Beasiswa: Sebuah Mimpi Yang Menjadi Nyata

Entah sejak berapa tahun yang lalu, saya memiliki mimpi untuk sekolah ke luar negeri dengan beasiswa. Jika tidak salah, mungkin sejak saya duduk di bangku SMP. Yang ada di pikiran saya saat itu mungkin seperti ini “gimana sih rasanya tinggal di luar negeri? gimana rasanya punya temen dari negara lain? susah ngga sih hidup sendiri, di negeri orang?”. Lucu juga ya, anak SMP bisa kepikiran kayak gitu.

Setiap saya berdoa, keinginan tersebut tidak pernah terlewatkan untuk saya ucap. Di setiap buku catatan yang saya miliki, “beasiswa S2 ke luar negeri” selalu bertengger sebagai bucket list saya.

Setelah lulus kuliah S1, saya mulai mencari-cari informasi mengenai beasiswa. Mencoba kesana kemari, bahkan ikut tes ini-itu yang dijadikan prasyarat untuk mendapatkan beasiswa. Semuanya saya ikuti. Semua persyaratan sudah saya kantongi. Perburuan beasiswa siap dimulai.

Sembari bekerja, saya mencoba peruntungan di berbagai beasiswa. Mulai dari beasiswa yang ditawarkan pemerintah Indonesia, hingga yang ditawarkan oleh lembaga lain di luar negeri. Semuanya saya coba, selama dua tahun.

Namun titik terang belum juga terlihat. Kegagalan selalu datang. Di awal kegagalan, saya merasa sangat sedih. Tetapi setelah kegagalan kedua, ketiga, dan selanjutnya, sungguh, rasanya biasa saja! Hingga akhirnya saya mulai merasa lelah di akhir tahun kedua percobaan. Rasanya ingin menyerah saja. Saya bahkan bilang ke Farid kalau saya lelah, saya mau menyerah saja. Tapi Farid selalu bilang “coba lagi, ngga apa-apa, jangan nyerah dulu”. Dengan kata-kata itulah saya bertahan.

Kemudian suatu hari salah seorang sahabat saya memberitahu soal beasiswa dari pemerintah Hungaria. Dia bilang “ini cocok nih kayaknya buat lo, apply gih”. Ketika saya lihat pengumuman beasiswa itu, ternyata batas waktu pendaftarannya tinggal dua hari lagi! Yang benar saja! Kala itu saya sudah hampir putus asa dan rasanya malas sekali untuk mendaftar. Tapi entah mengapa, perasaan saya (ciye) berkata lain. Dalam hati saya berucap “coba aja deh, kali aja rejekinya disini”. Akhirnya di waktu yang sempit itu saya mencoba mendaftarkan diri dan mempersiapkan segala hal yang memungkinkan untuk dipersiapkan.

Ternyata dengan segala harap, doa, dan usaha, aplikasi beasiswa saya lolos tahap pertama. Tapi saya belum bisa berbangga diri, karena hal itu sering terjadi. Kegagalan di tahap akhir seleksi sudah jadi makanan saya. Sehingga saya menjalani proses seleksi ini seperti biasa. Eh ternyata, lolos lagi ke tahap selanjutnya.

Hingga suatu hari di bulan ramadhan, ketika saya sedang menunggu bis, saya iseng-iseng melihat kotak masuk email saya. Waw! Sebuah pengumuman beasiswa! Alhamdulillah, saya diterima! Sungguh rasanya senang bukan main, saya langsung memberitahu orang-orang terdekat saya.Kadang sampai hari ini, ketika saya sudah memulai perkuliahan pun, saya masih tidak percaya bahwa berhasil. Sungguh, keberhasilan akan datang ketika kita tidak menyerah pada keadaan. Sekarang saya sepenuhnya meyakini bahwa itu bukan sekedar kata-kata manis di kutipan buku.

Mungkin di waktu senggang lainnya nanti, saya akan banyak bercerita mengenai perjalanan saya ini. Sekarang saya sudahi dulu, sampai jumpa di cerita berikutnya.

Advertisements

Pentingnya Berbagi

Jika ada satu nilai kehidupan yang melekat di benak saya, itu adalah pentingnya berbagi, yang entah sengaja atau tidak, telah ditanamkan oleh orang tua saya.

—-

Setiap keluarga pasti memiliki nilai-nilai yang mereka junjung tinggi dan pegang teguh. Misalnya, nilai-nilai kejujuran, pantang menyerah atau kerja keras.

Di keluarga saya, nilai itu adalah “pentingnya berbagi”.

