#100DPS Day 71: Dosen Terbaik

Tulisan yang cukup panjang kali ini saya persembahkan untuk dosen pembimbing skripsi saya, Bapak Andry Alamsyah.

Saya pertama kali kenal Pak Andry sekitar tahun 2013. Kala itu, saya sering menemani Bang Nando –sahabat saya– untuk bimbingan skripsi dengan Pak Andry. Saya yang waktu itu masih semester 5 hanya bisa planga-plongo mendengar percakapan mereka tentang Social Network Analysis, Big Data, dan hal-hal asing lainnya.

Setelah beberapa kali ikut Bang Nando saat bimbingan, Pak Andry bertanya pada saya “Aul mau skripsi kapan? Udah kepikiran belum mau bahas topik apa?”. Waktu ditanya begitu, saya ya blank. Boro-boro mikirin skripsi, magang juga belum. Jadi ya saya jawab saja “Belum tau nih pak hehe”. Kemudian Pak Andry bertanya lagi “Mau skripsi SNA nggak? Kalo mau, kamu baca-baca aja dulu dari jurnal sekalian nyari topik bahasan”.

Entah kesambet angin apa, saya jawab “Mau pak, oke nanti saya cari bahan bacaan dulu habis itu saya diskusi sama Bapak ya”. Padahal saat itu saya masih nggak tau apa-apa soal SNA.

Sampai akhirnya di semester 7 saya memantapkan diri untuk mengambil tugas akhir. Nggak pakai pikir panjang, saya menemui Pak Andry dan menyatakan diri ingin menjadi mahasiswa bimbingannya. Voila! Tau-tau saya sudah jadi mahasiswa bimbingannya.

Gara-gara bimbingan sama Pak Andry, saya jadi tau tentang SNA, sentiment analysis, data mining, big data dan hal-hal menarik lainnya. Pak Andry orangnya asik banget. Dan saya amazed banget dengan kecerdasan Pak Andry, tapi beliau tetap humble.

Beliau yang selalu bikin saya ingat bahwa hidup itu isinya proses belajar. Kita harus explore berbagai hal dan nggak usah takut salah. Pak Andry membimbing tapi nggak “nyuapin”.

What’s more interesting is, he was a photographer! That’s just too cool! :p

Berkat Pak Andry, kehidupan saya semasa skripsi jadi seru kayak roller coaster. Dari mulai dapet fasilitas gratis ikut Konferensi Big Data pertama di Indonesia, sampai nongkrong bareng di cafe sama beliau. Dan karena semua masa-masa itu dilewatin bareng teman-teman yang super asik, semuanya jadi seru banget.

Berkat Pak Andry juga, sekarang saya dapat perkerjaan saya sekarang.

Makasih banyak Pak Andry, semoga ilmu yang bapak turunkan ke mahasiswa-mahasiswa Bapak bisa bermanfaat buat kami, almamater, bangsa dan negara.

Buat saya, Pak Andry adalah dosen terbaik semasa kuliah! 😀

Ulang Tahun di ICT Expo Bareng Pak Andry dan Teman-Teman
Ulang Tahun di ICT Expo Bareng Pak Andry dan Teman-Teman
With Pak Andry After Pak Andry Ngeband
With Pak Andry After Pak Andry Ngeband
Wisuda Bareng Anak Bimbingan Pak Andry (Aul-Rio-Widita)
Wisuda Bareng Anak Bimbingan Pak Andry (Aul-Rio-Widita)

Advertisements

#100DPS Day 70: Tentang Orang Religius dan Orang Baik

There’s a slight difference between religious people and kind people.

 Lalu dimana bedanya?

Mari kita berangkat dari definisi.

Apa definisi dari “orang religius”? Dan apa definisi dari “orang baik”?

Sayangnya, tidak ada definisi standar mengenai bagaimanakah orang yang religius dan yang baik.

Jadi, mari berangkat dari opini saya. Ingat ya, ini hanya opini.

Menurut saya orang religius itu, orang yang taat pada perintah agamanya. Menuruti perintah Tuhan dan menjauhi larangan. Sesederhana itu saja.

Lalu, orang baik adalah orang yang sikap dan perilakunya baik. Kata-katanya baik. Sesimpel itu.

Dari definisi di atas, kita bisa melihat perbedaan bukan?

Jadi sebaiknya kita tidak menyamaratakan antara orang religius dan orang baik.

Karena kadang ada orang yang begitu religius, ia taat menjalankan ibadah. Tapi sikapnya pada orang lain tidak baik. Kalau dalam islam mungkin disebut sudah “hablum minallah” tapi belum “hablum minannas”.

Padahal, (seharusnya) jika ia benar-benar religius, ia juga bersikap baik pada orang lain. Karena setiap agama pasti mengajarkan untuk berbuat kebaikan kepada sesama manusia.

Tapi kan kenyataan berkata lain :))

Well, kita nggak pernah bisa mengukur ke-religius-an seseorang juga sih.. 

Sementara, orang baik pun belum tentu religius. Dia bisa saja tidak rajin ibadah. Tidak rajin sholat atau ke gereja. Tapi, setiap harinya ia berbuat baik kepada sesama manusia. Saling membantu dan tutur katanya baik.

Beda kan?

Jadi kesimpulannya, orang religius belum tentu baik. Dan orang baik pun belum tentu religius.