Visiting Aceh & Sabang: A Truly Humbling Experience

Sore itu, hari Selasa, 7 November 2017 saya ditugaskan oleh kantor untuk berangkat ke Sabang tanggal 8 November. Iya, besoknya banget tuh.

Awalnya saya ragu dan takut untuk pergi kesana, karena saya hanya pergi sendiri dan saya tak kenal seorangpun disana. Saya hanya diberitahukan nomor hp seseorang yang harus saya hubungi terkait tugas kantor selama saya di Sabang.

Banyak-banyak saya berdoa, semoga selama perjalanan saya diberikan keselamatan dan selalu dilindungi. Jujur saja, ini pertama kalinya saya solo traveling cukup jauh.

___

Rabu, 8 November 2017

Pagi-pagi saya berangkat menuju bandara. Saya mengambil penerbangan pukul 07:45 menuju Banda Aceh, dan setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan, saya tiba pada pukul 10:35.

Sehari sebelumnya saya sudah melakukan sedikit riset, untuk menuju Sabang dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, saya harus ke Pelabuhan Ulee Lheue. Sesampainya di bandara, saya bertanya ke mba-mba yang ada disana, kira-kira sebaiknya naik apa kalau mau ke pelabuhan. Si mba menyarankan saya untuk naik taksi yang ada di bandara.

Akhirnya saya keluar bandara dan disana sudah berjajar para supir taksi yang menawarkan tumpangan. Tapi sebagai warga Jakarta yang sudah terbiasa dengan Go-Jek dan sejenisnya, maka ketika dihadapkan dengan transportasi konvensional saya malah jadi bingung. Terlebih lagi saya agak trauma dengan taksi-taksi bandara yang seringkali kasih harga “nembak” ke pelanggannya. Namun kemudian saya menemukan satu supir taksi yang menawarkan dengan sopan sekali sembari menunjukkan daftar harga untuk setiap tujuan. Disitu tertera tarif ke pelabuhan Ulee Lheue adalah Rp 140.000 saja. Harga yang cukup wajar untuk jarak dari Bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue. Jadi saya memutuskan naik taksi dari Mas-mas supir yang itu, namanya Mas Anton.

Setelah saya masuk ke dalam mobilnya dan kami ngobrol sedikit, saya menyadari masnya ini logatnya jawa banget. Waktu saya tanya, eh ternyata masnya orang Sleman. Yailah, sekampung coy!

Berkat solidaritas orang sekampung, maka Mas Anton malah menawarkan ngajak saya jalan-jalan dulu keliling kota Banda Aceh, karena jadwal keberangkatan kapal ke Sabang pun masih jam 16:00. Yang bener aja saya nunggu 5 jam?!

Selama di Banda Aceh, saya diajak keliling-keliling dan tentu saja makan-makan. Nih beberapa tempat yang saya kunjungi:

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Asli, masjid ini bagus banget, baik luar maupun dalamnya. Jujur, the moment I step into this place, I literally cried. Keinget waktu tsunami tahun 2004 dulu, banyak banget yang menyiarkan gambar-gambar Banda Aceh yang saat itu rata dengan tanah, namun ada satu bangunan yang tetap berdiri kokoh. Ya si Masjid ini, Masya Allah…

payung teduh (literally)
setelah sholat dzuhur
siluet di masjid
yaudahlahya muka saya emang gini

Saya juga nyobain makan Kari Kambing khas Banda Aceh. Rasanya? Ya enak lah!

Ini nih warung Kari Kambingnya. Endeuuuss!
bukan saya sendiri yg ngabisin kok~
ntap jiwaaaa~
ini nih yang namanya Mas Anton

Saya juga sempat mengunjungi museum Aceh, dan melihat-lihat rumah tradisional khas Aceh nih.

rumah adat Aceh

Setelah puas keliling Banda Aceh, akhirnya saya berangkat ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Pulau Weh.

Tapi sebelumnya saya sempat mengambil foto ini:

itu tuh pulau samar di ujung sana adalah pulau Weh!

