#100DPS Day 93: Teka-Teki Semesta

Kalau kamu duduk sendiri disituDan berpikir semesta melihatmu

Maka lihatlah ke atas

Kau temui sepasang mata

Menatapmu dengan seksama


Dia bertanya

Ada apa dalam pikiranmu?


Sementara kamu di bangku itu hanya melamun


Membiarkan semesta penuh tanya

Tak peduli langit menebak-nebak


Kamu tetap disitu


Membuat semesta asik dengan teka-tekinya


Tentang kamu

#100DPS Day 79: Menulis Sebuah Kejujuran

“Cinta Adalah Perlawanan”

  

Adalah buku pertama Azhar Nurun Ala yang saya baca. Walau sebenarnya, saya sudah pernah mengetahui karya-karyanya dari salah seorang teman kuliah saya yang begitu mengaguminya. Tapi ya hanya sampai situ saja, saya sekedar tahu bahwa ada seorang penulis buku yang bernama Azhar.

Tak disangka, ternyata Azhar adalah temannya teman dekat saya. Duh, it’s a small world after all. Karena dia punya bukunya Azhar, ya saya pinjam hehe. Maaf ya Azhar, saya belum sempat beli bukumu.

Hingga kini ketika akhirnya saya membaca bukunya, saya menyadari bahwa karyanya memang layak diperhitungkan. Sebenarnya cara penulisan Azhar bukan termasuk daftar favorit saya. Namun, ketika saya membaca karyanya, saya merasakan sebuah kejujuran.

Betapa beruntungnya Azhar, menuliskan isi pikirannya dengan jujur, dan menjadikannya sebuah buku. Ketika saya membaca bukunya, rasanya saya bisa membaca pikirannya, dan merasakan apa yang ia rasakan. Bahwa jatuh cinta itu memang membingungkan. Seindah apapun kita merangkai kata untuk menggambarkannya, ternyata tak seindah yang kita rasakan. Sekompleks apapun deskripsi perasaan yang dinarasikan, tetap saja tidak bisa mewakili ruwetnya isi hati.

Bingung ya? Iya.

Kebingungan lah yang saya tangkap dalam tulisannya. Namun yang saya suka, justru ia tidak menyederhanakan kebigungan itu. He left it as it is. Semacam “kalo bingung ya ngaku aja bingung, ga usah sok-sok ngerti”.

Dan jika ada yang merasa bahwa buku-buku Azhar adalah kumpulan kalimat-kalimat indah yang lebih cocok dibaca oleh wanita, saya rasa tidak juga. Alangkah baiknya para pria juga membaca karya Azhar.

Kenapa?

Agar kalian tau, bahwa wanita tidak serumit yang selama ini dibayangkan. Cobalah cara si Azhar memperjuangkan wanita yang ia cintai. Saya rasa seharusnya wanita tidak mungkin menolak jika diperjuangkan dengan cara seperti itu.

Saya iri se-iri-irinya pada istri Azhar. Selain ia mendapatkan laki-laki yang baik, dari deskripsi Azhar dalam bukunya, saya yakin pasti ia memiliki keistimewaan tersendiri. Vidia pasti seorang wanita yang cantik luar dalam.

Dari buku itu, ada beberapa kalimat yang saya suka, diantaranya:

“Setiap manusia berhak menjalani kisah cinta yang indah.”

“Haruskah semua begitu sempurna? Sementara kita tak pernah tahu apakah kesempurnaan selalu mengantar kita pada kebahagiaan.”

“Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu. Itu saja. Cinta selalu lebih butuh pembuktian daripada alasan.”

Dan setelah membaca buku itu, saya memahami bahwa benar adanya, wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Begitupun sebaliknya.

Sepertinya setelah ini saya akan lebih banyak membaca karyamu, Azhar. Salam untukmu dan istrimu, semoga Allah senantiasa memberikan berkah dan rahmat-Nya untuk keluarga kalian.

