#100DPS Day 91: Hingga Aku Dua Puluh Dua

Tidak terasa, saya semakin tua.

Dalam benak saya bertanya “apakah aku bertambah dewasa?”

Selama 22 tahun saya hidup, ada banyak hal yang sudah saya lewati. Sukacita karena hal-hal sederhana, pun duka yang begitu menyakitkan bahkan untuk sekedar jadi kenangan.

Namun Allah masih terus memberi saya kekuatan.

Agak sedih rasanya, melewati tahun ke-22 ini begitu saja. Dengan keadaan hati yang hancur berantakan. Mendengar teriakan dan suara pecahan perabot di hari yang seharusnya istimewa. Terlebih yang membuatku perih, melihat ibuku terisak di depan mataku.

Hati ini rasanya teriris-iris.

Aku bahkan tak sanggup untuk menyembunyikan air mataku. Tangisanku menghambur, dadaku sesak, kepalaku sakit.

“Kenapa harus hari ini?”

Allah tau aku bisa melewati semua ini. Seperti terciptanya racun, Allah pasti memberikan juga penawarnya.

Allah menitipkan penawarnya kepada orang-orang yang begitu baik padaku. Mereka yang siap sedia ada, walau tanpa kata.

Mereka yang mau berlari bersamaku, dan berjalan disampingku ketika aku tak sanggup lagi berlari. Yang melontarkan celotehan bodoh, humor-humor receh, namun membuatku melupakan duka.

Dan aku percaya bahwa Allah tentu sayang padaku. Dia menutup hari burukku dengan kedatangan seseorang yang kurasa sangat berharga. Pertemuan, tatap muka, yang kini mahal harganya. Aku masih bisa mendapatkannya. Dari seseorang yang begitu baik, hingga rela mengorbankan waktunya, dan mengalah pada letihnya, hanya untuk sebuah pertemuan singkat.

Terima kasih untuk segala doa yang kuterima, segala harap baik yang mudah-mudahan terkabul, dan segala bentuk ketulusan yang aku rasakan.

Harapanku untuk tahun ke-22 ini sederhana, untuk Allah agar mengangkat penyakitku, memberikanku kesehatan dan umur yang bermanfaat. Karena hingga saat ini, aku belum melakukan apa-apa untuk sekitarku.

Semoga Allah berkenan mengabulkan doaku.

And these things made me suuuuupppper happy!


Gonna have to jump to Bandung as soon as possible to attend this event XDD

Thank you, sweetest! XD

#100DPS Day 85: I Wish It Was A Joke

Recently, I’ve been having a weird pain in my right breast. It’s been happening for about a month. And it’s getting worse day by day. I thought about it a lot.

It’s getting worse when I had a terrible migraine for about three weeks straight. Like, everyday.

I began to think “this is not normal”.

One day, I gathered my courage to check my right breast and found a quite big lump in it.

“Damn, this is serious” that’s what I thought instantly.

I tried not to think about it, but the pain is undeniable. So I decided to have a medical check up.

I did some examination, and the result came out a week later.

When I open the report, I stunned. I tried to calm my self down and I think I failed.

The doctor called my name to go to her room. She read the report for me. And when she finally reach that surprising page, she casually said “so, you have a tumor in your right breast, you should go to surgeon to discuss about it”.

BOOM.

Something explode inside my head.

I jokingly replied “seriously, is it a real tumor? you’re kidding me, right?”

“yes, of course, it’s a tumor” she (again) said it casually.

It broke my heart.

I never expect something like this would happen to me.

It hurt. My heart hurt. The lump hurt. My head was aching.

I wish it was a joke.

Or if it’s not, I really wish I could just take it as a “come on, it’s just a tumor. Chill out ┬ábabe.” Sometimes I do, sometimes I don’t.

—–

So, I think I would rearrange the whole 2016 resolution into: “Survive and beat it down. I’m gonna be okay and healthy again.”

And now I really need a support system, you don’t have to do extraordinary thing for me. Just pray for me and wish me luck. I’m going to a battlefield to fight against this tiny stuff inside my breast. And I DEFINITELY will win.

I also don’t want this to occur to any of you. May Allah always bless and protect you all, giving you healthy and happy life. Aamiin.

Wish me luck, guys! ­čśë

#100DPS Day 84: Future Kids

I don’t want my future kids to secretly write that they hate their parents.

This idea came out few days ago, when I found my very very old diary. I was tidying up my cupboard when I suddenly nudged on a book edge tucked behind my old stuff. And ta-daa! It’s my old diary.

I have┬áprobably been keping that book for 15 years now. Of course, I already forget what I wrote inside the book. I don’t even remember that I still have the book.’

Then when I open the book, I found my old dark little secret.

The 7 year-old me wrote about how she hated her parent. How she really felt left. How she thought that her father was too cruel to her. She wished that her father could be a little kinder, so she could be a little happier.

Oh so now I know why did I hide the book, place it in a secret corner.

It makes me think:

  1. Did my parent treated my that bad?
  2. Why was the 7 year-old me so selfish?
  3. What the hell did I do? What the hell did my parent do?

But, then I remember it all.