Sesampainya saya di Pelabuhan Balongan, Sabang, saya dijemput oleh Pak Dar. Pak Dar adalah orang asli Sabang yang sehari-harinya mencari nafkah dengan narik bentor (becak motor). Saya kenal Pak Dar dari Mas Anton. Jadi sebelum tinggal di Banda Aceh, Mas Anton ini sempat menetap di Sabang selama 4 tahun. Makanya, Mas Anton kenal banyak orang di Sabang yang bisa diandalkan.

Setelah ketemu Pak Dar, saya diantar ke hotel di daerah Ie Meulee. Hotelnya asik banget! Namanya Freddie’s Santai Sumurtiga, karena lokasinya memang di pinggiran pantai Sumurtiga. Nih pemandangan hotelnya:

kamar saya yang temboknya kuning itu tuh, keliatan kan?
view pantai Sumurtiga dari tempat resepsionis Freddie’s
nah ini kamar saya. bisa muat 3 orang. atau kalo maksa bisa 4-5 orang hahaha
kamar saya ada balkonnya. daaaaan ini dia pemandangan dari balkon!

Aaaaah asli bagus banget pemandangannya! Saya tidur pun ditemani suara debur ombak jadi sekalian relaksasi. FYI, nginep di Freddie’s ini semalam cuma Rp 335 ribu loh! Edaaaan mure gileee.

______

Kamis, 9 November 2017

Saya terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Wah tumbenan kan. Sesungguhnya karena depan kamar saya itu kayayknya ada masjid, dan toanya menggelegar sekali. Alhasil pas adzan, saya langsung loncat hahaha.

Jam 7 pagi Pak Dar sudah bersiap menjemput saya. Saya janjian dengan Mas Edi untuk ketemuan jam 8 di kantornya. Mas Edi ini rekan kerja saya selama di Sabang. Ternyata dari hotel saya ke kantor Mas Edi nggak begitu jauh. Akhirnya saya ajak Pak Dar untuk sarapan dan ngopi-ngopi dulu di warung kopi yang katanya enak disana. Kayak gini nih warung kopinya:

de sagoe kuphie, Sabang
Pak Dar lagi ngopi, saya mah teh susu aja

Setelah selesai sarapan, saya langsung menuju kantor untuk ketemu Mas Edi dan mulai bekerja. Sembari kerja keliling-keliling Sabang, saya juga menyempatkan mampir ke tempat-tempat bagus yang ada di Sabang. Tentu saja saya ngga lupa mampir ke tempat yan sudah lama ada di bucket list saya: titik nol kilometer Indonesia!

akhirnya kesampean ke titik nol kilometer Indonesia!!!
sekitaran Goa Sarang
trekking ke Goa Sarang, look at my happy face!

Asli nggak bohong! Sabang itu bagus banget!!! Slogan Wonderful Indonesia is no joke guys!!!

Setelah menyelesaikan pekerjaan dan menyambangi tempat-tempat bagus di Sabang, saya ke hotel ke dua. Kali ini lokasinya di pinggir pantai Iboih. Sejujurnya salah banget saya milih nginep disini. Karena ternyata tempatnya kayak private cottage buat orang honeymoon gitu -_-

Saya sempat ngobrol-ngobrol sama ownernya dan saya diketawain. Katanya “heran juga saya nemu tamu cewek sendirian nginep disini. ngapain coba? itu kamar-kamar yang lain isinya orang honeymoon semua tau!”

Yailah bu, mana eyke tau yekan. Saya mah cari yang murah aja pokoknya. Nah si hotel yang ke dua ini namanya Fie Resort, dan menginap disini harganya cuma Rp 445 ribu saja sodara-sodaraaahh!

Pemandangan dari Fie Resort ini juga ngga kalah sama di Freddie’s. Nih liat:

Owner Fie Resort lagi chill di pinggir pantai menikmati sore
dermaga di depan Fie Resort, sore-sore main disini sambil dengerin lagunya Andien yang Indahnya Dunia, sungguh niqmat!
cottage-cottage di Fie Resort. Isinya orang honeymoon semua -_-

______

Jumat, 10 November 2017

Saya harus kembali ke Jakarta hari ini. Saya mengambil penerbangan terakhir di jam 18:25 menuju Jakarta dari Banda Aceh. Jam setengah 7 pagi Pak Dar sudah standby di depan Fie Resort untuk menjemput saya.