—-

Dulu, waktu saya masih kecil, ayah saya selalu mengajak saya berbelanja baju jika sudah mendekati hari lebaran. Tapi saya heran, kok beli bajunya banyak sekali? Dan baju yang dibeli itu kemeja bapak-bapak semua, pikirku.

Kami pulang dari Pasaraya Blok M membawa dua bungkus kantong plastik besar yang terisi penuh dengan kemeja.

Saya masih tidak mengerti, untuk apa ayah saya membeli baju sebanyak itu? Modelnya sama semua, hanya beda motif atau warna.

—-

Besoknya, ayah saya datang naik becak bersama berkardus-kardus biskuit kaleng, sirup, gula, teh dan berbagai sembako lainnya.

Saya lebih bingung lagi. Tapi saya senang sekali, karena saya pikir, biskuit-biskuit itu untuk saya. Ternyata bukan.

—-

Siang itu, ayah saya duduk manis di ruang tengah sembari memasukkan botol sirup, gula, biskuit dan kemeja itu ke dalam kantong plastik. Terus seperti itu, sampai ruang tengah kami tertutup kantong plastik. Saya pun ikut membantu. Saat itu, saya masih belum mengerti untuk apa itu semua. Ayah saya hanya bilang “kalau punya rejeki itu harus dibagi-bagi”.

—-

Keesokan harinya, beberapa orang datang ke rumah saya. Ada tukang becak, tukang ojek, tukang sampah, tukang pijit, bahkan tukang sayur. Mereka silih berganti datang ke rumah saya, kemudian ayah saya memberikan bungkusan plastik itu kepada orang-orang yang datang. Lalu mereka pulang dengan wajah cerah dan sumringah.

Hari itu, saya akhirnya mengerti untuk apa bungkusan-bungkusan itu. Dan setiap tahunnya pun selalu seperti itu, seakan sudah menjadi tradisi.

—-

Suatu ketika, kondisi ekonomi keluarga kami sedang goyah. Ramadhan kali itu, ayah saya tidak bisa membelikan bingkisan lebaran untuk orang-orang. Saya sudah cukup besar untuk mengerti permasalahan itu.

Saya melihat raut wajah ayah yang sedih dan lesu. Ayah sempat tak mau keluar rumah, karena tak sanggup jika bertemu orang-orang yang biasa ia undang ke rumah untuk diberi bingkisan. Ia tak sanggup melihat wajah penuh harap mereka, katanya.

—-

Ketika kondisi ekonomi keluarga kami perlahan pulih, kami melanjutkan tradisi itu kembali. Hingga tahun ini.

—-

Mama saya pernah berkata, “selagi kita punya kesempatan untuk membantu orang lain, kita harus bantu. Karena kalau pas ada orang yang lagi membutuhkan trus kita nggak bisa bantu, itu tuh rasanya sedih banget. Jadi kalau ada kesempatan, bantu. Sebisa mungkin.”

—-

Nilai itulah yang lekat di hati saya, yang diajarkan orang tua saya sedari kecil.

Setiap Tahun, Kami Melihat Ke Belakang

Ku kira Januari telah berlalu tanpa meninggalkan jejak. Ternyata sudah ada satu rekam jejak di awal tahun ini.

Tapi, tidak afdol rasanya memulai tahun tanpa sedikit menoleh ke belakang, sekedar untuk melihat, sejauh apa kaki ini sudah melangkah?

Sejauh apa diri ini sudah bertumbuh?

Dan tentu, kembali melihat ke depan, untuk bertanya: kemana kita sekarang?

Kalo bahasa asiknya: ngapain nih enaknya sekarang?

Agenda tahunan kami sudah terlaksana. Cukup sederhana, hanya kembali ke kota tempat kami bertemu.

Berjalan seharian. Bernafas. Bercengkerama.

Lalu makan, makan, dan makan. Hahaha.

Seharusnya, tidak ada yang istimewa dari kegiatan di atas. Dan pada kenyataannya pun memang tidak istimewa. Semuanya biasa saja.

Tapi aku bahagia.

Aku bisa menjadi diriku sendiri, menikmati diriku sendiri dan melakukan apa yang aku sukai.

Aku harap dia pun begitu.

Tahun ini, kami tidak banyak bicara.

Baginya, tahun lalu adalah tahun pembelajaran. Tahun ini dia harapkan menjadi tahun pembuktian.

Bagiku, tahun lalu adalah tahun kesadaran. Tahun ini kuharap akan jadi tahun penemuan.

Cukup sederhana.

Tak panjang lebar, tak berbelit.

Hanya butuh dua puluh menit.

Semoga kita bisa melalui tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya dengan baik dan bahagia.

Masih ada banyak cerita yang bisa kita bisa tukar.

