6 am

Yesterday I saw a story from my friend’s instagram account.


@indonesia6am is an account full of amazing photos taken around Indonesia in 6am time. The account’s objective is to spread the beauty of Indonesia in 6 am time (and indeed, it is beautiful) through #indonesia6am hashtag. They also encourage us to wake up early to catch the sunrise, walk and take photos.

After seeing that post, I was inspired to wake up early the next day to take a walk around my neighborhood and take some photos in 6 am. So here is my neighborhood in 6am:

Empty.
Empty.
Closer.
Closer.
In frame.
In frame.
Morning rise.
Morning rise.
Mencari rezeki.
Mencari rezeki.
Gowes pagi.
Gowes pagi.
Lari pagi.
Lari pagi.
Masih sepi.
Masih sepi.
Sepedahan.
Sepedahan.
Sambil foto-foto.
Sambil foto-foto.
Kuda terbang.
Kuda terbang.
Morning dew.
Morning dew.
Beginning of the day.
Beginning of the day.
The biker's shadow.
The biker’s shadow.
Chase.
Chase.
Ngintip.
Ngintip.
Still strong.
Still strong.
Eh nengok.
Eh nengok.

So that was my 6 am moment. Indonesia is indeed beautiful. And 6 am photowalk is worth to try!

Enjoy!

All photos are taken using my iPhone 6.

To Finally Forgive

The holy day of Wid Mubarak has come.

This year is a little bit different.

Both my brother and sister are visiting my grandma in Jogjakarta, while me and my parents stay at home.

__________

Hingga akhirnya hari lebaran tiba, dan kami melangsungkan tradisi tiap lebaran: Sungkeman.

Ini adalah lebaran pertama kami tanpa nenek. Lebaran yang sepi karena sanak saudara tak lagi berkumpul di rumah nenek tertua kami. Lebaran yang sepi, karena adik-adikku mudik.

Tetapi ini lebaran yang paling bermakna buatku.

Hanya ada aku, ayah dan ibu.

Akhirnya, aku bisa berdamai dengan segala ketidaksempurnaan keluargaku.
Akhirnya, aku bisa membebaskan amukan dalam jiwaku. Dengan air mata.

Akhirnya, aku bisa memaklumi segala kesalahanku.

Lebaran yang paling paling bermakna buatku, karena akhirnya, aku bisa memaafkan diriku sendiri.

__________

Lebaran kali ini, lebaran yang sedikit selebrasi tapi sarat makna.

Semoga saya masih diberikan kesempatan untuk bertemu ramadhan dan lebaran tahun depan.

__________


Mengenang Ramadhan di Masa Kecil

Masjid Tempat Saya Tarawih Waktu Kecil
Masjid Tempat Saya Tarawih Waktu Kecil

Nggak terasa, sekarang sudah memasuki bulan ramadhan lagi. Semoga Allah melimpahkan keberkahannya untuk kita semua di bulan suci ini.

Kalau sudah masuk ramadhan, saya selalu teringat masa kecil saya dimana ramadhan terasa begitu syahdu. Banyak juga kenangan-kenangan lucu dan aneh yang saya alami selama ramadhan.

Beberapa kenangan itu mungkin akan saya ceritakan disini, supaya saya tidak lupa.

Dulu, waktu kami sekeluarga masih tinggal serumah, dan bahkan saya masih tidur di kamar orang tua saya, saya selalu dibangunkan sahur jam setengah 3 pagi. Dengan mata yang masih terpejam, saya berjalan sempoyongan ke ruang makan. Kemudian duduk manis sambil minum susu coklat yang sudah disiapkan oleh ayah saya sembari menunggu masakan siap dihidangkan.

Pernah suatu hari saya terbangun dan itu sudah jam 7 atau 8 pagi. Saya bangun dan langsung mencari ibu saya sambil berkata “mah, masa semalem aku mimpi dibangunin sahur sama papa, terus malah aku tonjok lehernya papa”. Ibuku dengan sewot menjawab “itumah bukan mimpi! Emang beneran!” hahahaha :””D

Dulu, setiap bulan ramadhan sekolah saya pasti membekali murid-muridnya dengan buku “absensi shalat tarawih”. Alhasil, mau nggak mau setiap malam kami harus pergi ke masjid dan membawa buku itu. Karena harus diisi dengan rangkuman ceramah lengkap dengan tanda tangan imam sholat tarawihnya. Pokoknya kalo absensinya jelek, nanti nilai mata pelajaran agamanya jelek juga hahaha.

