#100DPS Day 60: The Power Of Community

Belakangan sejak ngerjain skripsi saya jadi belajar macem-macem. Diluar yang saya pelajari di mata kuliah saya.

Dalam bahasan skripsi saya, ada beberapa topik yang menyinggung tentang komunitas (oiya skripsi saya tentang Social Network Analysis). Sebenarnya apa sih komunitas itu?

Definisi komunitas yang saya dapatkan dari businessdictionary.com adalah sebagai berikut:

Self-organized network of people with common agenda, cause, or interest, who collaborate with sharing ideas, information and other resources.

Selama kuliah pun saya ikut aktif dalam beberapa komunitas. Beberapa komunitas yang saya ikuti bergerak di bidang fotografi. Diantaranya adalah komunitas KameraHpGw regional Bandung dan komunitas Telkom Hunter.

Pada awalnya saya belum merasakan manfaat dari ikut komunitas. Tadinya saya memang cuma ingin menambah teman saja karena memang dasarnya saya suka bersosialisasi.

Tapi belum lama ini, justru saya baru menyadari pentingnya suatu komunitas saat ada momen kecil dimana saya membantu teman saya untuk skripsinya.

Kebetulan skripsi teman saya itu meniliti tentang iPhone, dan dia minta tolong ke saya untuk bantu menyebar kuesioner. Dia merasa kesulitan karena harus mendapatkan 400 responden dari seluruh Indonesia dalam waktu yang cukup singkat.

Disitu saya terpikir, karena dia meneliti tentang iPhone yang notabene adalah salah satu smartphone favorit bagi para fotografer instagram masa kini, bisa dong ya kita sebar kuesioner ini ke para pengguna instagram yang pake iPhone?

Cara tercepat untuk menemukan mereka bagaimana? Komunitas jawabannya!

Langsung saja saya sebar ke komunitas yang saya ikuti tadi karena memang relevan.

Hasilnya? Mencengangkan. Teman saya sampai terharu, dalam waktu kurang dari 2 jam dia sudah bisa mengumpulkan 65 input. Lumayan banget kaaaan.

Itu salah satu manfaat komunitas dalam lingkup kecil. Tentu banyak lagi manfaat dari adanya komunitas, misalnya:

1. Bisnis

Komunitas bisa membantu untuk promosi produk. Misalnya untuk jadi buzzer. Komunitasnya untung ada pendapatan, perusahaannya juga untung, dapet range penyebaran yang luas dengan biaya yang ga terlalu tinggi.

2. Penelitian

Contoh yang saya berikan di awal tulisan ini juga salah satu manfaat komunitas di bidang penelitian.

3. Pendidikan

Kalian pasti sering dengar komunitas mengajar yang digalakkan oleh para pemuda. Bayangin kalo komunitas itu ada banyak di seluruh Indonesia. Masyarakat yang kurang mampu atau yang ada di pelosok akan mendapatkan kesempatan untuk dapat ilmu. Indonesia bisa lebih maju.

4. Politik

Simpel sih, misalnya kamu ikut komunitas apa gitu dan kamu aktif disitu. Trus suatu saat kamu mau jadi caleg deh misalnya, kamu udah punya basis massa tuh dari teman-teman komunitas hehehe :p

5. Seni dan Budaya

Pernah dengar komunitas pecinta angklung? Dengan adanya komunitas seperti itu, eksistensi peninggalan budaya kita bisa diselamatkan. Bayangin kalo ada komunitas pecinta tempe misalnya (beneran ada kali ya?), dan mereka aktif. Ga akan deh tempe diakui sebagai makanan dari negara lain :p

Dan masih banyak lagi.

Makanya kita sebagai anak muda, jangan ragu-ragu buat ikut komunitas. Selama itu berdampak positif, kita harus sering aktif. Selain kita dapat ilmu, teman baru bisa mengembangkan minat, bakat serta potesi diri, kita jadi punya banyak kesempatan yang lebih luas, dan kita juga bisa ikut membantu orang lain loh!

Ingat, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat 🙂

Advertisements

#100DPS Day 59: Bandung Tanpamu

Bertahun-tahun aku tinggal di Bandung, tidak membuatku hafal setiap sudut jalanan. Tak membuatku ingat setiap belokan mengarah kemana.

Itu yang seringkali membuatmu kesal, karena aku kadang membawa kita ke tempat-tempat aneh. Semua akibat kecerdasan spasialku yang sangat memprihatinkan.

Tapi kekesalanmu selalu berakhir dengan tawa kita.

Sekian hari aku menghabiskan waktu denganmu, kurasa tak ada yang sia-sia. Kita bagaikan kerbau dan burung jalak yang keberadaannya saat bersama saling memberikan keuntungan. (Kenapa bukan bunga dan kupu-kupu saja ya contohnya?)

Tak hanya ilmu, pengalaman dan pemahaman pun kita saling berbagi.

Pembicaraan kita ekstrim, dari perkara filosofis sampai hal-hal bodoh yang tidak penting. Tapi aku suka itu.

Beberapa hari tanpamu, Bandungku sepi.

Bandungku tak bergerak. Rasanya seperti menonton film yang di pause. Aku ingin kamu cepat pulang. Ke rumah kita.

