Yogya Berhati Nyaman

Tidak bosan-bosannya saya ke Yogya.

Berkali-kali, di setiap kesempatan.

Tapi Yogya selalu memberikan cerita yang berbeda, yang berbekas dan penuh makna.

Perjalanan ke Yogya kali ini ditemani oleh Widita (lagi), yang juga tak pernah bosan dengan indahnya kota istimewa ini.

Namun ada yang berbeda di perjalanan saya kali ini. Tanpa direncanakan sebelumnya, ternyata ada personil baru yang ikutan gabung di tengah jalan. Ada Mas Emka, Mas Pio dan Diza.

Dan tentu saja, perjalanan kali ini penuh dengan lawakan yang bikin ngakak sampe perut kram x’))

Salah satunya saat saya dan Widita sampai di Jogja jam 3 pagi. Kami dengan pedenya menuju hotel, dengan harapan bisa early check-in. Ternyata, nggak bisa.

Akhirnya saya dan Widita mlipir ke masjid yang kebetulan ada di depan gang hotel. Kami sholat, tidur dan mandi di masjid! Berasa traveler super sejati hahaha.

Nggak lengkap rasanya jalan-jalan ke Yogya kalo nggak makan gudeg. Pagi hari di jogja kami mulai dengan jalan kaki di daerah Malioboro, makan gudeg di depan pasar Beringharjo, blanja-blinji cantik dan ngadem sambil makan es cendol.

Di tengah perjalanan Mas Emka, Mas Pio dan Diza ikut gabung. Kami pergi ke daerah Kaliurang untuk nyobain Kopi Klothok. Asli suasananya disana asik banget! Duduk-duduk santai sore minum kopi klothok, susu jahe dan pisang goreng krenyes-krenyes aduhai sambil menikmati pemandangan sawah dan gunung. Kayak di gambar-gambar anak jaman SD gitu.

Malamnya kami makan di angkringan yang tedjo (nggak jelas) abis, di pinggir kali code yang bersih dan tenang ditemani temaram lampu jalanan. Romantis abis.

Besoknya kami berburu nasi brongkos yang niqmatnya haqiqi, lengkap dengan es tape kelapa yang bagai oase di padang pasir. Tau kan Yogya panasnya kayak apa? Pas kena es tape tuh segerrrrrrr benerrrrrr.

Setelah kenyang makan nasi brongkos dan es tape, kami mampir ke rumah Diza untuk pinjam mobil. Eh tapi baru keluar gang, kok tiba-tiba powersteeringnya mati. Pas di cek, ternyata ada tikus nyangkut di dalam mesin mobil! Antara geli tapi kocak banget, soalnya pose si tikus pasrah banget XD.

Sorenya kami menyempatkan mampir ke Kalibiru. Nggak nyangka ternyata jalanannya nanjak parah dan berkelok-kelok. All hail Mas Emka yang punya skill nyetir tingkat Dewa!

Sungguh, Kalibiru itu bagus banget. Udaranya sejuk dan suasananya tenang. Enak banget buat yang mau meditasi, asal datangnya nggak pas jam ramai. Kebetulan kami sampai disana sekitar jam 5, dan kebayakan pengunjung sudah pulang karena area foto sudah ditutup. Kami kesana sih untuk menikmati suasana, dan tentunya makan indomie rebus pake telor dan cabe rawit. Surga banget, fix.

Setelah puas menikmati Kalibiru, kami turun ke kota dengan keadaan jalan yang berkelok-kelok, turunan tajam dan tanpa penerangan sama sekali. Tapi semuanya tetep seru karena kami karaokean sepanjang jalan. Thank God di saat-saat seperti itu sinyal masih LTE jadi bisa streaming spotify XD.