Salut sekali sama Pak Dar ini, beliau orangnya baik sekali. Di hari Kamis sore beliau bolak-balik ke kantor Mas Edi karena nyariin saya. Beliau kawatir karena saya ngga kasih kabar untuk dijemput. Padahal kenyataannya, saya di Fie Resort itu ngga ada sinyal. Untungnya Pak Dar sempat ketemu Mas Edi yang kemudian memberitahunya untuk menjemput saya di Fie Resort besok paginya. Saya terharu sekali, hari gini masih ada orang baik kayak Pak Dar gitu ya.

Otw ke Balongan naik bentor melewati hutan dan pegunungan bersama Pak Dar

Setelah menyeberang kapal ke pelabuhan Ulee Lheue, saya dijemput sama Mas Anton untuk keliling-keliling kota Banda Aceh lagi. Kali ini saya menyempatkan ke museum tsunami.

Museum Tsunami.
Lorong di Museum Tsunami.
Nama-nama Korban Tsunami
Museum Tsunami dari luar

Selama di museum tsunami saya juga nonton film dokumenter tentang bencana tersebut. Rasanya sedih banget. Ngga kebayang itu populasi manusia se-Banda Aceh mendadak menyusut hanya dalam sehari. Sejujurnya saya salut sama masyarakat Banda Aceh, karena pertumbuhan kotanya cepat sekali pasca bencana. Mereka bisa bangkit lagi dari keterpurukan setelah dilanda bencana sedemikian dasyat. Tentu tidak lupa dengan bantuan masyarakat seluruh dunia ya. Sebetulnya masih banyak yang saya lihat di museum Tsunami, tapi saya ngga banyak foto-foto karena saya terlarut melihat langsung semua diorama dan segala yang tersaji disana.

Setelah puas keliling-keliling museum, kami berhenti sejenak di Masjid Raya Banda Aceh untuk menunaikan ibadah sholat Jumat. Kemudian kami lanjut ngopi-ngopi di Solong Coffee, Ulee Kareeng. Katanya Solong Coffee ini adalah pelopor berdirinya warung kopi di Aceh. Kopi disini juga digadang-gadang sebagai kopi terenak di Aceh. Dari rakyat biasa sampe Presiden kalo ngopi ya disini. Tempatnya biasa banget lho! Tapi ngga bohong sih emang kopinya enak banget paraaaahhhh!!!

Kopi Hitam dan Kopi Sangger Dingin (kopi susu) enak paraaaahhhh!!!
Proses pembuatan kopi di Solong Coffee

Kopi hitam di Solong Coffee harganya Rp 7 ribu, sedangkan kopi Sangger alias kopi susunya Rp 13 ribu saja. Murah dan enak. Harganya jauh banget sama di coffee shop hitz ibu kota. Btw, di Aceh kopi sachet yang ada di iklan-iklan di TV itu nggak laku hahaha.

Setelah puas ngopi dan beli oleh-oleh beans, saya lanjut beli oleh-oleh dendeng rusa. Iya, you read it right. Dendeng rusa. Enak. Bener deh. Kemudian sebelum ke bandara saya menyempatkan makan dulu. Ada yang namanya ayam tangkap disini. Ayam kampung di goreng dan dicampur dengan daun pandan dan daun temurui (daun kari) goreng. Iya daunnya digoreng sampe crispy gitu. Enak deh pokoknya.

Makan di Warung Nasi Hasan

Setelah kenyang mengisi perut, saya langsung berangkat ke bandara. Banda Aceh dan Sabang telah memberikan banyak sekali pengalaman dan pesan kebaikan ke saya. Pengen banget suatu saat kesini lagi. Bareng temen-temen lain dan juga buat honeymoon :p Ada banyak lagi sebenarnya cerita yang belum tersampaikan dari perjalanan sendirian saya kali ini.

Petualangan singkat kali ini ditutup dengan foto bareng Mas Anton yang udah menjadi penolong saya selama solo traveling ke Banda Aceh dan Sabang kali ini:

Mon maap ya muka saya emang teler gitu

Sebagai bonus, saya pengen ngasih detail biaya yang saya keluarkan selama 3 hari di Banda Aceh & Sabang ya!

