What Does Love Taste Like?

Sometimes,

It tastes like sushi

Last night,

A hint of sweet tea

Yesterday,

Savoury like your favourite fried rice

The other day,

A little sour like strawberry juice

This summer,

It feels dry and warm

On a rainy morning,

It’s soft and gentle

But most of the time,

It simply tastes like you

Advertisements

Pentingnya Berbagi

Jika ada satu nilai kehidupan yang melekat di benak saya, itu adalah pentingnya berbagi, yang entah sengaja atau tidak, telah ditanamkan oleh orang tua saya.

—-

Setiap keluarga pasti memiliki nilai-nilai yang mereka junjung tinggi dan pegang teguh. Misalnya, nilai-nilai kejujuran, pantang menyerah atau kerja keras.

Di keluarga saya, nilai itu adalah “pentingnya berbagi”.

—-

Dulu, waktu saya masih kecil, ayah saya selalu mengajak saya berbelanja baju jika sudah mendekati hari lebaran. Tapi saya heran, kok beli bajunya banyak sekali? Dan baju yang dibeli itu kemeja bapak-bapak semua, pikirku.

Kami pulang dari Pasaraya Blok M membawa dua bungkus kantong plastik besar yang terisi penuh dengan kemeja.

Saya masih tidak mengerti, untuk apa ayah saya membeli baju sebanyak itu? Modelnya sama semua, hanya beda motif atau warna.

—-

Besoknya, ayah saya datang naik becak bersama berkardus-kardus biskuit kaleng, sirup, gula, teh dan berbagai sembako lainnya.

Saya lebih bingung lagi. Tapi saya senang sekali, karena saya pikir, biskuit-biskuit itu untuk saya. Ternyata bukan.

—-

Siang itu, ayah saya duduk manis di ruang tengah sembari memasukkan botol sirup, gula, biskuit dan kemeja itu ke dalam kantong plastik. Terus seperti itu, sampai ruang tengah kami tertutup kantong plastik. Saya pun ikut membantu. Saat itu, saya masih belum mengerti untuk apa itu semua. Ayah saya hanya bilang “kalau punya rejeki itu harus dibagi-bagi”.

—-

Keesokan harinya, beberapa orang datang ke rumah saya. Ada tukang becak, tukang ojek, tukang sampah, tukang pijit, bahkan tukang sayur. Mereka silih berganti datang ke rumah saya, kemudian ayah saya memberikan bungkusan plastik itu kepada orang-orang yang datang. Lalu mereka pulang dengan wajah cerah dan sumringah.

Hari itu, saya akhirnya mengerti untuk apa bungkusan-bungkusan itu. Dan setiap tahunnya pun selalu seperti itu, seakan sudah menjadi tradisi.

—-

Suatu ketika, kondisi ekonomi keluarga kami sedang goyah. Ramadhan kali itu, ayah saya tidak bisa membelikan bingkisan lebaran untuk orang-orang. Saya sudah cukup besar untuk mengerti permasalahan itu.

Saya melihat raut wajah ayah yang sedih dan lesu. Ayah sempat tak mau keluar rumah, karena tak sanggup jika bertemu orang-orang yang biasa ia undang ke rumah untuk diberi bingkisan. Ia tak sanggup melihat wajah penuh harap mereka, katanya.

—-

Ketika kondisi ekonomi keluarga kami perlahan pulih, kami melanjutkan tradisi itu kembali. Hingga tahun ini.

—-

Mama saya pernah berkata, “selagi kita punya kesempatan untuk membantu orang lain, kita harus bantu. Karena kalau pas ada orang yang lagi membutuhkan trus kita nggak bisa bantu, itu tuh rasanya sedih banget. Jadi kalau ada kesempatan, bantu. Sebisa mungkin.”

—-

Nilai itulah yang lekat di hati saya, yang diajarkan orang tua saya sedari kecil.

Belitung, Negeri Laskar Pelangi Part 1

Semenjak kemunculan film Laskar Pelangi di tahun 2008, Pulau Belitung kemudian menjadi destinasi wisata yang menarik. Di film tersebut, Belitung digambarkan dengan sangat apik dengan bebatuan besar yang ada di tepi pantainya. Tentu saja, saya salah satu yang tergugah untuk mengunjungi pulau indah ini. Dan akhirnya, tanggal 8-12 Mei kemarin saya berkesempatan mengunjungi Belitung, tentunya bersama teman traveling gila saya: Widita.

Pesawat kami lepas landas pukul 6 pagi, tanggal 8 Mei. Sesampainya disana, kami disuguhi hamparan luas yang hijau, jelas kami langsung kegirangan.

Hari pertama di Belitung, kami dijemput oleh pak Hendra, driver yang akan menemani kita jalan-jalan selama di Belitung. Pak Hendra ini orang asli Belitung, jadi sudah hafal diluar kepala deh soal Belitung. Di hari pertama ini kami keliling Belitung Timur, jaraknya sekitar 80 KM dari pusat kota Tanjung Pandan. Tapi kami mampir dulu ke Danau Kaolin. Sayangnya, sekarang Danau Kaolin sudah ditutup karena banyak wisatawan bandel yang nyebur ke danaunya. Padahal danau itu tanahnya lunak, jadi kalo ada yang nyebur, rasanya kayak disedot sama pasir hisap. Sekarang wisatawan nggak bisa masuk dan main-main di danaunya, cuma bisa liat dari pinggir saja. Akhirnya beginilah kelakuan kami di pinggir Danau Kaolin.