Malamnya kami menginap di rumah nenek saya. Baru masuk rumah aja kami sudah kelelahan karena membuka gembok yang berlapis-lapis. Sumpah ini rumah nenek dengan top security sekelas penjara! Setelah berhasil membuka semua gembok, kami semua langsung tepar. Eh ternyata Mas Emka yang lagi enak-enak tidur, “digangguin” dengan suara pintu digedor-gedor. Yah harap maklum, mungkin penghuninya lagi “ngajak kenalan”.

Esok paginya kami bertolak ke pantai Glagah, yang cuma 8 menit dari rumah nenek. Kami foto-foto disana sampai puas sebelum akhirnya menyerah karena kelaparan.

Setelah pulang dari pantai dan berkemas, kami mampir ke warung langganan nenek saya buat mengisi perut. Sungguh, sate klathak, tongseng dan gulenya juara banget disini! Saya nggak pernah melewatkan untuk mampir kesini setiap berkunjung ke Yogya.

Setelah kenyang makan macam-macam dan cuma bayar 157.000 buat ber 5 (iya, cuman segitu dan semua udah mabok kambing), kami beli oleh-oleh bakpia sebelum ke stasiun.

Pas banget, satu menit setelah kami masuk stasiun, keretanya sampai dan kami langsung berangkat.

Sungguh, perjalanan kali ini diluar ekspektasi. Padahal niat awalnya cuman jalan-jalan biasa karena dapet tiket kereta murah di KAI Travel Fair. Tapi teman-teman traveling kali ini membuat semuanya jadi seru banget!

Nih, beberapa foto yang saya dapat selama perjalanan kali ini:

Sekian perjalanan kali ini, semoga bertemu lagi di perjalanan berikutnya! 🙂

Advertisements

Job-Hunter vs Recruiter Point of View: Sulitnya Mendapat Pekerjaan

Adalah wajar ketika saya mengatakan bahwa mencari pekerjaan itu tidak mudah. Tentu banyak yang sepakat dengan hal ini.

Tapi ada sesuatu yang mengusik pikiran saya. Muncul pertanyaan di benak saya, benarkah mencari pekerjaan sesulit itu? Kalo iya, kenapa ya? Apa kira-kira penyebabnya?

Memangnya berapa sih jumlah pengangguran di Indonesia saat ini?

Februari 2017 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan informasi berikut:

  • Jumlah angkatan kerja: 131,55 juta orang
  • Jumlah penduduk bekerja: 124,54 juta orang
  • Jumlah pengangguran: 7,01 juta orang

Gilak men, itu kan banyak banget. And to put it into context, emangnya berapa jumlah lapangan pekerjaan yang ada saat ini?

Saya belum menemukan datanya untuk skala nasional, tapi kita ambil contoh berdasarkan data yang didapat dari acara bursa kerja yang ada di Kota Tangerang Selatan ini:

  • Jumlah penduduk usia produktif: 880.000 orang
  • Jumlah penduduk tidak bekerja dan sedang mencari kerja: 42.000 orang
  • Jumlah lapangan pekerjaan tersedia: 10.081 orang

Jadi, jumlah lapangan pekerjaan yang ada hanya 24%  alias seperempat dari total pencari kerja.

Perbandingannya 1:4. Dari 4 orang pelamar, hanya 1 yang diterima. 3 orang lagi ya balik jadi pengangguran dulu. Dunia memang kejam.

Saya sendiri termasuk orang yang cukup beruntung, karena langsung mendapat pekerjaan segera setelah lulus kuliah. Sekarang, saya sudah 2 tahun bekerja di perusahaan ini. Namun sayangnya, tidak sedikit juga teman-teman seangkatan saya yang hingga kini belum mendapatkan pekerjaan.

Kadang saya suka heran, ini orangnya yang pilih-pilih banget ketika nyari kerja, perusahaan yang dia lamar memang ketat banget persyaratannya, si orangnya yang memang kurang dari sisi skill nya, atau emang belum jodoh aja sama kerjaannya?

Pasti masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kenapa seseorang belum mendapatkan pekerjaan.

