#100DPS Day 33: Air Mata

Tak ada yang bisa aku katakan. Aku hanya terdiam memandanginya, sesekali menyeka air matanya.

Dia masih tersandar di dinding sambil sesenggukan.

Malam itu hujan deras. Petir menyambar bersaut-sautan. Kilatan cahayanya membuatku merasa sesak. Bukan karena aku takut, namun karena cahaya kilat itu aku dapat melihat dengan jelas raut wajah lelaki yang saat itu duduk di hadapanku.

Kami duduk berdua, menepi agar tak basah karena tempias hujan.

Aku membisu. Tak ada yang dapat kulakukan selain mendengarkan kata-katanya.

Sahabatku bercerita.

Di malam hujan itu, dia kehilangan cintanya.

Setelah sekian lama mereka bersama. Kini, hujan dan petir menjadi saksi perpisahannya dengan wanita yang dicintainya.

Sahabatku, seorang laki-laki yang kuat.

Kini ia menjatuhkan air matanya bersama air hujan yang jatuh ke bumi. Bersama rasa cintanya yang luruh terhapus deru hujan.

Aku tak percaya laki-laki sekuat itu bisa menangis.

Namun satu hal yang kini kutahu. Menangis bukanlah gambar dari kelemahan. Melainkan sebuah bentuk pertahanan saat kita kehilangan.

Sebuah bentuk pelepasan dari keterikatan atas penderitaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s