Karena,

sesungguhnya,

Bandung tanpamu,

hampa.

———-

Bandung, 18 Mei 2015

Dalam perjalanan.

#100DPS Day 58: Malu Minta Maaf

Suatu sore, saya lagi duduk manis di depan komputer di tempat fotokopi dan print sekitaran kampus. Lagi nungguin ngeprint ceritanya.

Di sebelah saya ada sepasang cowo-cewe yang berisik banget, perkara ngeprint tugas aja si cowo marah-marah sama ceweknya gara-gara typo. 

Cowo: ah, salah ketik nih! Benerin benerin!

Cewe: kan tadi aku udah bilang cek dulu sebelum print.

Cowo: ah gimana sih! Udah buruan benerin!

Duh bro, punya tangan kan? Kerjain tugas sendiri lah -_-

Ga cuma itu, di depan etalase berdiri seorang bapak-bapak yang usianya sekitar 40-50 tahunan lah. Si bapak lagi menunggu abang fotokopian yang sedang mengerjakan orderannya. Kayaknya sih suruh ngejilid atau apa gitu.

Tiba-tiba si bapak bilang gini..

Bapak: lho itu jangan digituin!

Abang: biar sekalian pak..

Bapak: beda itu beda, jangan disatuin. Kamu nggak ngerti ya apa yang saya bilang?!

Begitu ujar si bapak dengan nada suara yang meninggi.

Si abang pun memberikan pembelaan..

Abang: bukan pak ini biar sekalian aja, nanti dipisah lagi.

Bapak: oh gitu.. Yasudah, maafin saya ya.

Wah, lihatkah sesuatu disitu?

Dari percakapan di atas saya menangkap ada perbedaan antara si cowo dan bapak-bapak. Yaitu yang satu muda yang satu tua wkwkwk.

Becanda deng.

Bedanya adalah, si cowo gamau mengakui kalo kesalahan yang terjadi disitu juga kesalahannya. Sedangkan si bapak-bapak, mau mengakui kalau dia salah dan meminta maaf atas kesalahannya.

Mungkin kata-kata si bapak memang kasar dan bernada tinggi. Benar-benar seperti orang marah. Tapi setelah dia mendengar pembelaan si abang fotokopi, dia tau bahwa yang ia sangka itu tidak benar. Maka itu ia meminta maaf.

Dipikir-pikir, sekarang itu susah ya nemu orang yang mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Kebanyakan orang gengsi kalo tau mereka salah. Bukannya minta maaf malah balik menyalahkan, atau ya diam aja.

Tapi hati-hati, yang jadi sasaran bisa jadi sakit hati loh. 

Apa susahnya sih minta maaf? Nggak ngeluarin duit padahal -_-

Dari situ saya belajar, lain kali kalo ada kesalahan ya akui saja. Minta maaf. Bersyukurlah kalo masih diingatkan mana yang benar.

Karena sesungguhnya yang lebih buruk adalah saat kita dibiarkan terjatuh dalam kesalahan.

#100DPS Day 57: Saya Mengajar Bukan Agar Dapat Uang

Sabtu, 2 Mei 2015

Selamat Hari Pendidikan Nasional, untuk seluruh masyarakat Indonesia!

Buat saya, pendidikan itu penting sekali. Kenapa?

Menurut saya, satu cara untuk keluar dari keterpurukan adalah dengan mendapatkan pendidikan.

Saya punya cita-cita. Saya ingin membangun sekolah untuk masyarakat yang kurang mampu. Karena saya tau rasanya kesulitan secara keuangan buat dapat pendidikan. How lucky I was, ada tangan dermawan yang mau menolong saya.

Jadi, entah gimana caranya, saya akan cari jalan supaya suatu saat cita-cita saya bisa jadi kenyataan. Aamiin.

Sekarang, status saya masih mahasiswa. Tapi itu nggak membuat saya diam tanpa aksi. Saya mulai langkah awal saya dari sini.

Saya sudah 2 tahun bekerja sebagai guru bahasa Inggris di suatu lembaga di Bandung. Ngapain?

Cari uang? Iya emang sih, ga dipungkiri. Tapi tujuan utamanya bukan itu.

Lebih dari uang, saya dapat banyak hal selama saya mengajar.

Pengalaman, latihan kesabaran, latihan bekerja di bawah tekanan, dituntut untuk kreatif, belajar mengatur waktu, bahkan latihan mengasuh anak hahaha.

Semua itu lebih dari apa yang saya terima sebagai gaji saya.

Banyak kejadian unik yang saya alami selama mengajar. Dari mulai dipanggil “mister” (padahal kan cewek :””), cerita-cerita sama murid yang pada ABG, ngajarin anak kuliahan yang ternyata cuma beda setahun sama saya, sampai nyebokin murid yang masih TK. Ada-ada aja deh pokoknya.

But after all, I enjoy doing it because I’m passionate in learning and sharing. 

Juga, ini adalah salah satu bentuk kontribusi saya buat mencerdaskan kehidupan bangsa.

And here are my students:

Murid-murid yg suka manggil saya “mister”

Dari mengajar, ternyata saya yang lebih banyak belajar 🙂

Kalo kamu, udah kontribusi apa? 🙂