Pentingnya Berbagi

Jika ada satu nilai kehidupan yang melekat di benak saya, itu adalah pentingnya berbagi, yang entah sengaja atau tidak, telah ditanamkan oleh orang tua saya.

—-

Setiap keluarga pasti memiliki nilai-nilai yang mereka junjung tinggi dan pegang teguh. Misalnya, nilai-nilai kejujuran, pantang menyerah atau kerja keras.

Di keluarga saya, nilai itu adalah “pentingnya berbagi”.

—-

Dulu, waktu saya masih kecil, ayah saya selalu mengajak saya berbelanja baju jika sudah mendekati hari lebaran. Tapi saya heran, kok beli bajunya banyak sekali? Dan baju yang dibeli itu kemeja bapak-bapak semua, pikirku.

Kami pulang dari Pasaraya Blok M membawa dua bungkus kantong plastik besar yang terisi penuh dengan kemeja.

Saya masih tidak mengerti, untuk apa ayah saya membeli baju sebanyak itu? Modelnya sama semua, hanya beda motif atau warna.

—-

Besoknya, ayah saya datang naik becak bersama berkardus-kardus biskuit kaleng, sirup, gula, teh dan berbagai sembako lainnya.

Saya lebih bingung lagi. Tapi saya senang sekali, karena saya pikir, biskuit-biskuit itu untuk saya. Ternyata bukan.

—-

Siang itu, ayah saya duduk manis di ruang tengah sembari memasukkan botol sirup, gula, biskuit dan kemeja itu ke dalam kantong plastik. Terus seperti itu, sampai ruang tengah kami tertutup kantong plastik. Saya pun ikut membantu. Saat itu, saya masih belum mengerti untuk apa itu semua. Ayah saya hanya bilang “kalau punya rejeki itu harus dibagi-bagi”.

—-

Keesokan harinya, beberapa orang datang ke rumah saya. Ada tukang becak, tukang ojek, tukang sampah, tukang pijit, bahkan tukang sayur. Mereka silih berganti datang ke rumah saya, kemudian ayah saya memberikan bungkusan plastik itu kepada orang-orang yang datang. Lalu mereka pulang dengan wajah cerah dan sumringah.

Hari itu, saya akhirnya mengerti untuk apa bungkusan-bungkusan itu. Dan setiap tahunnya pun selalu seperti itu, seakan sudah menjadi tradisi.

—-

Suatu ketika, kondisi ekonomi keluarga kami sedang goyah. Ramadhan kali itu, ayah saya tidak bisa membelikan bingkisan lebaran untuk orang-orang. Saya sudah cukup besar untuk mengerti permasalahan itu.

Saya melihat raut wajah ayah yang sedih dan lesu. Ayah sempat tak mau keluar rumah, karena tak sanggup jika bertemu orang-orang yang biasa ia undang ke rumah untuk diberi bingkisan. Ia tak sanggup melihat wajah penuh harap mereka, katanya.

—-

Ketika kondisi ekonomi keluarga kami perlahan pulih, kami melanjutkan tradisi itu kembali. Hingga tahun ini.

—-

Mama saya pernah berkata, “selagi kita punya kesempatan untuk membantu orang lain, kita harus bantu. Karena kalau pas ada orang yang lagi membutuhkan trus kita nggak bisa bantu, itu tuh rasanya sedih banget. Jadi kalau ada kesempatan, bantu. Sebisa mungkin.”

—-

Nilai itulah yang lekat di hati saya, yang diajarkan orang tua saya sedari kecil.

Advertisements

Job-Hunter vs Recruiter Point of View: Sulitnya Mendapat Pekerjaan

Adalah wajar ketika sayaย mengatakanย bahwa mencari pekerjaan itu tidak mudah. Tentu banyak yang sepakat dengan hal ini.

Tapi ada sesuatu yang mengusik pikiran saya. Muncul pertanyaan di benak saya, benarkah mencari pekerjaan sesulit itu? Kalo iya, kenapa ya? Apa kira-kira penyebabnya?

Memangnya berapa sih jumlah pengangguran di Indonesia saat ini?

Februari 2017 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan informasi berikut:

  • Jumlah angkatan kerja: 131,55 juta orang
  • Jumlah penduduk bekerja: 124,54 juta orang
  • Jumlah pengangguran: 7,01 juta orang

Gilak men, itu kan banyak banget. And to put it into context, emangnya berapa jumlah lapangan pekerjaan yang ada saat ini?