Dulu, saking bersemangatnya saya pergi tarawih, setelah buka puasa dan shalat magrib saya langsung siap-siap. Saya kayuh sepeda ke rumah teman saya, menitipkan sepeda disana, lalu kami jalan kaki bersama ke masjid. Padahal kalau dilihat-lihat sekarang, jarak rumah saya ke rumah teman itu lebih jauh daripada rumah saya ke masjid. Tapi karena saya dulu takut jalan sendirian malam-malam, alhasil saya selalu bareng teman. Karena di daerah rumah dia banyak anak-anak seumuran saya, jadi ramai.

Dulu, ada masa-masa dimana kalau kita jajan chiki, cheetos dan Jet-Z bakal dapat hadiah. Setiap bulan puasa, karena uang jajannya nggak dipakai, jadinya saya belikan makanan berbuka. Setiap jam 3 sore saya mengayuh sepeda ke minimarket terdekat, membeli sebungkus dari salah satu snack di atas, serta susu milo kotak kecil. Kemudian susunya saya masukkan ke freezer. Saat tiba waktu berbuka, saya senang sekali karena bisa minum susu beku. Dan dapat hadiah dari ciki tentunya XD.

Dulu, pernah suatu hari hujan turun di sore hari. Meninggalkan jalanan yang becek dan kubangan air. Ketika saya menaiki sepeda untuk pergi ke tarawih, saya terperosok di tikungan. Lalu? Itu menjadi ciuman pertama saya. Iya, dengan aspal. Hahahaha.

Dulu, semenjak saya berani pergi sendiri ke masjid, saya datang paling awal. Sembari menunggu adzan isya, saya akan duduk sendirian disana, sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari jendela dan membaca Al-Qur’an. Syahdu sekali.

Dulu, seusai sahur saya akan menunggu adzan subuh sambil menonton acara sejarah islam di televisi. Seselesainya sholat subuh, saya akan naik ke atap rumah saya yang masih di bangun, kemudian melihat matahari terbit. Pernah suatu hari saya tertidur di atas atap, dan sekeluarga bingung mencari saya. Untung saya nggak jatuh dari ketinggian 5 meter hehehe.

Saya rindu ramadhan yang syahdu dan yang lugu, yang bisa saya kenang kembali. Rindu ramadhan yang merubah diri saya lebih dekat dengan Allah. Yang penuh arti. Yang damai.

Menonton Adhitia Sofyan & Andien, Di Tempat dan Saat yang Sama

He really enjoys his own music. So do we!
He really enjoys his own music. So do we!
It was a great performance!
It was a great performance!
His music is beautiful and magical.
His music is beautiful and magical.

She was indeed so energetic.
She was indeed so energetic.
Yep, she jumped down from the stage and sang in the middle of the crowd :)
Yep, she jumped down from the stage and sang in the middle of the crowd 🙂
We sang together.
We sang together.
A heartwarming performance, when she sang
A heartwarming performance, when she sang “Belahan Jantungku” 🙂
Yes yes yes, she was singing to me! XD
Yes yes yes, she was singing to me! XD
We were that close, I was in the first row hehe.
We were that close, I was in the first row hehe.

Jumat, 21 April 2017

Adhitia Sofyan dan Andien, keduanya adalah musisi yang saya suka.

Adhitia Sofyan, melalui karya-karyanya selalu menemani saya di saat sendiri, menyendiri, bahagia, sedih, ataupun saat galau dan memandang keluar jendela dikala hujan saat di perjalanan. Saya sudah mendengarkan karya-karyanya sejak saya SMP, kurang lebih 9 tahun yang lalu. Akhirnya baru sekarang kesampaian nonton langsung, di tempat yang tidak terlalu ramai, dan sangat dekat dari tempatnya bernyanyi.

Andien, dengan kepribadiannya yang sangat mengesankan telah menginspirasi saya sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu. Walau sebenarnya saya sudah mendengar lagu-lagunya di televisi sejak saya SD. Saya semakin mengaguminya setelah melihat gaya hidup sehatnya, yang patut dicontoh, juga setelah tahu bahwa dia juga survivor breast tumor. Karena dia, saya jadi percaya bahwa saya juga pasti bisa melewati ini. Semenjak anak pertamanya lahir, saya makin suka aja. Soalnya anaknya lucu banget! Hehehe.

So in conclusion, I was so happy that they were in the same place and time. So happy to watch them so close and listen to their music in person.

