang kejam.

Saya sendiri termasuk orang yang cukup beruntung, karena langsung mendapat pekerjaan segera setelah lulus kuliah. Sekarang, saya sudah 2 tahun bekerja di perusahaan ini. Namun sayangnya, tidak sedikit juga teman-teman seangkatan saya yang hingga kini belum mendapatkan pekerjaan.

Kadang saya suka heran, ini orangnya yang pilih-pilih banget ketika nyari kerja, perusahaan yang dia lamar memang ketat banget persyaratannya, si orangnya yang memang kurang dari sisi skill nya, atau emang belum jodoh aja sama kerjaannya?

Pasti masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kenapa seseorang belum mendapatkan pekerjaan.

Hingga akhirnya beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melihat permasalahan ini dari sisi seorang recruiter.

Saya dan rekan satu tim saya ditugaskan oleh Manager kami untuk merekrut orang baru ke dalam tim. Manager saya tidak memberi syarat yang muluk-muluk, karena memang menarget anak-anak freshgraduate, yang notabene belum punya banyak pengalaman kerja.

Kami sempat kebagian mewawancarai dan memberikan tes kepada para pelamar kerja. Dari situ saya bisa mengambil asumsi, kenapa sih jumlah pengangguran itu banyak banget dan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan itu ketat banget. Beberapa faktor yang menyebabkan seorang pelamar tidak diterima menurut opini pribadi saya berdasarkan hasil wawancara kemarin adalah:

1.Kurangnya Hard Skill

Para pelamar pada umumnya memasukkan kemampuan/keterampilan mereka di dalam CV. Mulai dari kemampuan dasar pengoperasian komputer, kemampuan menggunakan tools dasar seperti Microsoft Office, hingga tools spesifik seperti software/aplikasi pengolahan data tertentu. Namun pada kenyataannya, ketika di tes, mereka tidak bisa menunjukkan kemampuan-kemampuan dasar yang dibutuhkan. Sungguh sangat disayangkan.

2. Kurangnya Kemampuan Berbahasa Asing

Kita begitu terlena karena sehari-hari menggunakan bahasa Ibu, sehingga tidak mau mengasah keahlian kita dengan bahasa asing. Masalahnya, di era globalisasi seperti sekarang, kemampuan bahasa asing ini bisa dibilang sudah menjadi kewajiban. Tidaklah harus kita sangat ahli, sampai cas-cis-cus ketika berbicara. Tapi setidaknya kita bisa memperkenalkan diri kita dalam bahasa Asing, untuk memberikan kesan yang baik kepada pewawancara. Jadi jika kamu membaca tulisan ini, sebaiknya mulailah belajar berbahasa asing. Mungkin bisa dimulai dari mengganti settingan bahasa di HP kamu jadi bahasa Inggris 🙂

3. Kurangnya Kemampuan Berkomunikasi

Seringkali saya dan tim menemukan pelamar kerja yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, menuliskan berbagai software/aplikasi yang bisa ia gunakan, namun ketika diminta untuk berbicara, ia tidak mampu menyampaikan value dari dirinya sendiri. They can’t make us understand what they’re worth. Bagaimana kami bisa percaya kalau IPK itu tidak didapatkan dari hasil nyontek? Bagaimana kami bisa percaya kalau berbagai software itu benar-benar pernah kamu gunakan? Atau dalam beberapa kasus, kami memang tidak menjadikan IPK sebagai dasar dalam seleksi, lalu bagaimana kami bisa tahu kemampuan seseorang kalau ia sendiri tidak mampu menjelaskan nilai lebih yang ia miliki?

Beberapa kemampuan yang saya sebutkan di atas adalah masalah yang paling umum dan banyak terjadi pada pelamar kerja. Diluar faktor hoki atau berjodoh sama pekerjaan, kemampuan-kemampuan di atas sebenarnya dapat diasah untuk meningkatkan kualitas diri.

Jadi kesimpulannya kesulitan mencari pekerjaan tidak hanya disebabkan oleh jumlah lapangan pekerjaan yang sangat kurang, tapi juga kualitas sumber daya manusia itu sendiri yang masih perlu banyak ditingkatkan.

Karena nyatanya ada saja orang-orang yang malah jadi rebutan di perusahaan-perusahaan besar, dan perusahaan pun rela membayar mahal untuk mempekerjakan orang tersebut.

Bersyukurlah kalian yang sudah mendapatkan pekerjaan.

Bagi kalian yang belum mendapat pekerjaan, teruslah berusaha dengan meningkatkan kemampuan kalian dan tentu saja jangan lupa berdoa ya! 🙂

 

GOOD LUCK! 🙂

 

World of Ghibli Jakarta 2017

Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan!