Masih jauh kaki kita harus berjalan, dan aku rasa jika ada teman bicara, perjalanan akan menjadi lebih menyenangkan bukan?

Semoga segala harap baik kita disambut baik juga oleh Yang Maha Kuasa.

Kali ini tak ada foto.

Semuanya kusimpan sendiri.

Aku sedang tak mau berbagi, mungkin lain kali.

Cukup kita saja yang tau.

Dan Ridwan Kamil, tentunya XD.

Sampai jumpa setiap hari!

Highlights of My 2017

Although it’s a bit late, I’m still gonna write about what had happened in 2017.

So in the future, I can look back and see how much I had grown.

Well, now I realize why people should write a journal. Cause we are vulnerable human being that will forget things.

January

I kick started my 2017 with an amazing trip to 7 cities in one day! Course! With an amazing person too!

Farid took me to Taman Bunga Nusantara, a place that I’ve been wanting to visit since I was kid. Iya, dulu pas SD saya ngga pernah ada acara karyawisata yang ke taman bunga 😦

Kami berdua kesana naik motor, melintasi 7 kota selama perjalanan. I was so happy at that time. To see a lot of flowers and greeneries all around me made me feel soooo good!

February

In February, so far that I could remember, I was workin my azz off days and nights to prepare myself for IELTS test in March. It was one of the most intense time after not “studying” for a long time! But it felt good somehow to know that I can still push myself to my limit.

March

Hard work paid off! Got 7.0 for my overall IELTS score! Yeaaahh! But beside that, I don’t really remember what had happened in March, I’m sorry! I guess I just let myself had some rest after hard work >.<

April

Glad that I checked one of my bucket lists in April. I’ve always wanted to go to Adhitia Sofyan’s and Andien’s gig. But since I don’t really like crowds, a close and intimate performance at a cafe is a perfect definition of a ‘gig’ for me. Aaand there it happened!

Bukalapak, one of the biggest online marketplace in Indonesia made an event in a cafe in Jakarta. And yess, yesss, yeessss I can watch Adhitia Sofyan’s and Andien’s performance just like what I wanted!

May

It may not seem so special, but somehow, I enjoy this moment. In May, I had a business trip to Bandung, it was only two or three days. One day after I finished my jobs, I visited my ex-office, Global Learning Education Centre. I used to teach English here, I had a lot of good times with my students. I also learn a lot from them.

At that night, I wanted to eat in a nearby restaurant. So I walked outside, but nothing seems interesting. I kept walking until I realized that I had walked so far. Seriously, it was far. I really enjoy it, walking alone at night in a city where I fall in love. I fell in love with so many things in this city, that I feel like it was my home. Yep, it is indeed my home.

June

This is a remarkable month for me. Why?

Because in June, I can finally forgive myself. I can finally forgive my parents. I can finally forgive life and fate. I can finally accept whatever life has given to me. And do you know how did it feel? IT FELT GOOOOOOD. SO. DAMN. GOOD.

In June, I also try to follow the movement of #indonesia6am. The objective is to show the world how beautiful Indonesia is in 6 am. And yes, even my neighborhood looks damn amazing in 6 am!

Selain itu, dengan niat menjalani ritual tahunan, saya, Ucup dan Britan jalan-jalan bareng untuk menikmati jalanan Jakarta yang sepi sambil hunting-hunting foto. Kalo lagi bareng mereka mah mustahil ngga ngakak!

July

Was the month when I suddenly feel so lonely. Although I can see there are a lot of people around me, I still feel so alone. I still don’t know why I felt that way. But I also felt like I’d enjoy solitude more than before. I crave for being alone but didn’t want to feel lonely. I thought I slowly shifting to become an introvert. But I guess it’s a turning point for me, where I finally realize that I haven’t found my purpose of life. I haven’t known the meaning of my life. And on that point, I push myself to look harder and keep questioning.

August

This is a roller coaster hell of a month! First, I got rejected by LPDP scholarship. Then I got a free trip to Pahawang Island, and witness the most beautiful sunset in my life so far. Life is full of surprises, so I guess I really just have to accept whatever it will give me, right?

In this month also, I learned to overcome my fears. I went snorkeling without a life jacket for the first time. I really swam in the middle of the sea. I learned to control myself, my fear, and my mind in my uncomfortable zone. I can say that I am proud of my self.

September

A lot of things happen in my special month!

First, I went to World of Ghibli Jakarta to fulfil my dream of hugging giant Totoro XD. It was like a dream come true!

