#100DPS Day 72: Why It Didn’t Work With My Last Ex-Boyfriend

I had a boyfriend around a year ago. He’s five years older than me. He’s a man with a job, and I was just a college girl.

We went out much, we meet so often, or I can say too often. We fought a lot, we argue and we made up.

There are some part of him I don’t really like, or maybe I really hate it.

He tried to make me living in schedule. While, in the other hand, it’s the thing I hate the most. I was so angry at that time. My rebel soul couldn’t accept it.

He wanted me to finish my thesis by the end of the month, he wanted me to do the chores on Friday, and whatsoever. I just couldn’t do as he said.

After a lot of fights with various reasons, we broke up.

A year has passed since I broke up with him. Now I’m a woman with a job.

Recently, I found something that my past-self would think that it’s ridiculous: life doesn’t work like social network graph picture. (why do I correlate with social network graph anyway?)

What I’m trying to say is, I can no longer live a life as whatever I wanted. I need a rythm. I (sadly) need to schedule my life. Or I can say, I need to have my life well-organized.

Because you can’t just live, or have a career path or chase your dream with a messy life. Unless you’re Messi. (ba-dum-tssss!)

Now I realize that to achieve something in life, discipline is a must. Whether it’s your dream, your career or anything else.

Now I understand why my ex-boyfriend taught me to make schedule for my daily life. I just didn’t understand his purpose back then.

Okay, it’s a mistake, and I gotta learn from it.

Ah, but remember, however we’re living a discipline life, it’s important to have free time for leisure. Or you’ll die from depression :p

#100DPS Day 64: Jangan Lupa Bahagia

Senin pagi ini saya terbangun dengan rasa dingin. Entah, semenjak kemarin sore kota Bandung terasa dingin sekali. Apa musim panas sudah mau pamit?

Karena kedinginan, hingga blog ini di tulis pun saya masih terkapar di atas kasur sembari bergumul dengan selimut.

Seperti biasa kalau ada waktu senggang saya buka akun instagram, eh pagi ini beberapa klik mengantarkan saya ke akun instagram walikota Bandung Pak Ridwan Kamil atau yang akrab disapa “Kang Emil”.

Scroll ke bawah dan saya menemukan berbagai foto dengan caption yang lucu-lucu. Tapi ada satu yang menarik bagi saya.

Foto ini:  


Sekilas tampak biasa saja ya?

Tapi tidak buat saya. Coba baca captionnya: “Tuhan menitipkan kepada kami sepasang anak kandung untuk kami didik menjadi anak2 yang cerdas, sholeh dan bahagia. Amin.”

Saya melihat suatu perbedaan disini.  Kang Emil mencantumkan kata “bahagia” disitu.

Dikala para orang tua berfokus untuk membuat anaknya sukses, jadi orang kaya, pintar atau hal-hal lain. Satu hal yang krusial kadang dikesampingkan: bahagia.

“Yaelah, siapa sih yang ga pengen anaknya bahagia?”

Iya, saya tau semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia. Tapi bahagia versi siapa? Tapi, apakah orang tua sudah cukup mensupport anaknya untuk jadi pribadi yang “berbahagia”?

Yang dilakukan para orang tua itu “memberikan kebahagiaan untuk si anak” atau “mendidik agar anak-anaknya bisa jadi pribadi yang berbahagia”?

Itu adalah 2 perspektif berbeda. Pernyataan pertama menurut saya kayak “menyuapi” si anak. Dengan begitu si anak kan bergantung pada orang tuanya.

Sedangkan pernyataan kedua itu lebih kepada “membimbing” si anak agar bahagia dengan caranya sendiri, tidak bergantung pada orang tuanya.

Ini catatan tersendiri buat saya di masa depan. Gimana caranya saya mendidik anak-anak saya nanti agar bahagia. Bukan cuma membahagiakan anak-anak saya.

Bahagia itu penting. Jadi, jangan lupa bahagia 🙂

#100DPS Day 61: Esensi Seorang Muslim

Sebagai seorang muslim, sejak kecil pasti kita diajarkan rukun iman dan rukun islam kan?

Layaknya pancasila yang hadir sebagai dasar negara, begitu pula rukun iman dan rukun islam. Apa-apa yang kita lakukan di negara ini berlandaskan 5 butir pancasila tersebut.

Begitupula seorang muslim, perbuatannya harusnya berlandaskan rukun iman dan rukun islam.