It is so sad to look at the fact that:

  1. I, at one time, hated my parent.
  2. My parents had done so much for me.
  3. Kids are truly honest about their feelings.

It blows my mind.

And now I realize that I’m not the only one who feels it. My siblings also feel it.

I took some time to think about it. It already happened and I can’t change it.

I just can change what’s going to happen in the future.

I promise to my self that I’ll try to my best as a parent. Be supportive parents, together with my future husband, for my future kids.

Seriously, I don’t ever want my future kids to secretly write that they hate their parent.

#100DPS Day 83: Bisa Dikit-Dikit

Saya pikir, bukan cuma saya yang merasakan hal ini. Mungkin diantara kalian juga pernah berpikir, “sebenernya gue nih bisanya apa sih? spesialisasinya apa? jagonya dimana?”

Kalian juga pasti punya teman-teman yang kadang bikin kalian iri, karena jago banget soal design. Atau temen yang bikin minder karena dia jago banget fotografi. Ada juga yang bikin kita ngerasa ga ada apa-apanya karena dia jago banget emmmm…. main dota? Bikin kopi? Or anything, you name it.

Hal-hal kayak gini yang bikin saya kadang bingung. Karena kalo ditanya:

“Kamu bisa photoshop?” – Bisa dikit-dikit.

“Kamu jago foto?” – Enggg gak juga sih, cuma bisa dikit-dikit.

“Kamu bisa analisis data?” – Emm dikit doang sih.

Jadi sebenarnya yang kamu bisa itu apaaa?

Yah begitulah. Tapi tenang saja, saya yakin setiap orang pasti punya keahliannya masing-masing. Hanya saja kita belum menemukannya.

Kalau begitu, jangan menyerah. Tetaplah cari tau kira-kira hal apa yang paling kamu suka, dan kamu ahli disitu.

Keep searching dan keep being you ya!

*It’s actually a note to my self*

#100DPS Day 65: Air Mata, Senja dan Haru

Hari ini hari Jumat. Layaknya Jumat biasanya, saya berangkat jam 11 siang untuk mengajar. Jarak dari kosan ke tempat les nggak terlalu jauh, biasanya saya naik angkot atau naik ojek.

Sesampainya di tempat les, saya menyampaikan buah tangan untuk guru-guru disana karena saya baru saja tiba dari Jogja. Mereka terlihat senang dengan oleh-oleh yang saya bawakan, alhamdulillah.

Ternyata pemilik tempat lesnya, yang biasa saya panggil Miss Tim, habis beli bakso. Wah kebetulan saya belum makan, sembari menunggu murid-murid akhirnya saya memutuskan untuk makan semangkok bakso.

Ditengah-tengah santap bakso, tiba-tiba Miss Teti (administrative officer) bertanya:

Miss Teti: Aul, berarti nanti abis wisuda November langsung balik ke Jakarta dong ya?

Saya: iya miss hehe.

Miss Teti: wah berhenti ngajar dong kalo gitu?

Saya: …..iya juga ya Miss. Yaaah sedih…

Miss Teti: iya ya sedih yaa..

Setelah itu saya termenung. Awalnya saya nggak kepikiran bakal sedih soal berhenti ngajar. Tapi kok setelah Miss Teti bilang begitu, saya jadi kepikiran ya.

Sorenya setelah beres mengajar, saya ngobrol-ngobrol dengan Miss Tia, salah satu guru yang juga mengajar di tempat les itu. Saya membicarakan tentang kesedihan saya karena sebentar lagi akan resign dari tempat mengajar.

Dan di sore itu, kami berdua menangis.

Pada awalnya saya tidak bermaksud membangun kedekatan dengan orang-orang di tempat saya mengajar. Tapi waktu tidak pernah menyembunyikan keahliannya dalam membangun perasaan. Tanpa saya sadari, bukan hanya kedekatan yang tercipta.

Melainkan kekeluargaan.

Miss Tim sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri, begitu juga Miss Teti. Ibunya Miss Tim, yang saya biasa panggil “Nini” pun sudah menganggap saya seperti cucunya sendiri.

Tak lama kemudian, Miss Tim datang. Melihat wajah kami yang sembab, saya tak tahan untuk tidak menceritakan kesedihan kami. Miss Tim pun ikut berlinang air mata.

Tenang, yang berhenti itu cuma mengajarnya. But our feeling will stay. Life must go on…” ujarnya.

Saya justru makin tak kuat menahan air mata. Tak terasa sudah dua tahun sejak saya pertama mengajar. Dari yang kaku-kaku saat menghadapi murid, sampai sekarang justru murid-murid yang mencari saya kalo saya nggak masuk.

My student┬áeven sent me a message: “Miss Aul kemana? kok nggak ngajar sih? minggu depan ngajar nggak?“.

atau “Ah aku mau diajar sama Miss Aul lagi minggu depan!

Buat saya, itu adalah achievment yang besar. Dari mengajar, saya justru dapat lebih banyak pelajaran. Walaupun murid saya suka bandel dan berisik kalo di kelas, tapi mereka yang bikin saya merasa hidup. Mereka yang bantu saya untuk mewujudkan passion saya.

