Mulai Terjawab #1: Ternyata Hari-hariku Tak Pernah Sia-Sia

Heeey-ho! Beberapa hari yang lalu saya sempat ngepost tentang kebingungan saya “mau jadi apa?”. Sekarang saya mau nulis tentang betapa Allah perlahan-lahan mulai menjawab kebingungan saya. Saat saya dilanda kebingungan waktu itu, saya juga sempat ngetweet tentang hal itu. Ternyata ada respon dari senior saya, Bang Raja. Alhamdulillah, Allah membantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan saya melalui perpanjangan tanganNya. Bang Raja memberikan saya beberapa masukan, yang menurut saya itu memang sangat masuk akal untuk membantu saya dalam proses pencarian jawaban ini.

Tapi buat saya itu nggak cukup. Saya butuh partner diskusi. Dan biasanya kalau ada masalah saya cerita ke salah seorang sahabat saya, Bang Nando a.k.a Subot. Sayangnya, waktu itu dia lagi di Semarang jadi kita gak bisa bicara tatap muka.

Nah, hari ini dia baru punya waktu untuk ketemu saya. Saya cerita-cerita ke dia tentang hal-hal yang belakangan ini mengusik pikiran saya. Disitu dia sangat membantu.

Awalnya dia menyuruh saya menyiapkan selembar kertas dan menuliskan 5 hal yang paling saya suka dan pada tahun berapa saya mulai menyukai hal-hal tersebut:
1. Gambar – 2003
2. Ngajar/Sharing – 2006
3. Fotografi/Filmografi – 2009
4. Teknologi – 2011
5. Organisasi -2012

Setelah saya tulis 5 hal itu, dia menyuruh saya untuk membuat sebuah garis lurus dan meletakkan 5 hal tersebut dalam urutan waktu.

Dan yang terakhir dia menyuruh saya meletakkan sebuah titik di bagian paling akhir, dimana pada titik itulah saya berada sekarang. Pada titik terakhir itu saya harus mendeskripsikan diri saya sekarang:
1. Kuliah
2. Dikurung rutinitas
3. Waketu BEM
4. Mulai belajar menulis
5. Sangat suka nonton film
6. Jatuh cinta sama organisasi
7. Mencari jati diri

Lalu Bang Nando bertanya pada saya “kamu sudah terbayang? saya sudah bisa melihat dimana hubungan dari semua ini”.

Tidak. Saya tidak melihatnya. Jujur saja saya masih tidak menemukan korelasi antar 5 hal yang saya tuliskan tadi.

“Ayo coba lihat.. Connecting the dots…” begitu katanya. Saya cuma bisa mengangkat sebelah alis, pertanda bingung.

Lalu dia menjelaskan bahwa dari kemampuan dasar yang saya punya, –menggambar– adalah modal utama saya. Untuk mengajar/sharing, kadang kita tidak bisa hanya mengandalkan kata-kata. Harus ada ilustrasi, dimana tak semua orang pandai membuat ilustrasi yang dapat dimengerti orang lain.

Dari gambar, juga ada hubungannya dengan fotografi/filmografi tentunya. Saya pernah bilang bahwa saya kagum bagaimana sebuah gambar dapat menyimpan momen, ekspresi, rasa, dan kembali menceritakannya sebanyak ia mau. Ya, dari situlah saya disadarkan bahwa saya suka ‘menangkap’ suatu momen dari perspektif yang berbeda. Dan hal itu dibutuhkan dalam berorganisasi. Karena saya harus peka dengan berbagai situasi, dan mencoba memandang suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Begitupun dalam menghadapi orang-orang dalam organisasi yang notabene kepribadiannya berbeda. Bagaimana mungkin saya menyamaratakan perspektif dari sekian banyak kepala?

Teknologi? Kembali ke ‘menangkap’ momen. Agar momen itu kembali bisa diceritakan kembali, tentu harus ada sebuah preservasi dari momen itu sendiri bukan? Teknologi bisa menjadi jawabannya 🙂

Kembali lagi ke gambar, Bang Nando bilang ke saya bahwa menggambar adalah pekerjaan seorang leader. Menggambar itu dengan hati, nggak ada yang bisa nyuruh kamu buat gambar. Leader itu nggak disuruh-suruh.

“See? Setelah kamu melihat ke belakang, apa yang kamu telah lalui, semuanya nggak ada yang sia-sia. Kamu hubungkan titik-titik itu, kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaanmu. You’re gonna be a leader”.

Whoa! It really opens my eyes, open my mind. Selama 18 tahun pencarian saya, ternyata apa yang saya alami semuanya ga ada yang sia-sia. Semua ini ada maksudnya, ada hikmahnya. Setiap orang yang saya temui, tentunya membawa pelajaran untuk saya.

Sekarang saya sudah mulai mengerti harus ‘ngapain’. Sudah ada bayangan ‘mau jadi apa’. Tinggal lebih peka untuk menyadari setiap ‘petunjuk’ yang Tuhan kasih buat saya. Mengasah kemampuan saya, di akademik maupun non-akademik. Belajar mengabdi pada ‘miniatur masyarakat’ di kampus saya sebelum akhirnya saya nanti terjun ke ‘dunia nyata’.

Semua yang saya lakukan sekarang bakal jadi bekal untuk perjalanan saya biar selamat sampai tujuan. Semoga doa dalam nama saya ini terkabul. Aulia yang berarti pemimpin, teman, awal, mulia, dan wali Allah. Aamiin.

Subot, makasih banyak buat diskusi berkualitasnya hari ini. Semoga lu cepet lulus trus kita ke Lombok/KarJaw yak! Ehehe, gue kasih sajen buat lu doa aja yek wkwk.

Someday, what we talked about today will come true. I believe it! 😉

This post is dedicated to the World Writing Day.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s