#100DPS Day 82: You’ll Always Be My Baby

She’s my top favorite person.

She’s my sun and my moon.

She’s my remedy.

She’s my everything.

She’s my mom.

No words can describe my love for my mother. But I believe, nothing can describe her love for her children.

One evening, I was sitting on the back porch and talk with my mom about anything. When suddenly we jump into a conversation about me going to go overseas for my study.

I recently got accepted in one of university in Spain. But it seems like I will hold this opportunity for one simple reason (And people might think that it’s a riddiculous reason. But not for me.) :

I don’t want to leave my mother again, yet.

I have left her for four years long when I went to Bandung for college. And it’s still not one year yet since I came back to Jakarta. But I have to leave so soon for my master degree?

Doesn’t seem like a good idea for both of us.

Actually, at first, I was excited to hear the news about getting accepted. Then, when I told my mom about it, I heard no words but I can see her gloomy eyes ‘talking’ to me like “really? You have to leave me again? This soon?”. I can never see that kind of gaze.

I thought about it a lot of times. The pros and cons whether to go or not to go. Then I remember a moment when I was sick, two weeks before.

At that time, I was just staying in bed all day for two days in a row. And my mom took a really great care of me. She even rub my back with oil after bath (I like it because it smells good and feels warm hehe).

As she rub my back gently, she said “you’ll always be my baby”.

I tried not to cry. But I failed.

And in that evening conversation, I asked her “do you ever miss me so much when I was in Bandung?”

My mom smiled and said “do you know how hard I tried not to worry about you? Do you know how difficult was it to hear that you were sick, but I wasn’t there for you? Do you know how much I cried when we chatted on Facebook and I said ‘oh my dear daughter, you have grown now and  you start your own life in Bandung’?”

I was like “really? Is it true, mom?”

She nodded.

I held my tears.

Mom, how can I be so dense? You pour me rain of love, and I only give you a glass of love in return. How fool I am.

Mom, I always pray to God, to give you a healthy, long, and happy life. So you can witness my success with your own eyes, and hug me with proud. And you can see your grandchildren.

I’ll always be your baby, and you’ll always be my everything.

#100DPS Day 81: Bubur Ayam Terenak Sepanjang Masa!

Di dekat rumah saya, ada seorang penjual bubur ayam gerobak yang suka nongkrong setiap pagi dan malam. Gerobaknya sederhana, tapi rasa bubur ayamnya sama sekali nggak sederhana.

Mamang bubur ayam ini sudah nangkring bersama gerobaknya dari jaman saya masih TK. Yang itu berarti dari 17 tahun yang lalu (duh jadi ketahuan deh tuanya). Berarti ada kemungkinan si mamang ini udah jualan dari sebelum saya masuk TK. Amazing bukan?

Yang bikin saya suka banget sama bubur ayam disini adalah rasanya yang konsisten enak. Bayangin aja, bertahun-tahun saya sarapan bubur ayam disini, rasanya selalu sama. Enak terus.

Komposisinya pun pas. Bubur, kaldu, ayam suwir, kecap, kerupuk, daun bawang, kacang kedelai goreng dan sambal. Racikannya selalu sama, dan pas. Kadang kalau kita makan di tempat rasanya akan berbeda dengan yang dibungkus bawa pulang. Disini nggak ada yang kayak gitu. Mau makan di tempat kek, dibawa pulang kek, dibawa ke kantor kek. Ya rasanya bakalan sama enaknya.

Disini juga disediakan pelengkap seperti sate ati-ampela dan sate usus. Herannya, rasa pelengkapnya pun sama. Dari kecil sampe udah lulus kuliah gini, kalo makan bubur dan pake sate, rasa satenya selalu sama.

Ajaib sekali kan!

Tadi pagi pun sebelum menulis postingan ini, saya sarapan bubur ayam disitu. Sebelum makan, nyempetin foto-foto dulu. Kali aja ntar mamangnya jadi terkenal, saya udah punya foto si bubur ayam legend ini hehehe.

Bubur Ayam Legend
Bubur Ayam Legend
Mamang Lagi Ngeracik Bubur Ayam Legend
Mamang Lagi Ngeracik Bubur Ayam Legend
Bubur Ayam & Sate Legend
Bubur Ayam & Sate Legend
Mamang Bubur Ayam Legend
Mamang Bubur Ayam Legend
Gerobak Bubur Ayam Legend
Gerobak Bubur Ayam Legend

Buat saya, ini adalah bubur ayam paling enak sedunia yang pernah saya makan semasa hidup saya (yaelah hidupnya juga baru bentar). Gitu deh pokoknya, enak!

#100DPS Day 80: Pasar Malem

Di kampung saya, Malam Minggu diidentikkan dengan “Pasar Malam”. Lapangan bola yang biasa jadi tempat anak-anak main, mendadak disulap jadi pasar untuk semalam saja.

Disini, berbagai pedagang ramai menjajakan dagangannya. Dari yang jual cabe, sampe yang jual baskom. Dari yang jual es teh, sampe yang jual kolor. Semua ada.

Warga sekitar pun berbondong-bondong datang ke pasar kaget, baik yang buat jajan maupun yang lihat-lihat doang (atau yang foto-foto doang kayak saya).

