Nonton Spirited Away di Bioskop!

Sebagai penggemar karya-karya Studio Ghibli kelas berat, saya bahagia tak terkira waktu ada kabar bahwa film-film Ghibli bakal diputar di bioskop Indonesia.

I was like “finally bisa nonton yang nggak bajakan :’)“.

Berdasarkan artikel ini film-film Ghibli bakal diputar mulai bulan April sampai September. Tapi ada artikel terbaru yang bilang bakal ada 22 film yang diputar sampe tahun depan (and this is making me happy even more).

Karena tiketnya bisa dibeli secara online, langsung lah saya beli nggak pake mikir. Beli dua tiket sekaligus, walaupun belum tau mau ngajak siapa. Akhirnya saya ngajak Farid buat nonton.

Spirited Away poster (source: World of Ghibli)
Spirited Away poster (source: World of Ghibli)

Tanggal 1 April kemarin, filmnya diputar. I was so excited to watch it, that I rushed through a heavy rain to get to the theatre on time XD. But unfortunately, Farid couldn’t make it, he got caught in traffic on his way from Bandung.

Karena saya udah terlanjur di TKP, yaudahlah nonton aja. Dan ini adalah pengalaman pertama saya nonton bioskop sendirian. Saya udah lama pengen nonton bioskop sendirian, but I just never have the guts. Hehehe now that I got this chance, turns out that watching movie alone wasn’t so bad. I can really watch it for myself. Even though I have no companion to laugh with. Tapi saya nggak kapok, besok-besok kayaknya mau coba lagi nonton sendirian XD.

Aaaaand Spirited Away was amazing!!! No matter how many time I’ve watched it, the movie is still great! Plus, watching it on the big screen was a whole different thing. It was so satisfying to watch such a movie clearer, bigger, and sounds better.

Nggak cuma itu, kemarin ada yang lucu banget pas lagi nonton. Ternyata subtitlenya bahasa Indonesia dan banyak yang ngaco hahaha XDD. Beberapa yang saya ingat adalah:

Wah pemandangannya bagus ya. Tahu gitu bawa sandwich dari mobil

Kerja woi

Apa kamu petatang peteteng

Hahaha bahasa apaan tuh petatang-peteteng?? Kalo di translate jadi bahasa Jepang apaan coba jadinya? XDD

Intinya sih film Ghibli memang ngga diragukan lagi kerennya. And next month, I definitely will watch Tonari no Totoro!!!! Kyaaaaaaaaa XD

Advertisements

#100DPS Day 94: Pertama Kali ke Kwitang, Salah Satu Surga Buku Terpopuler di Jakarta

Beberapa hari yang lalu Kak Mega tiba-tiba nge-line saya. Ngajakin ke Kwitang, out of the blue.

I know what is it about, and I instantly said yes.

Kak Mega adalah orang yang suka sekali baca buku. Sedangkan saya adalah orang yang suka sekali foto-foto. Akibatnya, jika kami pergi ke pasar buku, dua belah pihak terpuaskan. Yang satu dapet stok buku, yang satu dapet stok foto.

Kwitang adalah salah satu pasar buku yang cukup terkenal, terutama buat anak-anak seusia saya (emang masih anak-anak?). Karena pasar buku ini sempat nge-hits di awal tahun 2000-an gara-gara film AADC.

Sayangnya, saya baru kesampean mengunjungi tempat itu sekarang. Lokasinya di daerah pasar Senen. Nggak jauh dari Mall Atrium Senen.

