Visiting Aceh & Sabang: A Truly Humbling Experience

Sore itu, hari Selasa, 7 November 2017 saya ditugaskan oleh kantor untuk berangkat ke Sabang tanggal 8 November. Iya, besoknya banget tuh.

Awalnya saya ragu dan takut untuk pergi kesana, karena saya hanya pergi sendiri dan saya tak kenal seorangpun disana. Saya hanya diberitahukan nomor hp seseorang yang harus saya hubungi terkait tugas kantor selama saya di Sabang.

Banyak-banyak saya berdoa, semoga selama perjalanan saya diberikan keselamatan dan selalu dilindungi. Jujur saja, ini pertama kalinya saya solo traveling cukup jauh.

___

Rabu, 8 November 2017

Pagi-pagi saya berangkat menuju bandara. Saya mengambil penerbangan pukul 07:45 menuju Banda Aceh, dan setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan, saya tiba pada pukul 10:35.

Sehari sebelumnya saya sudah melakukan sedikit riset, untuk menuju Sabang dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, saya harus ke Pelabuhan Ulee Lheue. Sesampainya di bandara, saya bertanya ke mba-mba yang ada disana, kira-kira sebaiknya naik apa kalau mau ke pelabuhan. Si mba menyarankan saya untuk naik taksi yang ada di bandara.

Akhirnya saya keluar bandara dan disana sudah berjajar para supir taksi yang menawarkan tumpangan. Tapi sebagai warga Jakarta yang sudah terbiasa dengan Go-Jek dan sejenisnya, maka ketika dihadapkan dengan transportasi konvensional saya malah jadi bingung. Terlebih lagi saya agak trauma dengan taksi-taksi bandara yang seringkali kasih harga “nembak” ke pelanggannya. Namun kemudian saya menemukan satu supir taksi yang menawarkan dengan sopan sekali sembari menunjukkan daftar harga untuk setiap tujuan. Disitu tertera tarif ke pelabuhan Ulee Lheue adalah Rp 140.000 saja. Harga yang cukup wajar untuk jarak dari Bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue. Jadi saya memutuskan naik taksi dari Mas-mas supir yang itu, namanya Mas Anton.

Setelah saya masuk ke dalam mobilnya dan kami ngobrol sedikit, saya menyadari masnya ini logatnya jawa banget. Waktu saya tanya, eh ternyata masnya orang Sleman. Yailah, sekampung coy!

Berkat solidaritas orang sekampung, maka Mas Anton malah menawarkan ngajak saya jalan-jalan dulu keliling kota Banda Aceh, karena jadwal keberangkatan kapal ke Sabang pun masih jam 16:00. Yang bener aja saya nunggu 5 jam?!

Selama di Banda Aceh, saya diajak keliling-keliling dan tentu saja makan-makan. Nih beberapa tempat yang saya kunjungi:

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Asli, masjid ini bagus banget, baik luar maupun dalamnya. Jujur, the moment I step into this place, I literally cried. Keinget waktu tsunami tahun 2004 dulu, banyak banget yang menyiarkan gambar-gambar Banda Aceh yang saat itu rata dengan tanah, namun ada satu bangunan yang tetap berdiri kokoh. Ya si Masjid ini, Masya Allah…

payung teduh (literally)
setelah sholat dzuhur
siluet di masjid
yaudahlahya muka saya emang gini

Saya juga nyobain makan Kari Kambing khas Banda Aceh. Rasanya? Ya enak lah!

Ini nih warung Kari Kambingnya. Endeuuuss!
bukan saya sendiri yg ngabisin kok~
ntap jiwaaaa~
ini nih yang namanya Mas Anton

Saya juga sempat mengunjungi museum Aceh, dan melihat-lihat rumah tradisional khas Aceh nih.

rumah adat Aceh

Setelah puas keliling Banda Aceh, akhirnya saya berangkat ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Pulau Weh.

Tapi sebelumnya saya sempat mengambil foto ini:

itu tuh pulau samar di ujung sana adalah pulau Weh!

Sesampainya saya di Pelabuhan Balongan, Sabang, saya dijemput oleh Pak Dar. Pak Dar adalah orang asli Sabang yang sehari-harinya mencari nafkah dengan narik bentor (becak motor). Saya kenal Pak Dar dari Mas Anton. Jadi sebelum tinggal di Banda Aceh, Mas Anton ini sempat menetap di Sabang selama 4 tahun. Makanya, Mas Anton kenal banyak orang di Sabang yang bisa diandalkan.

Setelah ketemu Pak Dar, saya diantar ke hotel di daerah Ie Meulee. Hotelnya asik banget! Namanya Freddie’s Santai Sumurtiga, karena lokasinya memang di pinggiran pantai Sumurtiga. Nih pemandangan hotelnya:

kamar saya yang temboknya kuning itu tuh, keliatan kan?
view pantai Sumurtiga dari tempat resepsionis Freddie’s
nah ini kamar saya. bisa muat 3 orang. atau kalo maksa bisa 4-5 orang hahaha
kamar saya ada balkonnya. daaaaan ini dia pemandangan dari balkon!

