Menjadi Dosen

“Belajar nggak usah pinter-pinter, kalo kepinteran ntar ujung-ujungnya malah jadi dosen doang”

“IP nggak usah tinggi-tinggi, biasanya di kelas yang IP nya tinggi cuma jadi dosen”

“Kalo di kelas tuh yang nilainya tinggi biasanya jadi dosen, sedangkan yang nilainya biasa aja malah jadi donatur”
Saya tidak bisa sebutkan orang-orang yang meluncurkan pernyataan-pernyataan di atas, tapi saya yakin kalian semua pasti pernah mendengarnya setidaknya sekali.

Saya secara pribadi tidak bisa sepakat dengan pernyataan di atas. Alasannya?

1. Pernyataan di atas seakan membentuk opini bahwa pekerjaan sebagai “Dosen” itu nggak ada keren-kerennya, membosankan, atau bukan termasuk pekerjaan yang jadi idaman.

Padahal, memang apa yang salah dengan pekerjaan sebagai dosen? Kok kayaknya unlikeable dan underrated banget?

Dosen itu kan guru juga. Sedangkan guru adalah profesi yang sangat mulia. Tanggung jawabnya pun besar sekali.

Dosen, seperti halnya seorang guru, punya tanggung jawab untuk mendidik dan menyampaikan ilmu. Ketika ilmu tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dapat memberikan penghidupan kepada banyak orang, bukankah pahalanya akan terus mengalir? Dalam agama islam, ini disebut amal jariyah atau amal yang sekali dilakukan, manfaatnya dapat dirasakan terus-menerus.

Bagaimana jika sedari awal seorang pelajar memang bercita-cita menjadi guru atau dosen? Memangnya salah?

Memangnya nggak boleh, kalo seorang pelajar itu bekerja keras mencari ilmu sebaik mungkin, mendapat nilai & prestasi secemerlang mungkin, dan meraih pendidikan setinggi mungkin supaya kelak ia bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya?

Bukankah segala dasar kemajuan dari suatu peradaban adalah kualitas sumber daya manusianya? 🙂

2. Pernyataan di atas adalah sebuah pembenaran bagi orang-orang yang malas belajar.

Saya sepakat bahwa prestasi seseorang tidak hanya diukur dari sisi akademis. Saya juga sepakat bahwa nilai rapot atau IP bukanlah segalanya.

Tapi saya tidak sepakat jika ada yang menjadikan profesi dosen sebagai alasan untuk menolak rajin belajar. Soalnya ia takut kalo belajarnya terlalu rajin, ntar malah jadi dosen. Lho?

Gini, kalo ada yang masih di bangku sekolah atau kuliah, rajin-rajinlah kalian belajar. Karena memang di umur segitu, tugas utama kalian ya memang belajar. Belajar aja pokoknya, masalah nilainya bagus atau nggak mah itu urusan belakangan. Intinya semangat untuk mencari ilmu ini yang nggak boleh pupus.

Buat yang merasa nilainya nggak bagus-bagus amat ya nggak usah merasa inferior juga. Sekali lagi, nilai akademis bukanlah segalanya. Kita tetap bisa cari ilmu di bidang lain, yang nggak perlu pakai nilai rapor tapi tetap applicable di kehidupan sehari-hari.

Tapi kalo sampe berpikir bahwa “ah gue nggak usah belajar pinter-pinter lah, ntar kalo kepinteran malah jadi dosen doang” wah, sayang sekali. Soalnya dosen saya keren-keren dan nggak “doang”. Hehehe.

Atau menjudge seorang anak berprestasi di kelas “ah dia mah nilainya tinggi-tinggi gitu palingan ntar jadi dosen doang”. Hehehe, jangan seperti itu juga ya, kok kesannya nggak keren banget gitu profesi dosen. Padahal memang banyak pelajar yang nilainya tinggi-tinggi itu memang bercita-cita menjadi pengajar (dosen).

Sekali lagi, disini saya hanya ingin menyatakan opini bahwa profesi dosen adalah profesi yang mulia, seperti seorang guru. Profesi dosen juga nggak kalah keren kok dengan Dokter, Arsitek, Data Scientist, atau bahkan Direktur. Karena sebelum mereka-mereka berada di posisi tersebut, pasti mereka pernah menjadi pelajar yang diajar oleh seorang guru/dosen juga kan? 🙂

Pesan sedikit:

خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s