#100DPS Day 30: Insiden Dagu Berdarah

Selasa malam,
Seperti biasa, saya nongkrong di sekre UKM. Entah melakukan apa. Sekedar tidur-tiduran atau berbincang dengan teman.
Malam itu rasanya gelisah sekali. Saya terbaring di sudut ruangan, di sebelah saya ada Rizki yang sedang duduk manis melihat notifikasi di Instagramnya. Sedikit-sedikit saya mencuri pandang, melihat wajahnya yang tersenyum kecil. Mungkin bahagia karena pujian.

Kemudian handphone saya bergetar. Ternyata ada Line dari Icha, yang mengajak saya pergi ke Punclut bersama teman-teman yang lain. Dia juga menawarkan saya untuk mengajak Rizki. Ternyata Rizki mau. Kami pun berangkat ke meeting point.

Saya pikir, jalan-jalan ini bisa sekalian melepas penat dan gelisah. Tapi……….

Sekitar jam 11 malam kami berangkat. Rizki menyetir dan saya duduk di belakangnya. Namun entah kenapa, ada rasa yang aneh. Tapi saya mengabaikannya.

Sekitar 200 meter sebelum sampai di tempat tujuan, kami jatuh. Ada lubang yang dalam di depan kami, dan kami tak sempat menghindar. Alhasil kami terbanting ke aspal. Untungnya saya refleks rolling saat sempat sedetik kami melayang.

Tapi Rizki tak sempat. Tubuhnya terhempas. Yang pertama saya lakukan adalah menarik Rizki ke pinggir jalan. Saya takut kendaraan di belakang saya tak sempat mengerem. Rizki pun sempat terselamatkan. Kami berdua mengkhawatirkan satu sama lain.

“Kakak nggak kenapa-kenapa?” Rizki bertanya. “Aku nggak apa-apa Ki, kamu?” balasku bertanya.

Dia langsung kembali duduk di motor. Saya tak yakin dia baik-baik saja. Sekali lagi, saya bertanya “Ki, bener kamu nggak kenapa-kenapa?” sambil kulihat wajahnya.
“Iya bener kok aku nggak apa-apa” jawabnya meyakinkanku.

Tapi tunggu, ada sesuatu di dagunya. Setelah diperhatikan lagi, ternyata dagunya berdarah. Ya Tuhan, dagunya robek. Teman-teman yang lain pun bergegas membantu. Ternyata kaki dan tangannya pun berdarah.

Kami bergegas pergi ke tujuan. Setelah sampai di sebuah warung makan, saya pun meminta tissue untuk membersihkan luka Rizki. Tapi ternyata lukanya cukup parah dan harus dijahit. Kami pun mencari dokter terdekat.

Rizki dilarikan ke sebuah tempat praktik bidan terdekat. Saya ikut bersamanya. Ibu Bidan pun bilang kalau lukanya harus dijahit. Saya berusaha menahan tangis dan gemetar.

Tiba-tiba Rizki memanggil. Saya kira apa, ternyata Rizki minta difoto bersama dagu berdarahnya. Astaga. Masih sempet-sempetnya.

Ibu Bidan pun menjahit luka Rizki. Ia mendapat 3 jahitan. Rasanya ingin menangis saja, tapi saya menahannya.

Setelah selesai kami pun kembali ke warung dan berkumpul bersama teman-teman yang lain. Lalu melanjutkan jalan-jalan malam kami dengan dagu Rizki yang kini punya codet.

Nggak ngerti lagi, sudah seperti itu dan Rizki malah mengkhawatirkan saya. Padahal saya cuma luka kecil di lutut, sementara dia sudah seperti korban tawuran pelajar.

Semoga Rizki cepat sembuh. Saya nggak akan biarin Rizki luka-luka lagi.

Anyway, ini foto Rizki dan dagun

ya

image
Masih sempet gaya -_-
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s