Dengan Mata Sembab

Dia yang selalu bersembunyi

Berpura-pura tegar

Terlihat paling kuat

Namun pagi ini

Kutemui dirinya

Keluar dari pintu

Dibawah atap rumah yang lain

Dengan mata sembab dan merah

Saraya berkata “hati-hati ya nak”

The Sea of Blessings

I don’t recall making any agreements about having a regular meeting every beginning of the year with you. But if we did, then I’m sorry, maybe it’s just my bad memory playing on me again.

After all this time that we’ve been through in a year, we’d try to sum it up in just one word.

Kala dirimu kini mengetahui dalamnya Lautan, kamu kembali bertanya, seperti ini kah? Hanya seperti ini kah?

Mungkin sebelum dalam menyelam, kamu selalu berfantasi tentang segala hal yang tak biasa. Namun, kenyataan memang suka bercanda. Dia biarkan kamu tercebur, semakin dalam dan kamu tau bahwa disana tak ada apa-apa.

Iya, hanya itu saja.

Tapi hidup tidak begitu. Lautan tidak sedangkal itu.

Rasa penasaranmu akan membawamu lebih jauh. Toh sudah terlanjur basah, ya kan?

Jalani saja dan terus menyelam.

Lalu aku?

Dengan segala keanehan yang terjadi selama setahun ke belakang, lebih memilih satu kata yang tak kalah aneh.

Aku mendapat banyak pelajaran. Dan bagiku, semua itu adalah anugerah. Aku percaya, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Dan mungkin, semua yang sudah terjadi kemarin memang sudah suratan.

Memang aku bisa apa?

Tak aku pungkiri, memang banyak hal buruk terjadi. Tapi, sekali lagi, bagiku itu adalah pelajaran. Untuk aku bisa bangkit lagi hari ini dan seterusnya.

Namun kita sama-sama sepakat, bahwa kita bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Betul kan? 🙂

We don’t know what lies beyond. But as long as we keep believing that we can get through it, we will get through it.

Dari Perpisahan Hingga Langit Ungu Senja Ini

Alhamdulillah, today I receive a lot of good vibes 🙂

Hari ini saya ketemuan sama Kak Mega. Ceritanya farewell meet up sebelum Kak Mega berangkat ke Amerika buat kuliah S2.

Kami janjian di Fillmore, sebuah coffee shop yang nyempil di daerah Kuningan. Ternyata tempatnya leh uga. Sesampainya disana, langsung ada pemandangan yang ngga bisa dilewatkan.  Nih:

Mas-nya minta difoto banget kan?

Dan seperti biasa, tidaklah mungkin dua orang wanita muda bertemu tanpa menghasilkan foto. Jadi ya begini nih:

Sister from another planet!
Kyaaa fotonya so cute! >.<
Asli, itu foto black and white yg di atas bagus banget
Foto ala-ala
Kirain mata saya yang salah, taunya emang mejanya ngga simetris :/
 

Aah see you Kak Mega! Semoga sukses di New York dan lancar kuliahnya! Semoga saya cepat nyusul dapat beasiswanya. Aamiin.

Di perjalanan pulang, saya sengaja mampir sebentar di Green Lake City. Karena hari ini cuacanya cerah (panas), jadi saya prediksi sunsetnya bakalan bagus.

Sembari duduk-duduk di pinggir jalan buat nungguin sunset, saya melihat ada anak kecil yang baru datang bersama ayah ibunya. Kayaknya sih mau menikmati sore juga.

Karena bapaknya ngefoto-fotoin anaknya, ya saya ikutan dong XD. Awalnya anaknya malu-malu, eh lama-lama mau juga. Saya sampai kenalan sama dia. Namanya Chacha, umurnya 3 tahun, abis makan teyong (telor) hahaha. Ini dia foto-foto Chacha:



Ngelihat mereka jadi ikut bahagia. Kepikiran bahwa bagi anak kecil, bahagia itu sederhana sekali. Ngeliat odong-odong lewat, denger suara jangkrik, liat langit berubah warna. Bahkan sesederhana denger saya ngomong “teyong” niruin dia. We adults should learn more to kiddos to live a happier life.

Kepikiran juga, betapa waktu sama keluarga itu penting. Ngga mahal kok, cuma jalan-jalan sore bareng ngelihat sunset. Tapi bahagia kan? 🙂

Setelah puas foto-foto sama anak kecil, akhirnya saya bergegas pulang karena sudah azan magrib. Tapi ternyata pas pulang, sunsetnya justru lagi bagus-bagusnya. So this is how I see sunset today:

Ini nih yang namanya vanilla twilight!
Rame juga ya penontonnya
Mulai gelap
 

So that’s pretty much sums up my day. And I’m so happy! Alhamdulillah 🙂