  1. Pesawat Jakarta – Banda Aceh (Batik Air): Rp 955.649
  2. Sewa Mobil keliling Banda Aceh + ke pelabuhan Ulee Lheue: Rp 250.000
  3. Naik kapal cepat dari Ulee Lheue (Banda Aceh) – Balongan (Sabang): Rp 100.000 (kelas VIP, iye songong bet emang)
  4. Bentor dari Balongan – Ie Meulee (Hotel Freddie’s): Rp 50.000
  5. Menginap di Freddie’s 1 malam: Rp 334.219
  6. Makan malam di Freddie’s (Buffet): Rp 65.000
  7. Menginap di Fie Resort 1 malam: Rp 444.618
  8. Bentor dari Fie Resort ke Pelabuhan Balongan: Rp 200.000
  9. Naik kapal cepat dari Balongan – Ulee Lheue: Rp 100.000 (VIP lagi, iye songong emang)
  10. Sewa mobil + supir seharian di Banda Aceh: Rp 600.000
  11. Pesawat Banda Aceh – Jakarta (Batik Air): Rp 1.160.928

TOTAL BIAYA: Rp 4.260.414

Catatan:

  • biaya di atas belum termasuk makan siang, jajan, dan oleh-oleh.
  • kalo mau lebih murah bisa nyeberang naik kapal cepat kelas eksekutif cuma Rp 80.000 atau naik kapal barang cuma Rp 27.500
  • selain naik pesawat ke Banda Aceh dan lanjut nyeberang laut, bisa juga naik pesawat ke Kuala Namu (Medan) kemudian lanjut naik pesawat lagi langsung ke Sabang.
  • kalo mau ke Banda Aceh dan sewa mobil atau keliling-keliling bisa kontak Mas Anton di 082272929644 orangnya baik banget!
  • kalo di Sabang, moda transportasinya bisa sewa motor atau sewa mobil, kalo butuh info, tanya Mas Anton aja, beliau banyak kenalan yang bisa diandalkan di Sabang.

Sekian postingan kali ini! Semoga suatu saat bisa ke Sabang lagi dan keliling Indonesia!

Advertisements

#100DPS Day 92: Workcation ke Pulau Putri dan Pulau Pari

Jadi ceritanya minggu lalu saya ikut acara kantor. Agendanya sih rapat konsolidasi. Tapi ada bumbu jalan-jalannya.

And I think it has too much seasoning :p

Kami kumpul di Dermaga di Ancol pukul 9 pagi, menunggu beberapa jam (iya, beberapa jam) hingga akhirnya berangkat menuju pulau Putri.

Ngeliatin laut selama perjalanan
Ngeliatin laut selama perjalanan

Sesampainya di Pulau Putri, kami disambut oleh para pemusik di tepi dermaga. Setelah itu kami langsung bertolak ke pendopo untuk makan siang. Macam-macam deh makanannya. Saya sampai kehilangan satu kata dalam kamus saya –> diet. Hahaha.

Welcoming Music
Welcoming Music
Selfie with The Musician
Selfie with The Musician

Singkat cerita, siang sampai malamnya kami rapat di aula. Membahas berbagai macam hal. Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Pemandangan dari Dalam Kamar Hotel
Pemandangan dari Dalam Kamar Hotel
Feel the Breeze
Feel the Breeze
Tepi Pantai
Tepi Pantai
Sunset di Pulau Pari
Sunset di Pulau Pari
Ikannya Gede Banget!
Ikannya Gede Banget!

Saya dan teman saya berencana untuk bangun lebih pagi di esok hari, supaya bisa menikmati matahari terbit sambil mengelilingi pulau.

Esok paginya, kami benar-benar bangun pagi dan langsung bergegas mengelilingi pulau. Sayangnya, saat itu cuaca agak berawan. Sunrisenya jadi tidak terlalu kelihatan. Tak apalah, yang penting bisa menikmati matahari terbit.

Kami memang bangun lebih awal dari orang-orang lain, jadi suasana pulau masih sepi sekali. Pulau ini tergolong bersih, karena di sekeliling pulau saya tidak menemukan banyak sampah meskipun pulau ini sudah komersil.

Hanya butuh waktu sekitar 15-20 menit untuk mengelilingi pulau ini. Kecil juga ya?

