Radio Rusak

Malam ini sunyi

Semuanya terdiam

Semuanya bisu

Kecuali isi kepalaku

Bising suara seperti radio rusak

Menyeruak memaksa

Tak henti

Tak memberi ruang bagiku untuk mencerna

Apa yang sebenarnya kau coba katakan?


Si Pemecah Ombak

Dia datang lagi

Si pemecah ombak

Yang berlari sekuat tenaga

Lalu hancur berkeping-keping


Dekat denganMu itu tidak cukup

Dan tidak akan pernah cukup

Karena dekat itu berjarak

Aku ingin menyatu

Menjadi sebagian dariMu

Karena ini bukan perkara

“Siapa yang paling dekat dengan Tuhannya”

Tapi siapa yang merasakan keberadaan Tuhan dalam dirinya

Melebur dalam setiap kata yang ia ucap

Bukan cuma objek ucapanmu!

Tuhan itu kamu

Tuhan itu aku

Tuhan itu kita

Sudahkah kau merasakannya?

Dikutip dari beberapa carik kertas berisi puisi, yang kutemukan terselip di lemari. Ternyata aku pernah menulis seperti ini?


Mengapakah kita sibuk,



Dengan jumawa berkata,

“Akulah yang paling dekat dengan Tuhan”.

Nyatanya apa?

Kau ajak Dia bicara pun, tidak.

Bagaimana jika,

Yang kau kira tak kenal Tuhan itu

Kini sedang asyik bercengkerama denganNya?

Diam-diam, bersembunyi

Mereka tak ingin didengar yang lain

Kadang sedikit tertawa

Melihat tingkahmu

Belingsatan sendiri



Setiap Tahun, Kami Melihat Ke Belakang

Ku kira Januari telah berlalu tanpa meninggalkan jejak. Ternyata sudah ada satu rekam jejak di awal tahun ini.

Tapi, tidak afdol rasanya memulai tahun tanpa sedikit menoleh ke belakang, sekedar untuk melihat, sejauh apa kaki ini sudah melangkah?

Sejauh apa diri ini sudah bertumbuh?

Dan tentu, kembali melihat ke depan, untuk bertanya: kemana kita sekarang?

Kalo bahasa asiknya: ngapain nih enaknya sekarang?

Agenda tahunan kami sudah terlaksana. Cukup sederhana, hanya kembali ke kota tempat kami bertemu.

Berjalan seharian. Bernafas. Bercengkerama.

Lalu makan, makan, dan makan. Hahaha.

Seharusnya, tidak ada yang istimewa dari kegiatan di atas. Dan pada kenyataannya pun memang tidak istimewa. Semuanya biasa saja.

Tapi aku bahagia.

Aku bisa menjadi diriku sendiri, menikmati diriku sendiri dan melakukan apa yang aku sukai.

Aku harap dia pun begitu.

Tahun ini, kami tidak banyak bicara.

Baginya, tahun lalu adalah tahun pembelajaran. Tahun ini dia harapkan menjadi tahun pembuktian.

Bagiku, tahun lalu adalah tahun kesadaran. Tahun ini kuharap akan jadi tahun penemuan.

Cukup sederhana.

Tak panjang lebar, tak berbelit.

Hanya butuh dua puluh menit.

Semoga kita bisa melalui tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya dengan baik dan bahagia.

Masih ada banyak cerita yang bisa kita bisa tukar.

Masih jauh kaki kita harus berjalan, dan aku rasa jika ada teman bicara, perjalanan akan menjadi lebih menyenangkan bukan?

Semoga segala harap baik kita disambut baik juga oleh Yang Maha Kuasa.

Kali ini tak ada foto.

Semuanya kusimpan sendiri.

Aku sedang tak mau berbagi, mungkin lain kali.

Cukup kita saja yang tau.

Dan Ridwan Kamil, tentunya XD.

Sampai jumpa setiap hari!

Highlights of My 2017

Although it’s a bit late, I’m still gonna write about what had happened in 2017.

So in the future, I can look back and see how much I had grown.

Well, now I realize why people should write a journal. Cause we are vulnerable human being that will forget things.