Just in case ada yang lupa, rukun iman isinya ini:

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada malaikat

3. Iman kepada kitab Allah

4. Iman kepada Rasulullah

5. Iman kepada hari kiamat

6. Iman kepada qodo dan qadar

Sedangkan rukun islam ada 5, yaitu:

1. Syahadat

2. Shalat

3. Puasa

4. Zakat

5. Haji bila mampu

Nah, belakangan ini saya menemukan peringatan untuk diri saya sendiri ketika membaca Al-qur’an. Beberapa hari saya membaca al-qur’an, saya selalu mendapati ayat yang serupa.

Bunyinya seperti ini “Wa aqiimusshalaata wa atuzzakaata” yang artinya “dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat”.

Maka kemudian saya berpikir. Allah sedang memberi saya peringatan. Hidup saya akhir-akhir ini kacau. Ada saja masalah datang.

Lalu saya sadar, shalat saya belum betul. Zakat saya ada yang terlewat. Astagfirullah..

Bersyukur sekali Allah masih memberi saya petunjuk.

Saya percaya, shalat dan mengaji adalah salah satu cara kita bisa “ngobrol” dengan Tuhan. Usai shalat saya berdoa, minta sama Allah. Kemudian mengaji, dan Allah memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Sesimpel itu saja.

Dan ternyata saat diikuti, hidup saya berangsur-angsur membaik. Berkah Allah berdatangan. Yang harus disadari adalah, berkah atau rezeki tidak selalu harus dalam bentuk uang/harta ya. Allah juga memberikan berkah dan rezeki dalam bentuk orang-orang yang perduli dengan kita, atau mungkin kelancaran urusan. Berkah Allah itu luas sekali.

Nah jadi pelan-pelan mulai belajar dari awal lagi. Kayak baru masuk TK lagi rasanya, saya belajar menerapkan rukun iman dan rukun islam dalam kehidupan.

Karena sesungguhnya, menurut saya, itulah esensi seorang muslim.

That’s why kita akan banyak mendapati ayat-ayat seperti itu dalam Al-qur’an.

Semoga bermanfaat 🙂

#100DPS Day 57: Saya Mengajar Bukan Agar Dapat Uang

Sabtu, 2 Mei 2015

Selamat Hari Pendidikan Nasional, untuk seluruh masyarakat Indonesia!

Buat saya, pendidikan itu penting sekali. Kenapa?

Menurut saya, satu cara untuk keluar dari keterpurukan adalah dengan mendapatkan pendidikan.

Saya punya cita-cita. Saya ingin membangun sekolah untuk masyarakat yang kurang mampu. Karena saya tau rasanya kesulitan secara keuangan buat dapat pendidikan. How lucky I was, ada tangan dermawan yang mau menolong saya.

Jadi, entah gimana caranya, saya akan cari jalan supaya suatu saat cita-cita saya bisa jadi kenyataan. Aamiin.

Sekarang, status saya masih mahasiswa. Tapi itu nggak membuat saya diam tanpa aksi. Saya mulai langkah awal saya dari sini.

Saya sudah 2 tahun bekerja sebagai guru bahasa Inggris di suatu lembaga di Bandung. Ngapain?

Cari uang? Iya emang sih, ga dipungkiri. Tapi tujuan utamanya bukan itu.

Lebih dari uang, saya dapat banyak hal selama saya mengajar.

Pengalaman, latihan kesabaran, latihan bekerja di bawah tekanan, dituntut untuk kreatif, belajar mengatur waktu, bahkan latihan mengasuh anak hahaha.

Semua itu lebih dari apa yang saya terima sebagai gaji saya.

Banyak kejadian unik yang saya alami selama mengajar. Dari mulai dipanggil “mister” (padahal kan cewek :””), cerita-cerita sama murid yang pada ABG, ngajarin anak kuliahan yang ternyata cuma beda setahun sama saya, sampai nyebokin murid yang masih TK. Ada-ada aja deh pokoknya.

But after all, I enjoy doing it because I’m passionate in learning and sharing. 

Juga, ini adalah salah satu bentuk kontribusi saya buat mencerdaskan kehidupan bangsa.