And shortly after my birthday, I flew to Japan (also to fulfil my dream) with my friends Shaby and Ikhsan. It was wonderful! It feels like a miracle to finally be able to go there. We’ve been dreaming visit Japan since we were in Junior High School and it came true! Definitely want to go to Japan again soon!

It is also a month of consciousness. It felt great to realize that I should search for what I am passionate about. It is never too late to start, it is a good start to realize.

October

Upon returning from Japan, me and three of my crazy friends made a crazy trip to Malaysia. ONLY TO VISIT ONE PIECE EXHIBITION. Yes, you read it right. But sadly we were not allowed to take pictures in the exhibition, so we only took it in front of the room XD. We also visited Batu Caves and some places in Malaysia, and we had so much fun!

Another crazy gang took me to Jogja this month. We had another crazy trip, one that we won’t forget. I really really feel like I found another side of myself when I travel with them. We talked a lot about things, we ate a lot, we took a lot of photographs and we laughed a lot more! Thanks, guys!

November

Another crazy month for me. I was able to fulfil my dream (again) to go to 0 km of Indonesia: Sabang. Yesssss!!! How lucky I am! It was actually for work, but who cares! I got to go there anyway (and for free :p) It was a truly magical experience to travel to Banda Aceh and Sabang, ALONE. I cried a tear of happiness when I stepped here. I got a lot of life lesson here.

In this month, one of my best friend got married to one of my crazy travelling gang. What a perfect combination. So we travelled to Jogja to attend their wedding. It was one of the happiest moment I shared with my friends and loved ones.

A lot of beautiful things also happened in this month. From a contemplation to a long meaningful walk and talk. What a time well-spent.

December

The end of the year marked by having peaceful time for myself, spending time with family, friends, and my loved ones. I am really grateful that Allah still gives me chances after chances to live. To experience so many beautiful things and to be able to share it with people around me. I hope the next year I will be a better version of myself, to re-discover myself and my purpose of life. To make this one life more meaningful, for me and the others. Aamiin.

Visiting Aceh & Sabang: A Truly Humbling Experience

Sore itu, hari Selasa, 7 November 2017 saya ditugaskan oleh kantor untuk berangkat ke Sabang tanggal 8 November. Iya, besoknya banget tuh.

Awalnya saya ragu dan takut untuk pergi kesana, karena saya hanya pergi sendiri dan saya tak kenal seorangpun disana. Saya hanya diberitahukan nomor hp seseorang yang harus saya hubungi terkait tugas kantor selama saya di Sabang.

Banyak-banyak saya berdoa, semoga selama perjalanan saya diberikan keselamatan dan selalu dilindungi. Jujur saja, ini pertama kalinya saya solo traveling cukup jauh.

___

Rabu, 8 November 2017

Pagi-pagi saya berangkat menuju bandara. Saya mengambil penerbangan pukul 07:45 menuju Banda Aceh, dan setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan, saya tiba pada pukul 10:35.

Sehari sebelumnya saya sudah melakukan sedikit riset, untuk menuju Sabang dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, saya harus ke Pelabuhan Ulee Lheue. Sesampainya di bandara, saya bertanya ke mba-mba yang ada disana, kira-kira sebaiknya naik apa kalau mau ke pelabuhan. Si mba menyarankan saya untuk naik taksi yang ada di bandara.

Akhirnya saya keluar bandara dan disana sudah berjajar para supir taksi yang menawarkan tumpangan. Tapi sebagai warga Jakarta yang sudah terbiasa dengan Go-Jek dan sejenisnya, maka ketika dihadapkan dengan transportasi konvensional saya malah jadi bingung. Terlebih lagi saya agak trauma dengan taksi-taksi bandara yang seringkali kasih harga “nembak” ke pelanggannya. Namun kemudian saya menemukan satu supir taksi yang menawarkan dengan sopan sekali sembari menunjukkan daftar harga untuk setiap tujuan. Disitu tertera tarif ke pelabuhan Ulee Lheue adalah Rp 140.000 saja. Harga yang cukup wajar untuk jarak dari Bandara ke Pelabuhan Ulee Lheue. Jadi saya memutuskan naik taksi dari Mas-mas supir yang itu, namanya Mas Anton.

Setelah saya masuk ke dalam mobilnya dan kami ngobrol sedikit, saya menyadari masnya ini logatnya jawa banget. Waktu saya tanya, eh ternyata masnya orang Sleman. Yailah, sekampung coy!

Berkat solidaritas orang sekampung, maka Mas Anton malah menawarkan ngajak saya jalan-jalan dulu keliling kota Banda Aceh, karena jadwal keberangkatan kapal ke Sabang pun masih jam 16:00. Yang bener aja saya nunggu 5 jam?!

