#100DPS Day 48: Street Photography: A New Love

Kamis, 11 Desember 2014

Pagi-pagi sekali, Rizal ngeline saya. Nanyain charger kamera. Iya, kamera baru saya yang belum sempet diperawanin, udah dibawa kabur duluan sama dia. Suka-suka anak itu aja lah.

Ujung-ujungnya, saya malah ngajak Rizal hunting. Dia pun mengiyakan. Tak lama kemudian dia sampai di rumah saya dan langsung ngecharge kamera.

Sembari menunggu batre kameranya penuh, saya ngeline Agvi untuk ngajak dia ikutan hunting juga. Agvi pun mengiyakan.

Kami memutuskan untuk nyetrit hari ini. Saya tadinya nggak mau, karena saya nggak ngerti sama sekali soal street photography. Apalagi saya baru megang kamera, belum terbiasa.

Tapi Rizal meyakinkan saya “justru itu, nyetrit aja biar belajar”. Okedeh, saya harus coba hal baru yang lebih menantang, dan kali ini, street photography.

Sekitar jam 12 kami bergegas ke jalan ABC. Kami memutuskan untuk pergi ke jalan ABC. Selain karena banyak objek foto disana, saya juga sekalian mau bersihin lensa kamera analog saya yang sampe sekarang saya nggak ngerti cara pakainya gimana.

Sesampainya disana, kami mulai hunting. Awalnya saya masih kaku-kaku untuk memotret. Lama kelamaan, segala macem saya foto. Apapun.

Saya yang masih awam banget soal setting kamera, dikit-dikit nanya ke Rizal. Dia pun banyak memberi masukan soal penggunaan kamera.

Sekitar jam 3 sore kami pulang, karena langit mulai mendung.

Sesampainya di rumah, saya membuka kembali foto-foto yang tadi saya ambil selama di jalan ABC.

Saya kaget.

Memang banyak sekali foto saya yang masih berantakan. Tapi, ada beberapa foto yang ketika saya melihatnya, saya tersenyum. Bahkan menangis.

Baru pertama kali saya menangisi hasil foto saya sendiri.

Entah kenapa, saya terharu. Dan ketika itu saya sadar, saya sudah jatuh cinta pada street photography.

I love the idea of capturing people’s faces. I love to see their laughters, or saving the moment of their glimpse.

Saya mendengar cerita-cerita dari foto-foto yang saya ambil. Rasanya memori tentang bagaimana saya mengambil foto itu, terulang kembali.

Bercandaan kecil saya dengan penjual kacamata, obrolan tentang duda keren dengan si bapak penjual kunci cadangan, atau bahkan membekunya saya saat berusaha menangkap fokus dari senyum Rizal.

Semuanya.

Air mata saya tumpah. Bukan karena foto yang saya ambil bagus. Tapi karena cerita dibalik foto-foto itu. Tapi karena itu pengalaman pertama saya dalam street photography. Tapi karena ini pelajaran pertama saya menggunakan kamera pertama saya, dengan hasil jeri payah saya sendiri.

Sebagian foto saya ambil dalam mode hitam putih. Kadang, melihat dunia dalam 2 warna bisa jadi lebih indah. Karena saya bisa berinterpretasi dengan warna di dalam pikiran saya.

Karena saat itu, tidak mengambil warna. Saya mengambil jiwa.

IMG_5820.JPG

IMG_5836.JPG

IMG_5812.JPG

IMG_5838.JPG

IMG_5796.JPG

IMG_5809.JPG

IMG_5837.JPG

Terima kasih banyak untuk Rizal dan Agvi yang udah nemenin nyetrit bareng hari ini!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s