#100DPS Day 38: Backpacking ke Bromo Part I: How To Get To Bromo

Jumat, 13 Juni 2014

Saya terbangun pagi ini karena suara alarm yang sudah bolak-balik di snooze.
Rencananya hari ini saya dan teman saya (sebut saja Jo) akan pergi ke Gunung Bromo. Nggak nginep, berangkat pagi pulang sore saja.

Singkat cerita kami berangkat dari terminal Pandaan sekitar jam 8 pagi dengan menggunakan bis jurusan Surabaya-Malang yang ke arah Surabaya. Ongkosnya 3.000 rupiah saja. Kami berhenti di Japanan, lalu menyeberang dan lanjut naik bis yang menuju ke Jember.

Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya ada bis menuju Jember. Tapi kita turun di terminal Bayuangga di Probolinggo. Ongkos bis ini 12.000 rupiah sampai ke terminal Bayuangga Probolinggo.

Pukul 9:45 kami sampai di terminal Bayuangga Probolinggo. Dari terminal ini kami lanjut naik bison. Hahaha, bukan naik bison yang binatang ya. Bison ini sejenis angkot khusus ke Bromo. Mungkin disebut bison karena jalannya ugal-ugalan kayak bison ngamuk. Dari terminal ke pangkalan bison ini cuma jalan keluar terminal aja kok, dekat sekali. Tanya saja sama orang-orang di terminal, naik bison ke Bromo dari mana.

Nah, bison ini baru berangkat kalau udah penuh. Jadi ngetemnya lama banget. Selama menunggu, kami sempat ngobrol-ngobrol dengan calon penumpang lain. Ada yang bule, ada juga yang orang Cibubur sebut saja namanya Kim. Mereka sama-sama mau ke Bromo juga.

20140621-120049-43249744.jpg
Duduk-duduk cantik nungguin bison ngetem.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, ternyata bison ini tak kunjung penuh. Akhirnya Jo dan Kim mencoba bernegosiasi dengan si supir bison. Lalu kata si supir, ya boleh saja berangkat asal bayar ongkosnya 450.000 rupiah sampai bromo untuk satu mobil. Waduh, berat juga kalo patungan pun bisa sampai 75.000 rupiah per orang.

Karena ongkosnya cukup mahal, Kim dan Jo berinisiatif mencarikan calon penumpang. Alhasil mereka jadi calo dadakan, tak lama kemudian mereka kembali dengan sekumpulan bule-bule backpacker yang mau ke Bromo juga. Setelah tawar menawar akhirnya si bule setuju buat sharing ongkos naik bison dengan kita. Jadinya per orang hanya bayar 40.000 rupiah.

Berangkatlah kita menuju Bromo naik bison bareng bule-bule. Perjalanan dari Probolinggo menuju Bromo memakan waktu sekitar 1 jam. Kita diturunkan di desa terakhir, paling atas. Namanya Cemara Lawang. Disana tinggal cari homestay aja kalau mau menginap, kalau tidak bisa langsung cari jeep atau ojek yang antar ke atas Bromo.

Oke, segini dulu info backpacking ke Bromonya. Untuk info penginapan, makanan, biaya selama di Bromo dan info pulang dari Bromo menyusul di post selanjutnya ya 😀

Rekap biaya:
1. Kereta Ekonomi Pasundan dari Bandung (Stasiun Kiaracondong) ke Surabaya (Stasiun Gubeng): Rp 55.000
2. Bis dari terminal Pandaan ke Japanan: Rp 3.000
3. Bis dari Japanan ke Probolinggo: Rp 12.000
4. Bison dari Probolinggo ke Bromo: Rp 40.000
Total: Rp 110.000

#100DPS Day 36: Rekam Perjalanan

Libur telah tiba, kali ini liburan saya bukan liburan biasa.
Liburan tanggung yang bikin deg-degan.
Tapi, saya berusaha membuat liburan ini cukup berarti.
Berhubung saya memang jenuh sekali dengan kuliah, saya sudah merencanakan liburan ini dari jauh hari.
Saya tidak akan menceritakannya dalam 1 post, nanti nggak seru hahaha.
Tunggu saja postingan berikutnya ya 🙂

Sneak peak:

20140616-214117-78077499.jpg

20140616-214118-78078338.jpg

#100DPS Day 18: Art Heals

Seni?

