Radio Rusak

Malam ini sunyi

Semuanya terdiam

Semuanya bisu

Kecuali isi kepalaku

Bising suara seperti radio rusak

Menyeruak memaksa

Tak henti

Tak memberi ruang bagiku untuk mencerna

Apa yang sebenarnya kau coba katakan?

Advertisements

Si Pemecah Ombak

Dia datang lagi

Si pemecah ombak

Yang berlari sekuat tenaga

Lalu hancur berkeping-keping

Sudahkah?

Dekat denganMu itu tidak cukup

Dan tidak akan pernah cukup

Karena dekat itu berjarak

Aku ingin menyatu

Menjadi sebagian dariMu

Karena ini bukan perkara

“Siapa yang paling dekat dengan Tuhannya”

Tapi siapa yang merasakan keberadaan Tuhan dalam dirinya

Melebur dalam setiap kata yang ia ucap

Bukan cuma objek ucapanmu!

Tuhan itu kamu

Tuhan itu aku

Tuhan itu kita

Sudahkah kau merasakannya?

Dikutip dari beberapa carik kertas berisi puisi, yang kutemukan terselip di lemari. Ternyata aku pernah menulis seperti ini?

Menerka

Mengapakah kita sibuk,

Menerka-nerka,

Mereka-reka,

Dengan jumawa berkata,

“Akulah yang paling dekat dengan Tuhan”.

Nyatanya apa?

Kau ajak Dia bicara pun, tidak.

Bagaimana jika,

Yang kau kira tak kenal Tuhan itu

Kini sedang asyik bercengkerama denganNya?

Diam-diam, bersembunyi

Mereka tak ingin didengar yang lain

Kadang sedikit tertawa

Melihat tingkahmu

Belingsatan sendiri

Menerka-nerka,

Mereka-reka