Selama di Banda Aceh, saya diajak keliling-keliling dan tentu saja makan-makan. Nih beberapa tempat yang saya kunjungi:

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Asli, masjid ini bagus banget, baik luar maupun dalamnya. Jujur, the moment I step into this place, I literally cried. Keinget waktu tsunami tahun 2004 dulu, banyak banget yang menyiarkan gambar-gambar Banda Aceh yang saat itu rata dengan tanah, namun ada satu bangunan yang tetap berdiri kokoh. Ya si Masjid ini, Masya Allah…

payung teduh (literally)
setelah sholat dzuhur
siluet di masjid
yaudahlahya muka saya emang gini

Saya juga nyobain makan Kari Kambing khas Banda Aceh. Rasanya? Ya enak lah!

Ini nih warung Kari Kambingnya. Endeuuuss!
bukan saya sendiri yg ngabisin kok~
ntap jiwaaaa~
ini nih yang namanya Mas Anton

Saya juga sempat mengunjungi museum Aceh, dan melihat-lihat rumah tradisional khas Aceh nih.

rumah adat Aceh

Setelah puas keliling Banda Aceh, akhirnya saya berangkat ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Pulau Weh.

Tapi sebelumnya saya sempat mengambil foto ini:

itu tuh pulau samar di ujung sana adalah pulau Weh!

Sesampainya saya di Pelabuhan Balongan, Sabang, saya dijemput oleh Pak Dar. Pak Dar adalah orang asli Sabang yang sehari-harinya mencari nafkah dengan narik bentor (becak motor). Saya kenal Pak Dar dari Mas Anton. Jadi sebelum tinggal di Banda Aceh, Mas Anton ini sempat menetap di Sabang selama 4 tahun. Makanya, Mas Anton kenal banyak orang di Sabang yang bisa diandalkan.

Setelah ketemu Pak Dar, saya diantar ke hotel di daerah Ie Meulee. Hotelnya asik banget! Namanya Freddie’s Santai Sumurtiga, karena lokasinya memang di pinggiran pantai Sumurtiga. Nih pemandangan hotelnya:

kamar saya yang temboknya kuning itu tuh, keliatan kan?
view pantai Sumurtiga dari tempat resepsionis Freddie’s
nah ini kamar saya. bisa muat 3 orang. atau kalo maksa bisa 4-5 orang hahaha
kamar saya ada balkonnya. daaaaan ini dia pemandangan dari balkon!

Aaaaah asli bagus banget pemandangannya! Saya tidur pun ditemani suara debur ombak jadi sekalian relaksasi. FYI, nginep di Freddie’s ini semalam cuma Rp 335 ribu loh! Edaaaan mure gileee.

______

Kamis, 9 November 2017

Saya terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Wah tumbenan kan. Sesungguhnya karena depan kamar saya itu kayayknya ada masjid, dan toanya menggelegar sekali. Alhasil pas adzan, saya langsung loncat hahaha.

Jam 7 pagi Pak Dar sudah bersiap menjemput saya. Saya janjian dengan Mas Edi untuk ketemuan jam 8 di kantornya. Mas Edi ini rekan kerja saya selama di Sabang. Ternyata dari hotel saya ke kantor Mas Edi nggak begitu jauh. Akhirnya saya ajak Pak Dar untuk sarapan dan ngopi-ngopi dulu di warung kopi yang katanya enak disana. Kayak gini nih warung kopinya:

de sagoe kuphie, Sabang
Pak Dar lagi ngopi, saya mah teh susu aja

Setelah selesai sarapan, saya langsung menuju kantor untuk ketemu Mas Edi dan mulai bekerja. Sembari kerja keliling-keliling Sabang, saya juga menyempatkan mampir ke tempat-tempat bagus yang ada di Sabang. Tentu saja saya ngga lupa mampir ke tempat yan sudah lama ada di bucket list saya: titik nol kilometer Indonesia!

akhirnya kesampean ke titik nol kilometer Indonesia!!!
sekitaran Goa Sarang
trekking ke Goa Sarang, look at my happy face!

Asli nggak bohong! Sabang itu bagus banget!!! Slogan Wonderful Indonesia is no joke guys!!!

Setelah menyelesaikan pekerjaan dan menyambangi tempat-tempat bagus di Sabang, saya ke hotel ke dua. Kali ini lokasinya di pinggir pantai Iboih. Sejujurnya salah banget saya milih nginep disini. Karena ternyata tempatnya kayak private cottage buat orang honeymoon gitu -_-

Saya sempat ngobrol-ngobrol sama ownernya dan saya diketawain. Katanya “heran juga saya nemu tamu cewek sendirian nginep disini. ngapain coba? itu kamar-kamar yang lain isinya orang honeymoon semua tau!”