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesampaian juga datang ke World of Ghibli Jakarta. Pameran yang mengangkat karya-karya Studio Ghibli ini memang yang pertama kali diadakan di dunia.

Hari Minggu, 3 September kemarin saya kesana bareng Farid. Sesampainya disana saya bertemu dengan Cindy, teman saya waktu SMP. Kebetulan Cindy jadi salah satu panitia di acara ini. Hehehe sekalian reunian deh:


Dan selama di dalam, sungguh saya bahagia sekali aaaaaakkkkk instalasinya bagus sekali dan sangat detail! Saya nggak banyak foto detailnya sih, but I did take a lot of photos, here here:

Nekobasu!

Sorry I didn’t behave
Pretty detail!
Susuwatari!

We met Kaonashi!

 

Kenapa sih posenya kayak mas-mas Start up yang lagi diwawancara Tech in Asia?
>.<
Ketauan ya mana yg cool mana yg enggak -_-
Last but not least, FINALLY I CAN HUG TOTOROOOOO!!!

 

Conclusion: I WAS SO HAPPY!!!!

Mencicipi Pesona Indonesia di Pulau Pahawang, Lampung Selatan

Allah memang maha baik.

Usai kesedihan saya karena ditolak LPDP, saya langsung dikasih pelipur lara. Tak tanggung-tanggung, hiburannya adalah jalan-jalan ke Lampung Selatan. GRATIS.

Acara yang disponsori oleh kantor saya ini berlangsung selama 3 hari. Agendanya adalah snorkeling, snorkeling dan snorkeling! Ditambah sedikit workshop dan fun games. Tentu tak lupa hunting foto dong 😀

Jumat, 25 Agustus 2017

Kami berangkat hari Jumat pagi dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Radin Inten di Lampung Selatan. Dari sana kami melanjutkan perjalanan darat sampai ke pelabuhan Ketapang. Kayak gini nih wujud pelabuhannya:

Pelabuhan Ketapang
Pelabuhan Ketapang
Setelah semua anggota kumpul lengkap, kami pun naik kapal menuju destinasi pertama yaitu Taman Nemo. Disana kami snorkeling sampai sore. Puas dan pegel banget deh pokoknya. Tapi seruuuuu! Sayang sekali saya ngga ada stok foto selama di Taman Nemo, simply karena ngga punya nyali buat nyemplungin iPhone ke laut walaupun udah pake underwater case. Alhasil cuma ada beberapa foto seperti ini:

Sorenya kami bertolak ke Pulau Tanjung Putus, disana kami menginap di homestay milik bu lurah hehehe. Pemandangannya bagus sekali, homestay kami menghadap langsung ke pulau Sumatera. Sembari menikmati sore, saya berniat hunting foto sunset. Namun karena cuaca mendung, saya nggak dapet foto bagus. Yasudahlah, saya hanya berharap semoga besoknya dapet foto bagus. Hari Jumat diakhiri dengan workshop internal tim kami, dimana pesertanya setengah sadar karena sudah kelelahan snorkeling hahaha.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Saya terbangun untuk sholat subuh. Seusai solat saya bersemangat sekali keluar dari homestay untuk hunting foto sunrise. Tapi ternyata di luar langit masih gelap, akhirnya saya masuk lagi. Jam 5:30 saya keluar lagi dan berharap langit sudah terang, ternyata belum juga. Eh taunya lagi mendung toh. Akhirnya saya hanya main air di pinggir pantai sambil menghirup segarnya udara pagi.

Sekitar jam 8 pagi kami berangkat ke Pulau Lok. Agenda pagi ini adalah melanjutkan (sedikit) workshop tadi malam plus fun games (asli fun banget ga boong). Tapi ada yang unik di Pulau Lok ini, yang nanti akan saya ceritakan di postingan saya yang lain 🙂


Usai bermain sampai lapar di Pulau Lok, kami kembali ke Pulau Tanjung Putus untuk ganti baju dan lanjut snorkeling lagi. Di perjalanan kembali ke Pulau Tanjung Putus, angin berhembus sangat kencang dan membuat kapal kami oleng berkali-kali. Bahkan bagian depan kapal sempat tercebur ke laut (kebayang ga sih?). Lalu saya gimana? Saya sih santai di atap kapal, nih:


Sesampainya di Pulau Tanjung Putus, kami snorkeling lagi sampai ngga kuat lagi hahaha. Pokoknya puas banget deh!

Sorenya kami pulang dan saya bersiap menyambut matahari terbenam. Sungguh sunset kali ini istimewa sekali, bisa dilihat langsung nih:

Setelah puas menikmati sunset, saya kembali ke homestay. Hari ini ditutup dengan selonjoran santai di hammock sambil melihat bulan dan bintang sampai ketiduran.

