#100DPS Day 74: Pasar Bunga Rawa Belong

Hari ini tanggal 22 Desember.
Biasa diperingati sebagai hari ibu. Meskipun masih banyak pro-kontra soal “merayakan hari ibu”, saya pengen aja sih ngasih sesuatu yang spesial buat ibunda tercinta.

Ada yg bilang “menunjukkan kasih sayang ke ibu itu seharusnya setiap hari, jangan cuma di hari ibu saja!”. Ya emang tiap hari. Masa saya sayang sama ibu cuma pas tanggal 22 Desember aja?

Tapi menurut opini saya, nggak ada salahnya kita luangkan 1 hari untuk selebrasi secara simbolis rasa sayang kita ke ibu.

Menurut opini saya loh ya.

Nah lalu apa hubungannya dengan pasar bunga Rawa Belong?

Jadi di hari spesial ini, saya ingin ngasih bunga ke ibu saya. Kenapa nggak makanan? Atau emas batangan? Atau mungkin ngasih menantu.. Well, let’s skip it. I just want to give her flowers, that’s all.

Setelah survey-survey di internet, saya menyimpulkan bahwa harga bunga di pasar bunga Rawa Belong relatif lebih murah. Hmm, menarik juga.

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi kesana sepulang dari kantor. Lagian sekalian jalan-jalan, saya belum pernah ke pasar bunga Rawa Belong. Padahal dari SMP dan SMA saya dulu, jaraknya dekat sekali.

Sesampainya disana, saya mendadak bahagia. Saya tergolong orang yang mudah bahagia sih memang. Begitu lihat banyak bunga-bunga cantik dimana-mana, saya sumringah.

Ada banyak macam bunga di pasar bunga Rawa Belong. Dari yang mainstream seperti mawar dan chrysan, sampai yang antimainstream (sekaligus bunga favorit saya) seperti bunga hydrangea dan bunga matahari. Dari mulai bunga potong yang masih segar, sampai bunga-bunga hidup yang memang masih di pot.

Setelah tanya-tanya harga, benar juga kata si internet. Harga disini tergolong murah. Satu ikat bunga chrysan yang isinya 50 batang dibanderol Rp 120.000 saja. Itu belum ditawar lho hehehe. FYI, satu ikat isi 50 batang bunga chrysan itu gede banget..

Bunga mawar yang warnanya nggak mainstream juga cuma Rp 75.000. Sayangnya saya lupa tanya itu satu ikatnya berapa batang.

Setelah keliling-keliling, ternyata saya malah balik ke toko pertama yang saya datangi. Toko itu menjual bunga anggrek yang masih di dalam pot alias masih hidup. Anggrek bulan yang besarnya nggak biasa itu hanya dijual seharga Rp 110.000 saja. Yasudah langsung beli saja, saya mikir daripada beli bunga potong yang bisa kering, mending beli bunga hidup yang bisa dipelihara terus hehehe. Dasar nggak mau rugi.

Ini dia foto-foto pasar bunga Rawa Belong:

OMG Flowers!

OMG Flowers!

Kumpulan Dagangan Bunga di Pasar Bunga Rawa Belong
Kumpulan Dagangan Bunga di Pasar Bunga Rawa Belong
Hydrangea, My Favorite!
Hydrangea, My Favorite!
Jual Bunga yang Masih Hidup Juga
Jual Bunga yang Masih Hidup Juga
Toko-toko di Bagian Luar
Toko-toko di Bagian Luar

Kalau ada yang mau berkunjung ke sini, bisa langsung cek alamat ini ya

Alamat Pasar Bunga Rawa Belong:

Jalan Sulaiman No.1, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Tenang aja, pasar bunga Rawa Belong ini buka 24 Jam kok. Kecuali pas hari lebaran yaa :p

#100DPS Day 61: Esensi Seorang Muslim

Sebagai seorang muslim, sejak kecil pasti kita diajarkan rukun iman dan rukun islam kan?

Layaknya pancasila yang hadir sebagai dasar negara, begitu pula rukun iman dan rukun islam. Apa-apa yang kita lakukan di negara ini berlandaskan 5 butir pancasila tersebut.

Begitupula seorang muslim, perbuatannya harusnya berlandaskan rukun iman dan rukun islam.

Just in case ada yang lupa, rukun iman isinya ini:

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada malaikat

3. Iman kepada kitab Allah

4. Iman kepada Rasulullah

5. Iman kepada hari kiamat

6. Iman kepada qodo dan qadar

Sedangkan rukun islam ada 5, yaitu:

1. Syahadat

2. Shalat

3. Puasa

4. Zakat

5. Haji bila mampu

Nah, belakangan ini saya menemukan peringatan untuk diri saya sendiri ketika membaca Al-qur’an. Beberapa hari saya membaca al-qur’an, saya selalu mendapati ayat yang serupa.