Saya belum menemukan datanya untuk skala nasional, tapi kita ambil contoh berdasarkan data yang didapat dari acara bursa kerja yang ada di Kota Tangerang Selatan ini:

  • Jumlah penduduk usia produktif: 880.000 orang
  • Jumlah penduduk tidak bekerja dan sedang mencari kerja: 42.000 orang
  • Jumlah lapangan pekerjaan tersedia: 10.081 orang

Jadi, jumlah lapangan pekerjaan yang ada hanya 24%ย  alias seperempat dari total pencari kerja.

Perbandingannya 1:4. Dari 4 orang pelamar, hanya 1 yang diterima. 3 orang lagi ya balik jadi pengangguran dulu. Dunia memang kejam.

Saya sendiri termasuk orang yang cukup beruntung, karena langsung mendapat pekerjaan segera setelah lulus kuliah. Sekarang, saya sudah 2 tahun bekerja di perusahaan ini. Namun sayangnya, tidak sedikit juga teman-teman seangkatan saya yang hingga kini belum mendapatkan pekerjaan.

Kadang saya suka heran, ini orangnya yang pilih-pilih banget ketika nyari kerja, perusahaan yang dia lamar memang ketat banget persyaratannya, si orangnya yang memang kurang dari sisi skill nya, atau emang belum jodoh aja sama kerjaannya?

Pasti masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kenapa seseorang belum mendapatkan pekerjaan.

Hingga akhirnya beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melihat permasalahan ini dari sisi seorang recruiter.

Saya dan rekan satu tim saya ditugaskan oleh Manager kami untuk merekrut orang baru ke dalam tim. Manager saya tidak memberi syarat yang muluk-muluk, karena memang menarget anak-anak freshgraduate, yang notabene belum punya banyak pengalaman kerja.

Kami sempat kebagian mewawancarai dan memberikan tes kepada para pelamar kerja. Dari situ saya bisa mengambil asumsi, kenapa sih jumlah pengangguran itu banyak banget dan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan itu ketat banget. Beberapa faktor yang menyebabkan seorang pelamar tidak diterima menurut opini pribadi saya berdasarkan hasil wawancara kemarin adalah:

1.Kurangnya Hard Skill

Para pelamar pada umumnya memasukkan kemampuan/keterampilan mereka di dalam CV. Mulai dari kemampuan dasar pengoperasian komputer, kemampuan menggunakan tools dasar seperti Microsoft Office, hingga tools spesifik seperti software/aplikasi pengolahan data tertentu. Namun pada kenyataannya, ketika di tes, mereka tidak bisa menunjukkan kemampuan-kemampuan dasar yang dibutuhkan. Sungguh sangat disayangkan.

2. Kurangnya Kemampuan Berbahasa Asing

Kita begitu terlena karena sehari-hari menggunakan bahasa Ibu, sehingga tidak mau mengasah keahlian kita dengan bahasa asing. Masalahnya, di era globalisasi seperti sekarang, kemampuan bahasa asing ini bisa dibilang sudah menjadi kewajiban. Tidaklah harus kita sangat ahli, sampai cas-cis-cus ketika berbicara. Tapi setidaknya kita bisa memperkenalkan diri kita dalam bahasa Asing, untuk memberikan kesan yang baik kepada pewawancara. Jadi jika kamu membaca tulisan ini, sebaiknya mulailah belajar berbahasa asing. Mungkin bisa dimulai dari mengganti settingan bahasa di HP kamu jadi bahasa Inggris ๐Ÿ™‚

3. Kurangnya Kemampuan Berkomunikasi

Seringkali saya dan tim menemukan pelamar kerja yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, menuliskan berbagai software/aplikasi yang bisa ia gunakan, namun ketika diminta untuk berbicara, ia tidak mampu menyampaikan value dari dirinya sendiri. They can’t make us understand what they’re worth. Bagaimana kami bisa percaya kalau IPK itu tidak didapatkan dari hasil nyontek? Bagaimana kami bisa percaya kalau berbagai software itu benar-benar pernah kamu gunakan? Atau dalam beberapa kasus, kami memang tidak menjadikan IPK sebagai dasar dalam seleksi, lalu bagaimana kami bisa tahu kemampuan seseorang kalau ia sendiri tidak mampu menjelaskan nilai lebih yang ia miliki?

