#100DPS Day 56: Stephen Hawking’s Good Quote

Saat itu saya lagi iseng buka-buka jejaring sosial Path, kemudian menemukan postingan teman saya yang isinya seperti ini:

  

Tertarik, saya membuka link yang ia share di sini: http://www.buzzfeed.com/lanesainty/in-zayn-i-have-struggled?bffb

Artikel itu membahas tentang sebuah seminar di Sydney Opera House, dimana Stephen Hawking menjadi pembicara dalam seminar itu namun dalam bentuk Hologram. Hawking yang pada saat itu berada di Universitas Cambridge UK membahas mengenai misteri tentang alam semesta, bagaimana rasanya didiagnosa terkena penyakit ALS, dan tentang masa depan planet kita.

Hawking berpendapat bahwa dalam kurang dari 1000 tahun lagi, kemungkinan besar manusia akan pindah ke planet lain.

Dari pembahasan tersebut, muncul beberapa pertanyaan dari peserta. Namun ada satu pertanyaan yang menarik bagi Hawking. Tak disangka, si peserta justru menanyakan tentang hubungan keluarnya Zayn Malik dari One Direction dengan efek kosmologis yang terjadi karena miliaran remaja patah hati.

“What do you think is the cosmological effect of Zayn leaving One Direction and consequently breaking the hearts of millions of teenage girls across the world?”

Kalo saya yang menerima pertanyaan seperti ini, saya mungkin bilang bahwa itu semua nggak ada hubungannya. Tapi lain dengan Hawking, ia justru menanggapi positif pertanyaan tersebut. Jawabannya pun sangat brilian,

“Finally, a question about something important,” he said.

“My advice to any heartbroken young girl is to pay close attention to the study of theoretical physics. Because one day there may well be proof of multiple universes.

“It would not be beyond the realms of possibility that somewhere outside of our own universe lies another different universe.”

“And in that universe, Zayn is still in One Direction.”

It got better still for the questioner. β€œThis girl may like to know that in another possible universe, she and Zayn are happily married,” Hawking added.

Begitu katanya.

Tapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan di tulisan kali ini.

Mari kita baca dari awal artikel tersebut. Memang main idea dari artikel itu adalah menyampaikan respon Hawking terhadap pertanyaan tentang Zayn Malik. Namun di sela-sela artikel tersebut, terselip kata-kata yang menurut saya bijaksana.

“So remember to look up at the stars and not down at your feet. Try to make sense of what you see and wonder about what makes a universe exist. Be curious. And however difficult life may seem, there is always something you can do and succeed at. It matters that you don’t just give up.”

Dalam keterbatasannya karena mengidap penyakit ALS, Hawking tidak berhenti untuk terus belajar. Terus mempertanyakan banyak hal. Bahkan, dengan apa yang ia suka, ia bisa memotivasi orang lain.

Intinya apa?

Jangan berhenti mencari. Jangan menyerah. Karena walaupun susah, pasti setidaknya ada sesuatu yang kita bisa lakukan dan bermanfaat untuk orang lain πŸ™‚

Advertisements

#100DPS Day 55: The Whole Life in One Day

Salah satu hal yang belakangan ini suka sekali saya lakukan adalah mengamati.

Sore itu, sepulang bimbingan saya dan Farid jalan-jalan. Meskipun cuaca sedang tidak mendukung, karena saat itu hujan baru saja usai dan masih menyisakan rintik kecil serta jalanan yang basah.

Sebenarnya saya sih suka suasana sehabis hujan seperti itu hehehe.

Niatnya, kami mau jalan-jalan sore ke taman film. Dengan tujuan mau nyari anak kecil disana, karena biasanya kalau sore sering banyak anak kecil yang main disana. Namun apadaya, kami berangkat terlalu sore (magrib malah) jadi kayaknya bocah-bocah itu juga udah pulang.

Akhirnya kita pindah haluan. Karena lapar, kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran vegetarian di Bandung. 

Lalu disana, kami bertemu dengan sepasang kakek-nenek yang sedang makan. Usai makan, saya tak lepas pandang dari pasangan manula itu. Mereka terlihat…….. so sweet.

Saya mengamati cara kakek itu memandang si nenek. Suatu pandangan yang sangat dalam. Pandangan yang mungkin saja sudah dilakukannya sepanjang usia pernikahan mereka. Pandangan yang menyiratkan rasa kasih yang sudah tak perlu dipertanyakan.

Saat itu saya merasa terenyuh. Rasanya seperti ikut merasa disayangi.

Beberapa kali saya menyelingi dengan ngobrol sama Farid. “Kakek-nenek yang di sebelah itu unyu banget yah, aku jadi terharu deh.” Begitu kataku, sambil sedikit menyeka air mata.

Kemudian kami beranjak menuju Masjid Agung untuk menunaikan ibadah sholat Isya. Setelah sholat, kami duduk-duduk di taman Masjid. Iya, duduk-duduk doang.

Berjam-jam kami lewatkan hanya sekedar memperhatikan sekitar. Kala itu taman masjid tidak begitu ramai, mungkin karena udara saat itu cukup menusuk tulang. Namun kami masih bisa menjumpai beberapa orang yang mengajak anak-anaknya main di taman.

Lucu banget ngeliatin anak kecil lari-lari di taman, ada yang main bola juga. Kami memperhatikan mereka dengan takjub, “kok ada ya makhluk kecil-kecil gitu? Hahaha” ujar saya.

Sesekali saya menatap ke langit, kemudian kembali memperhatikan orang-orang di sekitar. Refreshing otak banget.

Hari itu, kami melihat hidup berjalan. Kami melihat bagaimana kehidupan anak kecil, kami menjalani kehidupan sebagai anak muda, kami memperhatikan hidup orang-orang dewasa, kami pun menyaksikan pasangan lanjut usia.

If you look deep enough, deeper than usual, you can refresh and reflect in one time. Banyak hal yang bisa kamu dapatkan dari memperhatikan. Tak ada salahnya sesekali menghabiskan waktu untuk melihat hal-hal menarik di sekitar kita πŸ™‚

Saya rasa setelah ini, saya akan lebih banyak memperhatikan.

 

Kids. Original pic by: me
 

#100DPS Day 54: It’s Okay to Make Mistakes

Hari ini saya belajar,

Sekali lagi,

Bahwa,

It’s okay to make mistakes.

Seorang sahabat berkata

“You didn’t let mistake happens. Padahal, it’s okay to make mistakes. Kita ga harus jadi sempurna kok.”

Iya. Seringkali saya begitu. Satu sisi perfeksionus saya selalu ingin semuanya berjalan seperti apa yang saya mau. Saya lupa, bahwa saya ini manusia. Sedangkan yang sempurna itu cuma Dua, Allah yang Maha Sempurna.

Kemarin saya sempat menangis. Kecewa sama diri saya sendiri. Ngedown. Saya capek.

Tapu kemudian, karena sahabat saya itu saya jadi sadar. Ya nggak apa-apa toh salah? Namanya juga manusia. Kemana diri saya yang dulu? Yang selalu mikir “yaelah trus kenapa? Kalo salah ya coba lagi. Kalo ga ngerti ya coba dulu.”

Sekarang saya bersyukur. Saya jadi sadar, ingat sebuah kalimat “ya bagus lah kalo lo capek, tandanya lo udaha kan?”. Iya bener juga sih.

Hahaha someone said this when I cried “heh, udah jangan nangis. Belom kiamat juga…”

Kampret sih, but I should thank him for that. And for cheered me up afterward πŸ™‚