#100DPS Day 33: Air Mata

Tak ada yang bisa aku katakan. Aku hanya terdiam memandanginya, sesekali menyeka air matanya.

Dia masih tersandar di dinding sambil sesenggukan.

Malam itu hujan deras. Petir menyambar bersaut-sautan. Kilatan cahayanya membuatku merasa sesak. Bukan karena aku takut, namun karena cahaya kilat itu aku dapat melihat dengan jelas raut wajah lelaki yang saat itu duduk di hadapanku.

Kami duduk berdua, menepi agar tak basah karena tempias hujan.

Aku membisu. Tak ada yang dapat kulakukan selain mendengarkan kata-katanya.

Sahabatku bercerita.

Di malam hujan itu, dia kehilangan cintanya.

Setelah sekian lama mereka bersama. Kini, hujan dan petir menjadi saksi perpisahannya dengan wanita yang dicintainya.

Sahabatku, seorang laki-laki yang kuat.

Kini ia menjatuhkan air matanya bersama air hujan yang jatuh ke bumi. Bersama rasa cintanya yang luruh terhapus deru hujan.

Aku tak percaya laki-laki sekuat itu bisa menangis.

Namun satu hal yang kini kutahu. Menangis bukanlah gambar dari kelemahan. Melainkan sebuah bentuk pertahanan saat kita kehilangan.

Sebuah bentuk pelepasan dari keterikatan atas penderitaan.

#100DPS Day 32: Lovely Guy

There’s this lovely guy sitting right in front of me.
I don’t know who he is, just some other stranger.

He looks so worried. I’m sure there are so much thing running in his mind. His eyes are looking here and there.

I like how this guy looks. A typical skinny guy with deep eyes. Pointy nose and thin beard. I also like his black straight bold eyebrow and some moustace he’s got.

I can see his vein on his hand. It makes him looks like a strong guy. So funny that I think he’s interesting.

Then I know he’s about to go to the same place with me. But it’s like he doesn’t have a clue at all where he is going.

He asked something to the person in charge on the customer service table. But he still don’t get the clue.

I happened to know the answer that he’s looking for. So I simply tell him. And then he asks some more questions.

I think I gave him a quite clear answer because after that he gets back to his porch and sits calmly.

Well I still don’t know his name. But what I know is, he’s younger than me.

And he looks so lovely.

#100DPS Day 31: Hari Minggu, Rindu Ibu

Tuuuuut…..

Suara sambungan teleponku terdengar cukup nyaring, selain karena aku aktifkan mode loud speaker, jarak handphone dengan telingakupun tak jauh.

“haloooo?”
“assalamualaikum mamaaaak”
“walaikumsalam, aduh… Aduuuuh…”

Suaranya lemas, seperti orang yang baru bangun tidur. Kulihat jam menunjukkan pukul 10:40. Ah, tak mungkin ibuku baru bangun.

“lagi ngapain mak?”
“lagi diurut ini”

Kebingunganku terjawab. Pantas saja suaranya seperti itu, wong lagi diurut.

“gimana kamu? masih suka masak?”
“masih mak, hehehe sekarang masaknya rame-rame di sekre”
Jawabku dengan nada gembira.

____________________

Hari Minggu pagi aku terbangun. Lontang-lantung tak jelas. Deadline tugas dan laporan hari Senin terhambat oleh hasratku untuk tetap bergelung di selimut.

Satu-persatu akun media sosial dan pesan instan kubuka. Aku membalas beberapa pesan, dan sekedar melihat-lihat timeline.

Tetiba aku teringat ibuku di rumah. Rindu.

Tak pikir panjang aku menelepon ibuku.

Seperti biasa, sekitar 30 menit kami habiskan untuk berbincang. Topiknya selalu ngalor-ngidul. Emosiku meluap-luap saat bicara pada ibu. Sedetik gembira, dua detik kemudian murung, lalu gembira lagi.

Kami selalu begitu. Apapun kuceritakan pada ibuku. Dari hal yang penting sampai tidak penting.

Ibuku sudah seperti teman dekat. Iya, teman yang saling kenal sejak aku lahir.

Cerita pun terus mengalir. Cerita tentang aku yang kelaparan, tentang aku yang sering main di.sekre UKM, tentang laporan magang, tentang bisnis, bahkan tentang dia. Iya, yang sudah setahun ini mendominasi sekian persen isi pikiranku. Bukan pacar padahal :p

Ibuku pun begitu, segala macam diceritakan. Mulai dari adikku yang nilainya mengkhawatirkan, ayahku yang sedang bersih-bersih kolam ikan, sampai komunitas baru yang ibuku ikuti.

Rindu di hari Minggu ini telah mensponsori agenda bincang-bincang dengan ibuku kali ini.

Terima kasih teknologi, yang telah membantu anak rantau agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarganya. Padahal rantauku cuma Bandung-Ciledug. Tapi tetap saja aku tak mungkin pulang seminggu sekali.

Terima kasih ya Allah, telah memberikan aku keluarga kedua di tanah rantau. Yang senantiasa melipur lara, yang selalu menghapus dahaga akan tawa.

Semoga masa rantauku ini tak sia-sia. Demi masa depan yang lebih baik. Aamiin ya rabbal alamin.

Mak, jaga kesehatan ya. Aku sayang mamak.