Seharian kami keliling-keliling untuk hunting foto di Kwitang, dan beginilah hasilnya:

Abangnya maen hape mulu
Tenggelam diantara buku
Pegang Tapi Nggak Beli
Dilan
Kalo lagi jaga warung emang suka ngantuk
Neng seneng amat neng?
“Saya ganteng neng kalo di poto, kalo neng naksir saya ga tanggung ya”
“Neng ikutan poto dong”
“Foto saya mau dimasukin ke majalah ya neng?”
Yo dipilih dipilih
“Bang senyum dong bang biar ganteng”. Dan beginilah senyumnya.
Ini kak Mega.
“Neng jangan poto saya neng ntar kameranya rusak kena pirus”
“Gini ya gayanya?”
Plenty of books.
Shy shy cat(?)
Sore.
Parkiran.
Up & Down
Sekian foto-foto di Kwitangnya. Semoga bisa hunting foto lagi dalam waktu dekat!

#100DPS Day 51: SF Roastery, Tempat Ngopi Favorit!

Belakangan sejak nyekripsi, saya jadi sering nongkrong di tempat ngopi.

Loh? Ngopi? Bukannya sebelumnya saya nggak bisa minum kopi?

Iya, itu dulu. Semenjak saya diracunin sama temen-temen Telkom Hunter pas lagi kumpul di La Piccola Italia, saya diajarin ngopi. Dan untuk pertama kalinya, saya nggak sakit perut setelah ngopi. Ternyata memang, kopi yang berkualitas nggak akan bikin sakit perut. Dari situlah saya jadi sering ngopi.

Suatu hari, sepulang saya bimbingan di Geger Kalong saya diajak tiga orang teman saya untuk nongkrong-nongkrong cantik di tempat ngopi sembari skripsian. Saya menerima dengan senang hati ajakan mereka, lumayan lah sekalian ngilangin penat. Pilihan kami jatuh pada SF Roastery, selain karena saya penasaran, katanya sih harganya cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa.

Sesampainya di SF Roastery, saya sih rada kaget. Karena lokasinya tidak familiar dan masuk-masuk di ruko gitu. Saya sih mikirnya “nemu aja tempat ngopi di daerah sini”.

Langsung saja saya masuk ke SF Roastery dan saya langsung disambut oleh semerbak aroma kopi yang menggugah. Warung kopi ini nggak gede-gede amat, tapi tempatnya cozy jadi saya betah berjam-jam nongkrong disini.

Karena saya udah lama nggak minum kopi, jadi saya meminta rekomendasi pilihan kopi pada teman saya, namanya Mas Emka. Dia merekomendasikan cappucino untuk saya, dengan alasan karena saya lagi nggak mau minum kopi yang berat-berat. Yasudah pilihan saya jatuh pada cappucino.

Setelah menunggu beberapa menit, pesanan saya tiba di meja. Sebelum disruput, foto dulu lah ya sedikit hehehe. Ini dia penampakan cappucino saya.

IMG_9545.JPG
Sebagai tambahan, saya juga memesan quiche (re: keesh) buat cemil-cemilan. Both the cappucino and quiche are great! I love ’em!

Disana saya juga sempet ngobrol-ngobrol sama ownernya dan ternyata orangnya kocak banget. Ada baristanya juga yang sering saya gangguin, namanya Kang Asep.

DSCF3400-2.jpg
SF Roastery ini lokasinya di Jalan Rajawali Timur No. 18, di belakang bank OCBC NISP Ruko Rajawali daerah deket Andir deh pokoknya. Di Bandung loh yaaa!ย Cari aja di google kalo bingung wkwkwk.

DSCF3421-2.jpg

DSCF3432-2.jpg

#100DPS Day 48: Street Photography: A New Love

Kamis, 11 Desember 2014

Pagi-pagi sekali, Rizal ngeline saya. Nanyain charger kamera. Iya, kamera baru saya yang belum sempet diperawanin, udah dibawa kabur duluan sama dia. Suka-suka anak itu aja lah.

Ujung-ujungnya, saya malah ngajak Rizal hunting. Dia pun mengiyakan. Tak lama kemudian dia sampai di rumah saya dan langsung ngecharge kamera.

Sembari menunggu batre kameranya penuh, saya ngeline Agvi untuk ngajak dia ikutan hunting juga. Agvi pun mengiyakan.