Beberapa kemampuan yang saya sebutkan di atas adalah masalah yang paling umum dan banyak terjadi pada pelamar kerja. Diluar faktor hoki atau berjodoh sama pekerjaan, kemampuan-kemampuan di atas sebenarnya dapat diasah untuk meningkatkan kualitas diri.

Jadi kesimpulannya kesulitan mencari pekerjaan tidak hanya disebabkan oleh jumlah lapangan pekerjaan yang sangat kurang, tapi juga kualitas sumber daya manusia itu sendiri yang masih perlu banyak ditingkatkan.

Karena nyatanya ada saja orang-orang yang malah jadi rebutan di perusahaan-perusahaan besar, dan perusahaan pun rela membayar mahal untuk mempekerjakan orang tersebut.

Bersyukurlah kalian yang sudah mendapatkan pekerjaan.

Bagi kalian yang belum mendapat pekerjaan, teruslah berusaha dengan meningkatkan kemampuan kalian dan tentu saja jangan lupa berdoa ya! ๐Ÿ™‚

 

GOOD LUCK! ๐Ÿ™‚

 

Menjadi Dosen

“Belajar nggak usah pinter-pinter, kalo kepinteran ntar ujung-ujungnya malah jadi dosen doang”

“IP nggak usah tinggi-tinggi, biasanya di kelas yang IP nya tinggi cuma jadi dosen”

“Kalo di kelas tuh yang nilainya tinggi biasanya jadi dosen, sedangkan yang nilainya biasa aja malah jadi donatur”
Saya tidak bisa sebutkan orang-orang yang meluncurkan pernyataan-pernyataan di atas, tapi saya yakin kalian semua pasti pernah mendengarnya setidaknya sekali.

Saya secara pribadi tidak bisa sepakat dengan pernyataan di atas. Alasannya?

1. Pernyataan di atas seakan membentuk opini bahwa pekerjaan sebagai “Dosen” itu nggak ada keren-kerennya, membosankan, atau bukan termasuk pekerjaan yang jadi idaman.

Padahal, memang apa yang salah dengan pekerjaan sebagai dosen? Kok kayaknya unlikeable dan underrated banget?

Dosen itu kan guru juga. Sedangkan guru adalah profesi yang sangat mulia. Tanggung jawabnya pun besar sekali.

Dosen, seperti halnya seorang guru, punya tanggung jawab untuk mendidik dan menyampaikan ilmu. Ketika ilmu tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dapat memberikan penghidupan kepada banyak orang, bukankah pahalanya akan terus mengalir? Dalam agama islam, ini disebut amal jariyah atau amal yang sekali dilakukan, manfaatnya dapat dirasakan terus-menerus.

Bagaimana jika sedari awal seorang pelajar memang bercita-cita menjadi guru atau dosen? Memangnya salah?

Memangnya nggak boleh, kalo seorang pelajar itu bekerja keras mencari ilmu sebaik mungkin, mendapat nilai & prestasi secemerlang mungkin, dan meraih pendidikan setinggi mungkin supaya kelak ia bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya?

Bukankah segala dasar kemajuan dari suatu peradaban adalah kualitas sumber daya manusianya? ๐Ÿ™‚

2. Pernyataan di atas adalah sebuah pembenaran bagi orang-orang yang malas belajar.

Saya sepakat bahwa prestasi seseorang tidak hanya diukur dari sisi akademis. Saya juga sepakat bahwa nilai rapot atau IP bukanlah segalanya.

Tapi saya tidak sepakat jika ada yang menjadikan profesi dosen sebagai alasan untuk menolak rajin belajar. Soalnya ia takut kalo belajarnya terlalu rajin, ntar malah jadi dosen. Lho?

Gini, kalo ada yang masih di bangku sekolah atau kuliah, rajin-rajinlah kalian belajar. Karena memang di umur segitu, tugas utama kalian ya memang belajar. Belajar aja pokoknya, masalah nilainya bagus atau nggak mah itu urusan belakangan. Intinya semangat untuk mencari ilmu ini yang nggak boleh pupus.