I kick started my 2017 with an amazing trip to 7 cities in one day! Course! With an amazing person too!

Farid took me to Taman Bunga Nusantara, a place that I’ve been wanting to visit since I was kid. Iya, dulu pas SD saya ngga pernah ada acara karyawisata yang ke taman bunga 😦

Kami berdua kesana naik motor, melintasi 7 kota selama perjalanan. I was so happy at that time. To see a lot of flowers and greeneries all around me made me feel soooo good!


In February, so far that I could remember, I was workin my azz off days and nights to prepare myself for IELTS test in March. It was one of the most intense time after not “studying” for a long time! But it felt good somehow to know that I can still push myself to my limit.


Hard work paid off! Got 7.0 for my overall IELTS score! Yeaaahh! But beside that, I don’t really remember what had happened in March, I’m sorry! I guess I just let myself had some rest after hard work >.<


Glad that I checked one of my bucket lists in April. I’ve always wanted to go to Adhitia Sofyan’s and Andien’s gig. But since I don’t really like crowds, a close and intimate performance at a cafe is a perfect definition of a ‘gig’ for me. Aaand there it happened!

Bukalapak, one of the biggest online marketplace in Indonesia made an event in a cafe in Jakarta. And yess, yesss, yeessss I can watch Adhitia Sofyan’s and Andien’s performance just like what I wanted!


It may not seem so special, but somehow, I enjoy this moment. In May, I had a business trip to Bandung, it was only two or three days. One day after I finished my jobs, I visited my ex-office, Global Learning Education Centre. I used to teach English here, I had a lot of good times with my students. I also learn a lot from them.

At that night, I wanted to eat in a nearby restaurant. So I walked outside, but nothing seems interesting. I kept walking until I realized that I had walked so far. Seriously, it was far. I really enjoy it, walking alone at night in a city where I fall in love. I fell in love with so many things in this city, that I feel like it was my home. Yep, it is indeed my home.


This is a remarkable month for me. Why?

Because in June, I can finally forgive myself. I can finally forgive my parents. I can finally forgive life and fate. I can finally accept whatever life has given to me. And do you know how did it feel? IT FELT GOOOOOOD. SO. DAMN. GOOD.

In June, I also try to follow the movement of #indonesia6am. The objective is to show the world how beautiful Indonesia is in 6 am. And yes, even my neighborhood looks damn amazing in 6 am!

Selain itu, dengan niat menjalani ritual tahunan, saya, Ucup dan Britan jalan-jalan bareng untuk menikmati jalanan Jakarta yang sepi sambil hunting-hunting foto. Kalo lagi bareng mereka mah mustahil ngga ngakak!


Was the month when I suddenly feel so lonely. Although I can see there are a lot of people around me, I still feel so alone. I still don’t know why I felt that way. But I also felt like I’d enjoy solitude more than before. I crave for being alone but didn’t want to feel lonely. I thought I slowly shifting to become an introvert. But I guess it’s a turning point for me, where I finally realize that I haven’t found my purpose of life. I haven’t known the meaning of my life. And on that point, I push myself to look harder and keep questioning.


This is a roller coaster hell of a month! First, I got rejected by LPDP scholarship. Then I got a free trip to Pahawang Island, and witness the most beautiful sunset in my life so far. Life is full of surprises, so I guess I really just have to accept whatever it will give me, right?

In this month also, I learned to overcome my fears. I went snorkeling without a life jacket for the first time. I really swam in the middle of the sea. I learned to control myself, my fear, and my mind in my uncomfortable zone. I can say that I am proud of my self.


A lot of things happen in my special month!

First, I went to World of Ghibli Jakarta to fulfil my dream of hugging giant Totoro XD. It was like a dream come true!

And shortly after my birthday, I flew to Japan (also to fulfil my dream) with my friends Shaby and Ikhsan. It was wonderful! It feels like a miracle to finally be able to go there. We’ve been dreaming visit Japan since we were in Junior High School and it came true! Definitely want to go to Japan again soon!