Kami memutuskan untuk nyetrit hari ini. Saya tadinya nggak mau, karena saya nggak ngerti sama sekali soal street photography. Apalagi saya baru megang kamera, belum terbiasa.

Tapi Rizal meyakinkan saya “justru itu, nyetrit aja biar belajar”. Okedeh, saya harus coba hal baru yang lebih menantang, dan kali ini, street photography.

Sekitar jam 12 kami bergegas ke jalan ABC. Kami memutuskan untuk pergi ke jalan ABC. Selain karena banyak objek foto disana, saya juga sekalian mau bersihin lensa kamera analog saya yang sampe sekarang saya nggak ngerti cara pakainya gimana.

Sesampainya disana, kami mulai hunting. Awalnya saya masih kaku-kaku untuk memotret. Lama kelamaan, segala macem saya foto. Apapun.

Saya yang masih awam banget soal setting kamera, dikit-dikit nanya ke Rizal. Dia pun banyak memberi masukan soal penggunaan kamera.

Sekitar jam 3 sore kami pulang, karena langit mulai mendung.

Sesampainya di rumah, saya membuka kembali foto-foto yang tadi saya ambil selama di jalan ABC.

Saya kaget.

Memang banyak sekali foto saya yang masih berantakan. Tapi, ada beberapa foto yang ketika saya melihatnya, saya tersenyum. Bahkan menangis.

Baru pertama kali saya menangisi hasil foto saya sendiri.

Entah kenapa, saya terharu. Dan ketika itu saya sadar, saya sudah jatuh cinta pada street photography.

I love the idea of capturing people’s faces. I love to see their laughters, or saving the moment of their glimpse.

Saya mendengar cerita-cerita dari foto-foto yang saya ambil. Rasanya memori tentang bagaimana saya mengambil foto itu, terulang kembali.

Bercandaan kecil saya dengan penjual kacamata, obrolan tentang duda keren dengan si bapak penjual kunci cadangan, atau bahkan membekunya saya saat berusaha menangkap fokus dari senyum Rizal.

Semuanya.

Air mata saya tumpah. Bukan karena foto yang saya ambil bagus. Tapi karena cerita dibalik foto-foto itu. Tapi karena itu pengalaman pertama saya dalam street photography. Tapi karena ini pelajaran pertama saya menggunakan kamera pertama saya, dengan hasil jeri payah saya sendiri.

Sebagian foto saya ambil dalam mode hitam putih. Kadang, melihat dunia dalam 2 warna bisa jadi lebih indah. Karena saya bisa berinterpretasi dengan warna di dalam pikiran saya.

Karena saat itu, tidak mengambil warna. Saya mengambil jiwa.

IMG_5820.JPG

IMG_5836.JPG

IMG_5812.JPG

IMG_5838.JPG

IMG_5796.JPG

IMG_5809.JPG

IMG_5837.JPG

Terima kasih banyak untuk Rizal dan Agvi yang udah nemenin nyetrit bareng hari ini!

#100DPS Day 38: Backpacking ke Bromo Part I: How To Get To Bromo

Jumat, 13 Juni 2014

Saya terbangun pagi ini karena suara alarm yang sudah bolak-balik di snooze.
Rencananya hari ini saya dan teman saya (sebut saja Jo) akan pergi ke Gunung Bromo. Nggak nginep, berangkat pagi pulang sore saja.

Singkat cerita kami berangkat dari terminal Pandaan sekitar jam 8 pagi dengan menggunakan bis jurusan Surabaya-Malang yang ke arah Surabaya. Ongkosnya 3.000 rupiah saja. Kami berhenti di Japanan, lalu menyeberang dan lanjut naik bis yang menuju ke Jember.

Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya ada bis menuju Jember. Tapi kita turun di terminal Bayuangga di Probolinggo. Ongkos bis ini 12.000 rupiah sampai ke terminal Bayuangga Probolinggo.

