A Little Change, Not Little Impact

Hello Wednesday, thanks a lot for the weather. It’s chillin outside and I’m still under my blanket, while in 13:30 I will have my exam. Very nice.

Saya baru menyadari ada perubahan dalam diri saya. Dan saya rasa perubahan itu baik. Jadi begini….

Dulu, saya adalah orang yang sangat berantakan. Kamar saya benar-benar berantakan. Buku, kertas, alat tulis semuanya berserakan di kamar saya. Bantal, selimut pun tak tertata rapi.

Teman-teman pun yang pada awalnya merasa risih dengan keadaan kamar saya yang seperti itu, akhirnya angkat tangan. Mereka menyerah, dan terbiasa dengan berantakannya kamar saya itu.

Nggak cuma kamar. Bahkan jadwal tidur pun tak karuan. Tidur jam 2 pagi, bangun jam 7 untuk kuliah. Begitu seterusnya. Benar-benar pola hidup yang nggak sehat.

Tapi sejak libur minggu tenang kemarin, hidup saya jadi jauh lebih teratur. Saya jadi tidur jam 9 malam dan tentunya bangun lebih pagi. Pola makan lebih teratur, dengan menu makan yang sederhana tapi cukup.

Tak cuma itu, bahkan beberapa teman yang biasanya main ke kamar saya pun bingung bertanya-tanya. “mentang-mentang aku mau dateng, kamarnya diberesin ya?” atau ada juga yang bilang “ih kok tumben kamarnya rapi?”. Bahkan yang paling menohok datang dari sahabat saya, Rere.

Begini katanya:
Rere: Ay, di deket sini tempat beli piala dimana ya?
Saya: hah?
Rere: tempat beli piala dimana? yang deket sini..
Saya: piala?
Rere: iya
Saya: pialaaa?
Rere: iya piala.
Saya: buat apaan?
Rere: buat kasih kamu. Abisan tumben kamarnya rapi.

Waduh, ini nyakitin hati ini. Tapi kocak juga hahaha. Saya jadi sadar, ternyata dengan hidup yang teratur begini lebih enak.

Efeknya juga lumayan loh. Saat kita lelah dan kita masuk kamar dengan keadaan rapi, itu membantu mengurangi tingkat stress juga. Selain itu, akan lebih mudah bagi kita mengerjakan sesuatu atau memecahkan suatu masalah bila kita berada di tempat yang membuat kita merasa nyaman.

Cocok dengan yang saya pelajari tentang ilmu ergonomi. Menurut ilmu ergonomi, secara teknis seseorang akan bekerja lebih maksimal (efisien dan efektif) apabila bekerja dalam kondisi yang nyaman.

Well, itu yang saya dapat dari perubahan kecil yang saya lakukan di hidup saya. Dampaknya nggak kecil ternyata. Semoga untuk selanjutnya saya bisa lakukan lebih banyak perubahan yang membawa diri saya dan orang di sekitar saya menjadi lebih baik. Aamiin.

Advertisements

Mulai Terjawab #1: Ternyata Hari-hariku Tak Pernah Sia-Sia

Heeey-ho! Beberapa hari yang lalu saya sempat ngepost tentang kebingungan saya “mau jadi apa?”. Sekarang saya mau nulis tentang betapa Allah perlahan-lahan mulai menjawab kebingungan saya. Saat saya dilanda kebingungan waktu itu, saya juga sempat ngetweet tentang hal itu. Ternyata ada respon dari senior saya, Bang Raja. Alhamdulillah, Allah membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan saya melalui perpanjangan tanganNya. Bang Raja memberikan saya beberapa masukan, yang menurut saya itu memang sangat masuk akal untuk membantu saya dalam proses pencarian jawaban ini.

Tapi buat saya itu nggak cukup. Saya butuh partner diskusi. Dan biasanya kalau ada masalah saya cerita ke salah seorang sahabat saya, Bang Nando a.k.a Subot. Sayangnya, waktu itu dia lagi di Semarang jadi kita gak bisa bicara tatap muka.

