#100DPS Day 49: Thanks, 2014!

Let’s see what 2014 means to me…..

2014 has been a wondrous year for me.

Campur aduk sekali. Emosi saya diputar-balikkan. Jalan pikiran saya diobrak-abrik. Tapi tentu dari semua itu, saya dapat banyak pengalaman. There is always firts time for everything. And I got it many times in this year.

My first hike.

My first business.

My first backpacking trip.

My first iphone hahaha.

My first camera.

My first experience to organize an event.

My first street photograph.

I mean, I got a bunch of happiness this year.

Ada banyak juga lika-liku kehidupan yang saya alami di tahun ini. Jatuh cinta, sakit hati, pacaran, putus. Perjuangan, putus asa.

Saya dapat banyak teman baru. And also I figured out who my real friend is.

Saya bahagia sekali bisa pergi ke banyak tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tempatnya bagus-bagus juga.

And there are some things that make me feel like I’m being my self as a whole. A complete human being.

Untuk bisa ada di samping orang-orang yang membutuhkan saya. Menjadi pendengar bagi teman-teman saya. (Wah berarti resolusi tahun 2013 sudah tercapai).

Saya senang bisa menjadi bagian dari kebangkitan diri baru orang-orang di sekitar saya.

Menjadi bermanfaat bagi orang lain selalu menjadi keinginan terbesar saya.

Dan tahun ini, saya banyak sekali mendapatkan kesempatan itu. Alhamdulillah ya Allah.

Tahun ini pun, hidup saya berubah. Saya dan seorang sahabat saya mendirikan bisnis bersama. Dari situ saya bisa membeli barang-barang dengan uang saya sendiri. Saya bisa membeli kamera pertama saya dengan hasil jeri payah saya sendiri. Saya bisa jalan-jalan dengan hasil keringat saya sendiri. Dan tentu yang terpenting, saya bisa gantian memberi orang tua saya.

Dan saya bersyukur sekali, saya memiliki teman-teman yang awesome! Mereka lah yang ada disana pada momen-momen pengalaman pertama saya. Thanks guys! I can never thank you enough 🙂

New Friends in Wates!
New Friends in Wates!
First Street Photograph Experience!
First Street Photograph Experience!
Re-uniting and first time Dago Pakar!
Re-uniting and first time Dago Pakar!
First time to Gunung Padang and a lot of new friends!
First time to Gunung Padang and a lot of new friends!
First Time to Dusun Bambu, and yeay I got new friend!
First Time to Dusun Bambu, and yeay I got new friend!
First Backpacking Experience, to Bromo!
First Backpacking Experience, to Bromo!
First Time to Goa Pawon and got new friends!
First Time to Goa Pawon and got new friends!
First Time to Grafika Cikole!
First Time to Grafika Cikole!
First Hike To Papandayan!
First Hike To Papandayan!

Ah! Ulang tahun saya kali ini pun sangat berkesan. Di surprise-in sama anak-anak instameet kamerahpgw se-bandung, di surprise-in sama anak-anak kelas F plus dosen manajemen strategi juga hahaha. Di todong traktir sama anak-anak CCI di Bober Cafe trus ditinggalin pulang duluan padahal uang cash di dompet tinggal 4000 dan mesin EDC lagi error jadi gabisa bayar pake debit. Piye perasaanmu cuk? :’) But really, I love you guys all :*

 

Birthday Surprise dari kelas F!
Birthday Surprise dari kelas F!
Surprise Ulang Tahun dari KameraHpGw Bandung
Surprise Ulang Tahun dari KameraHpGw Bandung

Tapi penutup tahun 2014 ini, sepertinya akan sangat membekas di benak saya.

Tuhan benar-benar memberi saya tamparan keras di muka. Yang membuka lebar-lebar mata saya.

Untuk kedua kalinya di bulan Desember, perasaan saya diluluh-lantakkan. Patah hati dua kali di bulan yang sama dalam dua tahun berturut-turut? Yang benar saja.

Tapi saya benar benar mengalaminya. Entah kenapa, kali ini saya tidak begitu hancur. Karena saya sudah pernah jatuh sebelumnya? Atau karena kali ini saya baru mengambil pelajaran?