Pukul 9:45 kami sampai di terminal Bayuangga Probolinggo. Dari terminal ini kami lanjut naik bison. Hahaha, bukan naik bison yang binatang ya. Bison ini sejenis angkot khusus ke Bromo. Mungkin disebut bison karena jalannya ugal-ugalan kayak bison ngamuk. Dari terminal ke pangkalan bison ini cuma jalan keluar terminal aja kok, dekat sekali. Tanya saja sama orang-orang di terminal, naik bison ke Bromo dari mana.

Nah, bison ini baru berangkat kalau udah penuh. Jadi ngetemnya lama banget. Selama menunggu, kami sempat ngobrol-ngobrol dengan calon penumpang lain. Ada yang bule, ada juga yang orang Cibubur sebut saja namanya Kim. Mereka sama-sama mau ke Bromo juga.

20140621-120049-43249744.jpg
Duduk-duduk cantik nungguin bison ngetem.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, ternyata bison ini tak kunjung penuh. Akhirnya Jo dan Kim mencoba bernegosiasi dengan si supir bison. Lalu kata si supir, ya boleh saja berangkat asal bayar ongkosnya 450.000 rupiah sampai bromo untuk satu mobil. Waduh, berat juga kalo patungan pun bisa sampai 75.000 rupiah per orang.

Karena ongkosnya cukup mahal, Kim dan Jo berinisiatif mencarikan calon penumpang. Alhasil mereka jadi calo dadakan, tak lama kemudian mereka kembali dengan sekumpulan bule-bule backpacker yang mau ke Bromo juga. Setelah tawar menawar akhirnya si bule setuju buat sharing ongkos naik bison dengan kita. Jadinya per orang hanya bayar 40.000 rupiah.

Berangkatlah kita menuju Bromo naik bison bareng bule-bule. Perjalanan dari Probolinggo menuju Bromo memakan waktu sekitar 1 jam. Kita diturunkan di desa terakhir, paling atas. Namanya Cemara Lawang. Disana tinggal cari homestay aja kalau mau menginap, kalau tidak bisa langsung cari jeep atau ojek yang antar ke atas Bromo.

Oke, segini dulu info backpacking ke Bromonya. Untuk info penginapan, makanan, biaya selama di Bromo dan info pulang dari Bromo menyusul di post selanjutnya ya ๐Ÿ˜€

Rekap biaya:
1. Kereta Ekonomi Pasundan dari Bandung (Stasiun Kiaracondong) ke Surabaya (Stasiun Gubeng): Rp 55.000
2. Bis dari terminal Pandaan ke Japanan: Rp 3.000
3. Bis dari Japanan ke Probolinggo: Rp 12.000
4. Bison dari Probolinggo ke Bromo: Rp 40.000
Total: Rp 110.000

#100DPS Day 37: Bebek Goreng di Warung Dua Putri, Japanan

Kamis, 12 Juni 2014
20:02

Saya dan seorang teman saya sampai di Stasiun Surabaya Gubeng. Kami berangkat pukul 05:20 pagi tadi dari Stasiun Kiaracondong Bandung. Seharusnya kereta dijadwalkan tiba pada pukul 19:20 namun entah karena berhenti terlalu lama atau apa, kami tiba 40 menit lebih lambat.

Setibanya di Stasiun Gubeng kami dijemput oleh Pamannya teman saya. Kami langsung menuju daerah Pandaan. Namun di tengah perjalanan kami berhenti untuk makan malam.

Kami singgah di sebuah warung yang terletak di Jalan Japanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Mojokerto. Warung ini menjual macam-macam makanan, tapi konon yang paling recommended sih nasi bebeknya.

Alhasil saya tergoda untuk mencicipi nasi dan bebek gorengnya. Harganya cuma 13.000 rupiah saja. Sedangkan untuk minumnya saya pesan jeruk panas harganya 2.500 rupiah. Tidak lama menunggu, pesanan saya datang dan….