And here are my students:

Murid-murid yg suka manggil saya “mister”

Dari mengajar, ternyata saya yang lebih banyak belajar 🙂

Kalo kamu, udah kontribusi apa? 🙂

#100DPS Day 56: Stephen Hawking’s Good Quote

Saat itu saya lagi iseng buka-buka jejaring sosial Path, kemudian menemukan postingan teman saya yang isinya seperti ini:

  

Tertarik, saya membuka link yang ia share di sini: http://www.buzzfeed.com/lanesainty/in-zayn-i-have-struggled?bffb

Artikel itu membahas tentang sebuah seminar di Sydney Opera House, dimana Stephen Hawking menjadi pembicara dalam seminar itu namun dalam bentuk Hologram. Hawking yang pada saat itu berada di Universitas Cambridge UK membahas mengenai misteri tentang alam semesta, bagaimana rasanya didiagnosa terkena penyakit ALS, dan tentang masa depan planet kita.

Hawking berpendapat bahwa dalam kurang dari 1000 tahun lagi, kemungkinan besar manusia akan pindah ke planet lain.

Dari pembahasan tersebut, muncul beberapa pertanyaan dari peserta. Namun ada satu pertanyaan yang menarik bagi Hawking. Tak disangka, si peserta justru menanyakan tentang hubungan keluarnya Zayn Malik dari One Direction dengan efek kosmologis yang terjadi karena miliaran remaja patah hati.

“What do you think is the cosmological effect of Zayn leaving One Direction and consequently breaking the hearts of millions of teenage girls across the world?”

Kalo saya yang menerima pertanyaan seperti ini, saya mungkin bilang bahwa itu semua nggak ada hubungannya. Tapi lain dengan Hawking, ia justru menanggapi positif pertanyaan tersebut. Jawabannya pun sangat brilian,

“Finally, a question about something important,” he said.

“My advice to any heartbroken young girl is to pay close attention to the study of theoretical physics. Because one day there may well be proof of multiple universes.

“It would not be beyond the realms of possibility that somewhere outside of our own universe lies another different universe.”

“And in that universe, Zayn is still in One Direction.”

It got better still for the questioner. “This girl may like to know that in another possible universe, she and Zayn are happily married,” Hawking added.

Begitu katanya.

Tapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan di tulisan kali ini.

Mari kita baca dari awal artikel tersebut. Memang main idea dari artikel itu adalah menyampaikan respon Hawking terhadap pertanyaan tentang Zayn Malik. Namun di sela-sela artikel tersebut, terselip kata-kata yang menurut saya bijaksana.

“So remember to look up at the stars and not down at your feet. Try to make sense of what you see and wonder about what makes a universe exist. Be curious. And however difficult life may seem, there is always something you can do and succeed at. It matters that you don’t just give up.”

Dalam keterbatasannya karena mengidap penyakit ALS, Hawking tidak berhenti untuk terus belajar. Terus mempertanyakan banyak hal. Bahkan, dengan apa yang ia suka, ia bisa memotivasi orang lain.

Intinya apa?

Jangan berhenti mencari. Jangan menyerah. Karena walaupun susah, pasti setidaknya ada sesuatu yang kita bisa lakukan dan bermanfaat untuk orang lain 🙂

Sometimes

Sometimes in life you will not get what you want. But God knows everything, every single little detail of what is good for you and what’s not. And God will not give you something you can’t handle.

I’ve been through hard times. And it makes me learn that when you really love something, you will have faith. Whether it means you have to wait, you’ll get yourself hurt, or maybe even worse.

But, you know what? There must be something. There must be a reason for anything. You might ask “why did this happen to me?” or whatsoever. And when you begin to ask that question, it means the answer is almost near.

Bad things surely will come. But it doesn’t mean you have to throw all your good things, right? So don’t be so selfish. Come on, grow up! Get a life! Just remember, whenever you feel down, you just need a company.

I found sharing is really interesting. I mean, you can tell someone about your experiences so that they won’t take the wrong path you’ve taken, while you also get other’s experience and vice versa.

Everybody has problems, and you don’t know what they’ve been through. So do not ever underestimate someone. EVER! You’ve never walked on their shoes. You don’t know that they’ve been struggling to death to get their life back.

So can you just be grateful for what you have now, and for every little thing you’ve achieved? It’s not difficult, isn’t it?

Lucky me, I have a bunch of friends who really care for me. They’re not just saying “I’m your friend”, “you can count on me”, “I love you”, or something. They show me! They proved that they love me. And I know that they love me without saying that words.

And thanks, for everyone who has done something that hurts me. Seriously, I thank you for that. Because, you know what? Without you, I’ll never learn anything. And I will not have something to share. Right?

So, today is gonna be a Free-day Friday for me. Have a good one for you! 😀