It is also a month of consciousness. It felt great to realize that I should search for what I am passionate about. It is never too late to start, it is a good start to realize.


Upon returning from Japan, me and three of my crazy friends made a crazy trip to Malaysia. ONLY TO VISIT ONE PIECE EXHIBITION. Yes, you read it right. But sadly we were not allowed to take pictures in the exhibition, so we only took it in front of the room XD. We also visited Batu Caves and some places in Malaysia, and we had so much fun!

Another crazy gang took me to Jogja this month. We had another crazy trip, one that we won’t forget. I really really feel like I found another side of myself when I travel with them. We talked a lot about things, we ate a lot, we took a lot of photographs and we laughed a lot more! Thanks, guys!


Another crazy month for me. I was able to fulfil my dream (again) to go to 0 km of Indonesia: Sabang. Yesssss!!! How lucky I am! It was actually for work, but who cares! I got to go there anyway (and for free :p) It was a truly magical experience to travel to Banda Aceh and Sabang, ALONE. I cried a tear of happiness when I stepped here. I got a lot of life lesson here.

In this month, one of my best friend got married to one of my crazy travelling gang. What a perfect combination. So we travelled to Jogja to attend their wedding. It was one of the happiest moment I shared with my friends and loved ones.

A lot of beautiful things also happened in this month. From a contemplation to a long meaningful walk and talk. What a time well-spent.


The end of the year marked by having peaceful time for myself, spending time with family, friends, and my loved ones. I am really grateful that Allah still gives me chances after chances to live. To experience so many beautiful things and to be able to share it with people around me. I hope the next year I will be a better version of myself, to re-discover myself and my purpose of life. To make this one life more meaningful, for me and the others. Aamiin.

Visiting Aceh & Sabang: A Truly Humbling Experience

Sore itu, hari Selasa, 7 November 2017 saya ditugaskan oleh kantor untuk berangkat ke Sabang tanggal 8 November. Iya, besoknya banget tuh.

Awalnya saya ragu dan takut untuk pergi kesana, karena saya hanya pergi sendiri dan saya tak kenal seorangpun disana. Saya hanya diberitahukan nomor hp seseorang yang harus saya hubungi terkait tugas kantor selama saya di Sabang.

Banyak-banyak saya berdoa, semoga selama perjalanan saya diberikan keselamatan dan selalu dilindungi. Jujur saja, ini pertama kalinya saya solo traveling cukup jauh.


Rabu, 8 November 2017

Pagi-pagi saya berangkat menuju bandara. Saya mengambil penerbangan pukul 07:45 menuju Banda Aceh, dan setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan, saya tiba pada pukul 10:35.

Sehari sebelumnya saya sudah melakukan sedikit riset, untuk menuju Sabang dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, saya harus ke Pelabuhan Ulee Lheue. Sesampainya di bandara, saya bertanya ke mba-mba yang ada disana, kira-kira sebaiknya naik apa kalau mau ke pelabuhan. Si mba menyarankan saya untuk naik taksi yang ada di bandara.

Akhirnya saya keluar bandara dan disana sudah berjajar para supir taksi yang menawarkan tumpangan. Tapi sebagai warga Jakarta yang sudah terbiasa dengan Go-Jek dan sejenisnya, maka ketika dihadapkan dengan transportasi konvensional saya malah jadi bingung. Terlebih lagi saya agak trauma dengan taksi-taksi bandara yang seringkali kasih harga “nembak” ke pelanggannya. Namun kemudian saya menemukan satu supir taksi yang menawarkan dengan sopan sekali sembari menunjukkan daftar harga untuk setiap tujuan. Disitu tertera tarif ke pelabuhan Ulee Lheue adalah Rp 140.000 saja. Harga yang cukup wajar untuk jarak dari Bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue. Jadi saya memutuskan naik taksi dari Mas-mas supir yang itu, namanya Mas Anton.

Setelah saya masuk ke dalam mobilnya dan kami ngobrol sedikit, saya menyadari masnya ini logatnya jawa banget. Waktu saya tanya, eh ternyata masnya orang Sleman. Yailah, sekampung coy!

