#100DPS Day 75: Marah Lo Murah!

Kita semua pasti pernah marah, setidaknya sekali seumur hidup.

Atau paling nggak, pernah liat orang marah.

Orang marah biasanya gimana sih?

Ada berbagai ekspresi seseorang saat sedang marah. Ada yang berteriak-teriak. Ada yang mengeluarkan kata-kata kasar. Ada juga yang malah menangis.

Marah adalah suatu hal yang sangat wajar dan manusiawi. Tapi, kapan dan saat bagaimanakah kita harus marah?

Menurut saya, marah adalah suatu pilihan. Misalnya kita lagi jalan, eh ada orang yang menyerobot jalan kita. Trus kita marah. Bisa sih. Tapi, bisa juga kan kita memilih untuk tidak marah? Bisa juga kan kita memilih untuk menasihati si orang itu? Bisa juga kan kita nggak perlu menghiraukan hal itu?

Saya juga tentunya pernah marah. Tapi tidak untuk hal-hal yang sepele. Kalau saya marah, berarti itu menyinggung prinsip saya atau hal-hal krusial lainnya seperti keluarga.

Lalu bagaimana dengan orang yang dikit-dikit marah?

Saya rasa orang itu kurang piknik :p

Kebayang ga sih orang yang sering marah justru bukannya ‘ditakuti’ tapi justru kehilangan ‘respect’ dari orang-orang sekitarnya. Sayang kan? Kamu merasa di benar, tapi sebenarnya kamu kehilangan wibawamu.

Lain dengan orang yang biasa-biasa saja. Ketika ia marah, orang-orang di sekitarnya juga akan sadar sendiri, something is going wrong here.

Jadi buat kamu yang sering sekali marah untuk hal-hal sepele, sebaiknya kamu mulai mengurangi kebiasaan itu. Karena menyakiti hati orang lain tidak sebanding dengan kerugian yang menyebabkan kemarahan kamu itu.

Kalau kamu dikit-dikit marah…..

Marahmu itu,

murah.

 

#100DPS Day 74: Pasar Bunga Rawa Belong

Hari ini tanggal 22 Desember.
Biasa diperingati sebagai hari ibu. Meskipun masih banyak pro-kontra soal “merayakan hari ibu”, saya pengen aja sih ngasih sesuatu yang spesial buat ibunda tercinta.

Ada yg bilang “menunjukkan kasih sayang ke ibu itu seharusnya setiap hari, jangan cuma di hari ibu saja!”. Ya emang tiap hari. Masa saya sayang sama ibu cuma pas tanggal 22 Desember aja?

Tapi menurut opini saya, nggak ada salahnya kita luangkan 1 hari untuk selebrasi secara simbolis rasa sayang kita ke ibu.

Menurut opini saya loh ya.

Nah lalu apa hubungannya dengan pasar bunga Rawa Belong?

Jadi di hari spesial ini, saya ingin ngasih bunga ke ibu saya. Kenapa nggak makanan? Atau emas batangan? Atau mungkin ngasih menantu.. Well, let’s skip it. I just want to give her flowers, that’s all.

Setelah survey-survey di internet, saya menyimpulkan bahwa harga bunga di pasar bunga Rawa Belong relatif lebih murah. Hmm, menarik juga.

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi kesana sepulang dari kantor. Lagian sekalian jalan-jalan, saya belum pernah ke pasar bunga Rawa Belong. Padahal dari SMP dan SMA saya dulu, jaraknya dekat sekali.

Sesampainya disana, saya mendadak bahagia. Saya tergolong orang yang mudah bahagia sih memang. Begitu lihat banyak bunga-bunga cantik dimana-mana, saya sumringah.

Ada banyak macam bunga di pasar bunga Rawa Belong. Dari yang mainstream seperti mawar dan chrysan, sampai yang antimainstream (sekaligus bunga favorit saya) seperti bunga hydrangea dan bunga matahari. Dari mulai bunga potong yang masih segar, sampai bunga-bunga hidup yang memang masih di pot.