Yailah bu, mana eyke tau yekan. Saya mah cari yang murah aja pokoknya. Nah si hotel yang ke dua ini namanya Fie Resort, dan menginap disini harganya cuma Rp 445 ribu saja sodara-sodaraaahh!

Pemandangan dari Fie Resort ini juga ngga kalah sama di Freddie’s. Nih liat:

Owner Fie Resort lagi chill di pinggir pantai menikmati sore
dermaga di depan Fie Resort, sore-sore main disini sambil dengerin lagunya Andien yang Indahnya Dunia, sungguh niqmat!
cottage-cottage di Fie Resort. Isinya orang honeymoon semua -_-

______

Jumat, 10 November 2017

Saya harus kembali ke Jakarta hari ini. Saya mengambil penerbangan terakhir di jam 18:25 menuju Jakarta dari Banda Aceh. Jam setengah 7 pagi Pak Dar sudah standby di depan Fie Resort untuk menjemput saya.

Salut sekali sama Pak Dar ini, beliau orangnya baik sekali. Di hari Kamis sore beliau bolak-balik ke kantor Mas Edi karena nyariin saya. Beliau kawatir karena saya ngga kasih kabar untuk dijemput. Padahal kenyataannya, saya di Fie Resort itu ngga ada sinyal. Untungnya Pak Dar sempat ketemu Mas Edi yang kemudian memberitahunya untuk menjemput saya di Fie Resort besok paginya. Saya terharu sekali, hari gini masih ada orang baik kayak Pak Dar gitu ya.

Otw ke Balongan naik bentor melewati hutan dan pegunungan bersama Pak Dar

Setelah menyeberang kapal ke pelabuhan Ulee Lheue, saya dijemput sama Mas Anton untuk keliling-keliling kota Banda Aceh lagi. Kali ini saya menyempatkan ke museum tsunami.

Museum Tsunami.
Lorong di Museum Tsunami.
Nama-nama Korban Tsunami
Museum Tsunami dari luar

Selama di museum tsunami saya juga nonton film dokumenter tentang bencana tersebut. Rasanya sedih banget. Ngga kebayang itu populasi manusia se-Banda Aceh mendadak menyusut hanya dalam sehari. Sejujurnya saya salut sama masyarakat Banda Aceh, karena pertumbuhan kotanya cepat sekali pasca bencana. Mereka bisa bangkit lagi dari keterpurukan setelah dilanda bencana sedemikian dasyat. Tentu tidak lupa dengan bantuan masyarakat seluruh dunia ya. Sebetulnya masih banyak yang saya lihat di museum Tsunami, tapi saya ngga banyak foto-foto karena saya terlarut melihat langsung semua diorama dan segala yang tersaji disana.

Setelah puas keliling-keliling museum, kami berhenti sejenak di Masjid Raya Banda Aceh untuk menunaikan ibadah sholat Jumat. Kemudian kami lanjut ngopi-ngopi di Solong Coffee, Ulee Kareeng. Katanya Solong Coffee ini adalah pelopor berdirinya warung kopi di Aceh. Kopi disini juga digadang-gadang sebagai kopi terenak di Aceh. Dari rakyat biasa sampe Presiden kalo ngopi ya disini. Tempatnya biasa banget lho! Tapi ngga bohong sih emang kopinya enak banget paraaaahhhh!!!

Kopi Hitam dan Kopi Sangger Dingin (kopi susu) enak paraaaahhhh!!!
Proses pembuatan kopi di Solong Coffee

Kopi hitam di Solong Coffee harganya Rp 7 ribu, sedangkan kopi Sangger alias kopi susunya Rp 13 ribu saja. Murah dan enak. Harganya jauh banget sama di coffee shop hitz ibu kota. Btw, di Aceh kopi sachet yang ada di iklan-iklan di TV itu nggak laku hahaha.

Setelah puas ngopi dan beli oleh-oleh beans, saya lanjut beli oleh-oleh dendeng rusa. Iya, you read it right. Dendeng rusa. Enak. Bener deh. Kemudian sebelum ke bandara saya menyempatkan makan dulu. Ada yang namanya ayam tangkap disini. Ayam kampung di goreng dan dicampur dengan daun pandan dan daun temurui (daun kari) goreng. Iya daunnya digoreng sampe crispy gitu. Enak deh pokoknya.

Makan di Warung Nasi Hasan

Setelah kenyang mengisi perut, saya langsung berangkat ke bandara. Banda Aceh dan Sabang telah memberikan banyak sekali pengalaman dan pesan kebaikan ke saya. Pengen banget suatu saat kesini lagi. Bareng temen-temen lain dan juga buat honeymoon :p Ada banyak lagi sebenarnya cerita yang belum tersampaikan dari perjalanan sendirian saya kali ini.