Saya senang kesini karena banyak jajanan masa kecil. Saya pasti jajan kerang rebus dan es sarang burung walet. Hanya merogoh kocek 3000 rupiah, sudah bisa dapat segelas es sarang burung walet yang nikmat. Walau dibalik itu, saya nggak tau itu bersih atau tidak. Asal saya nggak mencret, ya shikat aja!

Sembari mondar-mandir nyari jajanan, saya juga jeprat-jepret sana-sini. Lumayan nambah stok foto. Dan karena pasar malam cuma ada di malam hari, alhasil saya jadi belajar ngambil foto di malam hari.

Begini nih jadinya:

 

Underweaaar~
    

Kacang rebus
  
Si bapaknya pake ngegaya
  
Cis kacang buncis eclek!
  
ini cabe beneran, bukan cabe-cabean!
  
jual piring juga ada
  
hayo! kamu lihat tahu bulat atau muka abangnya?
 
 

Nah begitulah beberapa dagangan yang ada di pasar malem. Sayang saya ga bisa ngefoto semua karena lebih sibuk ngabisin jajanan hehehe.

Kadang, yang sederhana seperti ini pun punya keunikan tersendiri. Tanpa hingar bingar pusat kota, masyarakat sekitar sini cukup terhibur dengan pasar kaget yang sebenernya nggak ngagetin ini.

 

#100DPS Day 79: Menulis Sebuah Kejujuran

“Cinta Adalah Perlawanan”

  

Adalah buku pertama Azhar Nurun Ala yang saya baca. Walau sebenarnya, saya sudah pernah mengetahui karya-karyanya dari salah seorang teman kuliah saya yang begitu mengaguminya. Tapi ya hanya sampai situ saja, saya sekedar tahu bahwa ada seorang penulis buku yang bernama Azhar.

Tak disangka, ternyata Azhar adalah temannya teman dekat saya. Duh, it’s a small world after all. Karena dia punya bukunya Azhar, ya saya pinjam hehe. Maaf ya Azhar, saya belum sempat beli bukumu.

Hingga kini ketika akhirnya saya membaca bukunya, saya menyadari bahwa karyanya memang layak diperhitungkan. Sebenarnya cara penulisan Azhar bukan termasuk daftar favorit saya. Namun, ketika saya membaca karyanya, saya merasakan sebuah kejujuran.

Betapa beruntungnya Azhar, menuliskan isi pikirannya dengan jujur, dan menjadikannya sebuah buku. Ketika saya membaca bukunya, rasanya saya bisa membaca pikirannya, dan merasakan apa yang ia rasakan. Bahwa jatuh cinta itu memang membingungkan. Seindah apapun kita merangkai kata untuk menggambarkannya, ternyata tak seindah yang kita rasakan. Sekompleks apapun deskripsi perasaan yang dinarasikan, tetap saja tidak bisa mewakili ruwetnya isi hati.

Bingung ya? Iya.

Kebingungan lah yang saya tangkap dalam tulisannya. Namun yang saya suka, justru ia tidak menyederhanakan kebigungan itu. He left it as it is. Semacam “kalo bingung ya ngaku aja bingung, ga usah sok-sok ngerti”.

Dan jika ada yang merasa bahwa buku-buku Azhar adalah kumpulan kalimat-kalimat indah yang lebih cocok dibaca oleh wanita, saya rasa tidak juga. Alangkah baiknya para pria juga membaca karya Azhar.

Kenapa?

Agar kalian tau, bahwa wanita tidak serumit yang selama ini dibayangkan. Cobalah cara si Azhar memperjuangkan wanita yang ia cintai. Saya rasa seharusnya wanita tidak mungkin menolak jika diperjuangkan dengan cara seperti itu.

Saya iri se-iri-irinya pada istri Azhar. Selain ia mendapatkan laki-laki yang baik, dari deskripsi Azhar dalam bukunya, saya yakin pasti ia memiliki keistimewaan tersendiri. Vidia pasti seorang wanita yang cantik luar dalam.

Dari buku itu, ada beberapa kalimat yang saya suka, diantaranya:

“Setiap manusia berhak menjalani kisah cinta yang indah.”

“Haruskah semua begitu sempurna? Sementara kita tak pernah tahu apakah kesempurnaan selalu mengantar kita pada kebahagiaan.”

“Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu. Itu saja. Cinta selalu lebih butuh pembuktian daripada alasan.”

Dan setelah membaca buku itu, saya memahami bahwa benar adanya, wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Begitupun sebaliknya.

Sepertinya setelah ini saya akan lebih banyak membaca karyamu, Azhar. Salam untukmu dan istrimu, semoga Allah senantiasa memberikan berkah dan rahmat-Nya untuk keluarga kalian.

#100DPS Day 78: Bukan

Aku tak mengerti

Pada yang mana kau tak akan menyerah

Hingga beribu dasawarsa pun

Isi kepalamu tetap akan jadi rahasia bagiku

 

Sepuluh

Dua puluh

Bahkan tiga puluh tahun lagi pun

Jika jejak itu tidak terbakar

Maka ia tidak punah

 

Namun mengertilah

Bahwa kita hanya punya jejak kaki

Tapi tidak pernah tiba

Ke tujuan yang aku perkirakan

 

Aku,

Bukan kita.