Nih foto-foto saat kami keliling pulau:

:D
😀

Satu sisi di pulau putri
Satu sisi di pulau putri
The Cabin in The Woods
The Cabin in The Woods
Jalan-jalan keliling Pulau
Jalan-jalan keliling Pulau
Bahagia banget kayaknya ya
Bahagia banget kayaknya ya
Diterpa cahaya matahari
Diterpa cahaya matahari
Sunrise Di Pulau, Nggak Kelihatan :(
Sunrise Di Pulau, Nggak Kelihatan 😦
Sunrise Di Pulau, Nggak Kelihatan :(
Sunrise Di Pulau, Nggak Kelihatan 😦
Sempet Naik ke Atas Kapal Juga
Sempet Naik ke Atas Kapal Juga

Kami juga sempat snorkeling disana, sayang foto-fotonya tidak ada di saya hehehe. Saya juga nggak tahu fotonya ada di siapa T_T

Setelah snorkeling, terjadilah sebuah tragedi. Konyolnya, ketika snorkeling saya baik-baik saja. Eeeh, ini cuman main kecipak-kecipak air di pinggir pantai depan hotel malah kepleset. Beginilah hasilnya:

Siangnya sesudah makan, kami langsung bertolak. Ke…. Pulau Pari! Yeaaayyyy!!!

Di Pulau Pari kami keliling-keliling naik sepeda. Minum es kelapa, dan makan Ind*mie hahaha. Ternyata di Pulau Pari, pemandangannya lebih bagus! Walaupun lebih ramai sih, ada sekolah juga loh di pulaunya.

Cuman sedikit foto di Pulau Pari, karena lebih fokus makan dan minum es kelapa hehehe

Yah begitulah workcation singkat ke Pulau Putri dan Pulau Pari kemarin. Mbok ya sering-sering kayak gini hehehe :p

#100DPS Day 90: First Paper Conference

Untuk pertama kalinya, saya mempresentasikan hasil penelitian saya di depan umum. Hasil riset bersama Pak Andry, dosen saya ini sebenarnya sudah cukup lama. Namun baru sempat dipublikasikan sekarang hehe.

Oiya, penelitian saya ini dipresentasikan di The 4th International Conference on Advances in Intelligent Systems in Bioinformatics, Chem-Informatics, Business Intelligence, Social Media and Cybernetics 2016 (InteliSys 2016). Panjang banget yah namanya?

Nantinya, penelitiannya akan dipublikasikan di ARPN Journal of Engineering and Applied Sciences. Uyeay!

Di InteliSys tanggal 20-21 Agustus kemarin ini nggak cuma saya yang presentasi dari Telkom University. Ada Viva dan Bebyta juga, anak bimbingannya pak Andry angkatan 2012. Semasa skripsian, mereka sering diskusi bareng saya juga.

Dari 100-an paper yang di submit, hanya ada 16 paper yang diterima. Salah duanya adalah paper hasil penelitian kami. Dan dari berbagai presenter saat itu, rata-rata adalah dosen dan peneliti yang sepertinya usianya jauh di atas kami. Hehehe, kami anak bawang!

Tapi nggak apa-apa, kalo kata pak Andry, sekalian latihan hehe. Bener juga sih, awalnya degdegan. Apalagi saya kebagian presentasi paling awal. Hmm, ternyata pas udah maju ke depan, ya gitu weh. Kirain gimana.

Ini dia foto-foto waktu conference:

Aku mah apa atuh kalah tinggi sama mimbar
Viva dan Bebyta presentasi
Foto bareng pak Andry, dosen ter-asik dan ter-gaul!

Yah begitulah pengalaman kami. Semoga bakal banyak ikutan acara beginian lagi ehehehe, aamiin!

#100DPS Day 58: Malu Minta Maaf

Suatu sore, saya lagi duduk manis di depan komputer di tempat fotokopi dan print sekitaran kampus. Lagi nungguin ngeprint ceritanya.

Di sebelah saya ada sepasang cowo-cewe yang berisik banget, perkara ngeprint tugas aja si cowo marah-marah sama ceweknya gara-gara typo. 

Cowo: ah, salah ketik nih! Benerin benerin!

Cewe: kan tadi aku udah bilang cek dulu sebelum print.