Saya hanya ingin berprasangka baik pada Tuhan. Mungkin ini upaya Tuhan untuk –sekali lagi– menyadarkan saya agar mengerti, kapan saya harus memperjuangkan sesuatu, dan kapan harus berhenti.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

 

Life is good. Forget your sorrow, and be grateful for your blessings guys 🙂

Advertisements

#100DPS Day 48: Street Photography: A New Love

Kamis, 11 Desember 2014

Pagi-pagi sekali, Rizal ngeline saya. Nanyain charger kamera. Iya, kamera baru saya yang belum sempet diperawanin, udah dibawa kabur duluan sama dia. Suka-suka anak itu aja lah.

Ujung-ujungnya, saya malah ngajak Rizal hunting. Dia pun mengiyakan. Tak lama kemudian dia sampai di rumah saya dan langsung ngecharge kamera.

Sembari menunggu batre kameranya penuh, saya ngeline Agvi untuk ngajak dia ikutan hunting juga. Agvi pun mengiyakan.

Kami memutuskan untuk nyetrit hari ini. Saya tadinya nggak mau, karena saya nggak ngerti sama sekali soal street photography. Apalagi saya baru megang kamera, belum terbiasa.

Tapi Rizal meyakinkan saya “justru itu, nyetrit aja biar belajar”. Okedeh, saya harus coba hal baru yang lebih menantang, dan kali ini, street photography.

Sekitar jam 12 kami bergegas ke jalan ABC. Kami memutuskan untuk pergi ke jalan ABC. Selain karena banyak objek foto disana, saya juga sekalian mau bersihin lensa kamera analog saya yang sampe sekarang saya nggak ngerti cara pakainya gimana.

Sesampainya disana, kami mulai hunting. Awalnya saya masih kaku-kaku untuk memotret. Lama kelamaan, segala macem saya foto. Apapun.

Saya yang masih awam banget soal setting kamera, dikit-dikit nanya ke Rizal. Dia pun banyak memberi masukan soal penggunaan kamera.

Sekitar jam 3 sore kami pulang, karena langit mulai mendung.

Sesampainya di rumah, saya membuka kembali foto-foto yang tadi saya ambil selama di jalan ABC.

Saya kaget.

Memang banyak sekali foto saya yang masih berantakan. Tapi, ada beberapa foto yang ketika saya melihatnya, saya tersenyum. Bahkan menangis.

Baru pertama kali saya menangisi hasil foto saya sendiri.

Entah kenapa, saya terharu. Dan ketika itu saya sadar, saya sudah jatuh cinta pada street photography.

I love the idea of capturing people’s faces. I love to see their laughters, or saving the moment of their glimpse.

Saya mendengar cerita-cerita dari foto-foto yang saya ambil. Rasanya memori tentang bagaimana saya mengambil foto itu, terulang kembali.

Bercandaan kecil saya dengan penjual kacamata, obrolan tentang duda keren dengan si bapak penjual kunci cadangan, atau bahkan membekunya saya saat berusaha menangkap fokus dari senyum Rizal.

Semuanya.

Air mata saya tumpah. Bukan karena foto yang saya ambil bagus. Tapi karena cerita dibalik foto-foto itu. Tapi karena itu pengalaman pertama saya dalam street photography. Tapi karena ini pelajaran pertama saya menggunakan kamera pertama saya, dengan hasil jeri payah saya sendiri.

Sebagian foto saya ambil dalam mode hitam putih. Kadang, melihat dunia dalam 2 warna bisa jadi lebih indah. Karena saya bisa berinterpretasi dengan warna di dalam pikiran saya.

Karena saat itu, tidak mengambil warna. Saya mengambil jiwa.

IMG_5820.JPG

IMG_5836.JPG

IMG_5812.JPG

IMG_5838.JPG

IMG_5796.JPG

IMG_5809.JPG

IMG_5837.JPG

Terima kasih banyak untuk Rizal dan Agvi yang udah nemenin nyetrit bareng hari ini!

#100DPS Day 47: Jogja – Antara Konferensi, Liburan dan Gila-gilaan.

Minggu, 7 Desember 2014
12:54

Saat saya menulis ini, saya sedang dalam perjalanan kembali ke Bandung dengan kereta.

“Liburan” saya yang singkat dan tidak pada tempatnya ini meninggalkan banyak kesan. Banyak sekali kenangan yang akan saya tertawakan kembali di kemudian hari.

Rabu, 3 Desember 2014
03:44 dini hari

Saya, Rizal dan Widita menapakkan kaki di Kota Jogja. Dari stasiun kami bingung mau naik apa ke hotel. Ada banyak pilihan, dari mulai taksi, ojeg, bahkan becak motor.

