#100DPS Day 45: Coincidence.

Life is funny.
Seringkali kebahagiaan datang dari hal yang sederhana dan dari arah yang tidak diduga-duga.

Advertisements

#100DPS Day 44: Kala.

Berdiri di atas gamang, menanti waktu memihak
Sunyi yang tak mau pergi, hati berlari memelukmu

Tanganku kosong, genggamlah
Pundakku kuat, rebahlah
Sampai kapan kau membeku, sembunyi di rasa sakitmu

Coba kau cari siapa yang mau menunggumu
Akulah orang itu, akulah orang itu
Dan bila ada yang ingin tua bersamamu,
Akulah orang itu, akulah orang itu

Di sisi gelap merindu, terbata untuk memulai
Biar kubasuh perihmu meski tak berbalas apapun

Coba kau cari siapa yang mau menunggumu
Akulah orang itu, akulah orang itu
Dan bila ada yang ingin tua bersamamu,
Akulah orang itu, akulah orang itu

Terhempas membias dan tak tentu arah, kau terus pergi
Memberi harapan, menafikan lagi, dan lagi…

They say, when a girl listen to a song, it reflects her current feeling.

Jika diantara kamu ada yang tau Fiersa Besari, mungkin kamu kenal kata-kata di atas.

Judul lagunya Kala. Saya suka.

#100DPS Day 43: Titipan.

Beberapa hari yang lalu Rizal tiba-tiba bilang “aku titip temenku ya, dia mau ke Bandung. Mau dateng ke Pasar Seni ITB, aku nggak bisa nemenin soalnya ada tanteku dateng juga.”

Saya yang saat itu lagi nugas hanya menjawab “hah?” — selain karena nggak konsen diajak ngomong, saya pun memang bingung dia tiba-tiba ngomong gitu.

Kemudian dia melanjutkan kalimatnya “ntar kamu bawa aja motorku, ajakin dia muter-muter Bandung.”

“Oh oke. Asik dapet pinjeman motor.” Jawabku singkat, kemudian lanjut nugas.

Tanpa saya tau, temannya si Rizal ini datangnya kapan, namanya siapa, cewek atau cowok.

Beberapa hari kemudian Rizal kembali mengingatkan saya, kalau dia mau menitipkan temannya. Disitu baru saya tanya namanya siapa, cewek atau cowok dan beberapa informasi sederhana lainnya.

Ternyata namanya Evel, cewek. Rizal pun sempat menunjukkan akun instagram si Evel ini. Dan…. Oh damn! Fotonya keren-keren. Sempat juga diceritakan tentang si Evel ini yang katanya “dia anak gunung, udah naik gunung ini, itu. Tenang aja, dia anaknya asik kok, ga bakal awkward nanti kalo main sama dia.”
Well okay, saya sih percaya saja sama ceritanya Rizal.

Lalu hari Sabtu 22 November kemarin untuk pertama kalinya saya ketemu sama Evel. And we were like… “Oh hi!” In a good way.

Hari itu kami jalan-jalan bertiga. Saya-Evel-Kempot. Ah ya, Kempot ini temennya Rizal juga. Sebelumnya kami sudah saling kenal karena sempat naik Gunung Papandayan bareng. (Yap, finally saya naik gunung!Mungkin setelah ini saya akan bikin tulisan tentang pendakian pertama saya)

Kami bertiga memutuskan untuk cari sarapan di Roti Gempol. Padahal udah jam 11 lebih. Hahaha, biarin toh tempatnya enak.

Selama perjalanan, saya yang semotor dengan Evel ngobrol panjang lebar. Leave that poor-lonely Kempot behind. Nggak disangka, we have soooo much stuff in common. Dari mulai buku bacaan sampai ternyata dulu suka baca komik sejenis juga.

Oh Lord! Ternyata bener kata Rizal, orangnya asik. Lebih asik lagi karena emang kita ngobrolnya nyambung banget.

Selama di Roti Gempol pun, kami bertiga berbincang rusuh sembari menunggu hujan reda sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Dusun Bambu.

IMG_2661-0.JPG
(Sambil ngobrol-ngobrol rusuh di Gempol)

Sesampainya di Dusun Bambu, udaranya dingin dan basah. Enak banget pokoknya. Saya dan Kempot tertawa melihat wajah Evel yang begitu takjub ketika tiba di sana. Padahal, itupun kali pertama saya menginjakkan kaki di Dusun Bambu. Emang bagus ternyata, hahaha.

Agenda wajib saya kalau ke tempat baru, tentu foto-foto. Ini dia foto waktu di Dusun Bambu:

IMG_2757-0.JPG
(Oh just ignore bapak-bapak yang photobombing itu -_-)

Besoknya, kami pergi menuju tujuan utama Evel datang ke Bandung: Pasar Seni ITB. Perhelatan 4 tahun sekali ini emang epic banget. Kami datang pagi sekali, tapi ternyata di lokasi sudah ramai pengunjung. Beruntung kami sempat menonton pertunjukkan pembuka event ini. Dan tentu tak perlu ditanyakan, pembukaannya hacep!