Cowo: ah gimana sih! Udah buruan benerin!

Duh bro, punya tangan kan? Kerjain tugas sendiri lah -_-

Ga cuma itu, di depan etalase berdiri seorang bapak-bapak yang usianya sekitar 40-50 tahunan lah. Si bapak lagi menunggu abang fotokopian yang sedang mengerjakan orderannya. Kayaknya sih suruh ngejilid atau apa gitu.

Tiba-tiba si bapak bilang gini..

Bapak: lho itu jangan digituin!

Abang: biar sekalian pak..

Bapak: beda itu beda, jangan disatuin. Kamu nggak ngerti ya apa yang saya bilang?!

Begitu ujar si bapak dengan nada suara yang meninggi.

Si abang pun memberikan pembelaan..

Abang: bukan pak ini biar sekalian aja, nanti dipisah lagi.

Bapak: oh gitu.. Yasudah, maafin saya ya.

Wah, lihatkah sesuatu disitu?

Dari percakapan di atas saya menangkap ada perbedaan antara si cowo dan bapak-bapak. Yaitu yang satu muda yang satu tua wkwkwk.

Becanda deng.

Bedanya adalah, si cowo gamau mengakui kalo kesalahan yang terjadi disitu juga kesalahannya. Sedangkan si bapak-bapak, mau mengakui kalau dia salah dan meminta maaf atas kesalahannya.

Mungkin kata-kata si bapak memang kasar dan bernada tinggi. Benar-benar seperti orang marah. Tapi setelah dia mendengar pembelaan si abang fotokopi, dia tau bahwa yang ia sangka itu tidak benar. Maka itu ia meminta maaf.

Dipikir-pikir, sekarang itu susah ya nemu orang yang mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Kebanyakan orang gengsi kalo tau mereka salah. Bukannya minta maaf malah balik menyalahkan, atau ya diam aja.

Tapi hati-hati, yang jadi sasaran bisa jadi sakit hati loh. 

Apa susahnya sih minta maaf? Nggak ngeluarin duit padahal -_-

Dari situ saya belajar, lain kali kalo ada kesalahan ya akui saja. Minta maaf. Bersyukurlah kalo masih diingatkan mana yang benar.

Karena sesungguhnya yang lebih buruk adalah saat kita dibiarkan terjatuh dalam kesalahan.

#100DPS Day 57: Saya Mengajar Bukan Agar Dapat Uang

Sabtu, 2 Mei 2015

Selamat Hari Pendidikan Nasional, untuk seluruh masyarakat Indonesia!

Buat saya, pendidikan itu penting sekali. Kenapa?

Menurut saya, satu cara untuk keluar dari keterpurukan adalah dengan mendapatkan pendidikan.

Saya punya cita-cita. Saya ingin membangun sekolah untuk masyarakat yang kurang mampu. Karena saya tau rasanya kesulitan secara keuangan buat dapat pendidikan. How lucky I was, ada tangan dermawan yang mau menolong saya.

Jadi, entah gimana caranya, saya akan cari jalan supaya suatu saat cita-cita saya bisa jadi kenyataan. Aamiin.

Sekarang, status saya masih mahasiswa. Tapi itu nggak membuat saya diam tanpa aksi. Saya mulai langkah awal saya dari sini.

Saya sudah 2 tahun bekerja sebagai guru bahasa Inggris di suatu lembaga di Bandung. Ngapain?

Cari uang? Iya emang sih, ga dipungkiri. Tapi tujuan utamanya bukan itu.

Lebih dari uang, saya dapat banyak hal selama saya mengajar.

Pengalaman, latihan kesabaran, latihan bekerja di bawah tekanan, dituntut untuk kreatif, belajar mengatur waktu, bahkan latihan mengasuh anak hahaha.

Semua itu lebih dari apa yang saya terima sebagai gaji saya.

Banyak kejadian unik yang saya alami selama mengajar. Dari mulai dipanggil “mister” (padahal kan cewek :””), cerita-cerita sama murid yang pada ABG, ngajarin anak kuliahan yang ternyata cuma beda setahun sama saya, sampai nyebokin murid yang masih TK. Ada-ada aja deh pokoknya.

But after all, I enjoy doing it because I’m passionate in learning and sharing. 