Nah, hari ini dia baru punya waktu untuk ketemu saya. Saya cerita-cerita ke dia tentang hal-hal yang belakangan ini mengusik pikiran saya. Disitu dia sangat membantu.

Awalnya dia menyuruh saya menyiapkan selembar kertas dan menuliskan 5 hal yang paling saya suka dan pada tahun berapa saya mulai menyukai hal-hal tersebut:
1. Gambar – 2003
2. Ngajar/Sharing – 2006
3. Fotografi/Filmografi – 2009
4. Teknologi – 2011
5. Organisasi -2012

Setelah saya tulis 5 hal itu, dia menyuruh saya untuk membuat sebuah garis lurus dan meletakkan 5 hal tersebut dalam urutan waktu.

Dan yang terakhir dia menyuruh saya meletakkan sebuah titik di bagian paling akhir, dimana pada titik itulah saya berada sekarang. Pada titik terakhir itu saya harus mendeskripsikan diri saya sekarang:
1. Kuliah
2. Dikurung rutinitas
3. Waketu BEM
4. Mulai belajar menulis
5. Sangat suka nonton film
6. Jatuh cinta sama organisasi
7. Mencari jati diri

Lalu Bang Nando bertanya pada saya “kamu sudah terbayang? saya sudah bisa melihat dimana hubungan dari semua ini”.

Tidak. Saya tidak melihatnya. Jujur saja saya masih tidak menemukan korelasi antar 5 hal yang saya tuliskan tadi.

“Ayo coba lihat.. Connecting the dots…” begitu katanya. Saya cuma bisa mengangkat sebelah alis, pertanda bingung.

Lalu dia menjelaskan bahwa dari kemampuan dasar yang saya punya, –menggambar– adalah modal utama saya. Untuk mengajar/sharing, kadang kita tidak bisa hanya mengandalkan kata-kata. Harus ada ilustrasi, dimana tak semua orang pandai membuat ilustrasi yang dapat dimengerti orang lain.

Dari gambar, juga ada hubungannya dengan fotografi/filmografi tentunya. Saya pernah bilang bahwa saya kagum bagaimana sebuah gambar dapat menyimpan momen, ekspresi, rasa, dan kembali menceritakannya sebanyak ia mau. Ya, dari situlah saya disadarkan bahwa saya suka ‘menangkap’ suatu momen dari perspektif yang berbeda. Dan hal itu dibutuhkan dalam berorganisasi. Karena saya harus peka dengan berbagai situasi, dan mencoba memandang suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Begitupun dalam menghadapi orang-orang dalam organisasi yang notabene kepribadiannya berbeda. Bagaimana mungkin saya menyamaratakan perspektif dari sekian banyak kepala?

Teknologi? Kembali ke ‘menangkap’ momen. Agar momen itu kembali bisa diceritakan kembali, tentu harus ada sebuah preservasi dari momen itu sendiri bukan? Teknologi bisa menjadi jawabannya 🙂

Kembali lagi ke gambar, Bang Nando bilang ke saya bahwa menggambar adalah pekerjaan seorang leader. Menggambar itu dengan hati, nggak ada yang bisa nyuruh kamu buat gambar. Leader itu nggak disuruh-suruh.

“See? Setelah kamu melihat ke belakang, apa yang kamu telah lalui, semuanya nggak ada yang sia-sia. Kamu hubungkan titik-titik itu, kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu. You’re gonna be a leader”.

Whoa! It really opens my eyes, open my mind. Selama 18 tahun pencarian saya, ternyata apa yang saya alami semuanya ga ada yang sia-sia. Semua ini ada maksudnya, ada hikmahnya. Setiap orang yang saya temui, tentunya membawa pelajaran untuk saya.

Sekarang saya sudah mulai mengerti harus ‘ngapain’. Sudah ada bayangan ‘mau jadi apa’. Tinggal lebih peka untuk menyadari setiap ‘petunjuk’ yang Tuhan kasih buat saya. Mengasah kemampuan saya, di akademik maupun non-akademik. Belajar mengabdi pada ‘miniatur masyarakat’ di kampus saya sebelum akhirnya saya nanti terjun ke ‘dunia nyata’.