Minggu, 27 Agustus 2017

Terbangun dengan otot seluruh tubuh yang pegel dan sakitnya ngga karuan, saya tetap bersemangat mengejar matahari terbit. Berharap hari ini bisa dapat foto bagus. Karena semalam langit cerah bertabur bintang, jadi harusnya sih sunrisenya juga bagus. Daaaaan saya benar! Nih nih:

Puas hunting foto sunrise, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Tentu di perjalanan kembali ke Pelabuhan Ketapang saya tak lupa foto-foto:

Liburan singkat kemarin sangat spesial, karena selama disana saya sama sekali tidak tersentuh sinyal operator hahaha. Rasanya bahagia sekali bisa “escape” dari kehidupan yang penuh banget selama ini. Just enjoy the day, feel the breeze, get sun-kissed skin and being happy.

Sisa-sisa foto lainnya selama perjalanan bisa dilihat di website portfolio saya ya di Eksplorasi Mata. Semoga suka!

Sekian postingan kali ini, semoga segera bisa jalan-jalan lagi!! XD

Belum Berjodoh

Bulan Agustus adalah bulan yang cukup berat buat saya.

Entah kenapa, rasanya energi ini terkuras sekali. Saya menjadi jauh lebih sensitif dari biasanya. Mungkin memang karena sedang banyak kegiatan yang menguras waktu, tenaga, pikiran dan air mata hahaha.

Salah satunya adalah proses seleksi Beasiswa LPDP.

Pada seleksi LPDP tahun ini, ada 3 tahapan yang harus dilalui yaitu seleksi administratif, assessment online dan yang terakhir adalah seleksi substansi.

Pada tahap seleksi pertama, semua peserta akan diseleksi kelengkapan berkasnya serta kesesuaian isi berkas pendaftaran dengan persyaratan yang sudah ditentukan. Misalnya essay yang dijadikan prasyarat pendaftaran. Alhamdulillah pada tahap ini saya dinyatakan lolos dan dapat mengikuti seleksi tahap kedua yaitu assessment online.

Pada tanggal 14 Agustus saya mengikuti assessment online yang terdiri atas tes VMI dan 15FQ+. Saya sempat googling tentang apa sih sebenarnya tes VMI dan 15FQ+, dan ternyata tes ini semacam psikotes untuk mengetahui kepribadian seseorang. Jadi sebenarnya tidak ada jawaban yang salah ataupun benar dalam tes ini.

Semalam sebelum tes saya menyempatkan juga untuk trial mengikuti freetest online VMI dan 15FQ+ ini, sekedar “pemanasan” dan supaya tau aja kepribadian saya sebenarnya seperti apa sih dan apakah sangat jauh dari standar ideal atau tidak. Pagi hari seusai sholat subuh saya mulai mengerjakan soal-soal ini, dengan asumsi bahwa kalo ngerjainnya siang atau pulang kantor pasti peak hour jadi saya lebih baik menghindari potensi masalah tersebut.

Kebetulan saya bergabung di grup Telegram LPDP scholarship hunter. Dan di tanggal 22 Agustus, kami para peserta harap-harap cemas menunggu pengumuman. Banyak sekali yang bolak balik membuka website LPDP tapi belum ada perubahan status juga. Seringkali kami hanya menemukan halaman 404 karena website ini dihajar oleh ribuan orang sekaligus hahaha.

Hingga akhirnya saya berhasil membuka website LPDP sekitar habis magrib.Namun sayangnya, yang muncul adalah tulisan seperti ini:

Sepertinya memang saya dan LPDP belum berjodoh. Pada tahap ini saya dinyatakan tidak lolos.

Sedih? Iya.

Kecewa? Tentu.

Nangis? Hehehe iya lah.

Memang sangat berat menerima kenyataan ini, karena saya ingin sekali melanjutkan menimba ilmu. Tapi apa daya, keputusan Allah ternyata berbeda dengan harapan saya. Daripada saya nangis terus dan mata bengkak tidak karuan, saya mencoba menerima kenyataan.

Bahwa, life is not always rainbows and butterflies. And that life must go on. Mungkin dibalik tidak berjodohnya saya dengan LPDP, Allah memberikan saya hikmah dan rencana lain yang lebih baik. Cause after all, He knows what’s best for us 🙂

Justru saya bersyukur sekali disaat-saat saya sangat membutuhkan dukungan, orang-orang yang saya percaya memang benar-benar ada untuk mendukung dan menyemangati saya. They’re so kind, toughtful and supportive.

Yah begitulah kira-kira salah satu cerita ringan tapi padat di bulan Agustus.

Sampai jumpa di kisah lainnya ya~