#100DPS Day 1: Story of A Man

Tak lelah Ia berjalan mengitari pusat perbelanjaan itu. Pukul sepuluh malam saat itu, demi mencari sehelai baju favorit anak lelakinya yang akan ulang tahun di esok hari.

Peluh di bajunya pun sudah berulang kali basah-kering lagi. Tak dihiraukan olehnya.

Beberapa menit lagi pusat perbelanjaan itu akan tutup. Hanya beberapa toko yang terlihat masih membuka lapaknya. Hingga tibalah Ia di sebuah toko yang masih tersisa. Lalu Ia berkeliling, memilah-milih dengan cermat helai demi helai baju. Cocokkah dengan badan anaknya.

Jatuhlah pilihannya pada sehelai kaos dan sebuah kemeja. Tak pikir panjang Ia menuju kasir untuk membayar belanjanya. Tak peduli seberapa mahal harga bajunya. Yang Ia pikirkan hanya bagaimana melihat senyum anaknya yang merekah di esok hari ketika ulang tahun.

———————-

“Bajingan memang, bangsat!” kata-kata itu terucap dari mulutnya. Wajahnya yang pucat dan matanya yang memerah menunjukkan kemarahan sekaligus kekecewaannya yang begitu dalam. Rasanya belum pernah Ia seputus asa ini.

Suaranya yang parau lalu diakhiri hembusan nafas panjang yang berat. Tak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan emosinya. Ia memilih memejamkan matanya dibanding mengamuk.

Anaknya, yang beranjak dewasa itu mulai keluar jalur.

———————

Dibalik sosoknya yang terlihat tegas, Ia juga sering bertindak konyol. Apapun akan Ia lakukan demi anak-anaknya yang Ia sayangi. Meski itu berarti mengalah. Mengalahkan lelahnya, mengalahkan kepentingannya, mengalahkan kebutuhannya, apapun yang Ia punya.

Mungkin dulu Ia begitu keras mendidik anak-anaknya karena Ia tentu tak ingin anak-anaknya terjerumus ke jalur yang salah. Semua orang tua akan melakukan hal yang sama.

Kini anak-anaknya beranjak dewasa. Kini tangan anak laki-laki kecilnya dulu, sudah menjadi tangan besar seorang laki-laki muda. Tingginya pun sudah mulai mengalahkan orang tuanya.

Satu anak perempuannya pun kini sudah hidup terpisah di perantauan. Terpisah jarak, tersatukan rindu. Kasih sayang dua arah yang tak semu, namun bila terucap rasanya malu.

Satu anaknya lagi sedang nakal-nakalnya. Maklum, masih masa pertumbuhan.

Tapi, mungkin Ia tak sadari hari demi hari telah mencuri waktunya. Tak hirau rambutnya yang memutih. Tenaganya yang tak sekuat dulu. Tubuhnya yang tak sebugar sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Yang Ia sadari hanyalah bekerja keras agar kelak anak-anaknya bisa lebih sukses, melampauinya.

———————-

Ia adalah ayahku.

———————-

Dedicated to my one and only lovely father.

Your eldest daughter,
Aulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s