Setelah tanya-tanya harga, benar juga kata si internet. Harga disini tergolong murah. Satu ikat bunga chrysan yang isinya 50 batang dibanderol Rp 120.000 saja. Itu belum ditawar lho hehehe. FYI, satu ikat isi 50 batang bunga chrysan itu gede banget..

Bunga mawar yang warnanya nggak mainstream juga cuma Rp 75.000. Sayangnya saya lupa tanya itu satu ikatnya berapa batang.

Setelah keliling-keliling, ternyata saya malah balik ke toko pertama yang saya datangi. Toko itu menjual bunga anggrek yang masih di dalam pot alias masih hidup. Anggrek bulan yang besarnya nggak biasa itu hanya dijual seharga Rp 110.000 saja. Yasudah langsung beli saja, saya mikir daripada beli bunga potong yang bisa kering, mending beli bunga hidup yang bisa dipelihara terus hehehe. Dasar nggak mau rugi.

Ini dia foto-foto pasar bunga Rawa Belong:

OMG Flowers!

OMG Flowers!

Kumpulan Dagangan Bunga di Pasar Bunga Rawa Belong
Kumpulan Dagangan Bunga di Pasar Bunga Rawa Belong
Hydrangea, My Favorite!
Hydrangea, My Favorite!
Jual Bunga yang Masih Hidup Juga
Jual Bunga yang Masih Hidup Juga
Toko-toko di Bagian Luar
Toko-toko di Bagian Luar

Kalau ada yang mau berkunjung ke sini, bisa langsung cek alamat ini ya

Alamat Pasar Bunga Rawa Belong:

Jalan Sulaiman No.1, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Tenang aja, pasar bunga Rawa Belong ini buka 24 Jam kok. Kecuali pas hari lebaran yaa :p

100DPS Day 73: Desember 2015, Tutup Buku Sejuta Cerita

Nggak terasa, sudah memasuki bulan Desember saja. Rasanya baru kemarin saya menulis resolusi tahun baru 2015. Satu bulan dari sekarang saya sudah harus menulis resolusi baru ya?

Tapi saya mau kilas balik, apa saja yang terjadi di tahun 2015 dan resolusi apa yang telah/belum saya capai. Resolusi saya di tahun 2015 ini adalah:

Resolusi

7 dari 9 resolusi saya di tahun 2015 sudah tercapai. Alhamdulillah!

Memangnya, selama tahun 2015 ada cerita menarik apa saja sih?

  1. Finally Skripsi Beres!

Walaupun saya mengambil tugas akhir pada Oktober 2014, pada kenyataannya saya baru mulai ngerjain skripsi pada Februari 2015. HAHAHA. Bukannya malas, tapi saya sudah membuat perhitungan untuk kapan lulus, kapan sidang, kapan ngerjain skripsi dan lain-lain. Selain itu, saya juga butuh waktu buat memahami isi skripsi saya sendiri.

Officially Sarjana!

 
2. Leptop dan Kamera Saya Hilang!

Tepat sehari setelah saya mengumpulkan berkas skripsi, leptop saya digondol maling. Lengkap dengan kamera fuji saya tercinta. Juga external harddisk, charger iphone, mouse dan charger leptop. Wah banyak juga ya? Nggak apa-apa, semoga Allah menggantikannya dengan rezeki yang lebih baik.

3. Makin Banyak Jalan-Jalan dan Foto-Foto

Pada akhir masa perkuliahan, justru saya banyak main, jalan-jalan, nongkrong, foto-foto. Tentu hampir semuanya sambil skripsian hehehe. Saya jalan bareng teman-teman Telkom Hunter buat foto-foto. Asik parah!

