#100DPS Day 25: Another Day, Another Silly Story

28 Januari 2014

Seperti biasa, saya menjalani hari-hari saya yang kadang normal, banyakan nggak normalnya.

Hari ini sepulang magang saya, Rizal dan Rio main dulu ke Warung Teh Nina. Warung Teh Nina ini adalah warung bersejarah yang ada di depan kampus kami saat masih di Geger Kalong dulu. Mahasiswa MBTI dulu nongkrongnya disini. Dulu.

Sesampainya di Teh Nina, saya langsung memesan jus kesukaan saya –jus tomat dan strawberry. Setelah itu saya bergegas ke masjid Al-Murosalah, karena azan magrib sudah berkumandang.

Ternyata selesai ambil wudhu, saya tidak kebagian mukena. Anak-anak yang biasa mengaji di masjid itu sudah siap menunggu sholat berjamaah dengan mukenanya. Ya sudah saya duduk bersandar di shaf belakang, menunggu sholat berjamaah selesai sembari melihat anak-anak kecil itu sholat. Agak sedih sih, pas datang ke masjid justru nggak kebagian sholat berjamaah.

Lucu sekali, ada yang sholat sambil nampol kepala anak di sebelahnya. Ada yang kepalanya nyangkut di korden pembatas shaf laki-laki dan perempuan saat bangun dari sujud. Ya ampun, namanya anak-anak ya.

Setelah mereka selesai sholat, saya meminjam mukena dari salah satu anak kecil disitu. Lalu tak lama seorang anak menghampiri saya. Dan berdatangan juga anak-anak lainnya mengerumuni saya. Lho, ada apa ini?

Ternyata mereka antri ingin salim.

Saya terharu. Saya tak tahu apa alasan anak-anak ini salim ke saya. Tapi saya benar-benar terharu. Senang saja rasanya dikelilingi anak-anak ini, dan saya merasa mereka sangat ramah. Rasa sedih saya pun hilang.

Kemudian seusai sholat, saya keluar masjid sambil senyum-senyum sumringah karena senang. Lalu…………………………..

Saat saya ingin memakai sandal, saya merasa ada yang janggal. Kok bagian belakang sandal saya gepeng? Ah, palingan tadi keinjek-injek sama yang lain, pikir saya. Tapi……………………………

Saat saya memakai sandalnya, jreng.

Sandalnya sempit.

Oke, ini sih sandalnya ketuker.

Hahahahahahahahaha.

Ya ampun, kesel sih. Tapi saya lebih memilih untuk menertawakan hal ini. Akhirnya saya merasakan apa yang dirasakan oleh laki-laki yang biasanya sholat jumat: sandal ketuker.

Sepanjang jalan saya kembali ke Warung Teh Nina, saya ketawa-ketawa sendiri. Saya langsung cerita ke Rizal dan Bang Dimas yang saat itu lagi nongkrong di Teh Nina juga. Mereka pun menertawakan saya.

“Yah, namanya juga idup. Kalo nggak ketawa, ya diketawain.” – yang selalu terlintas di pikiran saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s