#100DPS Day 31: Hari Minggu, Rindu Ibu

Tuuuuut…..

Suara sambungan teleponku terdengar cukup nyaring, selain karena aku aktifkan mode loud speaker, jarak handphone dengan telingakupun tak jauh.

“haloooo?”
“assalamualaikum mamaaaak”
“walaikumsalam, aduh… Aduuuuh…”

Suaranya lemas, seperti orang yang baru bangun tidur. Kulihat jam menunjukkan pukul 10:40. Ah, tak mungkin ibuku baru bangun.

“lagi ngapain mak?”
“lagi diurut ini”

Kebingunganku terjawab. Pantas saja suaranya seperti itu, wong lagi diurut.

“gimana kamu? masih suka masak?”
“masih mak, hehehe sekarang masaknya rame-rame di sekre”
Jawabku dengan nada gembira.

____________________

Hari Minggu pagi aku terbangun. Lontang-lantung tak jelas. Deadline tugas dan laporan hari Senin terhambat oleh hasratku untuk tetap bergelung di selimut.

Satu-persatu akun media sosial dan pesan instan kubuka. Aku membalas beberapa pesan, dan sekedar melihat-lihat timeline.

Tetiba aku teringat ibuku di rumah. Rindu.

Tak pikir panjang aku menelepon ibuku.

Seperti biasa, sekitar 30 menit kami habiskan untuk berbincang. Topiknya selalu ngalor-ngidul. Emosiku meluap-luap saat bicara pada ibu. Sedetik gembira, dua detik kemudian murung, lalu gembira lagi.

Kami selalu begitu. Apapun kuceritakan pada ibuku. Dari hal yang penting sampai tidak penting.

Ibuku sudah seperti teman dekat. Iya, teman yang saling kenal sejak aku lahir.

Cerita pun terus mengalir. Cerita tentang aku yang kelaparan, tentang aku yang sering main di.sekre UKM, tentang laporan magang, tentang bisnis, bahkan tentang dia. Iya, yang sudah setahun ini mendominasi sekian persen isi pikiranku. Bukan pacar padahal :p

Ibuku pun begitu, segala macam diceritakan. Mulai dari adikku yang nilainya mengkhawatirkan, ayahku yang sedang bersih-bersih kolam ikan, sampai komunitas baru yang ibuku ikuti.

Rindu di hari Minggu ini telah mensponsori agenda bincang-bincang dengan ibuku kali ini.

Terima kasih teknologi, yang telah membantu anak rantau agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarganya. Padahal rantauku cuma Bandung-Ciledug. Tapi tetap saja aku tak mungkin pulang seminggu sekali.

Terima kasih ya Allah, telah memberikan aku keluarga kedua di tanah rantau. Yang senantiasa melipur lara, yang selalu menghapus dahaga akan tawa.

Semoga masa rantauku ini tak sia-sia. Demi masa depan yang lebih baik. Aamiin ya rabbal alamin.

Mak, jaga kesehatan ya. Aku sayang mamak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s