Juga, ini adalah salah satu bentuk kontribusi saya buat mencerdaskan kehidupan bangsa.

And here are my students:

Murid-murid yg suka manggil saya “mister”

Dari mengajar, ternyata saya yang lebih banyak belajar 🙂

Kalo kamu, udah kontribusi apa? 🙂

#100DPS Day 49: Thanks, 2014!

Let’s see what 2014 means to me…..

2014 has been a wondrous year for me.

Campur aduk sekali. Emosi saya diputar-balikkan. Jalan pikiran saya diobrak-abrik. Tapi tentu dari semua itu, saya dapat banyak pengalaman. There is always firts time for everything. And I got it many times in this year.

My first hike.

My first business.

My first backpacking trip.

My first iphone hahaha.

My first camera.

My first experience to organize an event.

My first street photograph.

I mean, I got a bunch of happiness this year.

Ada banyak juga lika-liku kehidupan yang saya alami di tahun ini. Jatuh cinta, sakit hati, pacaran, putus. Perjuangan, putus asa.

Saya dapat banyak teman baru. And also I figured out who my real friend is.

Saya bahagia sekali bisa pergi ke banyak tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tempatnya bagus-bagus juga.

And there are some things that make me feel like I’m being my self as a whole. A complete human being.

Untuk bisa ada di samping orang-orang yang membutuhkan saya. Menjadi pendengar bagi teman-teman saya. (Wah berarti resolusi tahun 2013 sudah tercapai).

Saya senang bisa menjadi bagian dari kebangkitan diri baru orang-orang di sekitar saya.

Menjadi bermanfaat bagi orang lain selalu menjadi keinginan terbesar saya.

Dan tahun ini, saya banyak sekali mendapatkan kesempatan itu. Alhamdulillah ya Allah.

Tahun ini pun, hidup saya berubah. Saya dan seorang sahabat saya mendirikan bisnis bersama. Dari situ saya bisa membeli barang-barang dengan uang saya sendiri. Saya bisa membeli kamera pertama saya dengan hasil jeri payah saya sendiri. Saya bisa jalan-jalan dengan hasil keringat saya sendiri. Dan tentu yang terpenting, saya bisa gantian memberi orang tua saya.

Dan saya bersyukur sekali, saya memiliki teman-teman yang awesome! Mereka lah yang ada disana pada momen-momen pengalaman pertama saya. Thanks guys! I can never thank you enough 🙂

New Friends in Wates!
New Friends in Wates!
First Street Photograph Experience!
First Street Photograph Experience!
Re-uniting and first time Dago Pakar!
Re-uniting and first time Dago Pakar!
First time to Gunung Padang and a lot of new friends!
First time to Gunung Padang and a lot of new friends!
First Time to Dusun Bambu, and yeay I got new friend!
First Time to Dusun Bambu, and yeay I got new friend!
First Backpacking Experience, to Bromo!
First Backpacking Experience, to Bromo!
First Time to Goa Pawon and got new friends!
First Time to Goa Pawon and got new friends!
First Time to Grafika Cikole!
First Time to Grafika Cikole!
First Hike To Papandayan!
First Hike To Papandayan!

Ah! Ulang tahun saya kali ini pun sangat berkesan. Di surprise-in sama anak-anak instameet kamerahpgw se-bandung, di surprise-in sama anak-anak kelas F plus dosen manajemen strategi juga hahaha. Di todong traktir sama anak-anak CCI di Bober Cafe trus ditinggalin pulang duluan padahal uang cash di dompet tinggal 4000 dan mesin EDC lagi error jadi gabisa bayar pake debit. Piye perasaanmu cuk? :’) But really, I love you guys all :*

 

Birthday Surprise dari kelas F!
Birthday Surprise dari kelas F!
Surprise Ulang Tahun dari KameraHpGw Bandung
Surprise Ulang Tahun dari KameraHpGw Bandung

Tapi penutup tahun 2014 ini, sepertinya akan sangat membekas di benak saya.

Tuhan benar-benar memberi saya tamparan keras di muka. Yang membuka lebar-lebar mata saya.

Untuk kedua kalinya di bulan Desember, perasaan saya diluluh-lantakkan. Patah hati dua kali di bulan yang sama dalam dua tahun berturut-turut? Yang benar saja.