Menurut saya kata “seni” sendiri memiliki cakupan yang sangat luas. 

Kalau sederhananya sih, yang paling sering didengar orang tentu seni musik, seni tari, seni lukis, begitu kan?

Pun, yang saya ketahui selama ini dari pendidikan formal memang seni yang itu-itu saja.

Tapi ternyata saya suka sekali dengan hal-hal berbau seni. Sebelumnya saya tidak begitu menyadarinya, sampai akhirnya saya tersentak oleh percakapan dengan teman saya.

(X: saya, Y: teman saya)

X: iya, aku suka banget drama jepang itu

Y: emang tentang apa?

X: tentang art gitu. jadi ada lingkaran pertemanan gitu, ada yang jadi arsitek, pemahat, pelukis dan ya seperti biasa, mereka saling suka.

Y: wah kamu suka banget dong?

X: maksudnya?

Y: iya, kamu kan suka banget yang art-art gitu.

 

Iya juga yah. Entah apa yang membuat saya menyukai seni. Apa karena kedua orang tua saya adalah arsitek (terkait dengan seni juga)? Atau karena keindahan seni itu sendiri?

 

Tapi yang saya ingat dari masa kecil saya, saya diajak untuk memahami banyak hal melalui seni dan hal-hal visual. Di umur 1 tahun lebih sedikit, saya sudah bisa menyelesaikan puzzle berukuran 25cmx25cm dalam waktu hanya sekitar 1 menit. Lalu keseharian saya di masa kecil tak pernah lepas dari buku gambar dan pensil warna. Setiap hari ada saja halaman baru yang penuh dengan coretan dan warna.

Ternyata sampai sekarang hal-hal itu terbawa. Saya bahkan mendapatkan kado sebuah papan puzzle di umur 14 tahun dari teman saya. Ya, dia tau saya suka sekali main puzzle. Bahkan sampai sekarang :p

Sekarang pun, yang mengobati rasa bosan saya akan keseharian dan rutinitas saya, ya seni. Seringkali saya mengalami kondisi dimana besok ada kuis, ujian, atau deadline tugas dan yang saya lakukan justru bukan mengerjakan tugas. Saya malah meraih kuas dan cat air. Saya malah melukis.

Di kelas pun, saya tak pernah tahan lebih dari 1 jam berkonsentrasi memperhatikan dosen dan materinya. Kecuali materinya menarik sih :p Alih-alih saya malah menggambar.

Makanya, saya juga suka sekali foto-foto. Fotografi tentu bagian dari seni kan? 🙂

Intinya, seni itu sudah menjadi obat yang ampuh buat saya. Kalo bosen? ngelukis. Kalo sedih? gambar. Kalo bete? dengerin lagu. Kalo seneng? joget-joget (anggap ini bagian dari seni tari hahaha). Kalo marah? doodling. Konon semakin bagus gambar yang kita hasilkan saat sedang sedih, berarti kesedihan kita semakin dalam. Ya bener juga sih, karena semakin banyak emosi yang tercurahkan ke karya kita. Mau tau isi hati dan pikiran seniman? Lihat karyanya 🙂

Thanks to art, menurut saya segala macam seni itu menarik. Bahkan seni bela diri. Seni memasak. Seni foto. Seni menulis. Seni apapun itu.

Menurut saya, jiwa yang hidup tanpa percikan seni itu sepi. Polos. Kayak indomie kurang bumbu, nggak pake telor pula. Ini menurut saya aja loh ya.

Seni memang punya kemampuan untuk mengombang-ambingkan emosi. Tapi seni juga punya kemampuan untuk menyeimbangkan diri kita.