#100DPS Day 78: Bukan

Aku tak mengerti

Pada yang mana kau tak akan menyerah

Hingga beribu dasawarsa pun

Isi kepalamu tetap akan jadi rahasia bagiku

 

Sepuluh

Dua puluh

Bahkan tiga puluh tahun lagi pun

Jika jejak itu tidak terbakar

Maka ia tidak punah

 

Namun mengertilah

Bahwa kita hanya punya jejak kaki

Tapi tidak pernah tiba

Ke tujuan yang aku perkirakan

 

Aku,

Bukan kita.

#100DPS Day 37: Bebek Goreng di Warung Dua Putri, Japanan

Kamis, 12 Juni 2014
20:02

Saya dan seorang teman saya sampai di Stasiun Surabaya Gubeng. Kami berangkat pukul 05:20 pagi tadi dari Stasiun Kiaracondong Bandung. Seharusnya kereta dijadwalkan tiba pada pukul 19:20 namun entah karena berhenti terlalu lama atau apa, kami tiba 40 menit lebih lambat.

Setibanya di Stasiun Gubeng kami dijemput oleh Pamannya teman saya. Kami langsung menuju daerah Pandaan. Namun di tengah perjalanan kami berhenti untuk makan malam.

Kami singgah di sebuah warung yang terletak di Jalan Japanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Mojokerto. Warung ini menjual macam-macam makanan, tapi konon yang paling recommended sih nasi bebeknya.

Alhasil saya tergoda untuk mencicipi nasi dan bebek gorengnya. Harganya cuma 13.000 rupiah saja. Sedangkan untuk minumnya saya pesan jeruk panas harganya 2.500 rupiah. Tidak lama menunggu, pesanan saya datang dan….

Ealah, bebeknya….

Karena saya memesan bagian paha, saya sudah berekspektasi tampilannya ya kayak paha bebek di warung-warung pada umumnya: paha bawah menyatu dengan paha atas, digoreng kering, dan dagingnya tidak begitu banyak.

Tapi ternyata saya salah, yang datang itu nasi dan sepotong paha bebek bagian bawah saja yang disajikan bersama lalapan timun dan daun kemangi. Lengkap dengan sambel dan bumbu bebeknya.

Paha bebeknya segede gini nih:

20140618-100553-36353812.jpg

Plus:
Rasa? Uenak tante!
Apalagi karena ada bumbu tambahan yang bikin rasanya lebih gurih lagi. Duhaduh, abis makan masih jilatin jari hahaha. Jorok ya? Biarin, enak.
Daging bebeknya tebel bangeeet! Nggak kayak bebek goreng pada umumnya yang kurus kering.
Nasinya juga lumayan banyak. Sambelnya nggak terlalu pedes, nggak terlalu manis juga. Pas.

Minus:
Daging bebeknya nggak se-empuk Bebek Ali Borme yang di Bandung. Tapi ga masalah karena ga keras-keras amat juga. Kecuali kalo yang makan pake behel hehehe.
Jeruk panasnya kurang rasa jeruk, gulanya agak kebanyakan. Yah tapi itu tergantung selera sih, kebetulan saya kurang suka gula. Maklum, udah manis.

Nah kalo soal harga, bisa diliat disini:

20140618-101943-37183963.jpg

Patut dicoba kalau sewaktu-waktu jalan-jalan ke daerah Japanan di Gempol, Mojokerto.

#100DPS Day 31: Hari Minggu, Rindu Ibu

Tuuuuut…..

Suara sambungan teleponku terdengar cukup nyaring, selain karena aku aktifkan mode loud speaker, jarak handphone dengan telingakupun tak jauh.

“haloooo?”
“assalamualaikum mamaaaak”
“walaikumsalam, aduh… Aduuuuh…”

Suaranya lemas, seperti orang yang baru bangun tidur. Kulihat jam menunjukkan pukul 10:40. Ah, tak mungkin ibuku baru bangun.

“lagi ngapain mak?”
“lagi diurut ini”

Kebingunganku terjawab. Pantas saja suaranya seperti itu, wong lagi diurut.

“gimana kamu? masih suka masak?”
“masih mak, hehehe sekarang masaknya rame-rame di sekre”
Jawabku dengan nada gembira.