Aaaaah asli bagus banget pemandangannya! Saya tidur pun ditemani suara debur ombak jadi sekalian relaksasi. FYI, nginep di Freddie’s ini semalam cuma Rp 335 ribu loh! Edaaaan mure gileee.

______

Kamis, 9 November 2017

Saya terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Wah tumbenan kan. Sesungguhnya karena depan kamar saya itu kayayknya ada masjid, dan toanya menggelegar sekali. Alhasil pas adzan, saya langsung loncat hahaha.

Jam 7 pagi Pak Dar sudah bersiap menjemput saya. Saya janjian dengan Mas Edi untuk ketemuan jam 8 di kantornya. Mas Edi ini rekan kerja saya selama di Sabang. Ternyata dari hotel saya ke kantor Mas Edi nggak begitu jauh. Akhirnya saya ajak Pak Dar untuk sarapan dan ngopi-ngopi dulu di warung kopi yang katanya enak disana. Kayak gini nih warung kopinya:

de sagoe kuphie, Sabang
Pak Dar lagi ngopi, saya mah teh susu aja

Setelah selesai sarapan, saya langsung menuju kantor untuk ketemu Mas Edi dan mulai bekerja. Sembari kerja keliling-keliling Sabang, saya juga menyempatkan mampir ke tempat-tempat bagus yang ada di Sabang. Tentu saja saya ngga lupa mampir ke tempat yan sudah lama ada di bucket list saya: titik nol kilometer Indonesia!

akhirnya kesampean ke titik nol kilometer Indonesia!!!
sekitaran Goa Sarang
trekking ke Goa Sarang, look at my happy face!

Asli nggak bohong! Sabang itu bagus banget!!! Slogan Wonderful Indonesia is no joke guys!!!

Setelah menyelesaikan pekerjaan dan menyambangi tempat-tempat bagus di Sabang, saya ke hotel ke dua. Kali ini lokasinya di pinggir pantai Iboih. Sejujurnya salah banget saya milih nginep disini. Karena ternyata tempatnya kayak private cottage buat orang honeymoon gitu -_-

Saya sempat ngobrol-ngobrol sama ownernya dan saya diketawain. Katanya “heran juga saya nemu tamu cewek sendirian nginep disini. ngapain coba? itu kamar-kamar yang lain isinya orang honeymoon semua tau!”

Yailah bu, mana eyke tau yekan. Saya mah cari yang murah aja pokoknya. Nah si hotel yang ke dua ini namanya Fie Resort, dan menginap disini harganya cuma Rp 445 ribu saja sodara-sodaraaahh!

Pemandangan dari Fie Resort ini juga ngga kalah sama di Freddie’s. Nih liat:

Owner Fie Resort lagi chill di pinggir pantai menikmati sore
dermaga di depan Fie Resort, sore-sore main disini sambil dengerin lagunya Andien yang Indahnya Dunia, sungguh niqmat!
cottage-cottage di Fie Resort. Isinya orang honeymoon semua -_-

______

Jumat, 10 November 2017

Saya harus kembali ke Jakarta hari ini. Saya mengambil penerbangan terakhir di jam 18:25 menuju Jakarta dari Banda Aceh. Jam setengah 7 pagi Pak Dar sudah standby di depan Fie Resort untuk menjemput saya.

Salut sekali sama Pak Dar ini, beliau orangnya baik sekali. Di hari Kamis sore beliau bolak-balik ke kantor Mas Edi karena nyariin saya. Beliau kawatir karena saya ngga kasih kabar untuk dijemput. Padahal kenyataannya, saya di Fie Resort itu ngga ada sinyal. Untungnya Pak Dar sempat ketemu Mas Edi yang kemudian memberitahunya untuk menjemput saya di Fie Resort besok paginya. Saya terharu sekali, hari gini masih ada orang baik kayak Pak Dar gitu ya.

Otw ke Balongan naik bentor melewati hutan dan pegunungan bersama Pak Dar

Setelah menyeberang kapal ke pelabuhan Ulee Lheue, saya dijemput sama Mas Anton untuk keliling-keliling kota Banda Aceh lagi. Kali ini saya menyempatkan ke museum tsunami.

Museum Tsunami.
Lorong di Museum Tsunami.
Nama-nama Korban Tsunami
Museum Tsunami dari luar

Selama di museum tsunami saya juga nonton film dokumenter tentang bencana tersebut. Rasanya sedih banget. Ngga kebayang itu populasi manusia se-Banda Aceh mendadak menyusut hanya dalam sehari. Sejujurnya saya salut sama masyarakat Banda Aceh, karena pertumbuhan kotanya cepat sekali pasca bencana. Mereka bisa bangkit lagi dari keterpurukan setelah dilanda bencana sedemikian dasyat. Tentu tidak lupa dengan bantuan masyarakat seluruh dunia ya. Sebetulnya masih banyak yang saya lihat di museum Tsunami, tapi saya ngga banyak foto-foto karena saya terlarut melihat langsung semua diorama dan segala yang tersaji disana.