Semua yang saya lakukan sekarang bakal jadi bekal untuk perjalanan saya biar selamat sampai tujuan. Semoga doa dalam nama saya ini terkabul. Aulia yang berarti pemimpin, teman, awal, mulia, dan wali Allah. Aamiin.

Subot, makasih banyak buat diskusi berkualitasnya hari ini. Semoga lu cepet lulus trus kita ke Lombok/KarJaw yak! Ehehe, gue kasih sajen buat lu doa aja yek wkwk.

Someday, what we talked about today will come true. I believe it! 😉

This post is dedicated to the World Writing Day.

Wall Of Moments

Heeeey-ho!
Well, this time I’ll write about some ideas I’ve found.
Aku suka sekali dengan fotografi. Aku memang bukan ahli, aku bahkan tak punya kamera canggih untuk mengambil gambar-gambar yang bagus.
Tapi aku suka.

I love it and I really amazed just how a picture can keep moments, expressions, feelings and tell us a million story.

Lalu aku berpikir, aku ingin membuat kamarku selalu mengingatkanku tentang semua tempat yang telah aku kunjungi. Tentang semua momen yang pernah aku jalani. Juga tentang semua orang yang menemaniku menjalani saat-saat itu.

Akupun memutuskan untuk mencetak beberapa foto untuk kupajang. Lalu, muncul 2 masalah:
1. Aku tak punya banyak uang untuk mencetak foto sebanyak itu.
2. Jika aku meletakkan foto-foto itu dalam bingkai, sebanyak atau sebesar apa bingkai yang aku butuhkan? Aku tak punya uang sebanyak itu juga untuk membeli bingkai.

Disinilah muncul solusi..
Aku punya tips untuk kalian yang berdomisili di Bandung. Siapa yang tak tahu Jonas Photo? Kebanyakan orang yang berdomisili di Bandung pasti tahu.

Nah! Studio foto ini salah satunya berlokasi di Jalan Banda. Jadi intinya begini: Jonas memiliki special offer, yaitu “Happy Hour”. Dimana pada saat Happy Hour pada pukul 07.30 – 08.30 kita akan mendapat diskon 20% bila ingin mencetak foto!

Waktu itu aku mencetak 56 foto ukuran 4R dengan harga Rp 800,-/lembar. Seharusnya aku membayar Rp 44.800,- tapi karena ada diskon 20% aku hanya harus membayar Rp 35.840,- saja!! Murah sekali bukan?
Masalah pertamaku sudah terselesaikan.

Lalu masalah yang kedua, sebanyak dan sebesar apa bingkai yang harus kubeli untuk memuat 56 foto itu?

Come on, beside thinking out of the box, you can think without the box, can’t you?

So, instead of preparing or buying too much frame for the photos, you can just place it on something you can easily see, right?

And I place it on my wall.

Tapi, pasangnya juga harus dengan estetika ya. Jangan asal tempel di sembarang tempat. Aku memilih satu sisi dindingku, yang khusus akan kuletakkan semua fotoku disitu. Dan aku akan membuatnya seperti “dinding kenangan”. Jadi akan mudah bagiku untuk melihatnya. Dan hasilnya seperti ini:

image

image

image

Dan beginilah tampilannya secara keseluruhan!

image

Simple but solves problem, right?

This is how I decorate my room. How I make myself feels like I’m everywhere! Like I’m at that very moment on the picture.

So, how do you decorate your room?

Ditulis di kamar kosan, setelah menempel beberapa foto di dinding. Ide muncul saat bosan melihat kamar kos yang begitu-begitu saja.