Bunyinya seperti ini “Wa aqiimusshalaata wa atuzzakaata” yang artinya “dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat”.

Maka kemudian saya berpikir. Allah sedang memberi saya peringatan. Hidup saya akhir-akhir ini kacau. Ada saja masalah datang.

Lalu saya sadar, shalat saya belum betul. Zakat saya ada yang terlewat. Astagfirullah..

Bersyukur sekali Allah masih memberi saya petunjuk.

Saya percaya, shalat dan mengaji adalah salah satu cara kita bisa “ngobrol” dengan Tuhan. Usai shalat saya berdoa, minta sama Allah. Kemudian mengaji, dan Allah memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Sesimpel itu saja.

Dan ternyata saat diikuti, hidup saya berangsur-angsur membaik. Berkah Allah berdatangan. Yang harus disadari adalah, berkah atau rezeki tidak selalu harus dalam bentuk uang/harta ya. Allah juga memberikan berkah dan rezeki dalam bentuk orang-orang yang perduli dengan kita, atau mungkin kelancaran urusan. Berkah Allah itu luas sekali.

Nah jadi pelan-pelan mulai belajar dari awal lagi. Kayak baru masuk TK lagi rasanya, saya belajar menerapkan rukun iman dan rukun islam dalam kehidupan.

Karena sesungguhnya, menurut saya, itulah esensi seorang muslim.

That’s why kita akan banyak mendapati ayat-ayat seperti itu dalam Al-qur’an.

Semoga bermanfaat 🙂

#100DPS Day 60: The Power Of Community

Belakangan sejak ngerjain skripsi saya jadi belajar macem-macem. Diluar yang saya pelajari di mata kuliah saya.

Dalam bahasan skripsi saya, ada beberapa topik yang menyinggung tentang komunitas (oiya skripsi saya tentang Social Network Analysis). Sebenarnya apa sih komunitas itu?

Definisi komunitas yang saya dapatkan dari businessdictionary.com adalah sebagai berikut:

Self-organized network of people with common agenda, cause, or interest, who collaborate with sharing ideas, information and other resources.

Selama kuliah pun saya ikut aktif dalam beberapa komunitas. Beberapa komunitas yang saya ikuti bergerak di bidang fotografi. Diantaranya adalah komunitas KameraHpGw regional Bandung dan komunitas Telkom Hunter.

Pada awalnya saya belum merasakan manfaat dari ikut komunitas. Tadinya saya memang cuma ingin menambah teman saja karena memang dasarnya saya suka bersosialisasi.

Tapi belum lama ini, justru saya baru menyadari pentingnya suatu komunitas saat ada momen kecil dimana saya membantu teman saya untuk skripsinya.

Kebetulan skripsi teman saya itu meniliti tentang iPhone, dan dia minta tolong ke saya untuk bantu menyebar kuesioner. Dia merasa kesulitan karena harus mendapatkan 400 responden dari seluruh Indonesia dalam waktu yang cukup singkat.

Disitu saya terpikir, karena dia meneliti tentang iPhone yang notabene adalah salah satu smartphone favorit bagi para fotografer instagram masa kini, bisa dong ya kita sebar kuesioner ini ke para pengguna instagram yang pake iPhone?

Cara tercepat untuk menemukan mereka bagaimana? Komunitas jawabannya!

Langsung saja saya sebar ke komunitas yang saya ikuti tadi karena memang relevan.

Hasilnya? Mencengangkan. Teman saya sampai terharu, dalam waktu kurang dari 2 jam dia sudah bisa mengumpulkan 65 input. Lumayan banget kaaaan.

Itu salah satu manfaat komunitas dalam lingkup kecil. Tentu banyak lagi manfaat dari adanya komunitas, misalnya:

1. Bisnis

Komunitas bisa membantu untuk promosi produk. Misalnya untuk jadi buzzer. Komunitasnya untung ada pendapatan, perusahaannya juga untung, dapet range penyebaran yang luas dengan biaya yang ga terlalu tinggi.

2. Penelitian

Contoh yang saya berikan di awal tulisan ini juga salah satu manfaat komunitas di bidang penelitian.

3. Pendidikan

Kalian pasti sering dengar komunitas mengajar yang digalakkan oleh para pemuda. Bayangin kalo komunitas itu ada banyak di seluruh Indonesia. Masyarakat yang kurang mampu atau yang ada di pelosok akan mendapatkan kesempatan untuk dapat ilmu. Indonesia bisa lebih maju.

4. Politik

Simpel sih, misalnya kamu ikut komunitas apa gitu dan kamu aktif disitu. Trus suatu saat kamu mau jadi caleg deh misalnya, kamu udah punya basis massa tuh dari teman-teman komunitas hehehe :p

5. Seni dan Budaya

Pernah dengar komunitas pecinta angklung? Dengan adanya komunitas seperti itu, eksistensi peninggalan budaya kita bisa diselamatkan. Bayangin kalo ada komunitas pecinta tempe misalnya (beneran ada kali ya?), dan mereka aktif. Ga akan deh tempe diakui sebagai makanan dari negara lain :p

Dan masih banyak lagi.

