Mengalahkan Diri Sendiri

Dulu, kita berpikir “musuh” adalah sesuatu atau seseorang yang mengganggu kehidupan kita.

Bagaimanapun caranya, kita harus mengalahkan si musuh itu.

Tapi semakin dewasa, musuh kita semakin berkurang.

Kita telah berhasil melawan musuh-musuh kita di masa lampau. Sehingga musuh kita kini hanya tersisa satu.

Dia inilah musuh yang paling sulit dikalahkan. Padahal, kita tau semua kelemahan dan kekuatannya. Tapi kok ya susah banget ngalahinnya? Memangnya siapa dia?

Ourself.

Yep, you are your own worst enemy.

The older you get, the more you have to learn to defeat yourself. It is indeed for your own sake.

You set your goal, but do you do what it takes to achieve it?

What have you done?

What do you spend your time for?

What holds you back?

It’s yourself. Your excuses.

Don’t you think so?

So, are you gonna keep doing it?

Beat yourself. Now.

#100DPS Day 93: Teka-Teki Semesta

Kalau kamu duduk sendiri disituDan berpikir semesta melihatmu

Maka lihatlah ke atas

Kau temui sepasang mata

Menatapmu dengan seksama


Dia bertanya

Ada apa dalam pikiranmu?


Sementara kamu di bangku itu hanya melamun


Membiarkan semesta penuh tanya

Tak peduli langit menebak-nebak


Kamu tetap disitu


Membuat semesta asik dengan teka-tekinya


Tentang kamu

#100DPS Day 78: Bukan

Aku tak mengerti

Pada yang mana kau tak akan menyerah

Hingga beribu dasawarsa pun

Isi kepalamu tetap akan jadi rahasia bagiku

 

Sepuluh

Dua puluh

Bahkan tiga puluh tahun lagi pun

Jika jejak itu tidak terbakar

Maka ia tidak punah

 

Namun mengertilah

Bahwa kita hanya punya jejak kaki

Tapi tidak pernah tiba

Ke tujuan yang aku perkirakan

 

Aku,

Bukan kita.

#100DPS Day 62: What’s Inside The Children’s Head?

Ever wonder what’s inside the children’s head? How do they think? Do they have a lot of questions?

  
Saya termasuk orang yang suka sama anak kecil. Bukan, bukan pedofil. Tapi suka main sama anak kecil.

  
I can be so friendly with kids.

Pagi tadi saya melaksanakan shalat Idul Fitri di halaman masjid dekat rumah. Banyak ibu-ibu yang turut serta membawa anaknya. Ya abis kalo ditinggal di rumah kasian kan anaknya.

Anak-anak kecil yang ikut rata-rata umurnya di bawah 2 tahun. Jadi lagi lucu-lucunya gitu.

Sembari menunggu waktu sholat mulai, saya memperhatikan tingkah laku anak-anak itu. Ada yang duduk manis di sebelah ibunya. Ada yang keliling-keliling nggak bisa diem. Ada juga yang memperhatikan sekitar, seperti yang saya lakukan.

Saya jadi mikir, how do the kids think?

What is inside their head?

Mungkinkah isinya pertanyaan-pertanyaan? 

“Wah benda apa itu yang terbang-terbang?”

“Ih itu siapa yang duduk di pojokan?”

“Wow benda apa ini kok dimakan rasanya enak?”

Ataukah isinya prasangka-prasangka?

“Ih itu orang bajunya aneh”

“Duh tante ini cerewet”

Hahaha kadang saya sering bertanya-tanya apa isi pikiran mereka.

Yang jelas, anak-anak itu jujur. They love what they love, and they hate what they hate.

They’re still true to themself.  

 Are you still true to yourself? πŸ™‚

#100DPS Day 58: Malu Minta Maaf

Suatu sore, saya lagi duduk manis di depan komputer di tempat fotokopi dan print sekitaran kampus. Lagi nungguin ngeprint ceritanya.

Di sebelah saya ada sepasang cowo-cewe yang berisik banget, perkara ngeprint tugas aja si cowo marah-marah sama ceweknya gara-gara typo. 

Cowo: ah, salah ketik nih! Benerin benerin!

Cewe: kan tadi aku udah bilang cek dulu sebelum print.