Danau Kaolin

Setelah puas foto-foto nggak jelas di Danau Kaolin, kami bertolak ke daerah Gantong, disana ada replika SD Muhammadiyah yang terkenal gara-gara film Laskar Pelangi itu tuh.

Di Depan Replika Sekolah Laskar Pelangi

Dari sini kami lanjut mampir ke museum kata Andrea Hirata. Saya nggak banyak foto-foto sih di museum kata, tapi kurang lebih kayak gini penampakannya:

Museum Kata Andrea Hirata

Bagian depannya seperti itu, dan di dalamnya ada warung kopi nyempil gitu. Tapi enak banget kopinya! Asli deh!

Setelah puas mengelilingi museum kata, kami kelaparan hahaha. Akhirnya kami mengajak pak Hendra buat makan. Selagi di pulau gini, rasanya nggak afdol kalo nggak makan seafood. Tempat makan seafoodnya terletak di pinggir pantai Serdang. Salah satu menu yang kami pilih adalah makanan khas Belitung: ikan gangan. Ikan yang dimasak pakai bumbu warna kuning gitu dan ada nanasnya (aneh sih tapi surprisingly enak). Siang-siang jam gitu setelah makan (sorry nggak sempet foto makanannya karena udah keburu kalap), kami iseng main ke pantai. Gilak sih panasnya! Mana saya dan Widita sama-sama lagi pakai baju warna hitam.

Cuma Berdua di Pantai Serdang

Karena lagi low season, pantai-pantai pada sepi. Jadi rasanya kayak pantai milik berdua aja (cailah).

Girang di Pantai Serdang
Super Cerah!

Tergirang sih ini! Padahal panasnya kayak sauna.

Setelah lelah panas-panasan di pantai, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Vihara Dewi Kwan Im. Tempatnya tinggi banget dan ada banyak anak tangganya. Dari sana kami bisa lihat laut Karimata.

Vihara Dewi Kwan Im

Dari Vihara Dewi Kwan Im ini, sebenarnya kami udah mau minta pulang aja. Tapi pak Hendra mengajak kami ke satu pantai lagi, lumayan buat menikmati sore. Pantai ini namanya pantai Burung Mandi. Entah, mungkin banyak burung mandi disini, tapi kemarin sih saya nggak lihat burung, malah lihat ayam.

Di sini saya dan Widita duduk-duduk santai sambil minum es kelapa. Sungguh nikmatnya hidup ini, sementara teman-teman yang lain lagi ngantor hahaha. Untung pak Hendra membawa kami kesini!

Saya juga ketemu sama adik yang lagi bawa ikan hasil tangkapannya dari kapal. Senang sekali mukanya hehehe. Ekspresi-ekspresi tulus seperti ini yang suka bikin saya bahagia kalau traveling.

Pulang Bawa Ikan
Sore-sore

Hari mulai sore, akhirnya kami bertolak ke penginapan. Kami menginap di Penginapan Mitra Belitung, tempatnya bersih dan staffnya ramah sekali, memang bukan penginapan yang “wah” banget sih. Lebih mirip kos-kosan malah, tapi buat kami sih cukup. Nggak dapat sarapan berat, tapi ada free coffee, tea dan jajanan pasar setiap pagi. Lokasinya di pusat kota Tanjung Pandan. Jadi memang jauh sekali, dan kami harus berangkat sebelum gelap. Karena sepanjang perjalanan tidak ada penerangan. Repot juga kan kalau kenapa-kenapa. Untungnya jalanan di Belitung ini sepi sekali. Jadi dengan jarak sejauh 82 KM bisa kami tempuh hanya dalam 1,5 jam saja. Sungguh hal seperti ini tak mungkin terjadi di Jakarta hahahaha.

Begitulah hari pertama kami di Belitung. Masih ada 3 hari lagi disana, tapi tidak sepadat hari pertama ini. Akan saya ceritakan di postingan selanjutnya ya!

Radio Rusak

Malam ini sunyi

Semuanya terdiam

Semuanya bisu

Kecuali isi kepalaku

Bising suara seperti radio rusak

Menyeruak memaksa

Tak henti

Tak memberi ruang bagiku untuk mencerna

Apa yang sebenarnya kau coba katakan?

Sudahkah?

Dekat denganMu itu tidak cukup

Dan tidak akan pernah cukup

Karena dekat itu berjarak

Aku ingin menyatu

Menjadi sebagian dariMu

Karena ini bukan perkara

“Siapa yang paling dekat dengan Tuhannya”

Tapi siapa yang merasakan keberadaan Tuhan dalam dirinya

Melebur dalam setiap kata yang ia ucap

Bukan cuma objek ucapanmu!

Tuhan itu kamu

Tuhan itu aku

Tuhan itu kita

Sudahkah kau merasakannya?

Dikutip dari beberapa carik kertas berisi puisi, yang kutemukan terselip di lemari. Ternyata aku pernah menulis seperti ini?

Menerka

Mengapakah kita sibuk,

Menerka-nerka,

Mereka-reka,

Dengan jumawa berkata,

“Akulah yang paling dekat dengan Tuhan”.

Nyatanya apa?

Kau ajak Dia bicara pun, tidak.

Bagaimana jika,

Yang kau kira tak kenal Tuhan itu

Kini sedang asyik bercengkerama denganNya?

Diam-diam, bersembunyi

Mereka tak ingin didengar yang lain

Kadang sedikit tertawa

Melihat tingkahmu

Belingsatan sendiri

Menerka-nerka,

Mereka-reka