Makanya kita sebagai anak muda, jangan ragu-ragu buat ikut komunitas. Selama itu berdampak positif, kita harus sering aktif. Selain kita dapat ilmu, teman baru bisa mengembangkan minat, bakat serta potesi diri, kita jadi punya banyak kesempatan yang lebih luas, dan kita juga bisa ikut membantu orang lain loh!

Ingat, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat 🙂

#100DPS Day 51: SF Roastery, Tempat Ngopi Favorit!

Belakangan sejak nyekripsi, saya jadi sering nongkrong di tempat ngopi.

Loh? Ngopi? Bukannya sebelumnya saya nggak bisa minum kopi?

Iya, itu dulu. Semenjak saya diracunin sama temen-temen Telkom Hunter pas lagi kumpul di La Piccola Italia, saya diajarin ngopi. Dan untuk pertama kalinya, saya nggak sakit perut setelah ngopi. Ternyata memang, kopi yang berkualitas nggak akan bikin sakit perut. Dari situlah saya jadi sering ngopi.

Suatu hari, sepulang saya bimbingan di Geger Kalong saya diajak tiga orang teman saya untuk nongkrong-nongkrong cantik di tempat ngopi sembari skripsian. Saya menerima dengan senang hati ajakan mereka, lumayan lah sekalian ngilangin penat. Pilihan kami jatuh pada SF Roastery, selain karena saya penasaran, katanya sih harganya cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa.

Sesampainya di SF Roastery, saya sih rada kaget. Karena lokasinya tidak familiar dan masuk-masuk di ruko gitu. Saya sih mikirnya “nemu aja tempat ngopi di daerah sini”.

Langsung saja saya masuk ke SF Roastery dan saya langsung disambut oleh semerbak aroma kopi yang menggugah. Warung kopi ini nggak gede-gede amat, tapi tempatnya cozy jadi saya betah berjam-jam nongkrong disini.

Karena saya udah lama nggak minum kopi, jadi saya meminta rekomendasi pilihan kopi pada teman saya, namanya Mas Emka. Dia merekomendasikan cappucino untuk saya, dengan alasan karena saya lagi nggak mau minum kopi yang berat-berat. Yasudah pilihan saya jatuh pada cappucino.

Setelah menunggu beberapa menit, pesanan saya tiba di meja. Sebelum disruput, foto dulu lah ya sedikit hehehe. Ini dia penampakan cappucino saya.

IMG_9545.JPG
Sebagai tambahan, saya juga memesan quiche (re: keesh) buat cemil-cemilan. Both the cappucino and quiche are great! I love ’em!

Disana saya juga sempet ngobrol-ngobrol sama ownernya dan ternyata orangnya kocak banget. Ada baristanya juga yang sering saya gangguin, namanya Kang Asep.

DSCF3400-2.jpg
SF Roastery ini lokasinya di Jalan Rajawali Timur No. 18, di belakang bank OCBC NISP Ruko Rajawali daerah deket Andir deh pokoknya. Di Bandung loh yaaa! Cari aja di google kalo bingung wkwkwk.

DSCF3421-2.jpg

DSCF3432-2.jpg

#100DPS Day 38: Backpacking ke Bromo Part I: How To Get To Bromo

Jumat, 13 Juni 2014

Saya terbangun pagi ini karena suara alarm yang sudah bolak-balik di snooze.
Rencananya hari ini saya dan teman saya (sebut saja Jo) akan pergi ke Gunung Bromo. Nggak nginep, berangkat pagi pulang sore saja.

Singkat cerita kami berangkat dari terminal Pandaan sekitar jam 8 pagi dengan menggunakan bis jurusan Surabaya-Malang yang ke arah Surabaya. Ongkosnya 3.000 rupiah saja. Kami berhenti di Japanan, lalu menyeberang dan lanjut naik bis yang menuju ke Jember.

Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya ada bis menuju Jember. Tapi kita turun di terminal Bayuangga di Probolinggo. Ongkos bis ini 12.000 rupiah sampai ke terminal Bayuangga Probolinggo.

Pukul 9:45 kami sampai di terminal Bayuangga Probolinggo. Dari terminal ini kami lanjut naik bison. Hahaha, bukan naik bison yang binatang ya. Bison ini sejenis angkot khusus ke Bromo. Mungkin disebut bison karena jalannya ugal-ugalan kayak bison ngamuk. Dari terminal ke pangkalan bison ini cuma jalan keluar terminal aja kok, dekat sekali. Tanya saja sama orang-orang di terminal, naik bison ke Bromo dari mana.