Buat yang merasa nilainya nggak bagus-bagus amat ya nggak usah merasa inferior juga. Sekali lagi, nilai akademis bukanlah segalanya. Kita tetap bisa cari ilmu di bidang lain, yang nggak perlu pakai nilai rapor tapi tetap applicable di kehidupan sehari-hari.

Tapi kalo sampe berpikir bahwa “ah gue nggak usah belajar pinter-pinter lah, ntar kalo kepinteran malah jadi dosen doang” wah, sayang sekali. Soalnya dosen saya keren-keren dan nggak “doang”. Hehehe.

Atau menjudge seorang anak berprestasi di kelas “ah dia mah nilainya tinggi-tinggi gitu palingan ntar jadi dosen doang”. Hehehe, jangan seperti itu juga ya, kok kesannya nggak keren banget gitu profesi dosen. Padahal memang banyak pelajar yang nilainya tinggi-tinggi itu memang bercita-cita menjadi pengajar (dosen).

Sekali lagi, disini saya hanya ingin menyatakan opini bahwa profesi dosen adalah profesi yang mulia, seperti seorang guru. Profesi dosen juga nggak kalah keren kok dengan Dokter, Arsitek, Data Scientist, atau bahkan Direktur. Karena sebelum mereka-mereka berada di posisi tersebut, pasti mereka pernah menjadi pelajar yang diajar oleh seorang guru/dosen juga kan? ๐Ÿ™‚

Pesan sedikit:

ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุงูŽู†ู’ููŽุนูู‡ูู…ู’ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุงุณู

“Manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat”

Tips & Trik Tes IELTS

Beberapa waktu lalu saya ikut test IELTS untuk memenuhi syarat melanjutkan pendidikan. Ternyata harga yang harus dibayar untuk satu kali tes itu cukup mahal, 2,8jt saat itu. Buat saya sih angka segitu sangat-sangat nggak murah. Jadi saat itu saya bertekad untuk tidak gagal, supaya uang 2,8jt itu nggak sia-sia.

Sebelum tes, saya benar-benar menyempatkan belajar di tengah kesibukan kerja 8 to 5 saya. Untungnya manager saya baik, jadi saya bisa ikut workshop IELTS di jam 3 – 6 sore selama seminggu. Workshopnya pun nggak murah, 1,3jt untuk seminggu itu.

Nah, tapi menurut saya workshop ini berguna banget karena saya jadi tau cara ngejawab soal-soal IELTS. Supaya saya nggak lupa, dan supaya ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat buat orang lain, saya mau share tips & trik yang saya dapet selama workshop:

1. Reading Test

  • Banyak latihan soal! Seriously, kunci utamanya bener-bener banyak latihan soal. Supaya kita terbiasa ngebaca artikel bahasa Inggris dengan cepat tapi tetep ngerti maksudnya apa. Jangan lupa tandain kata-kata yang kamu ngga ngerti trus cari artinya di kamus.
  • Langsung baca soal, jangan baca artikel dulu. Nah ketika ngerjain soal, jangan dibaca dulu artikelnya. Sebaiknya langsung lihat soal, baru cari jawabannya di artikel. Kalo kata tutor saya sih “you are not reading for pleasure, you are reading to find the answer of the questions”.
  • Tebak jawaban. Kalo udah stuck banget, tebak aja jawaban yang kira-kira bener jangan sampe nggak dijawab. Toh kalo salah, nilainya ngga dikurangin. 

2. Listening Test

  • Banyak latihan soal! Masih sama, buat listening test ini, banyak-banyakin latihan soal. Cari aja di internet, banyak kok contohnya. Dan dengan latihan soal listening, kamu juga bakal belajar nulis jawaban lebih cepet hehehe.
  • Dengerin BBC UK News. Buat yang nggak biasa denger orang ngomong pake bahasa Inggris, tentu saja rasanya kayak denger kumur-kumur. Disinilah mesti latihan sering-sering dengerin orang kumur-kumur di BBC UK News. Karena sesungguhnya, pas di tes IELTS itu logatnya British banget.
  • Skip soal yang bikin pusing. Listening test ini butuh konsentrasi tingkat tinggi. Jadi sebaiknya kalo ada soal yang kamu ngga tau jawabannya, skip aja dulu. Ntar kalo udah selesai kejawab semua, boleh deh diinget-inget lagi kira-kira yang tadi jawabannya apa ya (semoga masih inget). Karena kalo kita stay di soal yang bikin pusing, nanti malah nggak konsen ngerjain soal selanjutnya.
  • Tebak jawaban. Lagi-lagi, kalo udah di skip masih bingung juga, yaudah tebak aja jawabannya. Siapa aja kamu lagi beruntung (it happened to me XP)

3. Writing Test

IELTS Writing Test itu terbagi jadi 2 task. Task 1 biasanya disuruh jelasin gambar, bisa berupa pie chart, line chart, workflow dan sebagainya. Task 2 biasanya disuruh memberikan opini atas suatu statement.

