#100DPS Day 67: Distorsi Waktu

Libur hari kejepit kali ini saya habiskan di Wates. Padahal, belum sampai sebulan yang lalu saya baru saja jalan-jalan ke Jogja (wah belum sempat posting cerita ke Jogja, nanti nyusul deh :p). Namun perjalanan kali ini adalah atas permintaan nenek saya, ya mana bisa nolak kan? Hehehe.

Sekian kali saya ke Jogja atau Wates, ada satu pertanyaan yang selalu muncul di pikiran saya: disini tuh ada distorsi waktu ya?

Entah kenapa, setiap saya ke Wates atau Jogja saya merasa waktu disini berjalan sangat lambat. Kenapa?

Saya bangun pagi jam 8, main handphone, sarapan, lalu mandi, pas tengok jam lagi, kok belum jam 9?

Begitupun saat saya pergi sama sepupu saya. Kami berangkat jam 9 pagi, nontonin orang motong sapi, jalan-jalan sama keponakan, foto-foto keliling desa, main-main petik buah kakao, balik ke rumah sepupu lagi, trus makan, dan pas lihat jam? Belum jam 11.

Saat malam pun begitu, sudah selesai sholat magrib, sudah sholat isya, sudah makan malam, rumah sudah dibereskan dan lampu-lampu dimatikan. Masuk kamar lalu lihat jam. Masih jam 7:10 pm. Aduduh kalo di Bandung mah bilangnya masih sore.

Rasanya saya sudah melakukan banyak sekali hal disini, tapi waktu yang saya habiskan hanya sedikit. Kayak ada distorsi waktu kan?

Berbanding terbalik ketika saya beraktifitas di Bandung atau Jakarta. Baru bangun, mandi, jalan ke kampus. Pas lihat jam, udah telat ini-itu. Bahkan sarapan juga belum -_-

Di Bandung atau Jakarta, semuanya berjalan begitu cepat. Mungkinkah ini yang membuat tingkat stress di kota-kota ini lebih tinggi?

It feels like we don’t have much time to do many things. While here in the suburban, we have too much time to kill.

Is it just me or it is really a distortion? Well, what do you think?

Anyway, ini dia foto-foto hasil hunting di Wates 😀

 

The boy and the door behind.
  
Childhood never ends!
  
He’s like saying “capture me like this auntie!”
  
Believe it, it’s in Indonesia. Behind my granny’s house :p
  
Slowly drifting away, wave after wave ~
  
Now you know why I really love sunset 🙂
 

#100DPS Day 66: Penuh.

Hari Minggu ini saya pergi sama Rizal, ke tempat ngopi di daerah dekat kampus. Nggak deket-deket banget sih, tapi nggak jauh juga.

Niatnya pengen lanjut ngerjain jurnal yang sempat tertunda. Sekalian pengen keluar bareng Rizal aja, sambil main atau ngobrol nggak jelas.

Ealah sampe disana, laptop saya nge-hang terus. Ujung-ujungnya ga bisa ngerjain. Akhirnya saya malah main game dan nemenin Rizal ngerjain skripsinya.

Nggak lama kemudian seseorang menelepon saya. Akhir-akhir ini dia memang jarang menghubungi saya. Mungkin karena sibuk, yah setidaknya itu yang ada di pikiran saya.

Ternyata dia menelepon untuk bercerita tentang keadaannya akhir-akhir ini yang menurut saya cukup depressing. Saya mendengarkan ceritanya dengan seksama. Dan karena kami cukup dekat, saat dia menceritakan segala keluh kesahnya, saya ikut merasakan kekalutannya.

Andai saya ada di posisi dia, saya tidak tau apakah masih bisa bertindak sebijak dia. Di satu sisi saya sedih mendengar ceritanya yang depressing itu. Namun di sisi lain, saya senang.

Bukan, bukan berarti saya senang di atas penderitaan orang lain.

Saya senang karena saat dia butuh seorang pendengar, saya adalah orang yang muncul dalam pikirannya.

Sederhana, tapi merasa berarti itu sangat berharga buat saya.

Sejauh ini, saya memang sering jadi tempat cerita teman-teman saya. Bahkan seringkali orang yang baru bertemu dengan saya bisa cerita panjang lebar tentang kehidupannya. Buat saya sih itu istimewa.

Tapi,

Ternyata hari ini saya lagi penuh.

Usai mendengarkan cerita dia, saya menutup telepon dengan doa di dalam hati saya: semoga dia selalu dilindungi Allah dan semoga Allah senantiasa membantunya dan melancarkan urusannya.

Selepas itu, saya menangis. Rasanya penuh sekali. Isi kepala dan isi hati saya. Rizal pun menenangkan saya “udah, nangis aja dulu”, begitu katanya.

