#100DPS Day 40: Perjalanan Tak Tercatat

Rutinitas yang saya jalani sehari-hari benar-benar padat. Setiap hari pusing, setiap hari capek, setiap hari mengeluh. Kadang suka mikir “ribet banget sih gini” atau “males banget ah gini, capek”.

Tapi kadang suka keinget juga, ada yang pernah bilang “ya namanya juga idup, pasti susah lah. kalo mau gampang mah mati aja.”.

Well, that’s deep.

Kata-kata temen di atas bikin sadar, yaudah sih hidup mah dinikmatin aja. Karena itu saya mulai putar otak buat cari cara refreshing. Dan ketemu: jalan-jalan.

Iya, jalan-jalan ke tempat baru tuh bener-bener melepas stress. Buang disitu aja semua tekanannya. Saya tadinya bukan tipikal orang nggak bisa diem kalo akhir pekan. Tapi, selama masih muda dan masih bisa curi-curi kesempatan buat cabut, kenapa enggak?

Apalagi dengan hobi yang sekarang saya geluti — fotografi. Sekalian jalan-jalan, sekalian nambah stok foto kan? Hehehe. Dengan jalan-jalan pun saya jadi punya pengalaman dan kenangan lucu-lucu dengan teman saya. Malah seringkali dapet temen baru. Seneng banget!

Di postingan selanjutnya saya bakal cerita-cerita tentang perjalanan saya. Semoga bisa nyempetin waktu buat nulis 😀

#100DPS Day 39: Backpacking ke Bromo Part II: Stay in Bromo, Hike to Bromo

Jumat, 13 Juni 2014 (Masih)

13:40

Saya sampai di desa terakhir, Cemara Lawang dengan selamat bersama teman-teman seperjalanan saya yang lain. Sesampainya di sana, kami langsung ditawari untuk menyewa penginapan.

Perlu saya jelaskan sedikit, tadinya saya dan Jo tidak ingin menginap. Namun apadaya, kami sampai disana saja sudah hampir jam 2 siang. Nggak kebayang kalau kami harus repot lagi mencari kendaraan untuk kembali ke Probolinggo di sore hari. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap saja.

Bersama teman-teman yang lain, kami tawar menawar dulu dengan penjaga homestay agar dapat harga yang lebih murah. Melalui berbagai agenda tawar menawar, akhirnya kami mencapai kesepakatan.

Biaya menginap adalah 130.000 rupiah semalam untuk 2 orang. Itu berarti 65.000 rupiah untuk 1 orang. Harga yang tidak terlalu mahal saya rasa. Karena pada awalnya saya memperkirakan harga penginapan sekitar 50.000-75.000 rupiah per malam per orang. Cocok lah ya.

Setelah menaruh barang-barang di kamar, kami keluar untuk mencari makan siang. Kebetulan teman-teman bule juga mau cari makan. Akhirnya kami mencari warung-warung yang dekat untuk mencari makan. Kebetulan juga, saya akhirnya jadi translator antara mbak-mbak warung dan si bule.

Biaya makan di sana tidak terlalu mahal. Tergantung pilihan sih, makanya nggak usah pilih makan di restauran deh kalo emang niatnya backpacking dengan dana terbatas :p

Saya pesan nasi campur ayam dan teh manis panas. Nasi campur ayam itu isinya nasi, tumis sayur buncis-wortel-kentang, mie goreng dan ayam semur. Harganya? 15.000 rupiah saja per porsi, untuk tehnya 3.000 rupiah saja segelas. Harga yang cukup terjangkau untuk porsi yang banyak. (Well, saya biasanya makan banyak, tapi ini porsinya memang besar).

Selama di warung kami ngobrol banyak dengan

15:00

Setelah perut terisi, akhirnya kami bersiap-siap untuk mulai jalan ke kawah Bromo. Keliatan sih puncaknya dari Cemara Lawang. Tapi pas jalan lumayan bikin mikir “kok nggak nyampe-nyampe ya?”. Hahaha.

Kebetulan sekali, ini perjalanan pertama saya ke gunung. Lumayan capek ternyata. Tapi karena selama perjalanan saya dan 9 orang lain termasuk Jo, ngobrol tak henti-henti jadi capeknya nggak tetap berasa.

Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam melewati lereng tempat kuda turun, padang rumput, padang pasir luas, kemudian mulai tanjakan berpasir saat sudah dekat dengan kawah baru naik tangga sekitar 300 anak tangga lebih lah untuk sampai di puncak. Di perjalanan kita bertemu dengan ojek-ojek kuda yang mencari penumpang. Pengen sih naik kuda aja. Cuman karena biaya naik kuda sampai atas itu 75.000 jadi ya mending naik kaki aja deh.

Oiya, tadi saya sempat bilang kami lewat lereng tempat kuda turun ya?

Iya, jadi ceritanya kalau kita mau ke kawah Bromo itu sebenarnya biasanya naik ojek atau jeep. Kalau naik ojek biayanya sekitar 75.000 juga, sedangkan naik jeep itu satu mobil sekitar 500.000 atau 100.000 per orang. Nah sebelumnya kita harus bayar masuknya dulu sebesar 60.000 rupiah.

Disinilah celahnya. Saya dan teman-teman memilih lewat lereng Cemara Lawang yang terjal dan agak licin dengan bonus tai kuda di sepanjang trek demi menghemat uang 60.000 dan 100.000 kami yang berharga :”)

Walau aromanya semerbak, yang penting gratis!

Akhirnya setelah melewati padang-padangan dan menaiki 300-an anak tangga, betis saya mulai cenat-cenut. Tapi semuanya terbayar dengan pemandangan yang luar biasa. Bagusnya nggak sopan!

Saya dan teman-teman lainnya menikmati pemandangan, tentunya tak lupa untuk foto-foto dong ya. Dan tentu tujuan utama saya ke Bromo selain jalan-jalan itu untuk bikin video ulang tahun buat Mama hehehe. Beruntungnya saya, ada Claude, seorang independent filmmaker asal Canada yang bersedia mengambil video untuk saya hehehe.

Di puncak kita semua bercanda dan ngobrol seolah-olah sudah lama kenal satu sama lain. Menyenangkan sekali bisa dapat teman baru.

Sebuah perjalanan benar-benar bisa menyatukan perbedaan. Ada yang dari Tangerang, Malang, Cibubur, Perancis, Canada, Australia, sampai Belanda. And all of us can easily tell jokes and

Setelah puas foto-foto dan cerita-cerita, kami turun bersama. Kala itu udaranya dingin banget! Kabut udah mulai menutupi jalan dan langit pun udah mulai gelap. Jadi kita buru-buru pulang ke Cemara Lawang sebelum hujan turun.

Yeay, setelah sekitar 1 jam perjalanan pulang akhirnya kita sampai di Cemara Lawang. Fuh! Hal pertama yang dicari itu air. Hal kedua yang dicari itu makanan. Hahaha.

Setelah perut kenyang diisi makanan, hal yang dicari adalah kasur tentunya. Akhirnya kami pun menutup hari seru itu dengan istirahat di sebuah desa indah yang dingin banget itu, Cemara Lawang 🙂

 

And here’s some photos of it:

Wina & Megan
Wina & Megan
Still Long Journey!
Still Long Journey!