Berkat solidaritas orang sekampung, maka Mas Anton malah menawarkan ngajak saya jalan-jalan dulu keliling kota Banda Aceh, karena jadwal keberangkatan kapal ke Sabang pun masih jam 16:00. Yang bener aja saya nunggu 5 jam?!

Selama di Banda Aceh, saya diajak keliling-keliling dan tentu saja makan-makan. Nih beberapa tempat yang saya kunjungi:

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Asli, masjid ini bagus banget, baik luar maupun dalamnya. Jujur, the moment I step into this place, I literally cried. Keinget waktu tsunami tahun 2004 dulu, banyak banget yang menyiarkan gambar-gambar Banda Aceh yang saat itu rata dengan tanah, namun ada satu bangunan yang tetap berdiri kokoh. Ya si Masjid ini, Masya Allah…

payung teduh (literally)
setelah sholat dzuhur
siluet di masjid
yaudahlahya muka saya emang gini

Saya juga nyobain makan Kari Kambing khas Banda Aceh. Rasanya? Ya enak lah!

Ini nih warung Kari Kambingnya. Endeuuuss!
bukan saya sendiri yg ngabisin kok~
ntap jiwaaaa~
ini nih yang namanya Mas Anton

Saya juga sempat mengunjungi museum Aceh, dan melihat-lihat rumah tradisional khas Aceh nih.

rumah adat Aceh

Setelah puas keliling Banda Aceh, akhirnya saya berangkat ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Pulau Weh.

Tapi sebelumnya saya sempat mengambil foto ini:

itu tuh pulau samar di ujung sana adalah pulau Weh!

Sesampainya saya di Pelabuhan Balongan, Sabang, saya dijemput oleh Pak Dar. Pak Dar adalah orang asli Sabang yang sehari-harinya mencari nafkah dengan narik bentor (becak motor). Saya kenal Pak Dar dari Mas Anton. Jadi sebelum tinggal di Banda Aceh, Mas Anton ini sempat menetap di Sabang selama 4 tahun. Makanya, Mas Anton kenal banyak orang di Sabang yang bisa diandalkan.

Setelah ketemu Pak Dar, saya diantar ke hotel di daerah Ie Meulee. Hotelnya asik banget! Namanya Freddie’s Santai Sumurtiga, karena lokasinya memang di pinggiran pantai Sumurtiga. Nih pemandangan hotelnya:

kamar saya yang temboknya kuning itu tuh, keliatan kan?
view pantai Sumurtiga dari tempat resepsionis Freddie’s
nah ini kamar saya. bisa muat 3 orang. atau kalo maksa bisa 4-5 orang hahaha
kamar saya ada balkonnya. daaaaan ini dia pemandangan dari balkon!

Aaaaah asli bagus banget pemandangannya! Saya tidur pun ditemani suara debur ombak jadi sekalian relaksasi. FYI, nginep di Freddie’s ini semalam cuma Rp 335 ribu loh! Edaaaan mure gileee.


Kamis, 9 November 2017

Saya terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Wah tumbenan kan. Sesungguhnya karena depan kamar saya itu kayayknya ada masjid, dan toanya menggelegar sekali. Alhasil pas adzan, saya langsung loncat hahaha.

Jam 7 pagi Pak Dar sudah bersiap menjemput saya. Saya janjian dengan Mas Edi untuk ketemuan jam 8 di kantornya. Mas Edi ini rekan kerja saya selama di Sabang. Ternyata dari hotel saya ke kantor Mas Edi nggak begitu jauh. Akhirnya saya ajak Pak Dar untuk sarapan dan ngopi-ngopi dulu di warung kopi yang katanya enak disana. Kayak gini nih warung kopinya:

de sagoe kuphie, Sabang
Pak Dar lagi ngopi, saya mah teh susu aja

Setelah selesai sarapan, saya langsung menuju kantor untuk ketemu Mas Edi dan mulai bekerja. Sembari kerja keliling-keliling Sabang, saya juga menyempatkan mampir ke tempat-tempat bagus yang ada di Sabang. Tentu saja saya ngga lupa mampir ke tempat yan sudah lama ada di bucket list saya: titik nol kilometer Indonesia!

akhirnya kesampean ke titik nol kilometer Indonesia!!!
sekitaran Goa Sarang
trekking ke Goa Sarang, look at my happy face!