Seharian penuh itu kami muter-muter Pasar Seni yang entah kenapa berasanya guede buanget. (ITB segede itu ya ternyata?)

IMG_3104-0.JPG
(We’re at Pasar Seni ITB 2014 yeay!)

Selama disana, kami sempat tiga kali kehujanan. Tapi karena saya orangnya nekat, saat hujan itu justru saya mengajak Evel berpose. Alhasil kami jadi tontonan orang-orang yang berteduh. Biarin deh malu, nggak pada kenal ini kan?

IMG_3332.JPG
(Totally worth it to get soaked in the center of attention)

And while we were walking around, I bumped into some friends. Oh that felt good to meet random friend in that kind of crowd. You should see this:

IMG_3063-0.JPG
(OMG I can’t breathe, it’s a human traffic!)

Selama keliling pun kami ngobrol terus, foto-foto terus, makan terus hahaha. Asli, rasanya kayak nemu kembaran tapi tau-tau udah gede. It’s really nice to know her. Sampai akhirnya sore itu kami kelelahan, dan memutuskan untuk kabur dari Pasar Seni ke Kopi Progo. Kami butuh asupan coklat!

Hari Senin malam, Evel pulang. Rizal masih sibuk mengantar keluarganya. Jadi saya dan Kempot yang mengantar Evel ke Stasiun malam itu, sebelum siangnya kami main hujan-hujanan di sekitar Jalan Trunojoyo.

Sembari menunggu kereta berangkat, kami bertiga ngobrol-ngobrol ditemani coklat panas. Tiba-tiba Evel melontarkan pertanyaan “eh gue mau tanya deh, misalnya lo sayang sama orang nih, apa sih yang bikin lo sayang sama orang itu?”
Kempot menjawab “gue sayang sama orang karena gue gak mau kehilangan dia”

Sementara saya bingung menjawab pertanyaan dadakan itu. “Apa ya, gue juga lagi sayang sama orang sih. Udah lama juga. Tapi gue gak tau apa alasannya. Yang jelas gue sayang aja, gue pengen dia bahagia”, ucapku.

“Tapi kan pasti ada alasannya. Ada trigger awal yang bikin kita sayang sama dia. Apa dia melakukan sesuatu yang lo suka, makanya lo jadi suka sama dia?” Evel masih penasaran.

“Iya. Dia ngelakuin sesuatu yang bikin gue suka sama dia.” Dengan cepat Kempot menjawab.

“…enggg apa ya Pel, gue suka sama dia karena dia baik. Gue jatuh cinta sama kebaikannya pada orang lain. Karena itu berarti dia emang orangnya baik. Dan baiknya tulus.” Jawabku dengan tempo lambat.

Kemudan Rizal datang. Ternyata dia menyusul. Perbincangan pun berubah menjadi bahasan-bahasan konyol. Kereta pun hampir berangkat, akhirnya Evel bersiap-siap untuk pulang ke Solo. Tapi tentu sebelum itu kami harus foto bareng dulu! Nih nih:

IMG_3366.JPG
(Have a safe trip, Evel!)

Thanks Evel, you’ve been such a great company for this short time. We should definitely meet again as soon as possible. And that will be my turn to visit your town. See you when I see you, Evel!

#100DPS Day 41: Terhubung.

Pemikiran ini hanya tetiba terlintas kala alunan musik sayup-sayup menemani malam minggu saya.

Iseng, saya tiba-tiba googling nama saya sendiri. Banyak informasi yang keluar. Terus, saya melihat ke halaman berikutnya. “Oh, masih tentang ini-ini aja”

Lalu saya sampai pada suatu halaman. Disitu saya melihat sebuah link yang saya tak asing. Saat saya lihat summary content-nya pun, nama saya dengan jelas terpampang disana.

Dia memang sahabat saya.

Tanpa banyak pikir, saya klik link itu. Terbuka halaman blognya. Saya scroll terus ke bawah, mata saya awas. Mencari-cari postingan yang ada nama sayanya tadi. Ketemu.

Saya membaca postingan itu dengan seksama. Baru sampai setengah postingan dibaca, pikiran saya sudah melayang-layang.

Saya tetiba teringat. Banyak sekali waktu yang telah kami habiskan. Sebenarnya kami belum lama kenal. Awal 2012 waktu itu.

Tapi saya merasa, semua yang telah kami lalui lebih dari itu. Bincang kita terlalu banyak. Tatap kita tak terhitung.

Lebih dari itu, kami kadang tak perlu tatap muka untuk saling bicara. Kami, terhubung.

Sudah sampai seperti itu.

Pada akhirnya, pikiran saya yang tadi sudah menerawang jauh itu kembali. Membawa oleh-oleh senyuman yang terlukis samar di sudut ruangan ungu.

Kawan, saya masih dan akan tetap bersedia terhubung denganmu hingga waktu yang tidak ditentukan.