____________________

Hari Minggu pagi aku terbangun. Lontang-lantung tak jelas. Deadline tugas dan laporan hari Senin terhambat oleh hasratku untuk tetap bergelung di selimut.

Satu-persatu akun media sosial dan pesan instan kubuka. Aku membalas beberapa pesan, dan sekedar melihat-lihat timeline.

Tetiba aku teringat ibuku di rumah. Rindu.

Tak pikir panjang aku menelepon ibuku.

Seperti biasa, sekitar 30 menit kami habiskan untuk berbincang. Topiknya selalu ngalor-ngidul. Emosiku meluap-luap saat bicara pada ibu. Sedetik gembira, dua detik kemudian murung, lalu gembira lagi.

Kami selalu begitu. Apapun kuceritakan pada ibuku. Dari hal yang penting sampai tidak penting.

Ibuku sudah seperti teman dekat. Iya, teman yang saling kenal sejak aku lahir.

Cerita pun terus mengalir. Cerita tentang aku yang kelaparan, tentang aku yang sering main di.sekre UKM, tentang laporan magang, tentang bisnis, bahkan tentang dia. Iya, yang sudah setahun ini mendominasi sekian persen isi pikiranku. Bukan pacar padahal :p

Ibuku pun begitu, segala macam diceritakan. Mulai dari adikku yang nilainya mengkhawatirkan, ayahku yang sedang bersih-bersih kolam ikan, sampai komunitas baru yang ibuku ikuti.

Rindu di hari Minggu ini telah mensponsori agenda bincang-bincang dengan ibuku kali ini.

Terima kasih teknologi, yang telah membantu anak rantau agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarganya. Padahal rantauku cuma Bandung-Ciledug. Tapi tetap saja aku tak mungkin pulang seminggu sekali.

Terima kasih ya Allah, telah memberikan aku keluarga kedua di tanah rantau. Yang senantiasa melipur lara, yang selalu menghapus dahaga akan tawa.

Semoga masa rantauku ini tak sia-sia. Demi masa depan yang lebih baik. Aamiin ya rabbal alamin.

Mak, jaga kesehatan ya. Aku sayang mamak.

#100DPS Day 29: Musik Tulus

Saya selalu suka dengan musik Tulus.

Saya suka karya-karyanya.

Saya jatuh cinta dengan gaya bahasanya.

Saya terpukau dengan alunan melodinya yang tak biasa.

Menurut saya, Tulus memiliki ciri khas musik yang unik. Dia punya gayanya sendiri. Tak mengikut arus industri.

Lirik lagunya selalu jujur dan memukul.

Mengingatkan kita bahwa hal-hal remeh-temeh lah yang selalu menjadikan sesuatu istimewa. Hal remeh itu pula, yang selalu kita sepelekan, ternyata adalah hal besar yang dapat merobek-robek hati dan mengacak-acak pikiran.

Tulus juga mengingatkan kita bahwa yang kita anggap benar, tak tentu dianggap benar oleh orang lain. Menyadarkan kita bahwa dibalik hal-hal pahit yang kita alami, selalu tersimpan butir indah bahagia. Memberi tahu kita, tak seharusnya kita terlalu memikirkan persepsi orang lain yang hanya melihat cela pada diri kita.

Di Album barunya yang berjudul “Gajah”, Tulus membawa saya membuka mata. Alunan musiknya membuat saya meneteskan air mata. Begitu jujur. Kesembilan lagunya telah menculik saya. Menelan saya dalam candu melodinya. Kemudian memuntakan saya tepat diatas duri-duri kenyataan. Sakit, menusuk, namun membawa kesadaran.

Ini dia cover albumnya:

 

Tulus - Gajah
Tulus – Gajah

Ada sembilan lagu di dalamnya,

1. Baru

2. Bumerang

3. Sepatu

4. Bunga Tidur

5. Tanggal Merah

6. Gajah

7. Lagu Untuk Matahari

8. Satu Hari di Bulan Juni

9. Jangan Cintai Aku Apa Adanya

 

Terakhir,

Musik Tulus mengajarkan kita untuk tulus.