Asli nggak bohong! Sabang itu bagus banget!!! Slogan Wonderful Indonesia is no joke guys!!!

Setelah menyelesaikan pekerjaan dan menyambangi tempat-tempat bagus di Sabang, saya ke hotel ke dua. Kali ini lokasinya di pinggir pantai Iboih. Sejujurnya salah banget saya milih nginep disini. Karena ternyata tempatnya kayak private cottage buat orang honeymoon gitu -_-

Saya sempat ngobrol-ngobrol sama ownernya dan saya diketawain. Katanya “heran juga saya nemu tamu cewek sendirian nginep disini. ngapain coba? itu kamar-kamar yang lain isinya orang honeymoon semua tau!”

Yailah bu, mana eyke tau yekan. Saya mah cari yang murah aja pokoknya. Nah si hotel yang ke dua ini namanya Fie Resort, dan menginap disini harganya cuma Rp 445 ribu saja sodara-sodaraaahh!

Pemandangan dari Fie Resort ini juga ngga kalah sama di Freddie’s. Nih liat:

Owner Fie Resort lagi chill di pinggir pantai menikmati sore
dermaga di depan Fie Resort, sore-sore main disini sambil dengerin lagunya Andien yang Indahnya Dunia, sungguh niqmat!
cottage-cottage di Fie Resort. Isinya orang honeymoon semua -_-


Jumat, 10 November 2017

Saya harus kembali ke Jakarta hari ini. Saya mengambil penerbangan terakhir di jam 18:25 menuju Jakarta dari Banda Aceh. Jam setengah 7 pagi Pak Dar sudah standby di depan Fie Resort untuk menjemput saya.

Salut sekali sama Pak Dar ini, beliau orangnya baik sekali. Di hari Kamis sore beliau bolak-balik ke kantor Mas Edi karena nyariin saya. Beliau kawatir karena saya ngga kasih kabar untuk dijemput. Padahal kenyataannya, saya di Fie Resort itu ngga ada sinyal. Untungnya Pak Dar sempat ketemu Mas Edi yang kemudian memberitahunya untuk menjemput saya di Fie Resort besok paginya. Saya terharu sekali, hari gini masih ada orang baik kayak Pak Dar gitu ya.

Otw ke Balongan naik bentor melewati hutan dan pegunungan bersama Pak Dar

Setelah menyeberang kapal ke pelabuhan Ulee Lheue, saya dijemput sama Mas Anton untuk keliling-keliling kota Banda Aceh lagi. Kali ini saya menyempatkan ke museum tsunami.

Museum Tsunami.
Lorong di Museum Tsunami.
Nama-nama Korban Tsunami
Museum Tsunami dari luar

Selama di museum tsunami saya juga nonton film dokumenter tentang bencana tersebut. Rasanya sedih banget. Ngga kebayang itu populasi manusia se-Banda Aceh mendadak menyusut hanya dalam sehari. Sejujurnya saya salut sama masyarakat Banda Aceh, karena pertumbuhan kotanya cepat sekali pasca bencana. Mereka bisa bangkit lagi dari keterpurukan setelah dilanda bencana sedemikian dasyat. Tentu tidak lupa dengan bantuan masyarakat seluruh dunia ya. Sebetulnya masih banyak yang saya lihat di museum Tsunami, tapi saya ngga banyak foto-foto karena saya terlarut melihat langsung semua diorama dan segala yang tersaji disana.

Setelah puas keliling-keliling museum, kami berhenti sejenak di Masjid Raya Banda Aceh untuk menunaikan ibadah sholat Jumat. Kemudian kami lanjut ngopi-ngopi di Solong Coffee, Ulee Kareeng. Katanya Solong Coffee ini adalah pelopor berdirinya warung kopi di Aceh. Kopi disini juga digadang-gadang sebagai kopi terenak di Aceh. Dari rakyat biasa sampe Presiden kalo ngopi ya disini. Tempatnya biasa banget lho! Tapi ngga bohong sih emang kopinya enak banget paraaaahhhh!!!

