#100DPS Day 2: Someone Else’s Glass

image

Have you ever tried to see something from someone else’s glass?

Well I’m not saying to “see” it literally. I mean, you can not push your perception into someone.

Everybody has their own way of thinking. The way they see something is special.

Let’s take an example. How do you see “rain”?

Some people think that rain is bothersome, because they can’t go anywhere. But some people think that rain is beautiful, because you will get a chance to see a rainbow or because they just love the smell of the wet ground.

Everybody is different. Everybody is special. Everybody has their own perspective.

Advertisements

#100DPS Day 1: Story of A Man

Tak lelah Ia berjalan mengitari pusat perbelanjaan itu. Pukul sepuluh malam saat itu, demi mencari sehelai baju favorit anak lelakinya yang akan ulang tahun di esok hari.

Peluh di bajunya pun sudah berulang kali basah-kering lagi. Tak dihiraukan olehnya.

Beberapa menit lagi pusat perbelanjaan itu akan tutup. Hanya beberapa toko yang terlihat masih membuka lapaknya. Hingga tibalah Ia di sebuah toko yang masih tersisa. Lalu Ia berkeliling, memilah-milih dengan cermat helai demi helai baju. Cocokkah dengan badan anaknya.

Jatuhlah pilihannya pada sehelai kaos dan sebuah kemeja. Tak pikir panjang Ia menuju kasir untuk membayar belanjanya. Tak peduli seberapa mahal harga bajunya. Yang Ia pikirkan hanya bagaimana melihat senyum anaknya yang merekah di esok hari ketika ulang tahun.

———————-

“Bajingan memang, bangsat!” kata-kata itu terucap dari mulutnya. Wajahnya yang pucat dan matanya yang memerah menunjukkan kemarahan sekaligus kekecewaannya yang begitu dalam. Rasanya belum pernah Ia seputus asa ini.

Suaranya yang parau lalu diakhiri hembusan nafas panjang yang berat. Tak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan emosinya. Ia memilih memejamkan matanya dibanding mengamuk.

Anaknya, yang beranjak dewasa itu mulai keluar jalur.

———————

Dibalik sosoknya yang terlihat tegas, Ia juga sering bertindak konyol. Apapun akan Ia lakukan demi anak-anaknya yang Ia sayangi. Meski itu berarti mengalah. Mengalahkan lelahnya, mengalahkan kepentingannya, mengalahkan kebutuhannya, apapun yang Ia punya.

Mungkin dulu Ia begitu keras mendidik anak-anaknya karena Ia tentu tak ingin anak-anaknya terjerumus ke jalur yang salah. Semua orang tua akan melakukan hal yang sama.

Kini anak-anaknya beranjak dewasa. Kini tangan anak laki-laki kecilnya dulu, sudah menjadi tangan besar seorang laki-laki muda. Tingginya pun sudah mulai mengalahkan orang tuanya.

Satu anak perempuannya pun kini sudah hidup terpisah di perantauan. Terpisah jarak, tersatukan rindu. Kasih sayang dua arah yang tak semu, namun bila terucap rasanya malu.

Satu anaknya lagi sedang nakal-nakalnya. Maklum, masih masa pertumbuhan.

Tapi, mungkin Ia tak sadari hari demi hari telah mencuri waktunya. Tak hirau rambutnya yang memutih. Tenaganya yang tak sekuat dulu. Tubuhnya yang tak sebugar sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Yang Ia sadari hanyalah bekerja keras agar kelak anak-anaknya bisa lebih sukses, melampauinya.

———————-

Ia adalah ayahku.

———————-

Dedicated to my one and only lovely father.

Your eldest daughter,
Aulia

100 Days Self-Challenge

Oktober sudah hampir berakhir dan saya belum menambahkan satupun tulisan di blog. Antara sedih tapi bagaimana lagi, sepertinya rutinitas benar-benar menyita waktu saya.

Sementara di sisi lain, saya tak ingin berhenti mengeksplor diri sendiri. Menulis bukanlah salah satu hal yang saya jagokan. Namun saya menyadari skill jurnalistik itu benar-benar dibutuhkan. Paling tidak sekalian berlatih untuk menulis skripsi nanti.

Dibanding blog saya yang sepi ini, justru Instagram saya mengalami peningkatan post yang cukup menakjubkan. Baru saja saya mencapai foto ke-400. Hampir setiap hari saya meng-upload foto.

Saya suka mengabadikan momen, selain tak perlu pusing memikirkan kata yang harus dirangkai, mengambil gambar tak memakan banyak waktu juga. Dan termasuk hobi juga sih, walau tak ahli di bidang fotografi.

Lalu saya pikir bagaimana jika saya membuat diri saya bisa menghasilkan 2 karya di saat yang sama? Daripada postingan blog dan Instagram tak seimbang, saya ingin mencoba menantang diri saya.

#100Days100Photos100Stories
Hashtag-nya terlalu panjang nggak ya?
Kalau dipersingkat jadi #100DPS apa kira-kira tetap dapat maknanya?

Intinya saya ingin mencoba membuat cerita pendek tentang foto yang saya ambil selama 100 hari. Tak harus setiap hari, yang penting selama 100 hari saya bisa menyumbang untuk blog dan IG saya :p

Saya percaya bahwa hal kecil yang dilakukan terus menerus akan menghasilkan sesuatu yang besar.

Challenge accepted, semoga bisa konsisten! 🙂