#100DPS Day 65: Air Mata, Senja dan Haru

Hari ini hari Jumat. Layaknya Jumat biasanya, saya berangkat jam 11 siang untuk mengajar. Jarak dari kosan ke tempat les nggak terlalu jauh, biasanya saya naik angkot atau naik ojek.

Sesampainya di tempat les, saya menyampaikan buah tangan untuk guru-guru disana karena saya baru saja tiba dari Jogja. Mereka terlihat senang dengan oleh-oleh yang saya bawakan, alhamdulillah.

Ternyata pemilik tempat lesnya, yang biasa saya panggil Miss Tim, habis beli bakso. Wah kebetulan saya belum makan, sembari menunggu murid-murid akhirnya saya memutuskan untuk makan semangkok bakso.

Ditengah-tengah santap bakso, tiba-tiba Miss Teti (administrative officer) bertanya:

Miss Teti: Aul, berarti nanti abis wisuda November langsung balik ke Jakarta dong ya?

Saya: iya miss hehe.

Miss Teti: wah berhenti ngajar dong kalo gitu?

Saya: …..iya juga ya Miss. Yaaah sedih…

Miss Teti: iya ya sedih yaa..

Setelah itu saya termenung. Awalnya saya nggak kepikiran bakal sedih soal berhenti ngajar. Tapi kok setelah Miss Teti bilang begitu, saya jadi kepikiran ya.

Sorenya setelah beres mengajar, saya ngobrol-ngobrol dengan Miss Tia, salah satu guru yang juga mengajar di tempat les itu. Saya membicarakan tentang kesedihan saya karena sebentar lagi akan resign dari tempat mengajar.

Dan di sore itu, kami berdua menangis.

Pada awalnya saya tidak bermaksud membangun kedekatan dengan orang-orang di tempat saya mengajar. Tapi waktu tidak pernah menyembunyikan keahliannya dalam membangun perasaan. Tanpa saya sadari, bukan hanya kedekatan yang tercipta.

Melainkan kekeluargaan.

Miss Tim sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri, begitu juga Miss Teti. Ibunya Miss Tim, yang saya biasa panggil “Nini” pun sudah menganggap saya seperti cucunya sendiri.

Tak lama kemudian, Miss Tim datang. Melihat wajah kami yang sembab, saya tak tahan untuk tidak menceritakan kesedihan kami. Miss Tim pun ikut berlinang air mata.

Tenang, yang berhenti itu cuma mengajarnya. But our feeling will stay. Life must go on…” ujarnya.

Saya justru makin tak kuat menahan air mata. Tak terasa sudah dua tahun sejak saya pertama mengajar. Dari yang kaku-kaku saat menghadapi murid, sampai sekarang justru murid-murid yang mencari saya kalo saya nggak masuk.

My student even sent me a message: “Miss Aul kemana? kok nggak ngajar sih? minggu depan ngajar nggak?“.

atau “Ah aku mau diajar sama Miss Aul lagi minggu depan!

Buat saya, itu adalah achievment yang besar. Dari mengajar, saya justru dapat lebih banyak pelajaran. Walaupun murid saya suka bandel dan berisik kalo di kelas, tapi mereka yang bikin saya merasa hidup. Mereka yang bantu saya untuk mewujudkan passion saya.

There’s just too much memories with them.

Dari mulai dibikin pundung sama murid sampe bikin murid pundung. Dari mulai dengerin cerita horrornya murid sampe dengerin curhatan murid tentang mantannya lah, gebetannya lah, pacarnya lah. Dari nyebokin murid yang masih playgroup sampe ngomongin naik gunung sama murid yang ternyata cuma beda setahun lebih muda.

I can not tell it one by one. But it’s all so precious for me.

Dan pada senja hari ini, saya, Miss Tim dan Miss Tia saling berpelukan. Kami larut dalam tangis haru. Campur aduk perasaan sedih dan jutaan rasa yang tak bisa dideskripsikan.

Tapi kami tau, bahwa ikatan ini ternyata sekuat itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s