Tapi saya benar benar mengalaminya. Entah kenapa, kali ini saya tidak begitu hancur. Karena saya sudah pernah jatuh sebelumnya? Atau karena kali ini saya baru mengambil pelajaran?

Saya hanya ingin berprasangka baik pada Tuhan. Mungkin ini upaya Tuhan untuk –sekali lagi– menyadarkan saya agar mengerti, kapan saya harus memperjuangkan sesuatu, dan kapan harus berhenti.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

 

Life is good. Forget your sorrow, and be grateful for your blessings guys 🙂

#100DPS Day 48: Street Photography: A New Love

Kamis, 11 Desember 2014

Pagi-pagi sekali, Rizal ngeline saya. Nanyain charger kamera. Iya, kamera baru saya yang belum sempet diperawanin, udah dibawa kabur duluan sama dia. Suka-suka anak itu aja lah.

Ujung-ujungnya, saya malah ngajak Rizal hunting. Dia pun mengiyakan. Tak lama kemudian dia sampai di rumah saya dan langsung ngecharge kamera.

Sembari menunggu batre kameranya penuh, saya ngeline Agvi untuk ngajak dia ikutan hunting juga. Agvi pun mengiyakan.

Kami memutuskan untuk nyetrit hari ini. Saya tadinya nggak mau, karena saya nggak ngerti sama sekali soal street photography. Apalagi saya baru megang kamera, belum terbiasa.

Tapi Rizal meyakinkan saya “justru itu, nyetrit aja biar belajar”. Okedeh, saya harus coba hal baru yang lebih menantang, dan kali ini, street photography.

Sekitar jam 12 kami bergegas ke jalan ABC. Kami memutuskan untuk pergi ke jalan ABC. Selain karena banyak objek foto disana, saya juga sekalian mau bersihin lensa kamera analog saya yang sampe sekarang saya nggak ngerti cara pakainya gimana.

Sesampainya disana, kami mulai hunting. Awalnya saya masih kaku-kaku untuk memotret. Lama kelamaan, segala macem saya foto. Apapun.

Saya yang masih awam banget soal setting kamera, dikit-dikit nanya ke Rizal. Dia pun banyak memberi masukan soal penggunaan kamera.

Sekitar jam 3 sore kami pulang, karena langit mulai mendung.

Sesampainya di rumah, saya membuka kembali foto-foto yang tadi saya ambil selama di jalan ABC.

Saya kaget.

Memang banyak sekali foto saya yang masih berantakan. Tapi, ada beberapa foto yang ketika saya melihatnya, saya tersenyum. Bahkan menangis.

Baru pertama kali saya menangisi hasil foto saya sendiri.

Entah kenapa, saya terharu. Dan ketika itu saya sadar, saya sudah jatuh cinta pada street photography.

I love the idea of capturing people’s faces. I love to see their laughters, or saving the moment of their glimpse.

Saya mendengar cerita-cerita dari foto-foto yang saya ambil. Rasanya memori tentang bagaimana saya mengambil foto itu, terulang kembali.

Bercandaan kecil saya dengan penjual kacamata, obrolan tentang duda keren dengan si bapak penjual kunci cadangan, atau bahkan membekunya saya saat berusaha menangkap fokus dari senyum Rizal.

Semuanya.

Air mata saya tumpah. Bukan karena foto yang saya ambil bagus. Tapi karena cerita dibalik foto-foto itu. Tapi karena itu pengalaman pertama saya dalam street photography. Tapi karena ini pelajaran pertama saya menggunakan kamera pertama saya, dengan hasil jeri payah saya sendiri.

Sebagian foto saya ambil dalam mode hitam putih. Kadang, melihat dunia dalam 2 warna bisa jadi lebih indah. Karena saya bisa berinterpretasi dengan warna di dalam pikiran saya.

Karena saat itu, tidak mengambil warna. Saya mengambil jiwa.

IMG_5820.JPG

IMG_5836.JPG

IMG_5812.JPG

IMG_5838.JPG

IMG_5796.JPG

IMG_5809.JPG

IMG_5837.JPG

Terima kasih banyak untuk Rizal dan Agvi yang udah nemenin nyetrit bareng hari ini!