Setelah puas keliling-keliling museum, kami berhenti sejenak di Masjid Raya Banda Aceh untuk menunaikan ibadah sholat Jumat. Kemudian kami lanjut ngopi-ngopi di Solong Coffee, Ulee Kareeng. Katanya Solong Coffee ini adalah pelopor berdirinya warung kopi di Aceh. Kopi disini juga digadang-gadang sebagai kopi terenak di Aceh. Dari rakyat biasa sampe Presiden kalo ngopi ya disini. Tempatnya biasa banget lho! Tapi ngga bohong sih emang kopinya enak banget paraaaahhhh!!!

Kopi Hitam dan Kopi Sangger Dingin (kopi susu) enak paraaaahhhh!!!
Proses pembuatan kopi di Solong Coffee

Kopi hitam di Solong Coffee harganya Rp 7 ribu, sedangkan kopi Sangger alias kopi susunya Rp 13 ribu saja. Murah dan enak. Harganya jauh banget sama di coffee shop hitz ibu kota. Btw, di Aceh kopi sachet yang ada di iklan-iklan di TV itu nggak laku hahaha.

Setelah puas ngopi dan beli oleh-oleh beans, saya lanjut beli oleh-oleh dendeng rusa. Iya, you read it right. Dendeng rusa. Enak. Bener deh. Kemudian sebelum ke bandara saya menyempatkan makan dulu. Ada yang namanya ayam tangkap disini. Ayam kampung di goreng dan dicampur dengan daun pandan dan daun temurui (daun kari) goreng. Iya daunnya digoreng sampe crispy gitu. Enak deh pokoknya.

Makan di Warung Nasi Hasan

Setelah kenyang mengisi perut, saya langsung berangkat ke bandara. Banda Aceh dan Sabang telah memberikan banyak sekali pengalaman dan pesan kebaikan ke saya. Pengen banget suatu saat kesini lagi. Bareng temen-temen lain dan juga buat honeymoon :p Ada banyak lagi sebenarnya cerita yang belum tersampaikan dari perjalanan sendirian saya kali ini.

Petualangan singkat kali ini ditutup dengan foto bareng Mas Anton yang udah menjadi penolong saya selama solo traveling ke Banda Aceh dan Sabang kali ini:

Mon maap ya muka saya emang teler gitu

Sebagai bonus, saya pengen ngasih detail biaya yang saya keluarkan selama 3 hari di Banda Aceh & Sabang ya!

  1. Pesawat Jakarta – Banda Aceh (Batik Air): Rp 955.649
  2. Sewa Mobil keliling Banda Aceh + ke pelabuhan Ulee Lheue: Rp 250.000
  3. Naik kapal cepat dari Ulee Lheue (Banda Aceh) – Balongan (Sabang): Rp 100.000 (kelas VIP, iye songong bet emang)
  4. Bentor dari Balongan – Ie Meulee (Hotel Freddie’s): Rp 50.000
  5. Menginap di Freddie’s 1 malam: Rp 334.219
  6. Makan malam di Freddie’s (Buffet): Rp 65.000
  7. Menginap di Fie Resort 1 malam: Rp 444.618
  8. Bentor dari Fie Resort ke Pelabuhan Balongan: Rp 200.000
  9. Naik kapal cepat dari Balongan – Ulee Lheue: Rp 100.000 (VIP lagi, iye songong emang)
  10. Sewa mobil + supir seharian di Banda Aceh: Rp 600.000
  11. Pesawat Banda Aceh – Jakarta (Batik Air): Rp 1.160.928

TOTAL BIAYA: Rp 4.260.414

Catatan:

  • biaya di atas belum termasuk makan siang, jajan, dan oleh-oleh.
  • kalo mau lebih murah bisa nyeberang naik kapal cepat kelas eksekutif cuma Rp 80.000 atau naik kapal barang cuma Rp 27.500
  • selain naik pesawat ke Banda Aceh dan lanjut nyeberang laut, bisa juga naik pesawat ke Kuala Namu (Medan) kemudian lanjut naik pesawat lagi langsung ke Sabang.
  • kalo mau ke Banda Aceh dan sewa mobil atau keliling-keliling bisa kontak Mas Anton di 082272929644 orangnya baik banget!
  • kalo di Sabang, moda transportasinya bisa sewa motor atau sewa mobil, kalo butuh info, tanya Mas Anton aja, beliau banyak kenalan yang bisa diandalkan di Sabang.

Sekian postingan kali ini! Semoga suatu saat bisa ke Sabang lagi dan keliling Indonesia!

Advertisements