Hingga akhirnya beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melihat permasalahan ini dari sisi seorang recruiter.

Saya dan rekan satu tim saya ditugaskan oleh Manager kami untuk merekrut orang baru ke dalam tim. Manager saya tidak memberi syarat yang muluk-muluk, karena memang menarget anak-anak freshgraduate, yang notabene belum punya banyak pengalaman kerja.

Kami sempat kebagian mewawancarai dan memberikan tes kepada para pelamar kerja. Dari situ saya bisa mengambil asumsi, kenapa sih jumlah pengangguran itu banyak banget dan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan itu ketat banget. Beberapa faktor yang menyebabkan seorang pelamar tidak diterima menurut opini pribadi saya berdasarkan hasil wawancara kemarin adalah:

1.Kurangnya Hard Skill

Para pelamar pada umumnya memasukkan kemampuan/keterampilan mereka di dalam CV. Mulai dari kemampuan dasar pengoperasian komputer, kemampuan menggunakan tools dasar seperti Microsoft Office, hingga tools spesifik seperti software/aplikasi pengolahan data tertentu. Namun pada kenyataannya, ketika di tes, mereka tidak bisa menunjukkan kemampuan-kemampuan dasar yang dibutuhkan. Sungguh sangat disayangkan.

2. Kurangnya Kemampuan Berbahasa Asing

Kita begitu terlena karena sehari-hari menggunakan bahasa Ibu, sehingga tidak mau mengasah keahlian kita dengan bahasa asing. Masalahnya, di era globalisasi seperti sekarang, kemampuan bahasa asing ini bisa dibilang sudah menjadi kewajiban. Tidaklah harus kita sangat ahli, sampai cas-cis-cus ketika berbicara. Tapi setidaknya kita bisa memperkenalkan diri kita dalam bahasa Asing, untuk memberikan kesan yang baik kepada pewawancara. Jadi jika kamu membaca tulisan ini, sebaiknya mulailah belajar berbahasa asing. Mungkin bisa dimulai dari mengganti settingan bahasa di HP kamu jadi bahasa Inggris 🙂

3. Kurangnya Kemampuan Berkomunikasi

Seringkali saya dan tim menemukan pelamar kerja yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, menuliskan berbagai software/aplikasi yang bisa ia gunakan, namun ketika diminta untuk berbicara, ia tidak mampu menyampaikan value dari dirinya sendiri. They can’t make us understand what they’re worth. Bagaimana kami bisa percaya kalau IPK itu tidak didapatkan dari hasil nyontek? Bagaimana kami bisa percaya kalau berbagai software itu benar-benar pernah kamu gunakan? Atau dalam beberapa kasus, kami memang tidak menjadikan IPK sebagai dasar dalam seleksi, lalu bagaimana kami bisa tahu kemampuan seseorang kalau ia sendiri tidak mampu menjelaskan nilai lebih yang ia miliki?

Beberapa kemampuan yang saya sebutkan di atas adalah masalah yang paling umum dan banyak terjadi pada pelamar kerja. Diluar faktor hoki atau berjodoh sama pekerjaan, kemampuan-kemampuan di atas sebenarnya dapat diasah untuk meningkatkan kualitas diri.

Jadi kesimpulannya kesulitan mencari pekerjaan tidak hanya disebabkan oleh jumlah lapangan pekerjaan yang sangat kurang, tapi juga kualitas sumber daya manusia itu sendiri yang masih perlu banyak ditingkatkan.

Karena nyatanya ada saja orang-orang yang malah jadi rebutan di perusahaan-perusahaan besar, dan perusahaan pun rela membayar mahal untuk mempekerjakan orang tersebut.

Bersyukurlah kalian yang sudah mendapatkan pekerjaan.

Bagi kalian yang belum mendapat pekerjaan, teruslah berusaha dengan meningkatkan kemampuan kalian dan tentu saja jangan lupa berdoa ya! 🙂

 

GOOD LUCK! 🙂