Ealah, bebeknya….

Karena saya memesan bagian paha, saya sudah berekspektasi tampilannya ya kayak paha bebek di warung-warung pada umumnya: paha bawah menyatu dengan paha atas, digoreng kering, dan dagingnya tidak begitu banyak.

Tapi ternyata saya salah, yang datang itu nasi dan sepotong paha bebek bagian bawah saja yang disajikan bersama lalapan timun dan daun kemangi. Lengkap dengan sambel dan bumbu bebeknya.

Paha bebeknya segede gini nih:

20140618-100553-36353812.jpg

Plus:
Rasa? Uenak tante!
Apalagi karena ada bumbu tambahan yang bikin rasanya lebih gurih lagi. Duhaduh, abis makan masih jilatin jari hahaha. Jorok ya? Biarin, enak.
Daging bebeknya tebel bangeeet! Nggak kayak bebek goreng pada umumnya yang kurus kering.
Nasinya juga lumayan banyak. Sambelnya nggak terlalu pedes, nggak terlalu manis juga. Pas.

Minus:
Daging bebeknya nggak se-empuk Bebek Ali Borme yang di Bandung. Tapi ga masalah karena ga keras-keras amat juga. Kecuali kalo yang makan pake behel hehehe.
Jeruk panasnya kurang rasa jeruk, gulanya agak kebanyakan. Yah tapi itu tergantung selera sih, kebetulan saya kurang suka gula. Maklum, udah manis.

Nah kalo soal harga, bisa diliat disini:

20140618-101943-37183963.jpg

Patut dicoba kalau sewaktu-waktu jalan-jalan ke daerah Japanan di Gempol, Mojokerto.

#100DPS Day 5: Instameet at Tangkuban Parahu

Saya suka fotografi, walau tidak ahli. Kemanapun saya pergi, biasanya saya menyempatkan diri untuk mengambil foto disana.

Namun sayang sekali jika hasil jepretan saya cuma berakhir di dalam folder komputer. Oleh karena itu, saya ingin menaruhnya di “ruang publik”. Mungkin ada media seperti DeviantArt atau flickr dan semacamnya. Tapi entah kenapa, dari dulu kurang sreg untuk aktif disana.

Kemudian hadirlah aplikasi Instagram for Android (kebetulan HP saya Android). Awalnya sih cuma iseng saja ikut-ikutan download Instagram karena lagi nge-hits. Eh lama kelamaan malah ketagihan.

Kenapa? Disana banyak karya bagus. Saya jadi terpacu untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Nggak mau kalah sama Instagrammers yang followersnya sudah ribuan bahkan jutaan.

Kemudian saya bertemu dengan sebuah komunitas fotografi mobile di Bandung dan saya diajak bergabung. Tak berpikir yang buruk-buruk, namun tak terlalu berekspektasi juga, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung. Nama komunitasnya adalah #KameraHpGw (disingkat #KHGW).

Komunitas ini sering sekali mengadakan kopdar alias kopi darat. Ketemuan, kumpul, ngobrol-ngobrol dan sharing tentang trik-trik memotret gambar yang bagus dengan menggunakan kamera handphone. Namun ada saja kendala saat saya mau ikut kumpul.

Akhirnya minggu lalu tanggal 17 November saya menyempatkan diri untuk ikut kopdar #KHGW yang ke-sekian. Kebetulan teman-teman #KHGW dari Jakarta pun hadir.

Kami hunting foto di Gunung Tangkuban Parahu. Niatnya ingin mencari kabut, dan untungnya… Dapat! Sesampainya disana cuaca sangat dingin, dilengkapi dengan hujan rintik dan kabut tebal.

Wih! Dapet banget deh suasananya! Lucky us!

Nah ini dia beberapa foto yang sempat saya ambil disana:

image

image

image

image

image

image

Sekian dulu ceritanya.
Semoga kalau ada Instameet lagi saya bisa ikut ๐Ÿ˜€