There’s just too much memories with them.

Dari mulai dibikin pundung sama murid sampe bikin murid pundung. Dari mulai dengerin cerita horrornya murid sampe dengerin curhatan murid tentang mantannya lah, gebetannya lah, pacarnya lah. Dari nyebokin murid yang masih playgroup sampe ngomongin naik gunung sama murid yang ternyata cuma beda setahun lebih muda.

I can not tell it one by one. But it’s all so precious for me.

Dan pada senja hari ini, saya, Miss Tim dan Miss Tia saling berpelukan. Kami larut dalam tangis haru. Campur aduk perasaan sedih dan jutaan rasa yang tak bisa dideskripsikan.

Tapi kami tau, bahwa ikatan ini ternyata sekuat itu.

#100DPS Day 52: Away for A While

Sedari malam kami telah merencanakan untuk lari pagi di hari minggu. Walaupun kami sama-sama tahu, kalau semua itu hanya akan tetap menjadi wacana. Seperti biasa.

Pagi ini saya terbangun dengan nafas terengah-engah, jantung berdebar kencang dan pipi yang basah karena air mata. Semua itu akibat mimpi buruk. Begitulah kalau tidur lagi setelah subuh.

Tak lama kemudian saya dan Farid janjian untuk piknik sebentar. Nggak jauh-jauh, cuma ke Batununggal.

Kami pun membawa perbekalan untuk piknik: nasi kuning dan air putih. Nasi kuning dan ayam goreng di warung barokah Sukapura memang juara!

Sengaja, saya tidak mengaktifkan hp saya. Saat mengetahui hal itu, Farid sempat kaget dan bertanya kenapa.

Kenapa ya?

Saya cuma ingin ngobrol saja sih. Ngobrol yang manusiawi. Ngobrol berbagai macam hal, dari yang berbobot sampai obrolan nonsense nggak jelas. Saya cuma ingin menghabiskan waktu dengan manusia, tanpa terdistraksi teknologi.

And it came out pretty good. It is indeed a pleasure to spend time that way.

Farid pun melakukan hal yang sama. Kami tak mau terdistraksi teknologi. Kami hanya mau menghabiskan waktu bersama. Jarang-jarang kan bisa away from technology for a while hehehe.

We really had a quality time. We talked about a lot of things, from our childhood till our vision for future.

We spent the rest of our sunday morning just sitting under the tree, watch people passing by and a group of kids playing soccer. Talked and laughed while the summer breeze blowing and enjoyed the warmth of sun shining on our face. Heard the sound of bugs in the green grass, and played around with fallen branch.

Thanks Farid, for giving me some of your precious time that you won’t get back. Thanks for being a real human with me today. Thanks for willing to spend your Sunday morning with me.

I really appreciate that.

#100DPS Day 50: Tumbang.

Pada akhirnya, saya tumbang juga.
Setelah beberapa hari belakangan jam tidur nggak bener, kebut-kebutan sama skripsi, kehujanan-kepanasan, makan nggak teratur dan stress berkepanjangan, akhirnya saya tumbang juga.

Tau-tau tenggorokan perihnya kayak abis nelen sambil rawit yang panas mendidih. Sakiiiit sekali.
Saya memutuskan untuk tidur sebentar sore itu, saya pikir saat bangun nanti mungkin sakitnya sudah hilang. Ternyata nggak gitu.

Bangun-bangun suara saya hilang. Sepanjang sisa malam saya habiskan dengan meringkuk di kasur. Terkapar tak berdaya. Tengah malam saya terbangun dengan suhu badan yang diatas biasanya.

Duh, pake tumbang segala. Tapi ya nggak apa-apa sih, saya jadi punya alasan untuk istirahat. Allah pasti selalu kasih hikmah dibalik sesuatu.

Beruntung sekali saya, saat sakit banyak yang peduli. Saya terharuuuuuu sekali.

Widita yang notabene juga lagi sibuk dan juga lagi banyak pikiran masih sempet-sempetnya rutin ngecek keadaan saya.
Evel yang jauh disana, sibuk di jogja pun sempet-sempetnya nyuruh Rizal ke kosan untuk bawain obat.
Rizal pun nemenin saya di kosan sampe saya ketiduran hehehe.
Farid yang super sibuk kesana-kemari ketemu klien juga nyempetin nemenin ke dokter.
Teman-teman Telkom Hunter pun, si Milfan, Ifan sama Akram nyempetin mampir ke kosan untuk jenguk dan bawain makanan.
Terutama Akram, yang sampe besoknya masih rutin ngecek keadaan saya dan nyempet beliin bubur malem-malem (beli dimana coba?), bangun pagi ketiduran lagi setelah bimbingan dan sebelum bimbingan lagi siangnya masih sempet mampir buat bawain makan siang.

Nggak ngerti lagi mesti gimana bilang makasih sama semuanya. Saya sangat menghargai semua kebaikan yang kalian berikan. Semoga di lain waktu saya bisa membalas kebaikan kalian ya, kalopun nggak bisa, biar Allah yang membalas berkali-kali lipat.

I’m such a lucky kid!