Cowo: ah gimana sih! Udah buruan benerin!

Duh bro, punya tangan kan? Kerjain tugas sendiri lah -_-

Ga cuma itu, di depan etalase berdiri seorang bapak-bapak yang usianya sekitar 40-50 tahunan lah. Si bapak lagi menunggu abang fotokopian yang sedang mengerjakan orderannya. Kayaknya sih suruh ngejilid atau apa gitu.

Tiba-tiba si bapak bilang gini..

Bapak: lho itu jangan digituin!

Abang: biar sekalian pak..

Bapak: beda itu beda, jangan disatuin. Kamu nggak ngerti ya apa yang saya bilang?!

Begitu ujar si bapak dengan nada suara yang meninggi.

Si abang pun memberikan pembelaan..

Abang: bukan pak ini biar sekalian aja, nanti dipisah lagi.

Bapak: oh gitu.. Yasudah, maafin saya ya.

Wah, lihatkah sesuatu disitu?

Dari percakapan di atas saya menangkap ada perbedaan antara si cowo dan bapak-bapak. Yaitu yang satu muda yang satu tua wkwkwk.

Becanda deng.

Bedanya adalah, si cowo gamau mengakui kalo kesalahan yang terjadi disitu juga kesalahannya. Sedangkan si bapak-bapak, mau mengakui kalau dia salah dan meminta maaf atas kesalahannya.

Mungkin kata-kata si bapak memang kasar dan bernada tinggi. Benar-benar seperti orang marah. Tapi setelah dia mendengar pembelaan si abang fotokopi, dia tau bahwa yang ia sangka itu tidak benar. Maka itu ia meminta maaf.

Dipikir-pikir, sekarang itu susah ya nemu orang yang mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Kebanyakan orang gengsi kalo tau mereka salah. Bukannya minta maaf malah balik menyalahkan, atau ya diam aja.

Tapi hati-hati, yang jadi sasaran bisa jadi sakit hati loh. 

Apa susahnya sih minta maaf? Nggak ngeluarin duit padahal -_-

Dari situ saya belajar, lain kali kalo ada kesalahan ya akui saja. Minta maaf. Bersyukurlah kalo masih diingatkan mana yang benar.

Karena sesungguhnya yang lebih buruk adalah saat kita dibiarkan terjatuh dalam kesalahan.

#100DPS Day 56: Stephen Hawking’s Good Quote

Saat itu saya lagi iseng buka-buka jejaring sosial Path, kemudian menemukan postingan teman saya yang isinya seperti ini:

  

Tertarik, saya membuka link yang ia share di sini: http://www.buzzfeed.com/lanesainty/in-zayn-i-have-struggled?bffb

Artikel itu membahas tentang sebuah seminar di Sydney Opera House, dimana Stephen Hawking menjadi pembicara dalam seminar itu namun dalam bentuk Hologram. Hawking yang pada saat itu berada di Universitas Cambridge UK membahas mengenai misteri tentang alam semesta, bagaimana rasanya didiagnosa terkena penyakit ALS, dan tentang masa depan planet kita.

Hawking berpendapat bahwa dalam kurang dari 1000 tahun lagi, kemungkinan besar manusia akan pindah ke planet lain.

Dari pembahasan tersebut, muncul beberapa pertanyaan dari peserta. Namun ada satu pertanyaan yang menarik bagi Hawking. Tak disangka, si peserta justru menanyakan tentang hubungan keluarnya Zayn Malik dari One Direction dengan efek kosmologis yang terjadi karena miliaran remaja patah hati.

“What do you think is the cosmological effect of Zayn leaving One Direction and consequently breaking the hearts of millions of teenage girls across the world?”

Kalo saya yang menerima pertanyaan seperti ini, saya mungkin bilang bahwa itu semua nggak ada hubungannya. Tapi lain dengan Hawking, ia justru menanggapi positif pertanyaan tersebut. Jawabannya pun sangat brilian,

“Finally, a question about something important,” he said.

“My advice to any heartbroken young girl is to pay close attention to the study of theoretical physics. Because one day there may well be proof of multiple universes.

“It would not be beyond the realms of possibility that somewhere outside of our own universe lies another different universe.”

“And in that universe, Zayn is still in One Direction.”