Nah, bison ini baru berangkat kalau udah penuh. Jadi ngetemnya lama banget. Selama menunggu, kami sempat ngobrol-ngobrol dengan calon penumpang lain. Ada yang bule, ada juga yang orang Cibubur sebut saja namanya Kim. Mereka sama-sama mau ke Bromo juga.

20140621-120049-43249744.jpg
Duduk-duduk cantik nungguin bison ngetem.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, ternyata bison ini tak kunjung penuh. Akhirnya Jo dan Kim mencoba bernegosiasi dengan si supir bison. Lalu kata si supir, ya boleh saja berangkat asal bayar ongkosnya 450.000 rupiah sampai bromo untuk satu mobil. Waduh, berat juga kalo patungan pun bisa sampai 75.000 rupiah per orang.

Karena ongkosnya cukup mahal, Kim dan Jo berinisiatif mencarikan calon penumpang. Alhasil mereka jadi calo dadakan, tak lama kemudian mereka kembali dengan sekumpulan bule-bule backpacker yang mau ke Bromo juga. Setelah tawar menawar akhirnya si bule setuju buat sharing ongkos naik bison dengan kita. Jadinya per orang hanya bayar 40.000 rupiah.

Berangkatlah kita menuju Bromo naik bison bareng bule-bule. Perjalanan dari Probolinggo menuju Bromo memakan waktu sekitar 1 jam. Kita diturunkan di desa terakhir, paling atas. Namanya Cemara Lawang. Disana tinggal cari homestay aja kalau mau menginap, kalau tidak bisa langsung cari jeep atau ojek yang antar ke atas Bromo.

Oke, segini dulu info backpacking ke Bromonya. Untuk info penginapan, makanan, biaya selama di Bromo dan info pulang dari Bromo menyusul di post selanjutnya ya 😀

Rekap biaya:
1. Kereta Ekonomi Pasundan dari Bandung (Stasiun Kiaracondong) ke Surabaya (Stasiun Gubeng): Rp 55.000
2. Bis dari terminal Pandaan ke Japanan: Rp 3.000
3. Bis dari Japanan ke Probolinggo: Rp 12.000
4. Bison dari Probolinggo ke Bromo: Rp 40.000
Total: Rp 110.000

#100DPS Day 26: Waspada Zona Merah PKL di Bandung

Pernahkah kamu mendengar tentang Zona Merah? Katanya, di zona merah ini PKL dilarang berdagang.

Sebenarnya “zona merah” itu apa sih?

Jadi menurut Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima, zona PKL itu dibagi 3, yaitu:

1. Zona merah: lokasi yang tidak boleh terdapat PKL,

2. Zona kuning: lokasi yang bisa tutup buka berdasarkan waktu dan tempat,

3. Zona hijau: lokasi yang diperbolehkan berdagang bagi PKL.

Nah, mulai 1 Februari 2014 kemarin Pemkot Bandung, khususnya Wali Kota Bandung tercinta Bapak Ridwan Kamil melarang adanya transaksi jual-beli dari PKL di zona merah tersebut. Pemkot Bandung juga memberlakukan denda sebesar 1 juta rupiah bagi masyarakat yang nekat berbelanja di zona merah. Hal ini sesuai dengan Pasal 24 ayat (2) Perda Nomor 4 Tahun 2011.

Lah, tau darimana itu zona merah apa bukan?

Kalo menurut pengertian di Perda sih, yang dimaksud zona merah adalah “wilayah tempat ibadah, rumah sakit, komplek militer, jalan nasional, jalan provinsi, dan tempat-tempat lain yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan kecuali ditentukan lain berdasarkan Peraturan Daerah ini”.

Tapi untuk tahap awal, zona merah yang jadi prioritas utama Pemkot adalah Kawasan 7 Titik, yakni Kawasan Alun-Alun, Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Jalan Dalem Kaum, Jalan Kepatihan (Kings), Jalan Dewi Sartika, Jalan Asia Afrika dan Jalan Merdeka (BIP).

Pada awal penerapan peraturan ini, banyak masyarakat yang tertangkap basah membeli barang dari PKL di zona merah tersebut. Ya mungkin karena sosialisasinya juga masih kurang. Tapi Pemkot Bandung terus berupaya untuk mensosialisasikan peraturan ini bahkan ada balihonya juga supaya masyarakat sadar. Nih, balihonya segede gaban gini:

Dilarang Membeli Dari PKL Yang Berada Di Zona Merah
Dilarang Membeli Dari PKL Yang Berada Di Zona Merah.

Sumber: google.

Makanya, saya juga mau bantu Pemkot Bandung buat sosialisasi ini. Setidaknya teman-teman yang baca blog saya risiko akan kena dendanya berkurang. Lumayan itu 1 juta mending buat jalan-jalan :p