Hingga akhirnya saya meluapkan isi kepala saya pada Rizal. Banyak hal yang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Tapi saya bingung harus cerita ke siapa dan mulai dari mana.

Dan ketika saya meluapkannya ke Rizal, rasanya memang lebih lega. Rizal memberikan saya banyak masukan yang membuka pikiran saya.

Justru, hari ini saya menemukan beberapa hal. Saya menemukan Rizal yang baru. Seorang teman yang benar-benar bisa diandalkan. 

Seseorang yang bisa “menampar” dan “merangkul” di saat yang sama, demi membuka mata saya.

Bahwa,

Kadangkala seorang pendengar juga butuh didengarkan.

#100DPS Day 65: Air Mata, Senja dan Haru

Hari ini hari Jumat. Layaknya Jumat biasanya, saya berangkat jam 11 siang untuk mengajar. Jarak dari kosan ke tempat les nggak terlalu jauh, biasanya saya naik angkot atau naik ojek.

Sesampainya di tempat les, saya menyampaikan buah tangan untuk guru-guru disana karena saya baru saja tiba dari Jogja. Mereka terlihat senang dengan oleh-oleh yang saya bawakan, alhamdulillah.

Ternyata pemilik tempat lesnya, yang biasa saya panggil Miss Tim, habis beli bakso. Wah kebetulan saya belum makan, sembari menunggu murid-murid akhirnya saya memutuskan untuk makan semangkok bakso.

Ditengah-tengah santap bakso, tiba-tiba Miss Teti (administrative officer) bertanya:

Miss Teti: Aul, berarti nanti abis wisuda November langsung balik ke Jakarta dong ya?

Saya: iya miss hehe.

Miss Teti: wah berhenti ngajar dong kalo gitu?

Saya: …..iya juga ya Miss. Yaaah sedih…

Miss Teti: iya ya sedih yaa..

Setelah itu saya termenung. Awalnya saya nggak kepikiran bakal sedih soal berhenti ngajar. Tapi kok setelah Miss Teti bilang begitu, saya jadi kepikiran ya.

Sorenya setelah beres mengajar, saya ngobrol-ngobrol dengan Miss Tia, salah satu guru yang juga mengajar di tempat les itu. Saya membicarakan tentang kesedihan saya karena sebentar lagi akan resign dari tempat mengajar.

Dan di sore itu, kami berdua menangis.

Pada awalnya saya tidak bermaksud membangun kedekatan dengan orang-orang di tempat saya mengajar. Tapi waktu tidak pernah menyembunyikan keahliannya dalam membangun perasaan. Tanpa saya sadari, bukan hanya kedekatan yang tercipta.

Melainkan kekeluargaan.

Miss Tim sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri, begitu juga Miss Teti. Ibunya Miss Tim, yang saya biasa panggil “Nini” pun sudah menganggap saya seperti cucunya sendiri.

Tak lama kemudian, Miss Tim datang. Melihat wajah kami yang sembab, saya tak tahan untuk tidak menceritakan kesedihan kami. Miss Tim pun ikut berlinang air mata.

Tenang, yang berhenti itu cuma mengajarnya. But our feeling will stay. Life must go on…” ujarnya.

Saya justru makin tak kuat menahan air mata. Tak terasa sudah dua tahun sejak saya pertama mengajar. Dari yang kaku-kaku saat menghadapi murid, sampai sekarang justru murid-murid yang mencari saya kalo saya nggak masuk.

My student even sent me a message: “Miss Aul kemana? kok nggak ngajar sih? minggu depan ngajar nggak?“.

atau “Ah aku mau diajar sama Miss Aul lagi minggu depan!

Buat saya, itu adalah achievment yang besar. Dari mengajar, saya justru dapat lebih banyak pelajaran. Walaupun murid saya suka bandel dan berisik kalo di kelas, tapi mereka yang bikin saya merasa hidup. Mereka yang bantu saya untuk mewujudkan passion saya.

There’s just too much memories with them.

Dari mulai dibikin pundung sama murid sampe bikin murid pundung. Dari mulai dengerin cerita horrornya murid sampe dengerin curhatan murid tentang mantannya lah, gebetannya lah, pacarnya lah. Dari nyebokin murid yang masih playgroup sampe ngomongin naik gunung sama murid yang ternyata cuma beda setahun lebih muda.

I can not tell it one by one. But it’s all so precious for me.

Dan pada senja hari ini, saya, Miss Tim dan Miss Tia saling berpelukan. Kami larut dalam tangis haru. Campur aduk perasaan sedih dan jutaan rasa yang tak bisa dideskripsikan.

Tapi kami tau, bahwa ikatan ini ternyata sekuat itu.