TASK 1

  • Introduction. Selalu mulai dari pengenalan, jelasin gambar itu tuh gambar apa, mengilustrasikan/menunjukkan apa, selama berapa banyak/lama. Misal: “the chart above shows the number of vehicle ownership for two decades from 1980 to 2000“.
  • Deskripsikan HANYA yang ada di gambar. Nggak perlu bikin-bikin asumsi berdasarkan gambar. Jangan sampai ada yang kelewatan. Misalnya di gambar line chart ada kenaikan, meskipun sedikit banget, tetep harus dijelasin.
  • Gunakan kata-kata formal. Sebisa mungkin gunakan kata-kata formal atau istilah akademik dalam tulisan kamu. Biar kamu keliatan pinter dikit gitu wkwk. Karena poin penilaian juga dilihat dari ragam vocabulary yang kamu tau.
  • Jangan mengulang kata. Mulai sekarang biasakan cari sinonim dari kata-kata. Misalnya “dramatically decreasing” bisa diganti dengan “plummeting”. Bisa buka di thesaurus.com ya buat cari sinonim.
  • Gunakan Grammar yang benar. Tutor saya bilang, “use past tenses, because whatever happened in the picture, it’s in the past, it’s already happened. That’s why they create a picture of it“. Tapi kalo misal gambarnya peta, sebaiknya ngga usah pake past tense sih. Ya disesuaikan aja. Intinya grammarnya harus benar.
  • Kesimpulan. Ini yang paling penting. Yang pertama dicari sama examiner adalah kesimpulan. Kamu harus menyimpulkan jadi intinya gambar ini tuh menceritakan apa? Misal: “In conclusion, the general trend of X is downward. However, in December it ended twenty points higher than when it started in January” .Kesimpulan bisa dimulai dengan kalimat “in summary” atau “in conclusion” atau cari contoh lain di internet banyak kok.
  • Harus 150 kata. Di task 1, kamu harus nulis minimal 150 kata. Jangan sampai kurang karena nanti nilainya minus.

TASK 2

  • Introduction. Sekali lagi, jangan lupa introductionnya!
  • Beri pandangan 2 sisi. Kalo disuruh menyampaikan opini, sampaikanlah pandangan dari 2 sisi dulu, positif dan negatifnya gimana. Plus minusnya gimana.
  • Nyatakan opinimu. Kalo ternyata kamu setuju, ya nyatakan bahwa kamu setuju dengan statement yang diberikan serta berikan alasan setujunya kenapa.
  • Kesimpulan. Ini penting banget, jadi jangan sampe nggak ada kesimpulannya ya!
  • Grammar. Cek lagi grammarmu sudah benar atau belum?
  • Jangan mengulang kata. Banyak-banyak belajar vocab ya biar kata-kata yang dipakai nggak itu-itu doang.
  • Harus 250 kata. Nah kalo untuk tadk 2 biasanya disuruh buat 250 kata. Jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin supaya bisa tercapai 250 kata, karena kalo kurang nanti nilainya minus.

