Kamu Itu,

Kamu itu,
seperti oase di padang pasir,
seperti hujan di tengah kemarau,

Kamu itu,
air dan apiku,
hitam dan putihku,
kanan dan kiriku,
yakin dan raguku,
gelap dan terangku,
kuat dan rapuhku,

Kamu itu,
bongkahan es di tengah samudraku.

Advertisements

Pertemuan: Sebuah Hadiah dari Semesta

Hari ini aku dapat sebuah pelajaran lagi.

—-

Sejak beberapa hari yang lalu aku tetiba merindukan seseorang, entah kenapa. Seperti ada sesuatu yang menarikku untuk kembali bertatap muka dengannya.

Orang yang sangat kurindukan. Yang pernah menempati ruang di hatiku cukup lama. Jujur saja, hingga detik tulisan ini ditulis, aku tak pernah bisa menghapus keberadannya disana.

Aku merasakan sebuah gejolak aneh. Rasa ingin tahu yang menggelitik. Rasa penasaran yang harus terpuaskan.

Aku ingin bertemu dengannya.

Disaat yang sama, aku juga merasakan takut yang teramat sangat. Bagaikan melihat wajahnya adalah suatu hal yang momok.

Kacau pikiranku berhari-hari. Porak-poranda perasaanku. Intinya apa? Gejolak aneh ini tak akan hilang, kecuali aku bertemu dengannya.

Dan saat itupun tiba. Entah karena sebuah ikatan yang kuat atau apa, semesta menyediakan ruang dan waktunya untukku bertemu dengannya.

Seperti meledak rasanya. Kepalaku berat. Segala rasa sakit yang sedang kuderita, entahlah semua berkonspirasi.

Tapi disisi lain, di saat yang sama. Nafasku lega.

—-

Ternyata,
Satu-satunya cara menghilangkan rasa takutku adalah,
Menghadapinya.

—-

Terima kasih,
Kini aku bisa kembali bernafas.

Iya Juga Sih…

“Kalo kita nggak kayak gini sekarang, 10 tahun lagi kita nggak punya sesuatu buat diceritain” – Heru, kayaknya 20 tahun, teman yang unik.

Setelah diculik dari pacarnya di malam minggu buat nemenin nonton gigs mantan. Iye, mantan.

Psychological Allergic?

“A new study here shows that even slight stress and anxiety can substantially worsen a person’s allergic reaction to some routine allergens.”

Source: http://www.news-medical.net/news/2008/08/14

Beberapa hari yang lalu aku merasakan perbedaan di kepalaku. Rasanya gatal sekali, awalnya kukira karena kulit kepalaku kotor. Namun setelah aku keramas, rasa gatal itu tidak lantas hilang.

Parahnya lagi, di hari berikutnya yang gatal tak hanya kepalaku. Tapi juga bagian sekitar leher dan tanganku.

Tak tahan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke klinik. Petugas kesehatan pun mengatakan aku terkena alergi. Kemudian aku diberi obat alergi, katanya jika 3 hari obatnya habis dan alergiku tak kunjung hilang aku boleh kembali ke klinik.

Tiga hari kemudian, yaitu hari ini ternyata rasa gatal itu belum juga musnah. Walau rasa gatal ini memang tidak separah pada awalnya, aku tetap merasa risih.

Akhirnya aku memutuskan untuk ke klinik lagi. Aku menceritakan gejala-gejala yang aku rasakan kepada dokter.

Lalu aku bertanya pada dokter apakah reaksi alergi yang muncul ini ada hubungannya dengan psikologi seseorang. Karena seingatku, aku tidak mengkonsumsi makanan-makanan yang biasanya menyebabkan alergi.

Ternyata dokterku bilang, justru kaitan antara psikologi seseorang dengan alergi sangat erat. Hmm pantas saja, kurasa alergiku ini memang disebabkan oleh kondisi psikisku yang sedang tidak stabil.

Iya, kuakui aku memang sedang stress. Stress kenapa? Banyak. Banyak hal.

Entahlah mungkin pikiran ataupun mulutku tak mengucap kata. Namun kini badanku yang ‘mengeluh’.