The Raid From My Perspective

Mungkin semua orang sudah mendengar tentang film “The Raid” ya? Katanya bagus ya?

IYA!

Menurut saya film ini memang sangat memukau.

Tadi malam saya dan dua orang teman saya menonton film ini. Nggak nyesel bela-belain nonton film ini jam 20.30 malam. Toh kepuasan yang kami dapat setelah nonton film ini memang sebanding. Nah, sekarang saya ingin cerita sedikit tentang film ini menurut pandangan saya.

The Raid

Awalnya saya kira ini film perang karena banyak orang bersenjata lengkap. Ternyata ini adalah film “perang”. Kenapa pakai tanda kutip? Ya karena yang perang bukan tentara, tapi polisi.

Jadi ceritanya sekumpulan polisi ini menginvasi sebuah apartemen yang menjadi tempat persembunyian sekomplotan kriminal. Saya nggak tahu, sebenarnya si komplotan ini melakukan tindakan kriminal apa. Pokoknya yang saya lihat, polisi ini masuk secara diam-diam ke dalam apartemen itu dan menyerang siapa saja yang ada di hadapannya.

Sebenarnya dari awal sampai akhir jalan ceritanya sama saja. Kasarnya sih “bunuh-bunuhan”. Sampai akhirnya polisi yang tadinya ada banyak, kini tinggal tersisa satu orang dan Letnannya. Dan ternyata si polisi yang tinggal satu orang ini  (Rama) adalah adik dari salah satu anak buah kepercayaan si Bosnya komplotan ini.

Barulah terlihat bagian “drama” dari film action ini. Ternyata si Kakak (Andi) pergi dari rumah karena masalah internal keluarganya. Dia seperti “tak dianggap” sama ayahnya. Makanya dia bergabung dengan komplotan kriminal ini, karena disana dia merasa dihormati. Akhirnya Andi berusaha membantu Rama untuk keluar dari apartemen itu.

Tapi ternyata si Bos tahu. Alih-alih membantu Rama keluar, Andi malah disiksa habis-habisan oleh Mad Dog (tangan kanan si Bos) di dalam suatu ruangan. Di perjalanan keluar, Rama yang melihat kakaknya disiksa tentu tidak tinggal diam. Tanpa pikir panjang dia menerobos ke dalam ruangan tersebut.

Ini nih bagian kerennya, kakak beradik ini bertarung habis-habisa melawan Mad Dog. Nuansa Pencak Silat pun sangat kental pada scene ini. Wuih, keren banget lah! Endingnya, tentu aja si Mad Dog mati.

Lalu saat Rama ingin menjemput Letnannya, terungkaplah semuanya. Ternyata sang Letnanlah dalang dari semua ini. Bahkan si Letnan juga yang membunuh bos komplotan ini. Oiya, belakangan saya tahu kalo ternyata apartemen itu adalah tempat produksi obat-obatan terlarang ._.

Tapi bagian yang bikin gemes adalah saat semuanya sudah selesai, Andi mengantar Rama ke gerbang untuk keluar. Lalu? Si Andi malah masuk lagi -__- AAAAAAAAAAAAA bikin geregetan nungguin sekuelnya tahun depan. Kalo ga salah judulnya “Berandal”. Yah, semoga ga mengecewakan deh ya.

Sekedar mengingatkan aja, film ini sadis. Sadis banget. Bukan sadis yang kayak SAW sih, cuma ya nggak nyangka aja filmnya bakal sekejam itu. Dan isinya overall adalah pembunuhan.

Advertisements

PocketGraphy

Saya suka fotografi. Tapi nggak jago-jago amat. Sekedar suka aja.

Tapi kalau lagi jalan-jalan trus ketemu objek menarik, saya langsung mengeluarkan senjata dari kantong: handphone.

Yak, karena saya kurang modal untuk membeli kamera digital atau SLR dan semacamnya, ya sudahlah cukup saja kamera handphone menjadi andalan. Nah, kali ini saya mau nge-post hasil jepretan HP butut saya nih. Buat pemula seperti saya, yah udah lumayan lah hehe.

Here we go:

Jendela di lantai 3 kampus tercinta, setelah UAS Agama
Sun rays, taken near Sanur, Bali.
A Lonely Tree. Taken at Tanah Lot, Bali
A Bursting Happiness. Taken on New Year Eve, in front of my house 😀

 

An-almost-heart-shaped cloud. Taken in front of Telkom Learning Center

 

Semua foto di atas dijepret pake kamera HP butut saya. Mungkin hasilnya memang nggak bagus-bagus amat, tapi saya senang. Ada kebahagiaan tersendiri saat saya bisa mengabadikan suatu moment dalam bentuk gambar.

Segitu dulu untuk hari ini, semoga saya makin rajin blogging. Aamiin.