4. Speaking Test

  • Gunakan kata & kalimat formal. Jangan coba-coba pakai slank ya (saya ngga sengaja ngomong “nope” ke examiner hehehe)
  • Pikir sebelum menjawab. Biasanya saat speaking test dikasih kertas kecil buat nulis poin-poin jawaban yang mau kita sampaikan. Jadi, manfaatkanlah sebaik-baiknya.
  • Stick to the topic. Jawab yang singkat padat jelas aja. Jangan sampe keluar dari topik pembicaraan.
  • Grammar yang benar. Sekali lagi, ketika kamu menjawab pertanyaan, gunakanlah grammar yang benar.
  • Lie a little. Kebanyakan orang zonk ketika ditanya sesuatu yang jawabannya sebenernyata ngga ada. Misal saya, disuruh deskripsiin sport facilities (cth: stadium, kolam renang, dll) yang ada di dekat rumah saya. Lha dekat rumah saya ngga ada sport facilities trus masa saya jawab aja “sorry I don’t have any sport facilities in my hometown” gitu? The examiner doesn’t care whether you really have it or not, they just want to test you to speak out correctly. Jadi saya bilang aja dekat rumah saya ada kolam renang, gedungnya warna ijo, kolamnya kotor, kalo weekend rame banget. Yea, they want this kind of answer.
  • Jangan panik. Tarik napas dalam-dalam sebelum tes. Ngga usah takut, examinernya nggak gigit kok. Kalo kamu degdegan, bilang aja “to be honest, I’m a little bit nervous”. Trus kalo di tengah-tengah penjelasan kamu disuruh berhenti, nggak usah baper dan panik. Bukan karena examinernya ngga mau denger jawaban kamu, tapi karena emang waktunya udah habis hehe.

Yha kira-kira begitulah tips yang saya dapat dari tutor dan dari pengalaman tes IELTS saya. Alhamdulillah hasilnya memenuhi ekspektasi saya jadi 2,8jt nya nggak sia-sia hehe. Semoga tipsnya bermanfaat ya!

Cheers!

PS: yang mau soal-soal latihan IELTS, feel free to leave your email on comment section ya.

He’s There To Support You


“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
***

Whenever you feel hopeless, Allah will always find a way to tell you, that He’s there all the time to support you.

TALK TO ME : Sebab Saat Depresi, Pikiran Untuk Bunuh Diri Itu Dekat Sekali.

One good thought. It reminds me to not judge people’s feeling. Alhamdulillah.

Catatan Mimi

23 November 2016.

Hari itu kota Bristol dikejutkan dengan berita meninggalnya 3 mahasiswa baru di kampus saya, University of Bristol. Yang lebih mengejutkan, mereka meninggal dengan cara bunuh diri! Memang, fenomena bunuh diri saat study ini tidak dipungkiri banyak terjadi. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh National Union of Students pada Desember 2015 menemukan bahwa 1/3 dari mahasiswa yang menjadi populasi penelitian mengaku pernah berpikir untuk bunuh diri dan 78% diantaranya disebabkan karena mental health problem seperti stress dan depresi. Tahun 2014, data dari Kantor Statistik Nasional Inggris melaporkan ada 130 kasus mahasiswa (fulltime students) bunuh diri di Inggris dan Wales (sumber : metro.co.uk). Dan baru baru ini saya dikejutkan oleh kabar salah satu mahasiswa Indonesia di Jerman yang akhirnya mengakhiri hidupnya, sebuah berita yang menyesakkan dada di awal tahun 2017 ๐Ÿ˜ข

Memang, memulai babak baru sebagai mahasiswa, terutama di luar negeri, dimana sistem pendidikan sangat berbeda dengan yang adaโ€ฆ

View original post 1,657 more words

New Year, New Atmosphere

I have spent the first two weekends of 2017 on one activity: re-decorating my room.

It’s all because I’ve spent too much time on Pinterest that it makes me want to do something with my room so bad. So for the last two months of 2016, I saved up my money to buy the materials I need to decorate my room.

My main concern were the floor and the wall. Previously, my daddy put a chessboard-patterned floor in my room. Which I really hate. It looked like this:

[Before] chessboard-patterned floor

Not only did I hate the pattern. But if you look closer, the black square has lined surface. Which is thicker than the white square, and obviously make it uneven. It is annoying.

The second is the wall. Since the other side of my room is directly exposed to open space, the wall has always been wet when it’s raining, and super dry when it’s hot outside.

As an impact, there’s so much mold on my wall. Which make it looks like a haunted house. And also, my wall had a mocca paint before. But since I change my floor with wooden pattern, the mocca color makes it feel hotter than it actually is. It looked like this:

Before: Molded wall
Before: the room

So after some hardwork and being broke (because I only have few of money to survive until payday), I’m so satisfied with my room right now. Here are the picture:

Hayo tebak kenapa disitu ada headlamp?

Fav spot! Anginnya kenceng juga ya

So that’s how my room look like right now. I still have some wishlist to complete, but I need to save up my money first hahaha.