Saya tak menyangka, Rizal akan mengajak kami untuk naik becak motor. Well, naik becak motor itu nggak aneh sama sekali.

Tapi kalo naik satu becak motor untuk bertiga dengan tas dan tentengan yang seabrek?

“Nggak apa-apa, jadi seru kan? Naik taksi mah biasa.” Dengan ringan ia berucap.

Oke, atur posisi. Widita naik duluan, lalu Rizal naik. Saya?

Saya dipangku Rizal. Hahahaha.

IMG_3952-1.JPG

Dalam hati saya was-was, ini kalo ada jalan rusak saya bakal nyungsep ke depan nggak ya….

Yang dikatakan Rizal memang benar adanya. Naik becak bertiga tumpuk-tumpukan gitu emang seru. Yah untungnya itu jam 4 subuh. Coba kalo siang? Mungkin kita dikira atraksi sirkus.

07:05 pagi hari

Kami bertiga berangkat ke UGM untuk tujuan utama kami: Konferensi Big Data Indonesia. Jalan kaki. Iya, jalan kaki. Dan ternyata lumayan bikin make up berantakan dan badan keringetan saat kita sampai di venue.

Disana kami bertemu lagi dengan Bang Allen dan Bang Dimas (yang lebih suka dipanggil “Tuan Muda” dan “Bos”). Sebelumnya kami bertemu mereka di Stasiun Bandung, dan ternyata mereka juga mau ke Konferensi.

Kami sepakat untuk bertemu lagi di Konferensi, lalu jalan-jalan bareng di Jogja.

Selama dua hari bersama orang-orang ini, rasaya usia saya tambah panjang. Tiap hari isinya ketawa terus. Entah apapun bisa aja jadi olok-olokan buat Si Tuan Muda dan Si Bos.

Dari mulai sok-sokan ngaku tamu VVIP yang lagi blusukan membaur makan bareng tamu biasa, sampe nggak mau diajak pulang dan malah tidur di angkringan kopi joss.

Liat nih kelakuannya di ruang makan:

IMG_4148-0.JPG

Pas di angkringan malah tidur-tiduran nggak mau pulang:

IMG_4318-1.JPG

Yah suka-suka mereka aja lah mau ngapain.

Seneng banget bisa ngakak-ngakak bareng mereka selama di Jogja. Bener-bener nyegerin otak. Dasar gendeng!

Hari terakhir, kita semua mencar-mencar. Saya dan Widita ke Wates, Rizal ke Solo, Bang Allen dan Bang Dimas balik ke Bandung. Tapi sebelum itu, selfie dulu dong:

IMG_4367-1.JPG

#100DPS Day 46: Dalam Perjalanan

IMG_3900.JPG

First of all, I want to say welcome to December.

Even though it is not my month, but I always had something special on December. Indeed it is the last and one of the best chapter of the book.

Saat saya menulis ini, saya sedang dalam perjalanan ke Jogjakarta. Sebuah kota yang sebenarnya sudah sering saya singgahi. Tapi kali ini, bukan untuk “jalan-jalan”.

Saya, Rizal dan Widita ke Jogja untuk menghadiri Konferensi Big Data Indonesia pertama.

Macam-macam sih alasan kami ikut konferensi ini. Selain bermanfaat untuk skripsi, kami juga curi-curi waktu untuk liburan ditengah kepadatan kuliah semester akhir di minggu-minggu terakhir. Hahahaha.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Sekarang pukul 1:34 dini hari dan saya terjaga dari tidur.

Bukan niat begadang, tapi saya sudah tidur dari jam 8 malam tadi. Kini orang-orang yang sedari tadi masih memegang handphone atau sekedar membaca buku, sudah terlelap.

Mata saya justru berkeliling, memperhatikan sekitar. Entah apa yang ada di kepala saya, rasanya berantakan sekali. Tapi saya merasakan sedikit ketenangan saat melihat orang-orang ini tertidur.

Tuhan memang menciptakan malam untuk beristirahat.

Ada sesuatu yang terlintas di pikiran saya, yang tidak bisa saya deskripsikan. Jadi, biarkan saya menggambarkannya.

IMG_3901.JPG

But midnight, close my eyes I’m tired,
I’m fading, I am only human 🎶

IMG_3914.JPG

IMG_3925.JPG

Maafkan saya yang mengintip di sela-sela tidurmu.