Another Brief Introduction: 1-20 Facts About Me

1. Anindia Aulia Indraswari, 18 tahun, baru mulai mencari tahu mau jadi apa kelak.

2. Tidak suka binatang, terutama kucing.

3. Suka makanan gurih. Sangat suka coklat.

4. Tidak boleh minum kopi dan keluarganya, karena alasan riwayat kesehatan.

5. Dulu suka menggambar, sebelum akhirnya disibukkan oleh rutinitas dan tanggung jawab.

6. Mudah tersentuh oleh musik dan film, hingga menitikkan air mata.

7. Sangat mengagumi bagaimana sebuah gambar/foto bisa menyimpan momen, ekspresi, rasa, dan kembali menceritakannya sebanyak ia mau.

8. Tertarik dengan laki-laki yang cerdas dan mau berusaha untuk apa yang diimpikannya. Tak lupa dengan akhlak dan bagaimana ia bersikap baik pada semua orang, bukan hanya pada orang dan waktu tertentu.

9. Ingin sekali menjelajahi indahnya dunia, dimulai dari tanah air sendiri.

10. Sering melamun menatap langit, lalu tersenyum begitu saja.

11. Tidak suka dipaksa, dikekang, dan dibatasi. Saya punya batas saya sendiri. Dan saya tahu diri.

12. Tidak suka film horror, bukan karena takut.

13. Sering terbawa emosi saat kepanasan.

14. Suka berorganisasi, berkumpul, bertemu banyak orang dan punya banyak teman.

15. Suka mengajar. Senang bila melihat orang lain jadi bisa melakukan sesuatu karena kami berbagi ilmu.

16. Suka makanan pedas, tapi tidak boleh makan pedas.

17. Susah sekali lepas dari handphone.

18. Pecinta warna biru, hijau dan coklat.

19. Ingin sekali tumbuh tinggi.

20. Sangat mengagumi mama.

What do you want to be?

Heeeey-ho!
Beberapa hari ini aku dihadapkan dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang sangat sederhana. Namun butuh 17 tahun bagiku untuk mencari jawabannya. Yang pada kenyataannya, hingga kini umurku 18 tahunpun aku tak kunjung temukan jawabannya.

Mau jadi

apa?

Sederhana, bukan? Hanya 3 kata. Namun berhasil membuatku tak berkutik dan mengunci bibir selama 3 hari apabila diminta jawabannya.

Jujur saja, aku iri pada mereka yang sudah bisa menjawab pertanyaan itu dengan tegas. Akupun iri pada mereka yang sudah tahu, apa yang ingin mereka lakukan kelak. Aku?

Tak ada jawaban.

Aku punya beberapa teman yang memiliki passion menggebu-gebu di bidang teknologi. Diantaranya ada Bang Nando dan Rio. Mereka tahu apa yang mereka mau, dan mereka tahu bagaimana untuk mencapai keinginan mereka. Salah satunya–atau bahkan keduanya– memang sudah memiliki bakat di bidang tersebut. Mereka tinggal melanjutkan.

Aku? Dimana passionku? Apa bakatku? Apa nilai lebih yang kupunya dibanding orang lain?

Masih nihil jawabannya.

Tapi bukan berarti aku berhenti. Aku sadar betul tak selamanya aku bisa terus begini. Aku teringat sebuah kalimat “Passion keeps you alive“. Kalimat ini memang benar adanya. Apa yang menjadi passionmu, kejarlah! Karena kelak itu yang akan membuatmu terus hidup, bahkan setelah kau mati. Mengerti?

Mungkin sekarang aku akan menjalani hari-hari dengan sebuah pertanyaan dalam genggaman jemariku. Kemana kakiku melangkah, aku akan cari serpihan jawaban dari pertanyaan itu. Dan satu hal yang pasti adalah, aku akan tetap melakukan yang terbaik yang kubisa di hari ini, untuk tetap menemukan diriku di esok hari.

–Dalam rajutan kata ini, kuselipkan doaku padaMu ya Allah.. Semoga apapun jawaban yang nanti kutemui, itu adalah suatu hal yang Engkau ridhoi dan senantiasa membawa kebaikan bagiku dan orang-orang disekitarku. Aamiin.