#100DPS Day 1: Story of A Man

Tak lelah Ia berjalan mengitari pusat perbelanjaan itu. Pukul sepuluh malam saat itu, demi mencari sehelai baju favorit anak lelakinya yang akan ulang tahun di esok hari.

Peluh di bajunya pun sudah berulang kali basah-kering lagi. Tak dihiraukan olehnya.

Beberapa menit lagi pusat perbelanjaan itu akan tutup. Hanya beberapa toko yang terlihat masih membuka lapaknya. Hingga tibalah Ia di sebuah toko yang masih tersisa. Lalu Ia berkeliling, memilah-milih dengan cermat helai demi helai baju. Cocokkah dengan badan anaknya.

Jatuhlah pilihannya pada sehelai kaos dan sebuah kemeja. Tak pikir panjang Ia menuju kasir untuk membayar belanjanya. Tak peduli seberapa mahal harga bajunya. Yang Ia pikirkan hanya bagaimana melihat senyum anaknya yang merekah di esok hari ketika ulang tahun.

———————-

“Bajingan memang, bangsat!” kata-kata itu terucap dari mulutnya. Wajahnya yang pucat dan matanya yang memerah menunjukkan kemarahan sekaligus kekecewaannya yang begitu dalam. Rasanya belum pernah Ia seputus asa ini.

Suaranya yang parau lalu diakhiri hembusan nafas panjang yang berat. Tak tahu lagi bagaimana cara mengendalikan emosinya. Ia memilih memejamkan matanya dibanding mengamuk.

Anaknya, yang beranjak dewasa itu mulai keluar jalur.

———————

Dibalik sosoknya yang terlihat tegas, Ia juga sering bertindak konyol. Apapun akan Ia lakukan demi anak-anaknya yang Ia sayangi. Meski itu berarti mengalah. Mengalahkan lelahnya, mengalahkan kepentingannya, mengalahkan kebutuhannya, apapun yang Ia punya.

Mungkin dulu Ia begitu keras mendidik anak-anaknya karena Ia tentu tak ingin anak-anaknya terjerumus ke jalur yang salah. Semua orang tua akan melakukan hal yang sama.

Kini anak-anaknya beranjak dewasa. Kini tangan anak laki-laki kecilnya dulu, sudah menjadi tangan besar seorang laki-laki muda. Tingginya pun sudah mulai mengalahkan orang tuanya.

Satu anak perempuannya pun kini sudah hidup terpisah di perantauan. Terpisah jarak, tersatukan rindu. Kasih sayang dua arah yang tak semu, namun bila terucap rasanya malu.

Satu anaknya lagi sedang nakal-nakalnya. Maklum, masih masa pertumbuhan.

Tapi, mungkin Ia tak sadari hari demi hari telah mencuri waktunya. Tak hirau rambutnya yang memutih. Tenaganya yang tak sekuat dulu. Tubuhnya yang tak sebugar sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Yang Ia sadari hanyalah bekerja keras agar kelak anak-anaknya bisa lebih sukses, melampauinya.

———————-

Ia adalah ayahku.

———————-

Dedicated to my one and only lovely father.

Your eldest daughter,
Aulia

STOP KONY!

http://vimeo.com/invisible/kony2012

Mungkin banyak yang belum pernah denger tentang Kony. Joseph Kony itu orang Afrika, disana dia menculik anak-anak buat dimanfaatkan untuk kepentingan dia. Anak-anak laki-laki dijadikan tentara, sedangkan yang perempuan dijadikan budak seks. Anak-anak itu dipaksa untuk membunuh, si Kony bahkan nggak segan untuk menyiksa mereka secara fisik.

Saat ini Kony jadi kriminal NOMOR 1 di dunia, dan masih dicari. Makanya yuk kita bantu share ini, biar semakin banyak yang tau Kony, jadi kita akan dapat lebih banyak dukungan. Indonesia harus ikut berpartisipasi demi dunia.