Kopi Hitam dan Kopi Sangger Dingin (kopi susu) enak paraaaahhhh!!!
Proses pembuatan kopi di Solong Coffee

Kopi hitam di Solong Coffee harganya Rp 7 ribu, sedangkan kopi Sangger alias kopi susunya Rp 13 ribu saja. Murah dan enak. Harganya jauh banget sama di coffee shop hitz ibu kota. Btw, di Aceh kopi sachet yang ada di iklan-iklan di TV itu nggak laku hahaha.

Setelah puas ngopi dan beli oleh-oleh beans, saya lanjut beli oleh-oleh dendeng rusa. Iya, you read it right. Dendeng rusa. Enak. Bener deh. Kemudian sebelum ke bandara saya menyempatkan makan dulu. Ada yang namanya ayam tangkap disini. Ayam kampung di goreng dan dicampur dengan daun pandan dan daun temurui (daun kari) goreng. Iya daunnya digoreng sampe crispy gitu. Enak deh pokoknya.

Makan di Warung Nasi Hasan

Setelah kenyang mengisi perut, saya langsung berangkat ke bandara. Banda Aceh dan Sabang telah memberikan banyak sekali pengalaman dan pesan kebaikan ke saya. Pengen banget suatu saat kesini lagi. Bareng temen-temen lain dan juga buat honeymoon :p Ada banyak lagi sebenarnya cerita yang belum tersampaikan dari perjalanan sendirian saya kali ini.

Petualangan singkat kali ini ditutup dengan foto bareng Mas Anton yang udah menjadi penolong saya selama solo traveling ke Banda Aceh dan Sabang kali ini:

Mon maap ya muka saya emang teler gitu

Sebagai bonus, saya pengen ngasih detail biaya yang saya keluarkan selama 3 hari di Banda Aceh & Sabang ya!

  1. Pesawat Jakarta – Banda Aceh (Batik Air): Rp 955.649
  2. Sewa Mobil keliling Banda Aceh + ke pelabuhan Ulee Lheue: Rp 250.000
  3. Naik kapal cepat dari Ulee Lheue (Banda Aceh) – Balongan (Sabang): Rp 100.000 (kelas VIP, iye songong bet emang)
  4. Bentor dari Balongan – Ie Meulee (Hotel Freddie’s): Rp 50.000
  5. Menginap di Freddie’s 1 malam: Rp 334.219
  6. Makan malam di Freddie’s (Buffet): Rp 65.000
  7. Menginap di Fie Resort 1 malam: Rp 444.618
  8. Bentor dari Fie Resort ke Pelabuhan Balongan: Rp 200.000
  9. Naik kapal cepat dari Balongan – Ulee Lheue: Rp 100.000 (VIP lagi, iye songong emang)
  10. Sewa mobil + supir seharian di Banda Aceh: Rp 600.000
  11. Pesawat Banda Aceh – Jakarta (Batik Air): Rp 1.160.928

TOTAL BIAYA: Rp 4.260.414


  • biaya di atas belum termasuk makan siang, jajan, dan oleh-oleh.
  • kalo mau lebih murah bisa nyeberang naik kapal cepat kelas eksekutif cuma Rp 80.000 atau naik kapal barang cuma Rp 27.500
  • selain naik pesawat ke Banda Aceh dan lanjut nyeberang laut, bisa juga naik pesawat ke Kuala Namu (Medan) kemudian lanjut naik pesawat lagi langsung ke Sabang.
  • kalo mau ke Banda Aceh dan sewa mobil atau keliling-keliling bisa kontak Mas Anton di 082272929644 orangnya baik banget!
  • kalo di Sabang, moda transportasinya bisa sewa motor atau sewa mobil, kalo butuh info, tanya Mas Anton aja, beliau banyak kenalan yang bisa diandalkan di Sabang.

Sekian postingan kali ini! Semoga suatu saat bisa ke Sabang lagi dan keliling Indonesia!