It got better still for the questioner. β€œThis girl may like to know that in another possible universe, she and Zayn are happily married,” Hawking added.

Begitu katanya.

Tapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan di tulisan kali ini.

Mari kita baca dari awal artikel tersebut. Memang main idea dari artikel itu adalah menyampaikan respon Hawking terhadap pertanyaan tentang Zayn Malik. Namun di sela-sela artikel tersebut, terselip kata-kata yang menurut saya bijaksana.

“So remember to look up at the stars and not down at your feet. Try to make sense of what you see and wonder about what makes a universe exist. Be curious. And however difficult life may seem, there is always something you can do and succeed at. It matters that you don’t just give up.”

Dalam keterbatasannya karena mengidap penyakit ALS, Hawking tidak berhenti untuk terus belajar. Terus mempertanyakan banyak hal. Bahkan, dengan apa yang ia suka, ia bisa memotivasi orang lain.

Intinya apa?

Jangan berhenti mencari. Jangan menyerah. Karena walaupun susah, pasti setidaknya ada sesuatu yang kita bisa lakukan dan bermanfaat untuk orang lain πŸ™‚

#100DPS Day 55: The Whole Life in One Day

Salah satu hal yang belakangan ini suka sekali saya lakukan adalah mengamati.

Sore itu, sepulang bimbingan saya dan Farid jalan-jalan. Meskipun cuaca sedang tidak mendukung, karena saat itu hujan baru saja usai dan masih menyisakan rintik kecil serta jalanan yang basah.

Sebenarnya saya sih suka suasana sehabis hujan seperti itu hehehe.

Niatnya, kami mau jalan-jalan sore ke taman film. Dengan tujuan mau nyari anak kecil disana, karena biasanya kalau sore sering banyak anak kecil yang main disana. Namun apadaya, kami berangkat terlalu sore (magrib malah) jadi kayaknya bocah-bocah itu juga udah pulang.

Akhirnya kita pindah haluan. Karena lapar, kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran vegetarian di Bandung. 

Lalu disana, kami bertemu dengan sepasang kakek-nenek yang sedang makan. Usai makan, saya tak lepas pandang dari pasangan manula itu. Mereka terlihat…….. so sweet.

Saya mengamati cara kakek itu memandang si nenek. Suatu pandangan yang sangat dalam. Pandangan yang mungkin saja sudah dilakukannya sepanjang usia pernikahan mereka. Pandangan yang menyiratkan rasa kasih yang sudah tak perlu dipertanyakan.

Saat itu saya merasa terenyuh. Rasanya seperti ikut merasa disayangi.

Beberapa kali saya menyelingi dengan ngobrol sama Farid. “Kakek-nenek yang di sebelah itu unyu banget yah, aku jadi terharu deh.” Begitu kataku, sambil sedikit menyeka air mata.

Kemudian kami beranjak menuju Masjid Agung untuk menunaikan ibadah sholat Isya. Setelah sholat, kami duduk-duduk di taman Masjid. Iya, duduk-duduk doang.

Berjam-jam kami lewatkan hanya sekedar memperhatikan sekitar. Kala itu taman masjid tidak begitu ramai, mungkin karena udara saat itu cukup menusuk tulang. Namun kami masih bisa menjumpai beberapa orang yang mengajak anak-anaknya main di taman.

Lucu banget ngeliatin anak kecil lari-lari di taman, ada yang main bola juga. Kami memperhatikan mereka dengan takjub, “kok ada ya makhluk kecil-kecil gitu? Hahaha” ujar saya.

Sesekali saya menatap ke langit, kemudian kembali memperhatikan orang-orang di sekitar. Refreshing otak banget.

Hari itu, kami melihat hidup berjalan. Kami melihat bagaimana kehidupan anak kecil, kami menjalani kehidupan sebagai anak muda, kami memperhatikan hidup orang-orang dewasa, kami pun menyaksikan pasangan lanjut usia.

If you look deep enough, deeper than usual, you can refresh and reflect in one time. Banyak hal yang bisa kamu dapatkan dari memperhatikan. Tak ada salahnya sesekali menghabiskan waktu untuk melihat hal-hal menarik di sekitar kita πŸ™‚

Saya rasa setelah ini, saya akan lebih banyak memperhatikan.

 

Kids. Original pic by: me