#100DPS Day 24: Now and Then, How Do You Think?

Saya merasa semakin dewasa, rasa takut kita semakin besar.

Mengapa tiba-tiba saya berpikir begitu?

Hal ini terlintas di pikiran saya setelah saya melihat salah satu video TEDxMakassar dari seorang mantan Pengajar Muda bernama Agung Firmansyah. Videonya bisa dilihat disini.

Ada salah satu bagian di video tersebut yang menceritakan tentang anak-anak pelosok yang sedang asik membaca buku. Not really “membaca” sih.

Mas Agung menceritakan, justru di pelosok Majene tempat ia mengajar itu justru anak-anak kelas 1 SD belum bisa membaca. Bahkan anak kelas 5 SD pun belum lancar membaca.

Namun ada salah seorang murid kelas 5 SD, namanya Panji, ia duduk dikelilingi adik kelasnya. Panji membacakan kisah Nabi Musa AS kepada adik kelasnya. Walaupun membacanya masih terbata-bata, ia tetap membacakan kisah itu untuk adik-adiknya.

Ada lagi foto yang menunjukkan sekumpulan anak kecil duduk berbaris sambil memegang buku. Mereka tidak membacanya, hanya sekedar melihat. Beberapa bahkan hanya mengetahui huruf “A” saja, dan yang mereka lakukan adalah menghitung ada berapa banyak huruf A yang ada di halaman buku itu.

“Mereka baca dimanapun, ngerti nggak ngerti pokoknya baca dulu” kata Mas Agung.

Kalimat dari Mas Agung ini menggetarkan hati saya. Saya malu.

Apa sih poinnya?

Gini,

Semakin kesini, semakin umur kita bertambah, lihatlah semakin banyak rasa takut yang ada dalam diri kita. Kita tidak berani mencoba. Kita terlalu memperhitungkan berbagai risiko dan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika kita melakukan sesuatu.

Ga usah jauh-jauh ambil contoh big decision deh. Coba kalo di kelas, dosen kasih pertanyaan, berapa orang yang akan angkat tangan untuk jawab? Kebanyakan nggak mau angkat tangan karena takut jawabannya salah. Sampai dosen harus memberlakukan poin tambahan buat mahasiswa yang berani jawab.

Well, beside that, appreciation is quite important too.

Tapi, segitu takutnya salah ya kita?

Padahal anak-anak pelosok tadi berani aja bacain kisah untuk adik-adiknya walaupun bacanya masih pletat-pletot. Mereka berani jawab pertanyaan dari gurunya walau saat ditanya “15 kali 15 berapaaa?” mereka langsung angkat tangan “saya paaak!”, “berapa?”, “nggak tau paaaak!”.

Apapun yang akan mereka hadapi, mereka jalani. Yah pokoknya coba aja dulu deh. Salah atau benar, berhasil atau gagal, yang penting coba!

Pesan dari dosen marketing saya “Jangan takut salah, lakukanlah kesalahan selagi kalian masih pantas, selagi kalian masih belajar.”.

Because in the end, you only regret the things you didn’t do.

STOP KONY!

http://vimeo.com/invisible/kony2012

Mungkin banyak yang belum pernah denger tentang Kony. Joseph Kony itu orang Afrika, disana dia menculik anak-anak buat dimanfaatkan untuk kepentingan dia. Anak-anak laki-laki dijadikan tentara, sedangkan yang perempuan dijadikan budak seks. Anak-anak itu dipaksa untuk membunuh, si Kony bahkan nggak segan untuk menyiksa mereka secara fisik.

Saat ini Kony jadi kriminal NOMOR 1 di dunia, dan masih dicari. Makanya yuk kita bantu share ini, biar semakin banyak yang tau Kony, jadi kita akan dapat lebih banyak dukungan. Indonesia harus ikut berpartisipasi demi dunia.