#100DPS Day 18: Art Heals

Seni?

Menurut saya kata “seni” sendiri memiliki cakupan yang sangat luas. 

Kalau sederhananya sih, yang paling sering didengar orang tentu seni musik, seni tari, seni lukis, begitu kan?

Pun, yang saya ketahui selama ini dari pendidikan formal memang seni yang itu-itu saja.

Tapi ternyata saya suka sekali dengan hal-hal berbau seni. Sebelumnya saya tidak begitu menyadarinya, sampai akhirnya saya tersentak oleh percakapan dengan teman saya.

(X: saya, Y: teman saya)

X: iya, aku suka banget drama jepang itu

Y: emang tentang apa?

X: tentang art gitu. jadi ada lingkaran pertemanan gitu, ada yang jadi arsitek, pemahat, pelukis dan ya seperti biasa, mereka saling suka.

Y: wah kamu suka banget dong?

X: maksudnya?

Y: iya, kamu kan suka banget yang art-art gitu.

 

Iya juga yah. Entah apa yang membuat saya menyukai seni. Apa karena kedua orang tua saya adalah arsitek (terkait dengan seni juga)? Atau karena keindahan seni itu sendiri?

 

Tapi yang saya ingat dari masa kecil saya, saya diajak untuk memahami banyak hal melalui seni dan hal-hal visual. Di umur 1 tahun lebih sedikit, saya sudah bisa menyelesaikan puzzle berukuran 25cmx25cm dalam waktu hanya sekitar 1 menit. Lalu keseharian saya di masa kecil tak pernah lepas dari buku gambar dan pensil warna. Setiap hari ada saja halaman baru yang penuh dengan coretan dan warna.

Ternyata sampai sekarang hal-hal itu terbawa. Saya bahkan mendapatkan kado sebuah papan puzzle di umur 14 tahun dari teman saya. Ya, dia tau saya suka sekali main puzzle. Bahkan sampai sekarang :p

Sekarang pun, yang mengobati rasa bosan saya akan keseharian dan rutinitas saya, ya seni. Seringkali saya mengalami kondisi dimana besok ada kuis, ujian, atau deadline tugas dan yang saya lakukan justru bukan mengerjakan tugas. Saya malah meraih kuas dan cat air. Saya malah melukis.

Di kelas pun, saya tak pernah tahan lebih dari 1 jam berkonsentrasi memperhatikan dosen dan materinya. Kecuali materinya menarik sih :p Alih-alih saya malah menggambar.

Makanya, saya juga suka sekali foto-foto. Fotografi tentu bagian dari seni kan? 🙂

Intinya, seni itu sudah menjadi obat yang ampuh buat saya. Kalo bosen? ngelukis. Kalo sedih? gambar. Kalo bete? dengerin lagu. Kalo seneng? joget-joget (anggap ini bagian dari seni tari hahaha). Kalo marah? doodling. Konon semakin bagus gambar yang kita hasilkan saat sedang sedih, berarti kesedihan kita semakin dalam. Ya bener juga sih, karena semakin banyak emosi yang tercurahkan ke karya kita. Mau tau isi hati dan pikiran seniman? Lihat karyanya 🙂

Thanks to art, menurut saya segala macam seni itu menarik. Bahkan seni bela diri. Seni memasak. Seni foto. Seni menulis. Seni apapun itu.

Menurut saya, jiwa yang hidup tanpa percikan seni itu sepi. Polos. Kayak indomie kurang bumbu, nggak pake telor pula. Ini menurut saya aja loh ya.

Seni memang punya kemampuan untuk mengombang-ambingkan emosi. Tapi seni juga punya kemampuan untuk menyeimbangkan diri kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s