#100DPS Day 30: Insiden Dagu Berdarah

Selasa malam,
Seperti biasa, saya nongkrong di sekre UKM. Entah melakukan apa. Sekedar tidur-tiduran atau berbincang dengan teman.
Malam itu rasanya gelisah sekali. Saya terbaring di sudut ruangan, di sebelah saya ada Rizki yang sedang duduk manis melihat notifikasi di Instagramnya. Sedikit-sedikit saya mencuri pandang, melihat wajahnya yang tersenyum kecil. Mungkin bahagia karena pujian.

Kemudian handphone saya bergetar. Ternyata ada Line dari Icha, yang mengajak saya pergi ke Punclut bersama teman-teman yang lain. Dia juga menawarkan saya untuk mengajak Rizki. Ternyata Rizki mau. Kami pun berangkat ke meeting point.

Saya pikir, jalan-jalan ini bisa sekalian melepas penat dan gelisah. Tapi……….

Sekitar jam 11 malam kami berangkat. Rizki menyetir dan saya duduk di belakangnya. Namun entah kenapa, ada rasa yang aneh. Tapi saya mengabaikannya.

Sekitar 200 meter sebelum sampai di tempat tujuan, kami jatuh. Ada lubang yang dalam di depan kami, dan kami tak sempat menghindar. Alhasil kami terbanting ke aspal. Untungnya saya refleks rolling saat sempat sedetik kami melayang.

Tapi Rizki tak sempat. Tubuhnya terhempas. Yang pertama saya lakukan adalah menarik Rizki ke pinggir jalan. Saya takut kendaraan di belakang saya tak sempat mengerem. Rizki pun sempat terselamatkan. Kami berdua mengkhawatirkan satu sama lain.

“Kakak nggak kenapa-kenapa?” Rizki bertanya. “Aku nggak apa-apa Ki, kamu?” balasku bertanya.

Dia langsung kembali duduk di motor. Saya tak yakin dia baik-baik saja. Sekali lagi, saya bertanya “Ki, bener kamu nggak kenapa-kenapa?” sambil kulihat wajahnya.
“Iya bener kok aku nggak apa-apa” jawabnya meyakinkanku.

Tapi tunggu, ada sesuatu di dagunya. Setelah diperhatikan lagi, ternyata dagunya berdarah. Ya Tuhan, dagunya robek. Teman-teman yang lain pun bergegas membantu. Ternyata kaki dan tangannya pun berdarah.

Kami bergegas pergi ke tujuan. Setelah sampai di sebuah warung makan, saya pun meminta tissue untuk membersihkan luka Rizki. Tapi ternyata lukanya cukup parah dan harus dijahit. Kami pun mencari dokter terdekat.

Rizki dilarikan ke sebuah tempat praktik bidan terdekat. Saya ikut bersamanya. Ibu Bidan pun bilang kalau lukanya harus dijahit. Saya berusaha menahan tangis dan gemetar.

Tiba-tiba Rizki memanggil. Saya kira apa, ternyata Rizki minta difoto bersama dagu berdarahnya. Astaga. Masih sempet-sempetnya.

Ibu Bidan pun menjahit luka Rizki. Ia mendapat 3 jahitan. Rasanya ingin menangis saja, tapi saya menahannya.

Setelah selesai kami pun kembali ke warung dan berkumpul bersama teman-teman yang lain. Lalu melanjutkan jalan-jalan malam kami dengan dagu Rizki yang kini punya codet.

Nggak ngerti lagi, sudah seperti itu dan Rizki malah mengkhawatirkan saya. Padahal saya cuma luka kecil di lutut, sementara dia sudah seperti korban tawuran pelajar.

Semoga Rizki cepat sembuh. Saya nggak akan biarin Rizki luka-luka lagi.

Anyway, ini foto Rizki dan dagun

ya

image
Masih sempet gaya -_-

#100DPS Day 29: Musik Tulus

Saya selalu suka dengan musik Tulus.

Saya suka karya-karyanya.

Saya jatuh cinta dengan gaya bahasanya.

Saya terpukau dengan alunan melodinya yang tak biasa.

Menurut saya, Tulus memiliki ciri khas musik yang unik. Dia punya gayanya sendiri. Tak mengikut arus industri.

Lirik lagunya selalu jujur dan memukul.

Mengingatkan kita bahwa hal-hal remeh-temeh lah yang selalu menjadikan sesuatu istimewa. Hal remeh itu pula, yang selalu kita sepelekan, ternyata adalah hal besar yang dapat merobek-robek hati dan mengacak-acak pikiran.

Tulus juga mengingatkan kita bahwa yang kita anggap benar, tak tentu dianggap benar oleh orang lain. Menyadarkan kita bahwa dibalik hal-hal pahit yang kita alami, selalu tersimpan butir indah bahagia. Memberi tahu kita, tak seharusnya kita terlalu memikirkan persepsi orang lain yang hanya melihat cela pada diri kita.

Di Album barunya yang berjudul “Gajah”, Tulus membawa saya membuka mata. Alunan musiknya membuat saya meneteskan air mata. Begitu jujur. Kesembilan lagunya telah menculik saya. Menelan saya dalam candu melodinya. Kemudian memuntakan saya tepat diatas duri-duri kenyataan. Sakit, menusuk, namun membawa kesadaran.

Ini dia cover albumnya:

 

Tulus - Gajah
Tulus – Gajah

Ada sembilan lagu di dalamnya,

1. Baru

2. Bumerang

3. Sepatu

4. Bunga Tidur

5. Tanggal Merah

6. Gajah

7. Lagu Untuk Matahari

8. Satu Hari di Bulan Juni

9. Jangan Cintai Aku Apa Adanya

 

Terakhir,

Musik Tulus mengajarkan kita untuk tulus.