 

Chasing Sunrise with Telkom Hunter (Photo by Akram)
 
 
Jalan-Jalan ke Situ Patenggang (Photo by Akram)
 
4. Mendengar Cerita-Cerita Baru

Entah gimana caranya, saat saya bertemu dengan orang baru, mereka menceritakan tentang kehidupannya ke saya. Semuanya menarik, dan memberi pesan pelajaran. I should hear more stories from now!

5. Berhenti Mengajar, Tapi Semoga Tidak Selamanya

Tiba juga saatnya saya harus berhenti mengajar Bahasa Inggris di Global Learning. Sedih sekali, I cried a lot. But life must go on. I get a bunch of love and experiences here and I would never forget that. Semoga suatu saat saya dapat kesempatan untuk mengajar lagi, mungkin sebagai dosen? 🙂

 

“Didandanin” murid-murid di Salon Madam :))
 
 
Global Learning Teachers
 

6. Dapat Pekerjaan Baru

Kalau dipikir-pikir, saya termasuk orang yang beruntung. Belum juga saya wisuda, saya sudah diterima bekerja. Kebetulan perusahaan ini ada hubungannya dengan hal-hal yang saya kerjakan selama skripsi. What a luck!

7. See You Bandung, Hello Jakarta

Setelah 4 tahun tinggal di Bandung, memang berat sekali rasanya saat harus meninggalkannya. Tapi sekali lagi, life must go on. Semua pasti ada hikmahnya. Dengan mendapat pekerjaan di Jakarta, saya bisa kembali ke rumah dan menemani mama.

 

One Side of Bandung
 
8. There Are So Much Thing I Should Learn

Kalau kata Pak Andry, hidup adalah sebuah proses belajar. Selain sifat dasar manusia yang nggak pernah merasa cukup, memang pada dasarnya ilmu yang kita miliki nggak akan pernah cukup. Di atas langit masih ada langit. Dunia kerja adalah dunia yang relatif baru buat saya. Disini, banyak hal-hal yang saya nggak pernah tau sebelumnya. So I should start again from zero!

9. WISUDA!

Akhirnya selebrasi yang dinanti-nanti, tiba juga. Setelah perjuangan mengerjakan skripsi, bimbingan, sidang dan sebagainya. Semoga ini bukan wisuda terakhir dalam hidup saya. Secepatnya akan wisuda lagi untuk jenjang yang lebih tinggi, aamiin!

 

Graduation Day (Photo by Bang Pio)

 
Happy day!
  

#100DPS Day 72: Why It Didn’t Work With My Last Ex-Boyfriend

I had a boyfriend around a year ago. He’s five years older than me. He’s a man with a job, and I was just a college girl.

We went out much, we meet so often, or I can say too often. We fought a lot, we argue and we made up.

There are some part of him I don’t really like, or maybe I really hate it.

He tried to make me living in schedule. While, in the other hand, it’s the thing I hate the most. I was so angry at that time. My rebel soul couldn’t accept it.

He wanted me to finish my thesis by the end of the month, he wanted me to do the chores on Friday, and whatsoever. I just couldn’t do as he said.

After a lot of fights with various reasons, we broke up.

A year has passed since I broke up with him. Now I’m a woman with a job.

Recently, I found something that my past-self would think that it’s ridiculous: life doesn’t work like social network graph picture. (why do I correlate with social network graph anyway?)

What I’m trying to say is, I can no longer live a life as whatever I wanted. I need a rythm. I (sadly) need to schedule my life. Or I can say, I need to have my life well-organized.

Because you can’t just live, or have a career path or chase your dream with a messy life. Unless you’re Messi. (ba-dum-tssss!)

Now I realize that to achieve something in life, discipline is a must. Whether it’s your dream, your career or anything else.

Now I understand why my ex-boyfriend taught me to make schedule for my daily life. I just didn’t understand his purpose back then.

Okay, it’s a mistake, and I gotta learn from it.

Ah, but remember, however we’re living a discipline life, it’s important to have free time for leisure. Or you’ll die from depression :p