Petualangan singkat kali ini ditutup dengan foto bareng Mas Anton yang udah menjadi penolong saya selama solo traveling ke Banda Aceh dan Sabang kali ini:

Mon maap ya muka saya emang teler gitu

Sebagai bonus, saya pengen ngasih detail biaya yang saya keluarkan selama 3 hari di Banda Aceh & Sabang ya!

  1. Pesawat Jakarta – Banda Aceh (Batik Air): Rp 955.649
  2. Sewa Mobil keliling Banda Aceh + ke pelabuhan Ulee Lheue: Rp 250.000
  3. Naik kapal cepat dari Ulee Lheue (Banda Aceh) – Balongan (Sabang): Rp 100.000 (kelas VIP, iye songong bet emang)
  4. Bentor dari Balongan – Ie Meulee (Hotel Freddie’s): Rp 50.000
  5. Menginap di Freddie’s 1 malam: Rp 334.219
  6. Makan malam di Freddie’s (Buffet): Rp 65.000
  7. Menginap di Fie Resort 1 malam: Rp 444.618
  8. Bentor dari Fie Resort ke Pelabuhan Balongan: Rp 200.000
  9. Naik kapal cepat dari Balongan – Ulee Lheue: Rp 100.000 (VIP lagi, iye songong emang)
  10. Sewa mobil + supir seharian di Banda Aceh: Rp 600.000
  11. Pesawat Banda Aceh – Jakarta (Batik Air): Rp 1.160.928

TOTAL BIAYA: Rp 4.260.414

Catatan:

  • biaya di atas belum termasuk makan siang, jajan, dan oleh-oleh.
  • kalo mau lebih murah bisa nyeberang naik kapal cepat kelas eksekutif cuma Rp 80.000 atau naik kapal barang cuma Rp 27.500
  • selain naik pesawat ke Banda Aceh dan lanjut nyeberang laut, bisa juga naik pesawat ke Kuala Namu (Medan) kemudian lanjut naik pesawat lagi langsung ke Sabang.
  • kalo mau ke Banda Aceh dan sewa mobil atau keliling-keliling bisa kontak Mas Anton di 082272929644 orangnya baik banget!
  • kalo di Sabang, moda transportasinya bisa sewa motor atau sewa mobil, kalo butuh info, tanya Mas Anton aja, beliau banyak kenalan yang bisa diandalkan di Sabang.

Sekian postingan kali ini! Semoga suatu saat bisa ke Sabang lagi dan keliling Indonesia!

Yogya Berhati Nyaman

Tidak bosan-bosannya saya ke Yogya.

Berkali-kali, di setiap kesempatan.

Tapi Yogya selalu memberikan cerita yang berbeda, yang berbekas dan penuh makna.

Perjalanan ke Yogya kali ini ditemani oleh Widita (lagi), yang juga tak pernah bosan dengan indahnya kota istimewa ini.

Namun ada yang berbeda di perjalanan saya kali ini. Tanpa direncanakan sebelumnya, ternyata ada personil baru yang ikutan gabung di tengah jalan. Ada Mas Emka, Mas Pio dan Diza.

Dan tentu saja, perjalanan kali ini penuh dengan lawakan yang bikin ngakak sampe perut kram x’))

Salah satunya saat saya dan Widita sampai di Jogja jam 3 pagi. Kami dengan pedenya menuju hotel, dengan harapan bisa early check-in. Ternyata, nggak bisa.

Akhirnya saya dan Widita mlipir ke masjid yang kebetulan ada di depan gang hotel. Kami sholat, tidur dan mandi di masjid! Berasa traveler super sejati hahaha.

Nggak lengkap rasanya jalan-jalan ke Yogya kalo nggak makan gudeg. Pagi hari di jogja kami mulai dengan jalan kaki di daerah Malioboro, makan gudeg di depan pasar Beringharjo, blanja-blinji cantik dan ngadem sambil makan es cendol.

Di tengah perjalanan Mas Emka, Mas Pio dan Diza ikut gabung. Kami pergi ke daerah Kaliurang untuk nyobain Kopi Klothok. Asli suasananya disana asik banget! Duduk-duduk santai sore minum kopi klothok, susu jahe dan pisang goreng krenyes-krenyes aduhai sambil menikmati pemandangan sawah dan gunung. Kayak di gambar-gambar anak jaman SD gitu.

Malamnya kami makan di angkringan yang tedjo (nggak jelas) abis, di pinggir kali code yang bersih dan tenang ditemani temaram lampu jalanan. Romantis abis.

Besoknya kami berburu nasi brongkos yang niqmatnya haqiqi, lengkap dengan es tape kelapa yang bagai oase di padang pasir. Tau kan Yogya panasnya kayak apa? Pas kena es tape tuh segerrrrrrr benerrrrrr.

Setelah kenyang makan nasi brongkos dan es tape, kami mampir ke rumah Diza untuk pinjam mobil. Eh tapi baru keluar gang, kok tiba-tiba powersteeringnya mati. Pas di cek, ternyata ada tikus nyangkut di dalam mesin mobil! Antara geli tapi kocak banget, soalnya pose si tikus pasrah banget XD.

Sorenya kami menyempatkan mampir ke Kalibiru. Nggak nyangka ternyata jalanannya nanjak parah dan berkelok-kelok. All hail Mas Emka yang punya skill nyetir tingkat Dewa!

Sungguh, Kalibiru itu bagus banget. Udaranya sejuk dan suasananya tenang. Enak banget buat yang mau meditasi, asal datangnya nggak pas jam ramai. Kebetulan kami sampai disana sekitar jam 5, dan kebayakan pengunjung sudah pulang karena area foto sudah ditutup. Kami kesana sih untuk menikmati suasana, dan tentunya makan indomie rebus pake telor dan cabe rawit. Surga banget, fix.

Setelah puas menikmati Kalibiru, kami turun ke kota dengan keadaan jalan yang berkelok-kelok, turunan tajam dan tanpa penerangan sama sekali. Tapi semuanya tetep seru karena kami karaokean sepanjang jalan. Thank God di saat-saat seperti itu sinyal masih LTE jadi bisa streaming spotify XD.

Malamnya kami menginap di rumah nenek saya. Baru masuk rumah aja kami sudah kelelahan karena membuka gembok yang berlapis-lapis. Sumpah ini rumah nenek dengan top security sekelas penjara! Setelah berhasil membuka semua gembok, kami semua langsung tepar. Eh ternyata Mas Emka yang lagi enak-enak tidur, “digangguin” dengan suara pintu digedor-gedor. Yah harap maklum, mungkin penghuninya lagi “ngajak kenalan”.

Esok paginya kami bertolak ke pantai Glagah, yang cuma 8 menit dari rumah nenek. Kami foto-foto disana sampai puas sebelum akhirnya menyerah karena kelaparan.

Setelah pulang dari pantai dan berkemas, kami mampir ke warung langganan nenek saya buat mengisi perut. Sungguh, sate klathak, tongseng dan gulenya juara banget disini! Saya nggak pernah melewatkan untuk mampir kesini setiap berkunjung ke Yogya.

Setelah kenyang makan macam-macam dan cuma bayar 157.000 buat ber 5 (iya, cuman segitu dan semua udah mabok kambing), kami beli oleh-oleh bakpia sebelum ke stasiun.

Pas banget, satu menit setelah kami masuk stasiun, keretanya sampai dan kami langsung berangkat.

Sungguh, perjalanan kali ini diluar ekspektasi. Padahal niat awalnya cuman jalan-jalan biasa karena dapet tiket kereta murah di KAI Travel Fair. Tapi teman-teman traveling kali ini membuat semuanya jadi seru banget!

Nih, beberapa foto yang saya dapat selama perjalanan kali ini:

Sekian perjalanan kali ini, semoga bertemu lagi di perjalanan berikutnya! 🙂

World of Ghibli Jakarta 2017

Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan!

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesampaian juga datang ke World of Ghibli Jakarta. Pameran yang mengangkat karya-karya Studio Ghibli ini memang yang pertama kali diadakan di dunia.

Hari Minggu, 3 September kemarin saya kesana bareng Farid. Sesampainya disana saya bertemu dengan Cindy, teman saya waktu SMP. Kebetulan Cindy jadi salah satu panitia di acara ini. Hehehe sekalian reunian deh:


Dan selama di dalam, sungguh saya bahagia sekali aaaaaakkkkk instalasinya bagus sekali dan sangat detail! Saya nggak banyak foto detailnya sih, but I did take a lot of photos, here here:

Nekobasu!

Sorry I didn’t behave
Pretty detail!
Susuwatari!

We met Kaonashi!

 

Kenapa sih posenya kayak mas-mas Start up yang lagi diwawancara Tech in Asia?
>.<
Ketauan ya mana yg cool mana yg enggak -_-
Last but not least, FINALLY I CAN HUG TOTOROOOOO!!!

 

Conclusion: I WAS SO HAPPY!!!!